
...RENCANA BULAN MADU...
Leon sudah memesan tiket penerbangan ke korea, rencananya mereka akan berangkat lusa depan. semua pekerjaan pun sengaja Ia selesaikan terlebih dahulu, jadi mereka bisa menghabiskan waktu berdua dengan tenang.
Rubia tidak lagi mengungkit persoalan Leon akan pergi ke korea bersama Mauriel, Ia sepertinya sudah mengikhlaskan suaminya.
Satu hari sebelum keberangkatan Mauriel, Lucas menghampiri kakak iparnya di taman, seperti biasa Ia sedang memandangi langit yang penuh dengan bintang-bintang.
" Kok belum tidur Kak ? " Tanya Leon sambil duduk di samping Mauriel.
" Belum bisa tidur " Jawab Mauriel tanpa menoleh ke wajah Lucas.
" Pasti karena besok mau pergi honey moon dengan kak Leon. " Kata Lucas menebak-nebak.
" Gak tau ! tapi sebenarnya sedikit canggung juga kalau cuma pergi berdua. " Celetuk Mauriel menoleh ke arah Lucas.
" Mau aku temanin ? " Kata Lucas dengan penuh semangat.
" Hahhahahaha.....usul yang baik tapi aku rasa, Leon tidak akan setuju " Sambung Mauriel lagi, dalam hatinya Ia berkata yang ada nanti Leon bisa mencak-mencak melihat Lucas ada di depannya.
" Kalau gitu jangan sampai dia mengetahuinya, aku bisa pergi diam-diam dan bersembunyi dari kalian berdua. " Kata Lucas.
" Hahahahahhaha "
" Sudahlah, kamu di rumah saja menjaga Nenek, lagipula hanya lima hari, aku hanya harus bertahan menghabiskan waktu bersama dengan Leon. " Kata Mauriel dengan pasrah dan berharap waktu cepat berlalu sehingga Ia bisa melewati itu semua dengan damai.
Lucas tidak lagi mengatakan apapun, Sebenarnya apa yang Ia katakan barusan adalah suara hatinya yang gelisah akan di tinggal pergi oleh Mauriel.
Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing, hanya ada suara jangkrik yang terdengar menemani mereka.
...♡♡♡♡♡♡...
Hari yang di tunggu-tunggu oleh Leon pun tiba, Ia sedang merapihkan pakaiannya di depan cermin sambil tersenyum penuh kemenangan.
" Senang banget yang mau pergi jalan-jalan ke korea dengan isteri keduanya " Sindir Rubia yang tidak sadar dengan posisinya sendiri, Ia selalu merasa dirinyalah yang nomer satu di hidup Leon.
" Jangan ngambek, nanti cantiknya ilang lho, senyum donk " Seru Leon sambil mencubit hidung Rubia.
" Aaauuwwwww " Jerit Rubia memegangi hidungnya.
" Gih mana gak ngambek, Kakak cuma mau pergi berdua dengan Mauriel, sementara aku harus di rumah sambil membayangkan kalian berdua."
" Hal itu kan sangat menyakitkan buat ku, apalagi suamiku sendiri pergi dengan wanita lain " Gerutu Rubia sambil memonyongkan bibirnya.
" Ulullulu.....Tuan putri ku ngambek, aku janji setelah aku pulang dari korea, aku akan mengajak kamu keliling Jogja. " Kata Leon berusaha untuk menyenangkan hati isteri lainnya.
" Ke Jogja ? Mauriel pergi ke luar negeri, sementara aku cuma ke Jogja ? " Seru Rubia tidak terima dengan perkataan Leon.
__ADS_1
" Lho memang kenapa kalau cuma ke Jogja, kan yang penting kita bisa pergi berdua. " Gumam Leon sambil merapihkan dasinya
" Tapi sangat penting buat ku ! Teman-teman ku pasti akan menghina diri ku, dan aku jadi bahan lelucon mereka. "
" Dan apa kata dunia nanti, Rubia gadis paling top di jakarta kalah dengan gadis kampung. " Teriak Rubia.
" Tidak.....tidak.....tidak...."
" Aku gak mau pergi kalau cuma ke jogja, aku maunya ke paris. masa gadis kampung itu pergi keluar negeri, sementara aku cuma ada di dalam negeri "
Leon mengepalkan tangannya menahan amarah, Ia marah mendengar perkataan Rubia.
Yang membuatnya marah bukanlah persoalan kemana mereka akan pergi, tapi cara Rubia memanggil Mauriel dengan gadis kampung, Ia tidak suka mendengarnya.
" Dia punya nama " Seru Leon masih berusaha meredam amarahnya.
" Apa ? " Kata Rubia tidak mengerti maksud perkataan Leon.
" Namanya Maureil, dia bukan gadis kampung " Kata Leon dengan dingin.
" Kakak marah sama aku cuma gara-gara gadis itu ? Dia kan memang dari kampung, meskipun berasal dari Jakarta, tapi kan dia tinggal di pinggiran Jakarta bukan dari kota jakar......"
" Cukup " Kata Leon membentak Rubia untuk pertama kalinya.
" ......ta " Wajah Rubia menegang melihat Leon membentaknya dengan suara yang lantang.
" Kakak.....kakak...." Kata Rubia dengan nada yang sendu.
" Ma-maaf " Ucap Leon sambil memegang bahu Rubia yang bergetar.
Tangis Rubia semakin kencang sehingga membuat Leon jadi merasa bersalah.
" Aku minta maaf ! maaf sudah membentak kamu "
Leon menarik tubuh Rubia kedalam dekapannya, tangannya mengelus punggung isterinya yang rapuh dengan lembut.
Sementara itu Mauriel sudah menunggu kedatangan Leon di halaman bersama dengan Nenek, Papa, Mama, dan Lucas.
" Leon kok lama bangat, ya ? Anak itu niat mau pergi atau gak sih " Seru Mama sambil mengibas-ibaskan tangannya.
" Mama capek berdiri di sini, mana panas lagi " Gerutu Mama ngdumel.
" Sabar donk, Ma " Kata Mama sambil mengelus bahu isterinya.
" Mauriel, coba kamu panggil Leon di kamarnya. " Ucap Mama gak sabar menunggu.
" Baik Ma " Jawab Mauriel sambil pergi ke kamar Leon.
__ADS_1
Mauriel menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Leon yang terbuka.
" Cium aku " Kata Rubia dengan sengaja begitu melihat wajah Mauriel di depan pintu kamarnya.
" Apa ? " Seru Leon menatap wajah Rubia sambil mengkerutkan alisnya.
" Kalau kakak merasa bersalah karena sudah meninggalkan aku sendirian di sini, kakak harus membuktikannya. "
" Cium aku " Kata Rubia menatap wajah Mauriel dengan dingin.
Leon mendekatkan bibirnya ke kening Rubia, mengkecup dahi isterinya dengan hangat, begitu Leon melapaskan bibirnya, Rubia langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Leon, dan mencium bibirnya
Leon membelalakan matanya karena terkejut dengan tindakan Rubia yang tiba-tiba mencium bibirnya, Ia mau mendorong gadis itu, tapi tidak jadi Ia lakukan ketika mengingat kembali perkataannya yang sudah menyakiti hati Rubia.
Ia menyambut bibir Rubia dengan hangat sambil memeluknya pinggangnya. Tidak ada penolakan dari Leon, Ia semakin dalam meluma* bibir suaminya.
Mauriel menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri, merapatkan tangan sampai kukunya menembus kulitnya.
Menghembuskan napas panjang, kemudian mengetuk pintu kamar Leon, sambil berkata dengan suara yang datar.
" Leon ! Mama dan yang lainnya sudah nungguin, kamu di depan. "
Hatinya terus mengatakan," Kamu harus kuat "
Leon langsung menjauhi bibirnya dari bibir Rubia ketika mendengar suara Mauriel di depan pintu.
Rubia tersenyum dengan puas karena sudah menyakiti hati Mauriel, tanpa perasaan bersalah Ia merekatkan lengan Leon sambil menariknya mendekati Mauriel.
" Maaf karena kalian harus menungul lama, wajarkan kalau suami isteri harus berciu*an dulu sebelum berpisah. " Seru Rubia sambil tersenyum sinis.
" Gak masalah, bukan sesuatu yang penting. Aku tidak peduli kalian mau melakukan apa, tapi jangan membuat yang lainnya menunggu terlalu lama " Kata Mauriel dengan nada yang pedas.
" Kamu memang madu yang sangat pengertian, kalau begitu aku titip suami kesayanganku padamu " Sahut Rubia sambil memeluk Leon dengan erat.
" Tentu saja " Kata Mauriel menatap wajah Leon dengan tatapan yang dingin, sambil berlalu dari mereka berdua.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍
__ADS_1