BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 53 : KELINCI YANG HILANG


__ADS_3

...KELINCI YANG HILANG...


Lucas makan dengan lahapnya saking laparnya Ia sampai tidak memperhatikan Mauriel, gadis itu hanya mengaduk-ngaduk makanannya sambil melamun.


" Kakak tolong ambilkan kecap " Seru Lucas, namun tidak ada jawaban dari Mauriel.


Lucas mencoba untuk meminta tolong sekali lagi kepada Mautiel, dan hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban yang terlontar dari mulutnya.


" Kakak....." Ucap Lucas sambil melihat wajah Mauriel.


Pantas saja tidak ada jawaban, orang yang di ajak ngobrol malah lagi melamun. Batin Lucas menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Mauriel " Teriak Lucas dengan suara yang lantang sampai membuat Mauriel tersentak dari lamunannya.


" Kenapa ? " Matanya langsung melihat ke arah Lucas.


Lucas tidak bertanya kenapa makanannya tidak di makan, Ia malah menyuruh Mauriel untuk bilang huruf A.


" Apa ? " Seru Mauriel tidak mengerti.


" Sudah ikuti saja kata-kataku " Sahut Lucas.


" Bilang Aaaaaaa" Lucas memberi instruksi kepada Mauriel. dia pun mengikuti perkataan dari pria itu.


Ketika Mauriel sedang membuka mulutnya, dengan gerakan yang cepat, Lucas menyuapi makanan ke dalam mulut kakak iparnya sambil tersenyum.


Mauriel membelalakan matanya sambil melotot ke arah Lucas, tapi pria itu malah ketawa cekikikan.


" Jangan di buang harus di telan " Kata Lucas menahan tawanya.


" Mau di suapin lagi ? " Sendok di tangannya sudah siap untuk mendarat di mulut Mauriel.


" Tidak usah, aku makan sendiri saja " Celetuk Mauriel.


Mauriel sama sekali tidak merasa lapar, tapi Lucas sedang memelototinya seperti serigala yang buas.


Dengan terpaksa Mauriel menyuap nasinya, makanan yang terlihat lezat di mata Lucas, justru terasa hambar di dalam mulutnya sendiri.


Tiba-tiba mereka tersentak dengan kedatangan seseorang yang memanggilnya dari kejauhan.


...♡♡♡♡♡♡...


" Mauriel.... "


" Mauriel.... "


Leon baru saja tiba di penginapan, dan tempat itu sudah kosong, bahkan koper Mauriel sudah tidak ada.


" Mauriel....Mauriel..... " Leon mencari Mauriel di setiap sudut, di balkon, di dalam kamar mandi, dan di halaman belakang, tetap saja tidak ada siapa-siapa di rumah itu.


Lalu Ia berusaha untuk menghubungi Mauriel, tidak ada jawaban dari isterinya, dan malah tersambung ke pesan suara.


" Sialan " Teriak Leon dengan putus asa sambil menyenderkan tubuhnya ke tembok.


" Mauriel, kamu di mana ? "


" Maurieeeeeeeeel......" Suara Leon berpadu dengan gemuruh ombak di laut.


...♡♡♡♡♡♡...


" Nathan ? " Seru Mauriel kepada pria yang berdiri di depannya.


" Aku pikir salah orang, ternyata benar kamu " Celetuk Nathan sambil tersenyum.

__ADS_1


" Kamu ngapain di sini ? " Kata mereka bersama.


" Kamu dulu " Mauriel mempersilahkan Nathan untuk berbicara.


" Aku sedang bertemu dengan investor, kalau kamu sendiri ? " Nathan memandangi Mauriel lalu melihat ke arah Lucas, seorang pria yang belum di kenalnya.


Mauriel terdiam mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan Nathan, tidak mungkin dia bilang sedang bulan madu.


Bulan madu macam apa yang di tinggal pergi oleh suaminya sendiri setelah dia menyerahkan hartanya yang paling berharga.


Lucas melihat kecemasan di wajah Mauriel, dan mengambil alih untuk menjawab pertanyaan dari pria yang belum Ia kenal.


" Tentu saja untuk liburan, memangnya untuk apa orang-orang datang ke luar negeri ? " Kata Lucas.


Nathan melihat ke arah Lucas dengan sinis.


" Oh begitu " Jawab Nathan datar.


Suasana menjadi tegang dengan kedatangan Nathan di meja mereka berdua.


" Kapan kamu balik ke Indonesia ? " Seru Nathan mencari topik pembicaraan.


" Besok pagi " Jawab Mauriel canggung.


" Sayang sekali....tadinya aku mau mengajak kamu keliling korea. "


Mauriel tersenyum tipis mendengar perkatan Nathan.


" Sepertinya ini sudah larut malam, jadi sebaik kita kembali ke hotel " Kata Lucas sambil melirik ke arah Nathan.


Tatapan Nathan penuh dengan kecemburuan.


" Kalau begitu sampai jumpa lagi di Indonesia " Seru Nathan sambil tersenyun.


...♡♡♡♡♡♡...


Leon membenturkan kepalanya ke tembok, di saat dia sudah mulai menyadari perasaannya, gadis itu malah menghilang dan meninggalkannya.


Kemana dia harus mencari Mauriel !


Seharusnya ini menjadi momen terindah dalam hidupnya, hidup bersama dengan wanita yang dia cintai untuk selamanya.


Nenek juga tidak akan senang mendengar kehamilan Rubia, sampai sekarang saja Nenek belum bisa menerima Rubia sebagai cucu menantu.


Leon tidak mungkin menceraikan Rubia, wanita itu sedang mengandung anaknya, namun anaknya juga tidak akan bisa menjadi pewaris Alexander.


Kepala Leon terasa pusing memikirkan semua masalah yang telah terjadi.


Bagaimana caranya untuk mempertahankan semua yang di milikinya ?


" Apa yang harus aku lakukan ? " Gumam Leon di dalam kegelapan.


...♡♡♡♡♡♡...


Mauriel baru saja sampai di rumah, masih merasakan jet lag, di tambah Ia kurang tidur semalam, dan sekarang Ia di kejutkan dengan kedatangan Leon bersama dengan Rubia.


Mauriel menatap tajam ke wajah Leon, " Jadi ini alasan kamu tidak datang, kemarin. Kata-kata cinta yang kamu lontarkan adalah kepalsuan." Gumam Mauriel di dalam hatinya.


Mauriel menyesali kebodohannya karena sudah percaya dengan mulut manis yang di lontarkan oleh Leon.


Bagaimana bisa aku menjadi lemah karena pria itu. dari awal harusnya aku menyadari kalau Leon hanya mempermainkan perasaannya.


" Sayangku sudah pulang ? Bagaimana bulan madu kalian ? " Kata Nenek sambil memeluk Mauriel.

__ADS_1


" Pasti sangat menyenangkan bisa bermesraan tanpa di gangu oleh orang lain " Nenek sengaja memprovokasi Rubia.


"Nenek tunggu kabar baik dari kalian " Kata Nenek sambil tersenyum.


" Aku rasa Nenek tidak perlu menunggu kabar dari Mauriel, karena aku punya kabar baik untuk Nenek "


Rubia merangkul pinggang Leon dengan sengaja untuk memanasi Mauriel, dan semua terdiam menunggu perkataan Rubia.


" Aku hamil " Seru Rubia sambil tersenyum sinis ke arah Mauriel.


Jedeeeerrrr.....jantungnya seakan berhenti berdetak, aku pasti salah dengar, atau Rubia sedang mempermainkan ku.


Aku melirik ke arah Leon meminta kepastian dari matanya, dan ada kejujuran di sana.


" Aku tidak akan pernah menerima bayi itu sebagai cicitku " Teriak Nenek di hadapan semua orang.


" Kata-kata Nenek sangat kejam !! meskipun Nenek menyangkalnya, tetap saja ada darah Leon di dalam bayi ini " Kata Rubia dengan penuh emosi.


" Tapi kamu harus ingat keluarga Alexander tidak akan pernah bisa menerima anak dari seorang selir, anak itu juga gak akan bisa menjadi pewaris." Kata Nenek dengan tegas.


" Tapi Nek....." Ayah memotong perkataan Rubia.


" Semua yang di katakan oleh Ibu benar, Leon masih memiliki darah bangsawan dari kakeknya, dan itu sudah tradisi turun temurun. "


" Yang bisa menjadi pewaris hanya anak dari Mauriel saja, atas nama keluarga, Ayah minta maaf jika sudah membuat mu kecewa." Ucap Ayah.


Rubia mengepalkan kedua tangannya, menatap wajah Mauriel dengan penuh kebencian.


" Kalau begitu ceraikan saja Mauriel. " Celetuk Rubia.


Mereka kembali di kejutkan oleh Rubia, Mauriel merasa pengaruh jet lag sudah membuat kepalanya sakit.


Semua yang di lihatnya berputar-putar, kepala seperti mau pecah, dan pandangannya mulai buram.


Brukkk.....Mauriel hampir saja terjatuh di lantai, untung Lucas sigap menangkap wanita itu.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :




Anak Genius : Ayah sedingin es.




Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet




Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍

__ADS_1


__ADS_2