
"Oke pa, aku pastikan ini adalah kali terakhir kamu berhubungan dengan wanita lain di saat kamu berada di rumah." Ucap Seruni sambil menutup ponsel nya, dan kemudian segera beranjak menuju kamar mandi dapur hendak mengambil wudhu.
Usai berwudhu, Seruni menuju ke sebuah kamar yang khusus digunakan untuk sholat. Seruni kemudian segera memakai mukena nya.
"Aku tahu, aku tak bisa mengawasi mu di luar sana. Aku juga tahu keterbatasan ku, yang tak bisa menggenggam hatimu pa. Tapi aku punya Allah, sang Maha Pemilik Hati."
"Jika memang kita masih berjodoh, aku akan minta pada Allah.. agar dia membuat mu melupakan wanita itu. Tapi jika memang jodoh kita hanya sampai disini, aku juga akan minta sama Allah agar dia hilangkan rasa cinta dan sayang ini dari hatiku untukmu," Seruni segera menggelar sajadah nya, dan dengan khusyuk mengangkat kedua tangan nya seraya mengucap takbir.
Usai sholat dan berdo'a, Seruni mengecek ke kamar anak-anak dan memastikan ketiga nya yang masih berada dalam satu kamar yang cukup luas itu tidur dengan nyaman.
Ibu tiga anak itu membetulkan selimut anak nya, mencium kening mereka satu persatu dan memandangi wajah ketiga anak nya dengan masygul.
Diri nya memang siap, jika suatu saat harus berpisah dengan sang suami. Tapi bagaimana dengan ketiga anak nya? Juga bayi yang kini masih berada dalam kandungan nya?
Seruni mengelus perut nya, bayi yang masih bersembunyi di dalam sana menendang-nendang, seakan mengingatkan pada sang mama agar tidak larut dalam kesedihan.
"Oke nak, tidur lah kembali. Kakak-kakak mu semua sudah bobok sayang," lirih Seruni, masih sambil mengelus perut nya yang semakin membesar.
Setelah dirasakan berhenti menendang, Seruni segera beranjak meninggalkan kamar Anak-anak nya menuju kamar nya sendiri.
Ketika hendak membuka pintu kamar, di saat yang sama sang suami juga hendak keluar dari kamar. "Papa belum mau tidur?" Tanya Seruni.
"Bentar lagi ma, papa mau nonton televisi dulu. Mama kalau ngantuk duluan aja," balas Mahmudi seraya berlalu, wajah laki-laki itu terlihat sangat kusut.
Seruni mengernyit, dan sesaat kemudian mengedikkan bahu nya. "Kayak nya habis ada perang Baratayuda nih, di wasslap," gumam Seruni, sambil masuk kedalam kamar nya.
Seruni membersihkan wajah nya sambil duduk di kursi meja rias, dia pandangi wajah nya sendiri. "Kayaknya aku belum terlalu tua deh, wajah ku juga gak kalah cantik sama selebgram itu. Tapi kenapa suami ku tetap selingkuh ya?"
Seruni terus memandangi wajah nya, dan bertanya pada diri nya sendiri. Dimana salah nya? Dimana kekurangan nya? Dan masih banyak pertanyaan lain, namun Seruni tak mampu menemukan jawab nya.
Dia sudah merasa menjadi istri yang penurut, dia sudah merasa mengerahkan segala kemampuan nya untuk melayani sang suami, dia juga merasa sudah merawat diri dan penampilan sehingga tak malu-maluin jika di ajak jalan. Tapi mengapa? Mengapa masih saja mencari yang lain?
Seruni menggeleng-gelengkan kepala nya, dia menyerah.. Seruni kemudian membuka ponsel nya, dia harus mulai menjalankan rencana nya yang tak ingin sang suami berhubungan dengan wanita lain jika suami nya itu berada di rumah.
__ADS_1
Seruni membuka aplikasi penyadap chat suami di ponsel nya, dan netra indah itu membuka lebar, "ih, beneran habis ada perang Baratayuda ternyata.. maka nya wajah papa sampai di tekuk gitu?" Lirih Seruni sambil membaca chat sang suami dan wanita simpanan nya.
Seruni melihat, suami nya sedang mengetikkan balasan ketika Tari meminta nya untuk menelpon sepuluh menit lagi karena suami Tari akan pergi dinas malam sebentar lagi.
"Oke, yank,,, sepuluh menit lagi mas telpon kamu. Udah ya, jangan ngambek. Love you..." balasan dari Mahmudi untuk Tari, dengan tambahan emoticon double kiss.
Seruni segera menutup layar ponsel nya, melempar ponsel tersebut dengan asal di kasur dan kemudian menata tempat tidur nya.
Seruni kemudian bergegas keluar untuk menemui sang suami dengan mendekap selimut tebal, "pa,,, mama gak bisa tidur,,," rajuk nya, seraya menjatuhkan kepala nya di atas pangkuan sang suami.
Seruni bertekad, malam ini wanita hama itu harus memendam kecewa karena sang pujaan hati tidak jadi menghubungi.
"Kenapa memang nya ma, biasa nya kalau udah ngantuk mama langsung tidur kan begitu lihat kasur?" Sindir Mahmudi, yang selalu melihat istri nya langsung tidur begitu ketemu kasur.
"Ya itu karena mama capek seharian ngurus anak-anak, beberes rumah, nyiapin makanan,," balas Seruni dengan cemberut, "kayak nya mama butuh asisten rumah tangga deh pa," lanjut Seruni, yang mengambil kesempatan melancarkan tuntutan nya mumpung sang suami sendiri yang membuka percakapan.
"Tapi pakai uang papa ya, bayar asisten nya. Uang mama mau mama tabung untuk pergi haji," lanjut Seruni, memulai niat nya untuk memperbaiki dan menyempurnakan ibadah nya.
"Kalau belum mampu enggak usah dipaksain nabung untuk pergi haji ma," balas Mahmudi dengan lesu, laki-laki itu juga terlihat mulai gelisah... dan sesekali melirik ponsel nya.
Seruni menggeleng, dan semakin menenggelamkan wajah nya kepangkuan sang suami. Terbersit ide di benak nya untuk mencumbui sang suami, agar melupakan wanita sampah yang saat ini pasti tengah menanti telpon dari suami nya.
"Ma, ini udah malam banget lho. Habis iklan papa susul deh," lanjut Mahmudi yang kekeuh mengusir istri nya, karena dia ingin segera menelpon wanita lain pujaan hati nya.
Seruni bergeming, dan sesaat kemudian membuka retsluiting celana suami nya. "Sreet.."
"Mama mau ngapain?" Tanya Mahmudi, yang terkejut karena tiba-tiba saja milik nya sudah di re*mas.
"Memuaskan papa," balas Seruni seraya mendongak menatap suaminya dengan mengerling, "sebagai ganti yang tadi sore pa," lanjut nya, dengan terus memainkan milik suami nya.
Mahmudi hanya pasrah menerima perlakuan nikmat sang istri, dia bahkan mengangkat tubuh nya kala Seruni melucuti celana nya.
Mahmudi mulai mengeluarkan suara era*ngan, yang berlomba dengan suara televisi yang sedang menayangkan acara adu jotos kegemaran nya itu.
__ADS_1
Seruni terus memanjakan suami nya itu, dan kali ini dia tidak sedang mengerjai sang suami. Karena sejujurnya, setiap berdekatan dengan sang suami.. Seruni pun selalu menginginkan nya.
Mahmudi mulai mende*sah, menikmati sentuhan istri nya. Laki-laki itu bahkan tak sadar, kala Seruni mengambil ponsel nya dan dengan tangan nya yang lain melakukan panggilan ke nomor Tari.
Seruni sengaja melakukan nya, agar wanita itu mendengar suara nikmat percintaan mereka.
Seruni menggapai remot dan mengecilkan volume televisi, agar hanya suara nikmat mereka saja yang bisa terdengar oleh wanita di seberang sana.
Mahmudi yang sudah mulai tidak tahan, melucuti pakaian sang istri satu persatu. Dia baringkan pelan tubuh sang istri yang sedang mengandung, dan Mahmudi mulai mendekap istri nya dari belakang dengan posisi miring.
Dan suara erang*an nikmat kedua nya yang besahut-sahutan,,, membuat seseorang yang sedang menunggu laki-laki pujaan hati, menjadi meradang. Apalagi Seruni sengaja mendramatisir suara nya, hingga terdengar seperti sangat menikmati permainan sang suami.
"Kurang ajar kamu mas! Kenapa kamu lakukan ini pada ku?!" Tari melempar apa saja yang ada di hadapan nya, hingga membuat bayi nya terkejut dan menangis.
"Anak sialan! Diam!" Seru nya dengan sangat marah.
"Bibi!" Suara Tari melengking, memanggil baby sitter.
"Iya mbak," wanita paruh baya datang tergopoh-gopoh masih dengan kantuk nya, dan langsung menggendong bayi nya Tari tanpa di suruh.
Tari masih mendengar kan suara-suara yang membuat bulu nya meremang, "sial! Suami ku sudah terlanjur pergi! Bagaimana ini?!" Tari meremas sendiri milik nya yang ikut berdenyut, mendengar suara nikmat wanita yang bercinta dengan lelaki halal nya.
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
Itulah resiko menyukai pasangan orang lain Tari!!!
Jika di luar, mungkin dia jadi milik mu... atau milik wanita lain lagi.
Tapi di rumah, dia milik pasangan halal nya.
So, jangan menyukai milik orang lain!!! Titik! Gak pakai koma! 😊🙏
Maaf yah, gak bisa balas komen nya satu-satu...
__ADS_1
Tapi aku baca semua kok, makasih banyak 🤗😘