
Sepanjang jalan dari kafe taman untuk mengantar kakak sepupu nya pulang, Doni terus merutuki Mahmudi.
"Brengsek banget si Mahmud itu kak, bini lagi hamil besar malah main perempuan!" Kesal Doni, sambil memukul-mukul setir mobil nya. Terlihat jelas kekesalan di wajah nya yang tampan, yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Iya, aku juga kesel banget tau gak om. Gimana coba perasaan Runi, kalau sampai dia tahu bahwa suami nya selingkuh!" Sungut Tiwi, yang juga merasa kesal melihat kelakuan suami sahabat nya tadi.
"Kalau enggak inget ada hukum di negeri ini, udah aku bunuh beneran tadi si Mahmud!" Rahang Doni mengeras, masih terbayang jelas di mata nya bagaimana tadi dua sejoli tak bermoral itu bermesraan di tempat umum.
"Eh om, kamu tadi memperhatikan enggak sih? Kayak nya, cewek nya ya yang agresif?" Kening Tiwi mengernyit, mengingat kejadian yang tertangkap jelas di indera penglihatan nya karena jarak mereka tadi tak begitu jauh.
"Iya sih, emang cewek nya yang agresif." Balas Doni, "lantas maksud kak Tiwi?" Tanya Doni tak mengerti.
Tiwi tak menjawab, dan mengalihkan pandangan nya keluar jendela kaca.
"Meski cewek nya agresif, tapi kalau benteng pertahanan si cowok kuat.. enggak bakalan ada perselingkuhan kak. Jadi, perselingkuhan mereka terjadi karena si Mahmud memberi kan peluang untuk wanita itu masuk kedalam rumah tangga nya. Terlepas dari, apakah rumah tangga Mahmudi dan Seruni baik-baik saja atau tidak?" Ucap Doni, yang tetap tak membenarkan kelakuan Mahmudi.
"Kalau pun rumah tangga mereka tidak baik-baik saja, sebagai laki-laki sejati... harus nya Mahmudi menyelesaikan dulu masalah nya dengan Seruni, bukan nya malah mencari wanita lain yang akan semakin memperunyam keadaan?!" Doni masih terus nerocos, masih terlihat kekesalan dari nada bicara nya.
"Kalau udah enggak cocok sama pasangan, ya lepas kan! Baru nyari ganti nya,," lanjut nya, seolah sedang menasehati Mahmudi.
"Gaya kamu om, kayak udah berpengalaman aja membina rumah tangga?" Cibir Tiwi, namun dalam hati membenarkan ucapan adik sepupu sekaligus sahabat nya itu.
Doni hanya mengedikkan bahu nya, tak menanggapi lebih jauh cibiran Tiwi.
"Kita harus gimana kak? Menurut ku, Uun harus tahu masalah ini?" Usul Doni.
"Duh, gimana ya om. Dia memang harus tahu sih, tapi aku kok enggak tega ya om untuk menyampaikan nya," balas Tiwi bimbang.
"Kalau gitu, biar aku yang ngomong kak." Ucap Doni, "besok kan rencana nya kita mau nonton bakda dhuhur, gimana kalau sebelum jam itu.. kita jemput Uun dan ajak dia ngobrol tentang masalah ini?" Lanjut nya, meminta pendapat.
"Boleh tuh om, jadi anak-anak yang lain jangan sampai tahu dulu," balas Tiwi yang setuju dengan usulan Doni.
"Tapi ngomong nya mesti hati-hati om, jangan baper juga kamu nya. Bicara sebagai sahabat, jangan cari kesempatan dalam kesempitan," nasehat Tiwi yang tahu persis, bahwa sepupu nya itu belum berhasil move on dari Seruni.
"Iya,, iya,, aku juga tahu itu kak. Enggak mungkin lah di situasi seperti ini, aku malah nambah beban nya Uun," balas Doni seraya melirik Tiwi.
__ADS_1
"Besok pagi, kakak yang hubungi Uun ya?" Pinta Doni, "kalau aku yang telpon dia, takut enggak di angkat. Soal nya tuh anak, kayak jaga jarak gitu... kalau sama aku," lanjut nya mengeluh.
"Ya pasti lah om, Runi kan udah bersuami. Aku kalau sama mantan juga jaga jarak, bukan apa-apa sih om.. untuk menghargai perasaan pasangan aja," balas Tiwi yang setuju dengan sikap Seruni.
"Berhubungan untuk silaturrahim sih gak masalah, tapi ya sewajarnya aja. Kalau pun harus ketemuan, ya mesti rame-rame kayak kita gitu," lanjut Tiwi.
Doni mengangguk-angguk, menyetujui ucapan Tiwi.
_____
Sementara itu, setelah gagal dengan aksi nya tadi, Tari langsung menghubungi kekasih nya yang asli. "Mas, dimana? Jemput aku di halte, dekat kafe taman," pinta Tari dan langsung menutup panggilan nya, tanpa menunggu jawaban dari orang di seberang sana. Tari seolah sudah yakin, bahwa orang tersebut pasti memenuhi keinginan nya.
Benar saja, tak berapa lama.. sebuah sedan tua berhenti tepat di depan Tari, dan Tari langsung masuk kedalam mobil itu.
"Maaf mas, aku gagal," lirih Tari.
"Kok bisa?! Kamu kan biasa nya jago merayu?!" Laki-laki tua, setua sedan yang dikendarai nya itu nampak kecewa, "pokoknya kamu harus coba lagi, sampai berhasil membuat video yang sudah kita rencanakan. Aku enggak mau, kalau sampai tahun depan dia yang naik jabatan," titah nya dengan penuh penekanan.
"Iya mas, Tari akan rayu mas Mahmud sampai dia mau Tari ajak untuk tidur," balas Tari dengan yakin.
Tari mengangguk dengan pasti.
"Sekarang, kamu mau kemana? Aku antar pulang? Atau mau kemana dulu?" Tanya laki-laki itu, seraya melirik Tari.
Tari menggeleng cepat, "aku enggak mau pulang mas, suami ku dinas malam. Dan aku juga udah nitipin anak-anak sama ibu," terang Tari, "aku mau, mas membantu ku menyelesaikan apa yang sudah terlanjur aku mulai," lanjut nya, seraya mere*mas pusaka laki-laki itu.
"Aku mau sekarang mas,," bisik Tari seraya mende*sah di telinga sang laki-laki.
Laki-laki tua yang sedang menyetir mobil itu hanya bisa menelan saliva, "oke, kita nginep di losmen," ucap nya setuju, sambil mere*mas salah satu gunung kembar milik Tari yang seolah melambai ingin di belai.
Tak berapa lama, tibalah mereka di sebuah losmen. Mereka berdua segera turun dari mobil, dan seakan sudah hafal.. petugas losmen langsung memberikan mereka berdua kunci kamar tanpa banyak bertanya.
Tari dan laki-laki itu segera masuk ke kamar nomor sebelas, sesuai yang tertera dalam kunci kamar. "Kamu mandi dulu saja dik, bawa lingerie kan?" Titah laki-laki tersebut sambil mendorong pelan tubuh Tari, ketika Tari hendak langsung menyerang nya.
Tari nampak kecewa,
__ADS_1
"Aku akan keluar sebentar, ada urusan yang harus aku selesaikan. Sepuluh menit, aku janji akan segera kembali. Jangan lupa, pakai lingerie yang warna merah," laki-laki tersebut segera keluar dari kamar, setelah sebelumnya menyempatkan diri menyambar bibir Tari sekilas.
Tari tersenyum labar sambil meraba bibir nya yang merah bekas gigitan vampir tua tadi, dan setelah beberapa saat,, Tari kemudian segera masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri nya.
Tari mandi dengan cepat, karena ingin segera bersiap menyambut kedatangan sang kekasih untuk menuntaskan hasrat.
Meski usia laki-laki itu jauh di atas Tari, namun permainan ranjang nya mampu mengimbangi Tari yang hiper.. dan karena itu, hubungan Tari dan laki-laki yang lebih pantas menjadi bapak nya itu terus berlanjut sampai sekarang.
Wanita muda dengan dua balita itu, sudah selesai berdandan. Sambil menunggu, Tari memainkan ponsel nya untuk memantau konten nya di intra gambar yang jumlah followers nya tak naik-naik.. hingga cuan yang di hasilkan tak sesuai harapan nya.
Lelah bermain ponsel, Tari berjalan mondar-mandir mengelilingi kamar dengan lantai nya yang telah kusam.. karena yang dinanti tak kunjung kembali.
"Ini juga, mas Edi ditungguin dari tadi gak datang-datang! Bilang nya keluar sebentar? Udah hampir satu jam, enggak balik-balik!" Kesal Tari, yang gelisah menunggu kekasih nya.
Tari merebahkan tubuh lelah nya di pembaringan, sambil tangan nya mere*mas gunung kembar milik nya sendiri.
Ya, sejak tadi di kafe.. Tari juga menahan hasrat akibat ulah nya sendiri. Dan kini, laki-laki yang menyewa losmen untuk mereka menginap, yang biasa memuaskan nafsu Tari malah tak kunjung kembali.
Tari memang memiliki naf*su sek*sualitas yang tinggi, hingga wanita muda itu mudah sekali terangsang. Bahkan, dia bisa bercinta dengan laki-laki meski tak memiliki perasaan apapun.
Ceklek,,
Terdengar suara pintu di buka dari luar, dan terlihat seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun yang sejak tadi dinanti oleh Tari,,, masuk kedalam kamar losmen, yang warna cat nya sudah mulai pudar itu.
"Mas Edi kemana aja sih? Tari udah enggak tahan ini??" Tari langsung bangkit dan menyeret tubuh tambun Edi, dan menghempas nya ke ranjang.
Rupanya, meski tubuh Tari lebih kecil dari tubuh Edi tapi karena dorongan naf*su yang sudah memuncak.. membuat tenaga Tari begitu kuat, hingga mudah saja bagi nya untuk menjatuhkan tubuh laki-laki yang rambut nya sudah mulai memutih itu.
"Sabar dong sayang,," ucap Edi, ketika tubuh Tari sudah langsung naik keatas tubuh nya.
Edi hendak mengatakan sesuatu lagi, namun bibir Edi sudah keduluan di bungkam oleh Tari. Dan Edi hanya bisa pasrah dan menikmati saja, ketika dengan liar,,, Tari melampiaskan hasrat yang sudah di tahan nya sejak tadi sore.
Suara-suara laknat bak gerombolan tawon yang berdengung, memenuhi kamar dengan pencahayaan remang-remang itu. Tenaga Tari seakan tak ada habis nya, begitu pula dengan Edi yang di sela-sela permainan nya sempat mengkonsumsi minuman penambah stamina.
Entah sudah berapa ronde mereka bermain, tapi kedua insan berbeda usia dua puluh lima tahun itu belum juga mengakhiri sesi percin*taan mereka yang panas membara.
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏