Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
07. Setia? Apa Enggak Laku?


__ADS_3

Kini mereka telah tiba di restoran favorit tempat mereka biasa nongkrong bersama, terlihat di sana tiga orang sahabat yang lain sudah menunggu.


"Lama banget sih, sampai habis dua gelas minuman lho aku?!" Protes salah satu dari mereka yang berseragam ASN.


"Sory Rin, tadi mereka aku ajak mampir ke toko sebentar." Balas Nila, yang mewakili ketiga sahabat nya sambil memeluk wanita yang bernama Rindi tersebut.


"Memang kamu nya aja, yang perut nya kayak galon," sahut Doni, yang langsung duduk di samping sahabat lak-laki yang bernama Dewa.


Seruni mengikuti Nila dan Tiwi, yang juga memeluk Rindi.


"Ibu peri kesayangan,,, i miss you so much," ucap Rindi, sambil mengeratkan pelukan nya pada Seruni.


"Jangan kenceng-kenceng Rin, kasihan tuh bayi nya Uun.. kejepit badan kamu yang segede gaban!" Ucap Doni dengan wajah serius.


"Ceile,, masih posesif aja pak Dirut, gagal move on ya pak???" Cibir Rindi, seraya menjulurkan lidah nya.


Doni pura-pura tidak melihat nya, yang lain tersenyum,,,, sedangkan Seruni hanya bisa menunduk.


"Fina,,, tambah embem aja mak pipi kamu," ucap Nila yang memang suka blak-blakan itu sambil mencubit pipi chabi Fina dan kemudian memeluk wanita blasteran Arab itu sekilas.


"Biar embem yang penting cantik dan pak su tambah sayang ya Fin," timpal Tiwi yang ikut memeluk Fina.


"Hmmm,, bener banget tuh," balas Fina.


"Hai kembaran," ucap Fina, seraya memeluk Seruni.


Seruni tersenyum lebar, dan membalas pelukan Fina.


"Kembaran?? Dari mana dilihat nya?? Menara Eiffel?!" Protes Rindi, "Si Runi badan nya bagus gitu meski lagi hamil gede, nah kamu...?!" Rindi terkekeh.


"Iya nih, gara-gara suami ku sering ngajakin makan kalau pas tengah malam kelaparan,,,, badan aku jadi melar deh," balas Fina dengan jujur.


"Habis ngapain emang nya Fin, tengah malam kelaparan.. main bola? Cetak sampai berapa gol, tuh?" Canda Nila, seraya terkekeh.


Yang disambut tawa oleh sahabat-sahabat nya yang lain, yang emang sudah saling memahami candaan masing-masing itu.


"Gol apa nya? Paling juga meleset! Si Bahlul kan cuma menang gede doang itu nya, tapi enggak lincah!" Timpal Dewa, yang semakin ngaco becanda nya.

__ADS_1


Yang lain semakin tergelak, begitu pula dengan Doni.. sedangkan Seruni geleng-geleng kepala.


"Aw Fin, kok nyubit!" Seru Dewa, yang dicubit lengan nya oleh Fina.


"Enak aja ngatain suami ku enggak bisa cetak gol! Terus menurut kamu, aku melendung kayak gini karena makan angin?!" Protes Fina, yang memang sedang mengandung itu.


Dan candaan mereka terus berlanjut, Seruni pun ikut larut di dalam nya dan sesaat bisa melupakan masalah perselingkuhan sang suami.


"Pesan makan yuk, udah lapar nih?" Pinta Seruni.


"Setuju sama Runi... aku juga udah lapar nih," timpal Fina, "bawaan orok kali ya Run, kalau bumil pengin nya makan mulu," lanjut wanita cantik itu, yang berat badan nya naik drastis karena kehamilan nya.


Mereka pun kemudian memesan makanan, sesuai dengan selera masing-masing.


"Eh, Run... kamu diet ya? Hamil enam bulan, tapi badan kamu kok masih segitu aja?" Tanya Fina yang penasaran sekaligus iri, "aku baru hamil empat bulan, berat badan udah naik berkali-kali lipat," gerutunya.


"Seruni menggeleng, enggak kok Fin. Aku makan biasa aja, enggak pilih-pilih juga. Malah lebih kayak tong sampah gitu deh?" Balas Seruni jujur.


"Tong sampah?" Doni mengernyitkan dahi nya.


"Maka nya married bro, biar tahu bagaimana perasaan wanita yang penuh rasa sayang.. sayang kalau liat ada makanan di buang, jadi meskipun sisa suami atau sisa anak tetap aja di lahap," terang Rindi panjang lebar.


Para wanita bukan nya menjawab, tapi malah tertawa terbahak.


"Maka nya nikah?!" Seru Dewa, tepat di telinga Doni.


"Ish,,," Doni mengelak, "memang nya, apa hubungannya nikah sama makan makanan sisa?" Cecar Doni yang semakin tak mengerti.


"Pasangan itu, air liur aja berbagi... dan enggak ada istilah jijik tuh? Apalagi hanya makan makanan sisa suami?!" Terang Nila, dan Doni pun baru memahami nya dan mengangguk-angguk.


"Ya, meski ada juga sih sebagian wanita yang enggak mau memakan makanan sisa suami atau anak-anak nya... tapi itu kembali lagi ke pribadi masing-masing. Jujur kalau aku pribadi sih, sayang kalau liat makanan di buang-buang. Nyari nya susah Don, ingat juga ada banyak orang di luar sana yang enggak bisa makan enak kayak kita," ucap Seruni, panjang lebar.


"Tuh, dengerin ibu peri bertausiah," canda Nila, sambil tersenyum.


Doni pun tersenyum lebar sambil memperhatikan Seruni berbicara.


"Woy,, lap tuh air liur kamu bro...!" Olok Dewa, yang sedari tadi memperhatikan Doni yang tak berkedip menatap Seruni.

__ADS_1


"Assem kamu Wa," gerutu Doni, seraya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


Nampak dua orang waiters datang dengan mendorong troli, yang penuh dengan makanan pesanan mereka berenam.


Setelah semua makanan terhidang di atas meja, mereka pun mulai memakan makanan tersebut. Dan seperti biasa nya, mereka makan sambil bercanda tawa, dan saling mencicipi makanan kesukaan masing-masing.


"Un,, cicipi nih lobster asam manis kesukaan kamu," Doni menyodorkan piring yang berisi lobster asam manis yang menggoda selera ke hadapan Seruni.


Seruni mengambil dua ekor dan menyimpan nya di piring, "makasih Don," ucap Seruni dengan tulus.


"Ehmmm,, aku enggak di tawarin nih? Aku juga lagi hamil lho Don? Nanti kalau anak ku ileran gimana?" Rajuk Fina.


"Minta lobster suami kamu aja, kan lebih gede dari ini," balas Doni, tanpa dosa.


Dan kembali mereka tertawa, "punya suami ku bukan lobster ya, tapi ikan gabus," balas Fina yang juga ikut tertawa.


"Jadi pengin punya suami orang arab, kayak apa ya rasa nya??" Celoteh Rindi.


"Suami kamu yang alim mau di kemanain mak?!" Balas Nila, "udah punya satu alim, jangan di sia-sia in. Susah tahu, jaman sekarang nyari laki yang bener-bener setia." Lanjut nya dengan berapi-api.


"Ya, kamu benar Nil," ucap Tiwi, yang setuju dengan perkataan sahabat nya itu. Yang lain pun mengangguk setuju, termasuk Dewa.


Begitu pun dengan Seruni yang membenarkan dalam hati, "ya, kamu benar Nil,,, suami ku contoh nya."


"Aku tipe setia," ucap Doni, seraya melirik Seruni.


Seruni segera mengalihkan perhatian nya, tak ingin berlama-lama bersitatap dengan Doni.


"Setia,, apa enggak laku?!" Ledek Rindi, yang kembali di sambut tawa sahabat nya yang lain.


"Enak aja, ngatain aku enggak laku. Aku harus menyeleksi nya dengan ketat, tau?!" Protes Doni, "cari wanita yang benar-benar tulus jaman sekarang kan juga susah?!" Lanjut nya berdalih.


"Ya, ya, kamu benar om. Susah banget memang..." ucap Tiwi yang setuju dengan perkataan adik sepupu nya.


"Tapi lebih susah lagi kalau enggak mau mulai berusaha untuk mencari," lanjut Tiwi, menyindir. Karena semenjak putus dengan Seruni, Doni memang enggan membuka diri untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita.


Yang lain mengangguk setuju dengan ucapan Tiwi, sedangkan Doni hanya mengedikkan bahu nya.

__ADS_1


Mereka pun kemudian melanjutkan makan siang dalam diam.


🌷🌷🌷🌷🌷 TBC 🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2