
Mahmudi pun menuruti keinginan sang istri, dan segera menelpon Tari. Tapi hingga berkali-kali menelpon, pangggilan Mahmudi tak di angkat juga oleh Tari.
Tentu saja Tari tak mengangkat telpon dari Mahmudi, karena wanita muda itu masih asyik masyuk dengan laki-laki bangkotan yang saat ini sedang menindih tubuh nya.
Ya, di dalam kamar hotel,, Tari dan Edi masih bergumul dengan peluh yang bercucuran, yang membasahi kedua tubuh polos mereka. Ranjang empuk itu menjadi saksi, betapa liar nya permainan Tari yang memang mengidap hiper***** itu.. dan Edi, mengimbangi nya dengan meminum obat kuat perkasa.
Sudah beberapa jam mereka bergumul di atas ranjang yang berukuran besar, dari semenjak habis makan siang tadi.. hingga sore menjelang, tenaga kedua nya seolah tak ada habisnya.
Mereka berdua hanya berhenti sebentar untuk minum dan makan roti yang dibawa oleh Edi untuk mengisi amunisi dan setelah itu mereka segera kembali bergulat di dalam kamar yang nyaman dan dingin itu.
Melakukan nya di losmen murahan dan panas saja, dengan kasur nya yang keras... mereka bisa menikmati nya. Apalagi di kamar hotel yang di sewa oleh Mahmudi yang harga nya cukup tinggi itu, tentu saja membuat kedua insan yang salah jalan itu semakin betah saja.
Berbagai macam gaya telah mereka lakukan, tak puas sampai di situ... Edi juga membantu Tari untuk melakukan oral se*ks, karena wanita muda itu seolah tak ada puas-puas nya, hingga Tari beberapa kali mencapai puncak kenikmatan.
Sedangkan di dalam mobil, karena panggilan nya tidak juga tersambung,,, Mahmudi mengajak istri nya untuk pulang, "kita pulang saja ya ma, nanti malam papa akan telpon dia lagi kalau anak-anak sudah tidur," janji Mahmudi seraya menggenggam tangan sang istri, dan kemudian mencium nya dengan lembut.
Seruni hanya mengangguk, dan tak ingin membahas nya lagi. Wanita yang tengah hamil itu merasa letih, letih jiwa nya dan juga habis tenaga nya karena marah-marah terus sejak tadi.
"Maafkan kan papa ma," ulang Mahmudi kembali, meminta maaf dengan tulus.. masih sambil menciumi punggung tangan istri nya. "Terimakasih karena mama masih mau menerima papa," lanjut nya dengan netra berkaca-kaca, terlihat jelas penyesalan di hati laki-laki tiga anak itu.
"Aku lelah, aku mau cepet pulang," ucap Seruni, yang tatapan nya tertuju keluar jendela kaca.. dan tak menanggapi perkataan suami nya tadi.
"Iya, kita akan pulang," Mahmudi meletakkan tangan Seruni di atas paha istri nya, dan kemudian mengelus paha Seruni dengan penuh kasih. "Papa kangen sama mama," ucap Mahmudi yang memang tadi siang sempat menahan gejolak has*rat nya akibat ulah Tari di dalam lift.
"Jangan meminta lebih, aku hanya bisa memberi papa maaf. Tidak untuk yang lain, karena aku masih marah sama papa!" Ketus Seruni, kembali menatap suami nya dengan tajam.
"Kecuali, jika dalam beberapa waktu ke depan.. papa bisa membuktikan pada ku, bahwa papa benar-benar telah berubah dan tidak berhubungan lagi dengan ja*lang itu!" Lanjut nya, penuh penekan.
Mahmudi mengangguk, "iya ma," balas nya lemah, dan suami Seruni itu kemudian segera melajukan mobil nya untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
"Hufff,,, alamat, bakal lama puasa kalau gini," sesal Mahmudi dalam hati.
Sepanjang perjalanan, hanya kebisuan yang tercipta diantara mereka berdua. Seruni terus menatap keluar jendela, seolah pemandangan di luar sana lebih menarik daripada laki-laki yang duduk di samping nya.
Sedangkan Mahmudi pandangan nya terus tertuju ke arah jalan raya di depan, tapi pikiran nya menerawang kemana-mana. "Aku harus bilang apa sama bos, kalau tahu-tahu mengundurkan diri dari projek itu. Terus kalau aku enggak lagi terlibat dalam projek, dari mana aku mendapatkan uang tambahan? Sedangkan tanggunganku kini semakin banyak?" Mahmudi bermonolog dalam diam, sesekali laki-laki itu menarik nafas dalam dan kemudian menghembus nya kuat-kuat seolah hendak membuang jauh batu besar yang menghimpit dada nya.
"Aku harus membayar asisten rumah tangga, tiap minggu mama ngajak jalan-jalan, belum lagi aku juga harus memberikan anak-anak dan juga mama surprise untuk mengambil hati mama kembali. Pasti itu butuh uang yang tak sedikit,,, hufff,,," kembali Mahmudi mengesah kasar, hingga membuat Seruni yang menatap kearah luar jendela kaca mobil dan bisa mendengar dengan jelas hembusan nafas berat sang suami, tersenyum seringai.
"Rasain kamu pa! Itu hukuman untuk papa!"
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Mahmudi berbelok ke halaman rumah nya tepat menjelang adzan maghrib. Dan kedatangan mereka disambut oleh ketiga anak nya yang hendak berangkat ke masjid, "kok mama baru pulang?" Protes Tsalis begitu Seruni turun dari mobil, yang memang tak pernah ditinggal lama-lama oleh Seruni.
"Maaf ya dik, mama tadi ada urusan sebentar sama papa," balas Seruni seraya memeluk putra ketiga nya, dan menciumi puncak kepala sang putra dengan penuh kasih.
Sedangkan kedua putra nya yang lain, langsung mencium punggung tangan sang ayah dengan takdzim seperti hari-hari biasa nya jika sang ayah pulang dari bekerja.
"Ayo dik berangkat sekarang, nanti keburu iqomah lho," ajak kakak sulung, membuat Seruni melerai pelukan putra bungsu nya.
Mahmudi yang sudah mengambil barang-barang dari dalam mobil, segera merangkul sang istri dan mengajak nya masuk kedalam rumah.
"Mbak Juju," panggil Seruni pada asisten nya, sambil melangkah ke arah kamar belakang.. dimana asisten nya biasa beristirahat.
"Ma, papa tunggu di kamar ya?" Meski sang istri tak menjawab, Mahmudi langsung menuju ke kamar nya.
"Iya bu," balas Juju yang baru keluar dari kamar mandi setelah berwudhu, "bu Runi sudah pulang?" Tanya Juju.
Seruni mengangguk, "nanti selesai sholat, mbak Juju boleh langsung pulang. Makasih udah jagain anak-anak," ucap Seruni dengan tulus, "ini untuk orang rumah," lanjut Seruni seraya menyodorkan plastik kresek yang berisi jajanan, yang tadi sempat di beli nya di pinggir jalan.
"Makasih bu, bu Runi pakai repot segala," balas Juju dengan tulus.
__ADS_1
"Enggak repot kok mbak, sekalian beli untuk anak-anak tadi." Balas Seruni seraya tersenyum, "ya udah mbak, nanti tolong tutup aja pintu luar ya. Aku mau bersih-bersih dulu," Juju mengangguk, dan Seruni segera berlalu untuk menuju ke kamar nya.
Sesampai nya di dalam kamar, Seruni mendapati sang suami telah menyiapkan pakaian ganti untuk nya. Seruni hanya melirik sekilas, dan kemudian berlalu begitu saja menuju kamar mandi.
"Ma, boleh ikut mandi bareng?" Pinta Mahmudi sambil mengekor di belakang sang istri.
Seruni menghentikan langkah nya tepat di depan pintu kamar mandi, membalikkan badan dan menatap tajam sang suami. "Selama ini, apa pernah kamu mendapati aku menolak setiap ajakan mu pa?" Tanya Seruni dengan melembutkan suara nya.
Mahmudi menggeleng.
Seruni mendekat ke arah suami nya, membelai lembut pipi Mahmudi yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Tangan lembut itu kemudian turun, meraba dada sang suami dan mulai membuka kancing baju suami nya satu-persatu.
Mahmudi tersenyum, "Alhamdulillah, enggak jadi puasa," sorak nya dalam hati
Seruni dengan nakal mulai memainkan bulatan kecil berwarna coklat di dada bidang sang suami, sambil merapat kan tubuh nya. Hingga sesuatu milik Mahmudi di bawah sana yang mulai mengeras dapat dirasakan oleh nya, Seruni tersenyum smirk dan segera mengalihkan tangan nya ke benda yang mengeras itu dan kemudian mere*mas milik Mahmudi.
Mahmudi mele*nguh, semakin menikmati sentuhan sang istri yang selalu pandai membuat nya terbang melayang itu. "Ohh... ma,,, please, kita lanjut di kasur dulu yuk," rajuk Mahmudi, yang sudah tidak dapat menahan has*rat yang sudah sampai ubun-ubun.
Tiba-tiba Seruni menjauhkan tubuh nya, "tapi maaf pa,,, kali ini, aku menolak papa!" Tegas Seruni.
"Ma, jangan begini ma? Please? Papa akan lakukan apa saja untuk menebus semua kesalahan papa, tapi bantu papa dulu ma,,," Rengek Mahmudi, dengan tatapan yang diliputi gai*rah.
Tapi Seruni tak menggubris permintaan suami nya, Seruni berlalu melenggang masuk kedalam kamar mandi dan membiarkan Mahmudi menahan has*rat.
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
Rasain tuh Mud,, emang enak di PHP?! 😄😄
Makasih untuk semua yang udah kasih dukungan, like, komen juga hadiah 🤗🤗
__ADS_1
Maaf yah, jika aku gak bisa balas komen nya satu-satu, tapi semua aku baca kok 😊🙏🙏
"