Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
45. Jangan Genit-genit Sama Uun


__ADS_3

Usai makan, mereka semua hendak kembali dengan aktivitas masing-masing. Mahmudi yang sudah selesai sedari tadi bersama teman-teman nya pun, telah berpamitan pada Seruni dan sahabat-sahabat nya untuk kembali ke kantor.


"Runi, Doni,, bisa minta waktu kalian sebentar?" Pinta Rindi, seraya menatap Seruni dan Doni bergantian.


Seruni mengernyit, begitu juga dengan Doni dan yang lain nya. "Ada apa sih?" Tanya Nila, menyelidik.


"Urusan pekerjaan," balas Rindi.


"Pekerjaan? Apa hubungan nya sama aku?" Tanya Seruni.


"Arif sepupu ku, butuh bantuan kamu Run," balas Rindi, seraya menatap Seruni.


"Ya udah, mau di lanjut di sini aja? Apa pindah ke kafe yang nyaman?" Doni menatap Rindi dan Seruni.


"Di sini ajalah, paling sebentar doang kan?" Balas Seruni.


"Pak Dewa, aku ijin agak terlambat ya?" Pamit Rindi dengan panggilan formal pada atasan nya itu.


Dewa hanya mengangguk dan kemudian segera berlalu, sambil melambaikan tangan nya. Dan kepergian Dewa di susul oleh Tiwi, Nila dan juga Fina.


Kini di meja itu tinggal Doni, Seruni dan Rindi.


"Aku ke toilet sebentar ya?" Pamit Doni, seraya menunjuk ke arah toilet. Dan laki-laki berbadan atletis itu segera berlalu meninggalkan meja tempat mereka makan siang bersama.


"Rin, bantuan apa sih maksud nya?" Tanya Seruni penasaran.


"Itu si Arif kan ikut mengajukan lamaran ke bagian kantor," balas Rindi, dan Rindi kemudian menceritakan kendala yang dihadapi Arif. Sehingga Arif membutuhkan bantuan orang dalam, seperti Doni agar bisa diterima bekerja di bagian kantor.


Lagi pula, saat ini Arif sangat membutuhkan pekerjaan itu,,, dimana waktu kerja nya hanya di siang hari, agar di malam hari nya Arif bisa full mengurus kedua anak nya yang masih balita.


"Kenapa enggak kamu sendiri yang ngomong sama Doni Rin? Sama aja kan?" Tanya Seruni.


"Ya beda Run, kalau kamu yang minta kan Doni pasti akan memikirkan nya," balas Rindi.


"Enggak juga, sama aja lah. Kita kan sama-sama sahabat nya," bantah Seruni.


Rindi menggeleng, "beda Run.."


"Apa nya yang beda?" Tanya Doni, yang sudah kembali dari toilet.


"Tau nih si Rindi," balas Seruni, dan kemudian Seruni menceritakan keinginan Arif, sesuai yang dia dengar dari Rindi barusan.


"Jadi gitu deh Don," lanjut Seruni, Doni mengangguk-angguk.


"Padahal kan, Rindi bisa ngomong langsung sama kamu? Kenapa mesti bawa-bawa aku segala?" Seruni mengedikkan bahu nya, tanda tak mengerti.


"Ya beda kan Don, kalau yang minta aku atau Runi?" Rindi menatap Doni dan Seruni bergantian.


Doni tersenyum, "hemm,, Rindi benar, beda," balas Doni.


"Ck,,," Seruni berdecak seraya menggeleng, tanda tak setuju. "Kita semua sahabat Don, jangan di beda-bedain gitu lah,,," lanjut Seruni, merasa tak enak hati.


"Hahaha,,," Doni tergelak, "aku bercanda Un, tapi kayak nya kamu mau banget ya aku bedain dari yang lain?" Goda Doni.


"Assalamu'alaikum,,,", ucap salam Arif, yang tiba-tiba muncul. Ternyata, Arif sudah dihubungi Rindi sebelum nya agar ikut bergabung setelah jam makan siang.


Arif kemudian menyalami Doni, "siang pak Doni," sapa Arif dengan formal, seraya mengangguk sopan.

__ADS_1


"Hemm, siang," balas Doni singkat.


"Wah, ketemu lagi kita mbak Runi," sapa Arif dengan tersenyum manis, seraya menjabat tangan Seruni cukup lama.


"Ehmm,," hingga membuat Doni berdeham cukup keras, dan melirik Arif dengan tajam.


Arif teringat cerita kakak sepupu nya,dan buru-buru melepas kan jabat tangan nya. "Maaf, apa saya terlambat?" Tanya Arif dengan sungkan.


Seruni menggeleng, sedangkan Doni langsung menjaga wibawa nya kembali di depan anak buah nya tersebut.


"Silahkan duduk om," titah Rindi, " mau minum apa?" Tawar Rindi pada sepupu nya.


"Apa aja deh mbak," balas Arif, yang sedikit canggung karena berhadapan langsung dengan big bos nya.


Rindi kemudian memesankan kopi untuk Arif dan juga untuk Doni, sedangkan dia sendiri memesan jus buah naga, dan jus alpukat untuk Seruni.


"Gimana Don?" Tanya Rindi.


"Sebenarnya itu bukan bagian ku sih, karena sudah ada bagian HRD yang menangani nya." Balas Doni, seraya menatap Arif. " Mas Arif sarjana apa?" Tanya Doni, kemudian.


"Ekonomi pak, management marketing," balas Arif dengan jujur.


"Sudah berapa lama, kerja sebagai security di sana?"


"Kurang lebih delapan tahun pak," balas Arif, dan Doni kembali mengangguk-angguk.


"Kalau tidak salah, sudah jadi Chief security ya?" Tanya Doni kembali. (Chief security atau kepala satpam).


Arif mengangguk, "benar pak," balas Arif dengan sikap nya yang tegas.


"Bukan kah gaji nya sudah besar ya, kenapa mau pindah ke dalam?" Doni mengernyit.


"Iya, Rindi sudah cerita," Doni memotong nya dengan cepat, karena Doni tak ingin Arif kembali mengungkit perselingkuhan istri nya dengan Mahmudi, yang bisa saja akan membuat Seruni kembali bersedih.


Arif menunduk, sedangkan Doni bersidekap sambil menatap jauh ke depan.


Seruni dan Rindi terdiam, masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri.


Hening, sejenak menyapa meja tersebut.


"Tolong di bantu ya Don," pinta Rindi, mengurai keheningan yang tercipta di antara mereka berempat.


Doni menghela nafas pelan, seraya melirik Seruni Berharap, ibu hamil yang terlihat makin cantik itu memohon pada nya. Meski Doni telah yakin, tanpa Seruni minta pun.. sebenarnya Arif sudah memenuhi syarat untuk mengisi salah satu kursi yang kosong di bagian kantor, mengingat kinerja Arif yang sangat baik dan bertanggung jawab serta di tunjang dengan masa kerja nya yang sudah cukup lama.


Rindi menyenggol lengan Seruni, hingga membuat lamunan Seruni buyar seketika. "Eh, iya. Sampai mana obrolan nya?" Bisik Seruni yang tergagap, bertanya pada Rindi.


"Tuh kan, malah melamun?" Protes Rindi dengan mengeraskan suara nya, dan Doni tersenyum kearah Seruni.


"Un, aku di sini. Enggak perlu dilamunin," bisik Doni, yang duduk tepat di samping Seruni.


"Apaan sih Don,,, siapa juga yang melamun," kilau Seruni, dengan memasang wajah serius.


Rindi kembali menyenggol lengan Seruni dan kemudian berbisik, "bantuin bujuk Doni, buruan,,," pinta Rindi dengan tidak sabar.


"Iya, iya, ih,, bawel," balas Seruni seraya cemberut, yang membuat bibir nya terlihat sangat menggemaskan di mata Doni.


"Un, jangan manyun gitu Un... Duh, Uun.. kamu membuat iman ku runtuh," teriak Doni dalam hati, yang kembali teringat kenangan mereka saat masih berpacaran dulu.

__ADS_1


Doni dan Seruni adalah pasangan yang tidak memandang ciuman sebagai hal yang tabu. Meski hanya sesekali, mereka pun pernah melakukan nya, yaitu di momen-momen istimewa.


Flashback On,,,


Doni dan Seruni sedang merayakan hari jadian mereka yang ke tiga, dan mereka merayakan nya dengan nonton bioskop.


"Happy anniversary yang ke tiga sayang,,," ucap Doni dengan lembut, sesaat setelah lampu di dalam ruangan gedung bioskop tersebut dimatikan karena film akan segera di putar.


Doni mengambil tangan kiri Seruni dan kemudian menyematkan cincin indah di jari manis gadis pujaan hati nya, "anggap saja ini adalah cincin pertunangan sementara, dan aku akan membelikan cincin yang lebih indah jika kita bertunangan nanti," lanjut Doni, seraya mencium punggung tangan Seruni.


"Happy anniversary hubby,,, makasih ya, ini indah banget," balas Seruni dengan senyum nya yang merekah, melihat kilau dari batu berlian pada cincin tersebut.


Sejenak netra kedua nya saling bertaut, Doni mulai mendekatkan wajah nya dan Seruni diam saja tak mengelak. Bahkan ketika Doni mulai menyatukan wajah, Seruni seolah menyambut nya. Hingga kedua nya larut dalam hangat nya kemesraan dua hati yang saling mencinta, hanyut dalam buaian kasih yang tulus yang tercipta dari dua hati yang saling menyayangi. Kedua insan yang sedang jatuh cinta itu, sama-sama merasakan manis nya cinta.


Hingga suara teriakan dari salah satu pemeran utama dalam film yang diputar, menyadarkan mereka berdua. Entah sudah berapa lama mereka berciuman, karena baik Seruni maupun Doni merasakan kebas pada bibir nya.


Doni mengusap lembut bibir Seruni dan Seruni tersenyum manis pada kekasih nya itu. Seruni kemudian menyandarkan kepala nya pada bahu kokoh sang kekasih hati, dan Doni mengusap lembut rambut panjang nan hitam milik Seruni.


Flashback Off,,,


Dan hingga detik ini, Doni bahkan masih bisa merasakan manis nya bibir tipis Seruni. Doni menelan saliva, dan segera membuang pandangan nya jauh ke depan.


"Don," panggil Seruni, yang membuat Doni terpaksa menatap Seruni kembali.


"Hmm,," balas Doni dengan gumaman.


"Tolong pikirkan lagi permintaan mas Arif dan juga Rindi ya," pinta Seruni dengan bibir mengulas senyum.


"Aku enggak janji," balas Doni sok jual mahal.


"Don,,, ayolah, aku tahu kamu orang nya professional. Tapi aku yakin, kamu bisa menilai kinerja seseorang dengan obyektif. Lagi pula, masa kerja mas Arif juga sudah sangat lama bukan?" Bujuk Seruni.


Doni memasang wajah datar, sedangkan Arif nampak ketar-ketir. Begitu pun dengan Rindi, yang terlihat cemas.


Karena sudah bukan rahasia lagi, jika koneksi dalam sebuah pekerjaan itu sangat menentukan. Dan Arif sangat pesimis untuk dapat diterima, mengingat rival-rival nya merupakan bawaan orang dalam yang memiliki jabatan penting.


Untuk sesaat, hening kembali menyapa meja tersebut.


"Ada syaratnya," ucap Doni memecah keheningan.


"Apa?" Tanya Rindi antusias.


"Tolong mas Arif jangan genit-genit sama Uun," balas Doni, "maksud ku Seruni," ralat nya, yang langsung disambut tawa oleh Rindi.


Arif mengangguk-angguk, karena sudah diberi tahu oleh Rindi sebelum nya bahwa Seruni masih bertahta di hati Doni. Sedangkan Seruni mengernyit dalam.


"Haduh pak Dirut,,, yang genit tuh bukan Arif, tapi kamu?" Olok Rindi, yang membuat Doni menjadi keki. Pasal nya, masih ada Arif diantara mereka.


Rindi yang menyadari perubahan wajah Doni, segera mengusir sepupu nya. "Om, urusan kita udah selesai. Nanti kita ngobrol lagi di rumah," pinta Rindi, dan Arif mengangguk.


Arif kemudian berpamitan, "baik pak Doni, mbak Seruni. Saya mohon undur diri," ucap Arif dengan sopan, dan setelah mengalami Doni dan Seruni, Arif pun segera meninggalkan tempat itu.


"Un, masih ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Doni, seraya melirik Rindi.


"Hem,,, ngusir nih, cerita nya," ucap Rindi yang langsung sadar diri dan segera berkemas.


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏-----

__ADS_1


 


__ADS_2