Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
51. Ketuban Pecah


__ADS_3

Satu persatu sahabat yang di undang Doni, mulai berdatangan. Dan seperti permintaan Doni, mereka hadir dengan mengajak serta anggota keluarga. Termasuk Seruni, yang sore ini datang bersama suami dan ketiga anak laki-laki nya.


Seruni yang datang paling akhir, di sambut dengan suka cita oleh sang tuan rumah yaitu Doni. Karena sebelumnya, Doni sempat ragu apakah Seruni benar-benar jadi datang memenuhi undangan dari nya atau tidak? Mengingat pertemuan mereka tadi pagi di pusat perbelanjaan, dimana suami Seruni itu nampak tidak nyaman dengan keberadaan diri nya.


"Alhamdulillah Un, akhirnya kamu datang juga," sambut Doni seraya menjabat erat tangan Seruni, tangan halus dan lembut yang dulu selalu di genggam nya dengan erat. Tangan yang jemari nya pernah di sematkan cincin indah, sebagai bukti cinta kasih mereka berdua.


Sebenarnya, Doni tak hanya ingin menjabat tangan Seruni tapi juga ingin memeluk ibu hamil yang semakin lama semakin terlihat sangat menawan itu. Namun, Doni masih menghargai perasaan Mahmudi yang pasti tidak akan suka jika istri nya itu di peluk oleh laki-laki lain apalagi di depan mata.


"Ya pasti datang lah Don, masak ada undangan makan enak dan gratis enggak datang sih," balas Seruni dengan bercanda, untuk mencair kan suasana yang sedikit kaku karena sang suami memasang wajah masam.


"Haha,, bisa aja kamu Un," balas Doni dengan terkekeh kecil, dan Doni kemudian bergantian menyalami Mahmudi.


"Makasih sudah menyempatkan waktu nya untuk bisa hadir bro," ucap Doni dengan tulus, yang hanya di balas oleh Mahmudi dengan anggukan kepala dan senyum yang sedikit dipaksakan.


Tiwi dan keluarga kecil nya yang hadir paling awal tadi untuk membantu Doni mempersiapkan segala sesuatu, juga menyambut kehadiran Seruni dengan tersenyum bahagia. "Bumil ku, how are you baby?" Tiwi langsung menghambur, memeluk Seruni.


"Alhamdulillah Wi, aku dan debay sehat wal afiat," balas Seruni dengan tersenyum hangat.


Sahabat-sahabat yang lain, yang juga sudah hadir terlebih dahulu juga ikut menyambut ibu hamil itu dengan sangat antusias.


Seruni kemudian memeluk sahabat wanita nya satu persatu, dan terakhir menyalami Dewa.


"Wah, bumil makin glowing aja nih. Bikin makin susah move on kalau gini," ucap Dewa yang masih menjabat tangan Seruni, seraya melirik Doni.


Doni hanya garuk-garuk kepala dan tersenyum tipis, sambil melihat kearah Mahmudi yang sudah berjalan menjauh untuk bergabung bersama para suami.


Sedangkan ketiga anak Seruni juga nampak sudah bergabung bersama anak-anak yang lain, dan langsung bermain berbagai macam permainan baru yang sengaja disiapkan Doni untuk mereka.


"Santai aja Don, suami nya enggak bakal denger. Sudah jauh dia," lanjut Dewa, yang bisa menangkap arah pandangan mata Doni.


"Udah ah, jangan bahas itu terus?" Protes Seruni, dengan melepaskan jabat tangan Dewa.

__ADS_1


"Hemm, Uun benar Wa. Jangan dibahas lagi," timpal Doni, "lagian, si Uun datang karena ada undangan makan enak dan gratis kok, bukan karena aku," lanjut Doni yang menirukan omongan Seruni seraya tergelak.


"Sumpah Run?" Tanya Dewa dengan menahan tawa.


"Iya, dah gitu besok pulang nya dikasih angpow lagi? Rugi bandar kan, kalau aku enggak datang rame-rame sama pasukan?" Balas Seruni semakin asal, yang membuat semua sahabat nya tertawa termasuk Doni yang semakin tergelak.


"Wah benar Run, nanti kamu yang bakal jadi pemecah rekor nya dengan pulang membawa angpow paling banyak," timpal Dewa dengan tawa yang langsung pecah, "tuh, bocil nya ada tiga. Dan masih ada satu lagi yang di dalam," lanjut Dewa sambil menunjuk perut Seruni.


"Iya juga ya, lah aku cuma dapat dua dong?" Protes Rindi.


"Maka nya nambah," saran Seruni.


"Tiap hari udah usaha untuk nambah Run, tapi ya gitu deh.. enggak jadi-jadi," ucap Rindi.


"Kamu nambah nya nambah makan, jadi nya bukan jadi anak Rin tapi jadi daging. Hahaha,,," balas Nilai yang kembali tergelak.


"Kamu benar Nil. Tahu nih, tiap malam bawaan nya lapar melulu," keluh Rindi, yang sudah merasa begah dengan perut nya yang menggendut.


"Lagi isi paling Rin, kayak aku yang awal nya juga enggak tahu kalau ternyata hamil. Tiap malam tuh, bawaan nya pengin makan terus." Timpal Fina, yang perut nya hampir menyamai perut Seruni. Padahal usia kehamilan Fina, baru enam bulan.


"Benar juga kamu Nil, aku paling suka makan punya nya suami, hihihi,,,," balas Fina dengan terkikik, yang disambut gelengan kepala oleh sahabat-sahabat nya.


"Ayo, ayo,, kita duduk dulu," ajak Tiwi, dan mereka kemudian bergabung bersama para suami.


"Run, kontak mobil kamu mana? Bira koper kalian di bawa ke kamar sama kang Udin, nanti kamar kamu di lantai satu ya Run.. enggak apa-apa kan pisah sama kita-kita? Kasihan kalau kamu naik turun?" Tanya Tiwi yang memang mendapatkan tugas untuk membagi kamar kepada para sahabat, memastikan kenyamanan Seruni.


Seruni mengangguk, dan meminta kontak mobil pada sang suami. Setelah mendapatkan kontak mobil nya, Seruni segera memberikan pada kang Udin.. pelayanan di villa milik Doni tersebut, yang sudah sangat di kenal oleh Seruni.


"Ini kang, kontak nya," Seruni menyodorkan kontak tersebut, dan langsung diterima oleh laki-laki yang bernama Udin itu dengan tersenyum ramah.


"Nggih non Uun, mohon ijin ya untuk membawa koper non Uun ke kamar," pamit kang Udin, yang memanggil Seruni seperti Doni memanggil ibu hamil tersebut.

__ADS_1


Seruni mengangguk dan tersenyum, kang Udin pun segera berlalu dari hadapan nya.


Mereka pun kemudian terlibat obrolan yang hangat, dengan diselingi canda dan tawa. Karena sebelumnya, mereka semua sudah saling mengenal dan pernah beberapa kali bertemu dalam sebuah acara yang sengaja mereka adakan untuk saling mengakrabkan keluarga.


Obrolan mereka terdengar seru, mulai dari obrolan yang ringan seputar hobi, anak, hingga berlanjut ke obrolan tentang peluang usaha.


Dan suara anak-anak di ruang yang sama namun di sisi yang lain, yang sedang bermain bersama dan sesekali berebut mainan membuat suasana semakin ramai.


Hingga tanpa terasa, kumandang adzan maghrib terdengar dari kejauhan. Dan mereka semua membubarkan diri, masuk kedalam kamar masing-masing yang telah disediakan untuk bersiap menjalankan kewajiban nya sebagai seorang muslim.


Para suami kompak untuk pergi ke masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari villa tersebut bersama anak-anak, sedangkan para istri memilih untuk menjalankan sholat maghrib di dalam kamar masing-masing.


Usai sholat, para wanita berkumpul di halaman samping yang sangat luas untuk menyiapkan berbagai macam menu makanan yang sudah dipesan oleh Tiwi. Mereka dibantu oleh yu Siti, istri nya kang Udin yang sudah sangat lama bekerja pada keluarga nya Doni.


Ya, acara makan malam itu di gelar secara lesehan dan di ruang terbuka hijau. Bunga-bunga indah serta hiasan lampu taman di samping villa yang berwarna-warni, membuat suasana di halaman samping itu terlihat sangat cantik. Di tambah dengan harum aroma bunga gardenia berwarna putih susu yang sedang bermekaran, menambah kesan eksotis area taman tersebut.


Semua makanan telah siap, dan para suami serta anak-anak juga sudah pulang dari Masjid. Mereka langsung digiring oleh Doni, untuk ikut bergabung di halaman samping villa milik nya.


Dan Doni selaku tuan rumah, segera mempersilahkan pada semua tamu nya untuk menikmati hidangan makan malam yang mewah dan lengkap itu sesaat setelah semua nya menempatkan diri.


Mereka kemudian makan sambil melanjutkan obrolan tadi sore yang terjeda, karena kumandang adzan maghrib. Doni yang pandai berbicara dengan semua kalangan serta Dewa dengan banyolan-banyolan nya yang segar, membuat suasana makan malam terasa hangat dan nikmat.


Usai makan, anak-anak segera diajak kang Udin dan istri nya untuk kembali ke dalam villa dan diputarkan film kartun. Tidak semua nya menyukai film kartun tersebut, sehingga ada yang kembali melanjutkan menyusun lego dan ada pula yang memilih bermain boneka.


Sedangkan para orang tua, melanjutkan obrolan di tempat yang sama seperti saat mereka makan tadi. Hanya saja, kini yang di hadapan mereka bukan lagi makanan berat tetapi kopi dan makanan ringan.


Di saat tengah asyik mengobrol, Seruni tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang keluar dari area sensitif nya yang terasa hangat dan mengalir cukup deras.


Ibu hamil yang sudah berpengalaman itu, sejenak menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan nya secara perlahan. Dia yakinkan diri nya sendiri agar tidak panik, dan Seruni kemudian berbisik pada Tiwi yang duduk tepat di samping nya.


"Wi, klinik bersalin dekat apa jauh? Jangan heboh yah, biasa aja. Ketuban ku udah pecah." Pinta Seruni, agar Tiwi tenang.

__ADS_1


"Serius?!" Seru Tiwi, hingga membuat semua perhatian tertuju pada mereka berdua.


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2