Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
17. I Love You Mama Honey


__ADS_3

Kedua orang sahabat Seruni itu langsung cabut, sedangkan Mahmudi masih terduduk dengan lemas di tempat nya. Rasa malu dan rasa bersalah nya pada sang istri, mengalahkan rasa nyeri di pipi dan bibir nya akibat tonjokan keras dari Doni.. mantan kekasih Seruni, yang hingga detik ini masih belum bisa melupakan istri dari Mahmudi itu.


Setelah terdiam beberapa saat lama nya, Mahmudi memutuskan untuk pulang dan segera membayar minuman dan camilan yang bahkan belum sempat dia sentuh sama sekali. Dan tanpa menghiraukan Tari yang seolah menghilang sejak Doni memergoki kedua nya, Mahmudi terus melangkah kan kaki nya meninggalkan kafe tersebut.


Mahmudi segera masuk kedalam mobil nya, dan dengan kecepatan sedang, Mahmudi melajukan mobil nya menuju arah pulang.


Di sepanjang perjalanan, Mahmudi berpikir keras.. bagaimana nanti memberi kan alasan pada sang istri, mengenai luka di bibir dan lebam di pipi nya? Karena Mahmudi belum memiliki keberanian, untuk mengakui kesalahan nya pada sang istri yang sudah bersikap sangat baik pada diri nya selama ini.


Setiba nya di rumah, hari sudah gelap dan adzan maghrib sudah selesai di kumandangkan. Mahmudi tak mendapati siapa pun di ruang keluarga, "pasti anak-anak sudah berangkat ke Masjid, bagus lah.. jadi mereka tak perlu melihat papa nya pulang dalam kondisi yang seperti ini," gumam Mahmudi dalam hati.


"Lantas, mama dimana ya? Moga aja, mama sedang sholat. Jadi, mama juga gak perlu melihat keadaan wajah ku," Mahmudi berjalan pelan mengintip ke ruangan khusus untuk sholat, dan benar saja.. Mahmudi melihat istri nya yang tengah hamil besar itu sedang sholat maghrib dengan khusyuk.


"Syukur lah,,," ucap Mahmudi merasa lega, dan ayah tiga anak itu bergegas masuk kedalam kamar untuk segera mandi dan mengobati luka di bibir juga lebam di pipi nya dengan salep yang sudah di beli nya di apotik sewaktu jalan pulang tadi.


Cukup lama Mahmudi berada di kamar mandi, bahkan Seruni yang sudah menanti nya di dalam kamar.. sudah menyelesaikan ngaji nya hingga beberapa lembar mushaf Al-Qur'an, namun Mahmudi tak kunjung keluar dari kamar mandi.


Hingga hal tersebut, mengundang kecurigaan Seruni yang langsung memanggil sang suami sambil mengetuk pintu kamar mandi. "Pa, apa papa baik-baik saja? Kenapa lama sekali di dalam?" Seru ibu tiga anak itu, dengan mengeraskan sedikit suaranya agar sang suami yang berada di dalam kamar mandi mendengar panggilan nya.


"Iya ma, sebentar. Ini papa udah mau selesai," balas Mahmudi dari dalam kamar mandi, yang membuat Seruni bernafas lega.


Seruni pun kembali duduk di sisi pembaringan, untuk menunggu suami nya keluar dari kamar mandi. Dan tak berapa lama, Mahmudi keluar dengan berjalan menunduk.


Mahmudi segera memakai pakaian yang telah disiapkan oleh sang istri tanpa sepatah katapun dan tanpa melihat kearah Seruni, karena Mahmudi ingin menyembunyikan lebam di pipi yang masih kentara.


"Pa, papa kenapa?" Tanya Seruni penuh selidik, karena mendapati sang suami bersikap aneh.

__ADS_1


"Enggak apa-apa ma, papa hanya lelah.. ingin segera tidur," balas Mahmudi, seraya langsung merebahkan tubuh lelah nya dan menutupi sebagian wajah nya dengan lengan.


"Papa kan belum sholat maghrib?" Seruni mengingatkan.


"Tadi sebelum mandi, papa sholat dulu ma di kamar," balas Mahmudi berbohong.


"Oh, ya udah. Aku pijat ya pa," Seruni mulai memijat kaki sang suami, dengan penuh perhatian. Dan mendapatkan sentuhan lembut istri nya, hasrat Mahmudi yang tadi sempat muncul akibat godaan Tari, kini kembali menyeruak.


"Ma,," panggil Mahmudi dengan suara serak.


Seruni mengernyit kan kening nya, "iya pa, ada apa?" Tanya Seruni, sambil mendekat kan wajah.


Mahmudi langsung meraih tubuh istri nya dan membawa sang istri naik keatas tubuh nya, Mahmudi melupakan lebam di pipi hingga ketika bibir keduanya hendak menyatu.. reflek Seruni mundur sambil berseru dengan penuh kekhawatiran.


"Pa, ini kenapa?!" Tanya Seruni sambil mengusap pipi sang suami dengan lembut.


Mahmudi kembali meraih tengkuk sang istri dan hendak mencium nya, "salah paham gimana, maksud papa?" Cecar Seruni sambil menjauhkan wajah nya, karena tak puas dengan jawaban sang suami.


Hasrat Mahmudi yang sudah sampai ubun-ubun, membuat Mahmudi memilih melanjutkan menyatukan bibir nya pada bibir tipis sang istri. Dan sejenak, mengabaikan pertanyaan istri nya itu.


Dengan rakus Mahmudi melu*mat bibir Seruni, bahkan rasa perih di bibir nya yang terluka karena bogem mentah dari Doni.. tak dihiraukan nya sama sekali. Rasa perih itu kalah dengan bira*hi yang saat ini menguasai Mahmudi, hasrat menggebu yang sudah di tahan nya sejak dari kafe tadi akibat ulah Tari.


Seruni hanya bisa pasrah, tak mungkin dia menolak keinginan suami nya itu. Dan merasa tak mendapatkan penolakan, Mahmudi semakin gencar mencumbui istri nya sah nya tersebut.


Dalam hati Mahmudi bersyukur, karena melampiaskan hasrat pada istri sah nya sendiri dan bukan pada Tari yang awal nya dia hanya iseng saja sebagai penyemangat kerja di lapangan.

__ADS_1


Dan Mahmudi berjanji, akan segera menyudahi kebodohan nya selama ini dan tak akan mengulangi nya lagi. Mahmudi juga berjanji dalam hati, akan jujur pada istri nya, dan akan meminta maaf pada Seruni tentang perilaku nya yang menyimpang.. hanya saja, Mahmudi belum tahu kapan dia memiliki keberanian untuk berkata jujur.


Nafas Mahmudi tersengal, begitupun dengan Seruni. Dan ketika Mahmudi menuntut lebih, "pa, tapi bentar lagi isya'.. kita sholat dulu aja ya?" Pinta Seruni seraya menatap dalam netra suami yang selalu memperlakukan nya dengan lembut itu.


Ya, selama menikah dengan Seruni.. Mahmudi tak pernah sekalipun berbicara kasar pada istri nya, dan Mahmudi juga selalu bersikap lembut dan hangat pada Seruni meskipun tak diucapkan dengan kata yang romantis. Dan hal itulah yang membuat Seruni akhirnya bisa melupakan Doni, dan benar-benar jatuh cinta pada Mahmudi.


Hingga sebulan yang lalu Seruni mendapati fakta yang menyakitkan, bahwa suami yang dianggap nya begitu menyayangi diri nya itu ternyata selingkuh. Tapi Seruni masih berbesar hati, dia masih ingin memberikan kesempatan pada Mahmudi untuk menyadari kesalahannya.


"Sholat nya nanti aja ya ma, please..." pinta Mahmudi dengan memohon, wajah ganteng itu terlihat sangat memelas menahan sesuatu milik nya yang sudah meronta sedari tadi.


Seruni yang tak tega melihat wajah suami nya hanya bisa mengangguk pasrah, dan Mahmudi langsung memiringkan tubuh sang istri dan memeluk istri nya dari belakang.


"Maafin papa ya ma," lirih Mahmudi seraya melampiaskan hasrat nya yang menggebu, entah maaf untuk apa? Dan Seruni yang sudah berada di bawah kendali Mahmudi hanya bisa menggumam, yang diiringi dengan ******* dan lenguhan kecil. "Ehmmmm,,,,"


Suara adzan isya' yang berkumandang dari Masjid yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah mereka berdua, mengakhiri penyatuan hangat kedua nya.


Berkali-kali Mahmudi menciumi puncak kepala sang istri, seraya mengucap kata maaf.. tapi hanya sebatas satu kata itu, karena Mahmudi tak memiliki keberanian untuk melanjutkan kata-kata yang sudah di susun di dalam benak nya.


"Kenapa sih, papa minta maaf terus?" Tanya Seruni memancing, seraya membalikkan badan menatap suami nya. Seruni berharap mendengar suami nya itu berterus terang pada nya, dan jujur mengakui kesalahan nya.


"Papa banyak salah pada mama, maaf ya... untuk semua," balas Mahmudi yang belum juga memiliki keberanian untuk berkata jujur.


"Papa sayang sama mama, sayang banget... i love you mama honey," ucap Mahmudi untuk yang kedua kali nya menyatakan perasaan, setelah belasan tahun mereka menikah.


Yang pertama adalah saat malam pertama mereka dan setelah itu, Mahmudi tak pernah lagi berkata manis ataupun romantis. Mahmudi mengungkapkan perasaan nya hanya dengan perbuatan yang selalu memperlakukan istri nya itu, dengan lembut dan penuh kasih.

__ADS_1


Mahmudi sadar, dia bukan tipe suami yang romantis.. dan Mahmudi juga sadar, sikap nya yang romantis pada wanita lain adalah kesalahan yang sangat besar. Dan dia ingin mengakhiri semua secepatnya, sebelum terlambat.


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2