
Mahmudi buru-buru bangkit dan segera mengambil tas milik Tari, laki-laki itu membuka tas tersebut dan mengambil ponsel milik Tari.
Dengan sedikit grogi sambil sesekali menatap kearah pintu kamar mandi, Mahmudi yang sudah seperti seorang pencuri amatiran itu mulai membuka layar ponsel Tari. "Alhamdulillah, enggak di kunci," ucap Mahmudi lega.
Dan Mahmudi kemudian melakukan apa yang diminta oleh istri nya, yaitu men-scan barkode wasslap di ponsel Tari menggunakan ponsel milik Tsalis.
"Yes, selesai," ucap Mahmudi dengan lega, Mahmudi kemudian segera mengembalikan ponsel Tari kedalam tas dan meletakkan tas tersebut di tempat nya semula.
"Aku harus segera keluar dari kamar ini, berdua dengan Tari di dalam kamar hotel.. membuat jantung ku berdetak tak beraturan, dan ini sangat tidak baik untuk kesehatan jantung ku," gumam Mahmudi seraya berjalan mendekati pintu kamar mandi, dimana terdengar suara gemericik air karena Tari sedang mandi di pancuran.
"Sayang,,," panggil Mahmudi masih pura-pura manis, sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Terdengar pintu di buka, ceklek...
Dan tanpa malu, Tari yang rambut nya masih penuh dengan busa dan tubuh nya tanpa tertutup benang sehelai pun.. berdiri tepat di ambang pintu, membuat jantung Mahmudi benar-benar akan lepas dari tempat nya.
Mahmudi menelan saliva berkali-kali, seraya menatap tubuh polos Tari yang terekspos sempurna tanpa berkedip.
"Ada apa mas?" Dan pertanyaan dari Tari, berhasil mengembalikan kewarasan Mahmudi. "Udah enggak sabar aja sih mas, mau mandi bareng ya?" Lanjut Tari sambil menggoda Mahmudi dengan memainkan gunung kembar milik nya, dengan mere"mas-remas nya sendiri sambil menggigit bibir.
Mahmudi menggeleng cepat, dan segera mengatakan maksud nya. "Mas, mau keluar sebentar ya? Melihat mu seperti ini, mas jadi ingin membeli sesuatu di apotik depan. Karena kita akan habiskan waktu berdua di kamar ini hingga malam." Mahmudi memainkan kedua alis nya.
"Iya mas, pergilah... dan cepat lah kembali," ucap Tari sambil mengedipkan sebelah mata nya.
Mahmudi kemudian segera berlalu, meninggalkan Tari yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi.
_____
Sedangkan di kamar Seruni, setelah melihat Tari masuk kedalam kamar dimana ada sang suami di dalam sana.. wanita yang sedang hamil besar itu kemudian menutup kembali pintu kamar nya, dan duduk di salah satu kursi busa yang ada di dalam kamar tersebut.
"Kira-kira, papa tergoda enggak ya sama ****** itu? Gimana kalau ternyata, papa malah tergoda sama tubuh seksi ja*lang Tari? Ah,, enggak-enggak, kenapa aku jadi berpikiran buruk gini ya sama papa? Enggak, ini enggak akan terjadi.. aku percaya, papa pasti memegang janji nya," Seruni bermonolog dengan diam.
Tok,, tok,, tok,,
__ADS_1
Hingga suara pelan ketukan pintu, membuyarkan lamunan Seruni.
Seruni langsung menatap kearah pintu, "pasti dia yang datang," gumam Seruni, seraya beranjak.
Seruni berjalan kearah pintu, dan membuka pintu tersebut. Bersamaan dengan itu, terlihat seorang laki-laki yang berdiri tepat di depan pintu kamar nya,,, wajah yang tak asing lagi bagi Seruni, karena Seruni beberapa waktu yang lalu melihat wajah laki-laki tersebut dari sosial media milik Tari.
Seruni melebarkan pintu, dan menatap laki-laki di depan nya dengan tersenyum ramah. "Mas Arif ya?" Tanya Seruni memastikan.
Laki-laki yang bernama Arif itu mengangguk, "mbak Seruni?" Tanya Arif balik, seraya mengulurkan tangan nya.
Seruni menyambut uluran tangan Arif, dan menjabat tangan nya seraya tersenyum hangat. "Ayo mas Arif, silahkan masuk," ajak Seruni, sambil menuntun tamu nya yang baru datang itu untuk masuk ke dalam kamar nya.
"Silahkan duduk mas," Seruni mempersilahkan tamu nya untuk duduk di salah satu kursi busa, dan setelah Arif duduk... Seruni pun ikut duduk di kursi busa yang lain.
"Gimana mbak?" Tanya Arif.
Ya, saat ini Seruni sedang bersama Arif, suami nya Tari. Seruni sengaja menghubungi Arif sebelum Mahmudi menghubungi Tari tadi pagi, untuk melancarkan rencana nya.
Flashback On,,,
Tak lama menunggu, Arif membalas pesan Seruni. "Kerja sama apa ya mbak? Maaf, mbak ini siapa? Tahu saya dari mana?" Cecar Arif dengan banyak pertanyaan.
Seruni kemudian menjelaskan siapa diri nya, dan tentang perselingkuhan suami nya dengan Tari. Awal nya Arif tak percaya dan menolak kerja sama yang diajukan Seruni, namun Seruni tak patah semangat,,, dia terus meyakinkan Arif, bahwa informasi nya tersebut valid.
"Aku enggak percaya mbak, kalau istri ku selingkuh." balas Arif
"Dulu pernah ada yang mengirim pesan juga, seperti mbak. Tapi itu tidak terbukti, karena istri saya enggak pernah keluar rumah kecuali untuk bekerja." lanjutan balasan dari Arif.
"Mas boleh percaya boleh tidak, tapi saya memiliki bukti nya." Seruni menyertakan beberapa screenshot chat antara suami nya dan Tari.
"Baik mbak, saya memang belum sepenuhnya percaya.. tapi saya akan coba ikuti kemauan mbak. Apa rencana mbak?"
Dan Seruni kemudian menjelaskan rencana nya, dan Arif bersedia melakukan apa yang di perintahkan oleh Seruni itu.
__ADS_1
Sehingga pagi-pagi sekali, Arif pamit pada Tari bahwa diri nya ada acara keluar kota dan baru akan pulang malam. Dan mengetahui suami nya pergi sampai malam, Tari langsung menghubungi Mahmudi untuk berkencan.
Flashback Off,,,
"Kita tunggu suami saya dulu ya mas, mudah-mudahan enggak lama," balas Seruni dan mereka pun kemudian ngobrol santai untuk mengakrabkan diri.
Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba pintu di buka dari luar.. dan Mahmudi masuk dengan deru nafas yang memburu.
"Gimana pa?" Tanya Seruni seraya beranjak, menyambut sang suami.
Mahmudi tak langsung menjawab, tapi menjatuhkan tubuh nya di tepi pembaringan terlebih dahulu. "Huff,,," laki-laki itu menghela nafas kasar.
"Ini ma," Mahmudi menyodorkan ponsel putra nya kepada sang istri, tanpa banyak kata.
Seruni segera menerima nya, dan kemudian kembali duduk di sofa.
"Cepat, papa chat dia dan katakan kalau papa enggak bisa balik lagi ke hotel," pinta Seruni, kali ini dengan nada yang lembut karena ada Arif di sana. Berbeda ketika dia hanya berdua dengan sang suami, nada bicara Seruni pasti akan selalu tinggi.
Mahmudi pun langsung menuruti permintaan istri nya, dan segera mengirimkan chat untuk Tari. "Maaf, aku engga bisa balik lagi ke hotel. Barusan istri ku telpon, dan menyuruh ku untuk menjemput nya."
Sementara Arif yang sejak tadi menatap kedatangan Mahmudi dengan sinis, hanya diam dan tak ingin bicara sepatah kata pun.
"Mas Arif, kita tunggu sebentar lagi ya?" Pinta Seruni, yang hanya ditanggapi Arif dengan anggukan kepala.
Semenit, dua menit, hingga hampir lima menit berlalu.. mereka menanti dengan saling diam. Arif yang terus melirik Mahmudi dengan sinis, sedangkan Mahmudi lebih sering menundukkan kepala karena malu.
"Dia sudah baca chat dari mu pa," ucap Seruni yang sedari tadi menekuri ponsel milik sang putra.
Mahmudi yang sedang termenung langsung mengambil ponsel nya, yang tersimpan di dalam saku celana. Baru saja ponsel itu di pegang, ponsel nya bergetar karena ada panggilan masuk. "Dia telpon papa, ma," lirih Mahmudi, seraya menatap istri nya.
"Terima aja pa," balas Seruni.
Dan Mahmudi langsung menerima panggilan dari Tari, dengan mode load speaker. "Maaaaas... kamu ini gimana sih?! Enggak jelas banget!! Kata nya mau sampai malam?! Baru di telpon gitu aja sama istri, langsung takut!!" Geram Tari, yang dapat di dengar oleh semua nya. Dan Mahmudi langsung menutup panggilan Tari secara sepihak.
__ADS_1
Seruni menyunggingkan senyum penuh kemenangan, sedangkan Arif mengernyit kan kening nya dengan dalam.
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏