Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
28. Aku Bersumpah,, Akan Merebut Uun


__ADS_3

Di dalam mobil Tiwi, setelah telpon di tutup oleh suami nya.. Seruni segera mengecek aplikasi GPS Phone Cheker untuk mengetahui pasti keberadaan sang suami, apakah suami nya itu berbohong atau tidak?


Pasal nya tadi, Seruni membaca chat suami nya dan wanita itu.. bahwa siang ini, mereka berdua akan makan siang di resto yang tak jauh dari gedung bioskop tempat Seruni dan sahabat-sahabat nya nonton.


Dan senyum manis, terbit di bibir tipis Seruni.. kala mendapati posisi suaminya, memang berada di kantor balai kota. "Kamu enggak bohong pa, kamu memang benar masih berada di kantor," bisik Seruni dalam hati.


"Run, kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Tiwi, sambil melirik Seruni sekilas dan kemudian kembali fokus dengan kemudi nya.


Seruni menggeleng, "enggak apa-apa kok Wi," balas nya, menyembunyikan kebenaran.


"Eh Run, tadi kan om Doni nyusul kamu ya ke toilet. Bicara apa dia sama kamu? Dia enggak ganggu kamu kan?" Cecar Tiwi, yang kembali melirik sahabat nya.


Kembali Seruni menggeleng, karena Seruni memaklumi apa yang diperbuat Doni.


"Jujur ya Run, sebelum nya aku memang enggak suka kalau om Doni masih saja belum bisa melupakan kamu. Tapi mengetahui perbuatan suami kamu kemarin, kok aku jadi berubah pikiran ya?' Tiwi menatap sahabat nya sebentar, sebelum kemudian kembali fokus ke arah jalan raya.


Seruni mengernyit kan dahi nya, "maksud kamu?"


"Sama kayak apa yang dikatakan om Doni kemarin Run, aku enggak tega mengetahui kamu di khianati suami kamu. Dan aku berpikir, mungkin akan lebih baik jika kamu sama..." sejenak Tiwi menghentikan ucapan nya.


"Jangan berpikir terlalu jauh Wi, makasih sudah mengkhawatirkan aku," sahut Seruni cepat, "aku akan sangat menghargai, jika kamu membiarkan aku menyelesaikan masalah rumah tangga ku sendiri. Kamu masih tetap sahabat ku Wi, dan aku tahu siapa yang harus aku tuju jika aku membutuhkan bantuan.. yaitu kalian, sahabat-sahabat terbaik ku," lanjut Seruni panjang lebar, wanita yang tengah hamil besar itu sebisa mungkin tak ingin melibatkan orang lain dalam masalah yang saat ini dia hadapi.


Tiwi menghela nafas panjang, "iya Run, maafkan aku. Aku hanya terlalu menyayangi mu Run, aku enggak bisa melihat sahabat ku tersakiti.. sedangkan aku diam saja," ucap Tiwi.


Seruni menepuk-nepuk lengan Tiwi, "kamu enggak diam saja, bukti nya tadi kalian langsung bicara pada ku," balas Seruni.


Dan pembicaraan mereka berdua terhenti, karena mobil yang dikendarai Tiwi telah memasuki area parkir butik milik Fina.


Tiwi dan Seruni segera turun dari mobil, dan melihat Doni, Nila, Dewa dan Rindi, dan Fina serta suami nya juga telah tiba di sana.


Fina segera mengajak sahabat-sahabat nya untuk masuk kedalam butik, dan mereka semua duduk di sofa empuk di ruang tamu yang tersedia di butik tersebut.


"Mau minum panas apa dingin nih?" Tanya Fina, setelah semua sahabat-sahabat nya duduk. Sedangkan suami Fina, nampak sibuk di meja kerja nya.


"Panas,, dingin,,," balas mereka dengan tidak kompak.


"Kalian grogi, sampai panas dingin enggak jelas?" Canda Fina, sambil berjalan menuju pantry.

__ADS_1


"Lagian, kamu kan udah paham kebiasaan kita.. masih nanya aja!" Protes Nila.


"Tahu tuh si Fina," timpal Dewa.


"Ya, siapa tahu aja kan ada yang selera nya berubah. Eh,, tahu nya selera kalian, masih sama aja ternyata. Awet, kayak di formalin. Seperti cinta nya si Doni sama Seruni, aweeeet banget,,," ucap Fina, panjang lebar seraya tersenyum. Dan segera berlalu menuju mini pantry, yang masih berada di ruangan yang sama.


Yang lain pun tersenyum, kecuali Doni yang garuk-garuk kepala dan Seruni yang pura-pura sibuk memainkan ponsel.


Suami Fina yang mengetahui kisah mereka berdua pun turut tersenyum, seraya menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Doni, "tapi memang benar sih, cinta enggak bisa di paksakan." Gumam laki-laki berwajah khas Timur Tengah itu, seraya melirik Doni dan Seruni bergantian.


Tak berapa lama, Fina kembali ke sofa dengan membawa beberapa cangkir kopi panas, beberapa minuman kaleng dan dua gelas susu sapi segar.


Sedangkan suami Fina yang kemudian menyusul nya ke pantry, membawa beberapa toples berisi makanan ringan dan kemudian menyimpan nya di atas meja berdampingan dengan minuman yang di bawa sang istri.


"Silahkan di minum, bro, sis,," ucap suami Fina, dengan ramah.


"Makasih bro,," jawab Doni dan Dewa kompak.


"Makasih mister," jawab para wanita yang hampir bersamaan dengan Doni dan Dewa tadi.


Suami Fina kembali ke meja kerja nya sebentar, dan kemudian balik lagi sambil membawa dua katalog produk fashion koleksi terbaru yang berbeda di butik nya.


Nila pun menerima nya dengan semangat, dan segera membuka-buka katalog tersebut. Tiwi pun ikut mendekat, begitu pula dengan Rindi. Ketiga wanita itu asyik memilih barang yang diinginkan, kecuali Seruni yang malah asyik ngobrol dengan Fina seputar kehamilan.


Suami Fina telah kembali ke meja kerja nya.


Sedangkan Doni, hanya sekilas melihat katalog nya tadi dan setelah itu memberikan katalog tersebut pada Dewa. Karena Doni lebih memilih memperhatikan Seruni, dan menerka-nerka baju apa yang pas untuk wanita yang sangat dicintai nya itu. Ya, Doni berniat membelikan baju hamil untuk Seruni.


Doni kemudian mengambil ponsel nya, mengetikkan sesuatu dan mengirimkan pesan tersebut pada Tiwi.


Mendengar ada notif pesan masuk di ponsel nya, Tiwi pun segera mengambil ponsel dari dalam tas dan kemudian segera membuka nya. Tiwi mengernyit kan dahi membaca chat dari Doni, "kak, tolong cariin baju hamil untuk Uun. Aku tahu, kakak bisa memilih kan baju yang bagus untuk nya."


Tiwi menatap Doni, bertanya melalui tatapan mata.


Doni yang paham arti tatapan mata kakak sepupu nya, kemudian mengetik lagi di ponsel dan mengirimkan kembali pada Tiwi. "Bukan apa-apa kak, hanya pemberian biasa. Atau anggap sebagai ungkapan permintaan maaf, karena sikap ku mungkin udah membuat Uun merasa enggak nyaman."


Tiwi melirik Seruni dan kemudian mengetikkan balasan, "sebaiknya aku tanya Runi dulu ya om, dia nya mau enggak? Takut nya dia salah sangka, dan akan mempengaruhi hubungan persahabatan kalian."

__ADS_1


Doni membaca chat dari Tiwi tersebut, dan kemudian mengangguk setuju.


Seperti nya, masing-masing sudah mendapatkan apa yang akan mereka beli. Dan mereka pun menunjukkan apa yang mereka mau pada Fina.


Fina mengangguk, "tunggu bentar ya, biar disiapkan pegawai ku," ucap Fina, seraya mengambil katalog dari sahabat-sahabat nya yang sudah dikasih tanda tersebut.


Ya, begitu lah mereka setiap belanja ke butik milik Fina. Lebih suka memilih melalui katalog, dari pada harus melihat-lihat secara langsung.. yang ujung-ujungnya akan membuat dompet mereka terkuras habis, karena ada aja barang lain yang enggak dibutuhkan banget tetapi akhirnya dibeli juga.


Tiwi nampak berbisik pada Seruni, "Un, om Doni pengin beliin kamu baju hamil. Sebagai permintaan maaf kata nya."


Seruni mengernyit dalam, " permintaan maaf?" Seruni menatap Tiwi dengan bingung, dan kemudian melirik Doni sekilas.


"Iya, permintaan maaf.. karena mungkin sikap nya tadi membuat kamu merasa terganggu," balas Tiwi masih dengan berbisik, sesuai dengan apa yang dikatakan Doni tadi via chat.


Seruni menggeleng, "enggak usah deh Wi, kita kan sahabat.. enggak perlu juga meminta maaf pakai kasih-kasih barang, kayak sama siapa aja?" Tolak Seruni dengan halus, tak ingin memberikan harapan lebih pada Doni jika diri nya menerima hadiah dari laki-laki di masa lalu nya itu.


"Lagian Doni enggak salah apa-apa kok Wi, jadi enggak perlu minta maaf," lanjut nya, masih dengan bisik-bisik.


Tiwi mengangguk mengerti, dan kemudian menatap Doni seraya menggelengkan kepala pelan sebagai kode bahwa Seruni menolak. Wajah Doni langsung nampak kecewa.


"Assalamu'alaikum,,," ucap salam Mahmudi, yang baru saja sampai.


"Wa'alaikumsalam,,," balas mereka semua dengan kompak.


Suami Fina, selaku tuan rumah langsung berdiri menyambut tamu nya. "Bro apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik mister," balas Mahmudi menyambut uluran tangan suami Fina.


Dewa pun kemudian ber-high five pada Mahmudi, "sehat bro," sapa Dewa.


"Seperti yang kamu lihat bro," balas Mahmudi.


Doni pun melakukan hal yang sama, meski dengan sedikit rasa canggung karena kejadian bogem mentah nya yang melayang di wajah Mahmudi kemarin. "Bro, sorry," ucap Doni tanpa mengeluarkan suara.


Mahmudi mengangguk, dan tersenyum kecut. "It's okay, aku yang makasih. Karena kalian sudah mengingat kan aku," bisik Mahmudi, sambil duduk tepat di samping Doni.


"Aku harap, kemarin adalah yang terakhir. Jika sampai aku tahu, kamu masih menyakiti Uun,,, aku bersumpah, akan merebut Uun dari kamu," ancam Doni, dengan penuh penekanan.

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2