
Mahmudi meraih tangan sang istri, dan mencium nya dengan lembut. "Maaf kan papa ma, papa telah melakukan kesalahan,,, maaf," pinta Mahmudi dengan menghiba, tatapan mata nya begitu sendu.
"Setelah kebohongan yang papa lakukan?! Begitu mudah bibir papa mengatakan kata maaf!" Seruni kembali menatap tajam suami nya.
Mahmudi hanya bisa menunduk, masih dengan menggenggam tangan Seruni.
"Selama ini, papa selalu perhitungan dengan ku, tak pernah sekalipun memberi ku hadiah! Tapi dengan ja*lang itu, kenapa papa seroyal itu?! Dengan ku, papa juga tidak pernah chat mesra... tapi dengan dia, papa begitu mesra! Papa selalu menanyakan kabar nya, bahkan dari hal yang paaaaling kecil!" Emosi Seruni meledak, tak dapat di tahan nya lagi.
"Selama ini, aku begitu percaya pada papa. Tapi apa balasan nya untuk ku pa?! Kamu malah bermain api dan menyakiti hati ku!!" Seru wanita dengan tiga anak itu, dengan bibir bergetar menahan amarah.
Memang benar ada nya, selama ini Seruni tak pernah mempermasalahkan jika sang suami itu tak pernah berkirim pesan pada nya jika bekerja.. pun jika Mahmudi tiba-tiba harus lembur, yang juga tak pernah mengabari Seruni. Hal itu karena, Seruni begitu mempercayai sang suami.
Mahmudi semakin menunduk dalam.
"Apa saja yang sudah papa lakukan pada dia?! Ciuman?! Atau,, tidur bareng?!" Tanya Seruni dengan tatapan membunuh, hingga membuat nyali Mahmudi semakin menciut.
Mahmudi menggeleng cepat, "tidak ma, paling hanya gandengan tangan," balas Mahmudi lirih.
"Bohong!" Bentak Seruni.
"Sumpah ma," balas Mahmudi cepat, "sama,, pernah cium pipi," lanjut Mahmudi dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Cih,," Seruni berdecih, "pasti enak kan, ciuman sama wanita yang lebih muda dan lebih menor.. seksi pula, dengan dada big size milik nya," sindir Seruni.
Mahmudi menggeleng,
"Pasti kalau saat itu, Tsalis enggak sengaja menumpahkan susu nya ke baju ja*lang itu.. papa sudah membawa nya ke villa kan?!" Kembali Seruni menatap tajam suami nya.
Deg... Mahmudi memberanikan diri menatap sang istri, "jadi saat itu,,," Ucapan Mahmudi menggantung di udara, karena Seruni memotong nya cepat.
"Iya, semua rencana ku. Karena aku mendapati chat kalian yang akan kencan berkedok survey!" Seruni kembali membuang pandangan nya kearah lain, nafas nya memburu karena emosi yang tak terbendung.
"Dan tadi, kenapa papa enggak jujur sama aku?! Dan malah mengatakan bahwa papa makan siang di kantin?! Padahal aku tahu, papa makan siang di resto sama dia?!" Cecar Seruni.
Mahmudi kembali menunduk, "maaf ma, aku sudah menolak nya dari pagi. Dan akhirnya aku setujui permintaan nya karena aku ingin mengakhiri semua," balas Mahmudi pelan.
"Terus?! Sudah berakhir?! Emang nya dia mau, karena bakalan kehilangan ATM berjalan?! Kehilangan laki-laki, yang bisa diporoti harta nya?!" Seruni melirik suami nya, dan segera membuang pandangan nya kembali. Seruni seakan enggan, berlama-lama menatap laki-laki pengkhianat seperti suami nya.
Mahmudi mendesah pelan,,, "aku belum sempat ngomong ma," balas nya lirih.
"Masih sayang untuk melepas dia?!" Kembali Seruni menatap suami nya dengan tajam, kemarahan, kekecewaan dan rasa sakit hati yang mendalam.. masih menguasai wanita yang tengah hamil besar itu, hingga nada suara nya selalu meninggi.
"Kalau papa masih sayang sama dia, lepaskan aku! Kita akhiri hubungan kita, sampai di sini!" Lanjut Seruni dengan tegas.
__ADS_1
"Tidak ma,,, aku tidak benar-benar sayang sama dia ma, aku awal nya hanya iseng saja ma," Mahmudi memohon, masih dengan menggenggam tangan sang istri.
"Terbuat dari apa hati mu pa?! Hingga kamu tega mempermainkan hati wanita?! Mempermainkan janji suci yang telah kamu ucapkan dulu?!" Geram Seruni, sambil menarik tangan nya dengan kasar.
Mahmudi kemudian memeluk sang istri dengan erat, "lepaskan pa! Tangan mu terlalu kotor untuk memeluk ku!" Geram Seruni yang masih dikuasai amarah, tapi Mahmudi tak melepaskan pelukan nya begitu saja.
Seruni terisak, jatuh juga air mata yang ditahan nya sejak tadi. Mahmudi terus mengelus puncak kepala sang istri seraya membisikkan kata maaf berulang-ulang. "Maafkan aku ma, maaf... aku sayang sama mama," lirih Mahmudi.
"Kamu bahkan tak pernah mengatakan hal itu pada ku pa, kamu juga tidak pernah mengatakan cinta.. hingga aku berfikir, kamu tak pernah benar-benar mencintai ku," isak Seruni.
"Tidak ma, itu tidak benar. Aku sangat mencintaimu ma, meski aku tak pernah mengatakan nya. Tapi dari sikap ku, kamu bisa merasakan nya kan ma? Kalau aku mencintai mama?" Tanya Mahmudi, dan kemudian mencium puncak kepala sang istri begitu dalam.
"Tapi aku juga butuh mendengar pernyataan itu pa,,," balas Seruni masih dengan suara nya yang terdengar serak, karena terus saja bicara dengan nada tinggi tadi. "Jika dengan ja*lang itu, papa bisa bersikap romantis? Kenapa dengan ku tidak?!" Seruni menjauhkan tubuh nya, dan kembali menatap suami nya dengan tajam.
Mahmudi menggeleng, "aku salah ma, maafkan aku," Mahmudi kembali merengkuh tubuh istri nya, tapi Seruni menepis dengan kasar.
"Sekarang, aku tanya sama papa. Tolong jawab dengan sejujur-jujur nya." Seruni menjauh, hingga menyandarkan punggung nya ke pintu mobil. Tatapan nya kembali tajam, menghunus tepat ke netra sang suami.
"Apa mau papa sekarang?"
Mahmudi menggeleng, "papa minta maaf ma, papa akui papa salah," bukan nya menjawab, Mahmudi malah terus meminta maaf pada istri nya sambil mencoba meraih tangan Seruni.. namun berkali-kali di tepis oleh ibu dari anak-anak nya itu.
"Jadi, papa mau pernikahan kita tetap lanjut?" Tanya Seruni, masih dengan tatapan nya yang tajam
"Apa aku benar masih ada di hati papa, hingga papa mau mempertahankan aku?" Selidik Seruni dengan menyipitkan mata, seolah tak percaya dengan jawaban suami nya nanti.
"Iya ma, hanya mama yang ada di hati papa," balas Mahmudi sungguh-sungguh.
"Cih,, hanya aku? Kalau hanya aku, kenapa papa menjalin hubungan terlarang dengan ja*lang itu?!" Kembali emosi Seruni tersulut, setiap mengingat nama Tari.. bibir Seruni malas menyebut nama wanita itu, dan lebih memilih padanan kata yang tepat untuk menggambarkan perilaku Tari.
"Papa khilaf ma, dan papa sudah mengakui nya bukan? Papa juga sudah minta maaf sama mama,,, dan papa juga bersedia jika seumur hidup papa, papa harus selalu mengatakan kata maaf itu pada mama," Mahmudi memberanikan diri menatap netra istri nya yang masih digenangi air mata, hati laki-laki itu menjadi teriris melihat nya.
Dengan segenap keberanian, Mahmudi mengulurkan ibu jari nya hendak mengusap air mata sang istri.. namun lagi-lagi, Seruni menepis tangan Mahmudi.
"Enggak perlu sok perhatian!" Umpat Seruni dengan kesal.
"Oke, aku akan memaafkan papa,, tapi dengan syarat. Apa papa, mau memenuhi nya?"
"Iya ma, katakanlah," balas Mahmudi antusias.
"Tiap weekend, aku mau papa ajak kami untuk jalan-jalan dengan uang papa. Bagaimana?"
Mahmudi mengangguk, "iya ma, tapi deket-deket aja enggak apa-apa ya?" Tawar Mahmudi, dan Seruni hanya mencibir.
__ADS_1
"Setiap malam, aku mau tidur dengan di peluk papa." Kembali Mahmudi mengangguk.
"Aku mau, setiap hari.. papa kasih kabar apapun itu." Dan lagi-lagi, Mahmudi mengangguk mengiyakan.
"Aku juga mau, papa selalu pulang tepat waktu."
"Enggak bisa ma, projek itu masih berjalan dan.."
"Aku enggak mau tahu," potong Seruni cepat, "papa keluar saja dari projek itu, dan jangan ikut-ikut lagi projek apapun!"
"Tapi ma,, kalau papa ikut terlibat dalam projek itu kan, uang saku nya lumayan?" Protes Mahmudi.
"Bodo amat dengan uang saku! Toh aku enggak pernah merasakan uang saku papa!" Ketus Seruni.
"Oh ya, satu lagi... mulai sekarang, aku mau papa transparan dengan uang gaji dan semua penghasilan papa. Aku enggak mau lihat lagi, papa membelikan barang-barang mewah untuk ja*lang di luar sana sementara papa tak pernah membelikan apa-apa untuk anak-anak," pungkas Seruni, dan kemudian wanita hamil itu membetulkan kembali duduk nya.
"Geser!" Ketus Seruni, sambil mendorong tubuh sang suami agar kembali ke tempat duduk nya di belakang kemudi.
Mahmudi pun membetulkan duduk nya dengan diam, dan untuk sejenak suasana di dalam mobil tersebut menjadi hening.
"Apa papa setuju dengan semua syarat ku tadi?" Tanya Seruni memecah keheningan.
Mahmudi mengangguk, "iya ma," balas nya, tak bersemangat.
"Kalau begitu, telpon ja*lang papa dan putuskan dia sekarang!" Titah Seruni.
Mahmudi terdiam, dia ingat kalau Tari mungkin saja masih ada di hotel saat ini. Dan jika dia menelpon, pasti Tari akan meminta nya untuk segera kembali ke hotel. "Ah,, syarat mama banyak banget lagi?" Keluh Mahmudi dalam hati.
"Ayo, telpon! Dan setelah ini, blokir nomer nya!" Titah Seruni kembali, seraya menatap tajam Mahmudi.
"Ma, besok aja aku telpon dia ya,,," tawar Mahmudi.
Seruni menggeleng, "papa enggak benar-benar menginginkan pernikahan kita berlanjut kan? Ya udah, aku akan turun sekarang! Dan aku anggap, hubungan kita telah berakhir!" Tegas Seruni seraya hendak membuka handle pintu, tapi Mahmudi buru-buru mencegah nya.
"Iya ma, iya.. papa telpon dia sekarang," ucap Mahmudi, sambil memijat pelipis nya yang berdenyut.
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
Bab ini, sudah aku tulis semalam.. dan kayak nya udah langsung aku kirim.
Eh ternyata,,, barusan aku buka dan masih tersimpan rapi di draf.
OMG,, berarti semalam aku mimpi dong, udah ngirim naskah nya?? 🤦♀️
__ADS_1