
Mahmudi yang jalan bareng sang istri menuju ke sebuah hotel, di sepanjang perjalanan hanya diam.. begitu pun dengan Seruni, yang lebih memilih menyibukkan diri memainkan ponsel nya.
Hotel melati di pinggir kota yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka, menjadi pilihan. Dan Mahmudi pun sudah mengirimkan alamat hotel tersebut, ke nomor Tari.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam lebih, Mahmudi membelokkan mobil nya menuju area parkir hotel tersebut dan kemudian memarkir mobil nya di tempat yang telah tersedia.
Sebelum turun, Mahmudi menelpon Tari untuk memastikan posisi wanita itu saat ini.. agar rencana Seruni berjalan dengan lancar.
"Dia masih di jalan ma, mungkin sekitar sepuluh menit lagi baru sampai," ucap Mahmudi, setelah menutup telpon nya.
"Ayo kita turun," ajak Seruni, dan langsung membuka pintu mobil.
Mahmudi mensejajarkan langkah nya dengan langkah sang istri, menuju meja resepsionis.
"Dua kamar mbak," pinta Mahmudi, sambil menyodorkan kartu identitas nya.
Setelah mendapatkan kunci dengan posisi kamar yang saling berhadapan, Mahmudi yang hendak memasuki kamar nya,,, berhenti sejenak dan menahan tangan Seruni, "apa mama yakin, dengan rencana ini?" Tanya Mahmudi, dengan menatap lembut istri nya.
"Kenapa pa? Papa takut khilaf?!" Sindir Seruni, dengan menyipitkan mata nya.
Mahmudi menggeleng, "tidak ma, percayalah pada papa," pinta Mahmudi dengan mengusap lembut puncak kepala sang istri, dan kemudian mencium kening istri nya dengan dalam. "I love you ma," bisik Mahmudi.
"Buruan papa masuk ke kamar, mama juga mau masuk.. nanti keburu ja*lang itu datang," ucap Seruni, menyudahi ciuman sang suami, "oh ya, ini ponsel Tsalis, papa pegang,,, jangan lupa dengan rencana kita," Seruni menyodorkan ponsel putra ketiga nya, yang jarang di kasih kan pada Tsalis. Karena Seruni memang tidak membiasakan anak-anak nya, bermain benda pintar tersebut.
"Iya ma," balas Mahmudi, seraya menerima ponsel tersebut dari tangan sang istri. Dan kedua nya kemudian masuk ke dalam kamar masing-masing.
Setiba nya di kamar, Seruni nampak mengirimkan pesan pada seseorang. "Mas, posisi di mana?"
"Sudah di depan hotel mbak, saya akan segera masuk.. jika Tari sudah masuk," balasan yang diterima Seruni.
"Baik mas, saya di kamar nomor 27," Seruni memberitahu kan nomor kamar nya.
Setelah mengirimkan pesan tersebut Seruni kemudian membuka sedikit pintu kamar nya, agar dapat melihat luar. Dan baru saja Seruni membuka sedikit pintu kamar nya, dia melihat seorang wanita muda dengan dandanan menor mengetuk pelan pintu kamar yang di tempati Mahmudi.
Melihat wanita idaman lain sang suami, dengan jarak sedekat ini.. tak ayal, membuat amarah Seruni kembali memuncak, namun ibu tiga anak itu masih mencoba untuk berpikir jernih. "Sabar Un,, sabar,,," gumam nya dalam hati.
__ADS_1
"Un?? Kenapa tiba-tiba, aku menirukan panggilan sayang Doni ya?" Bibir Seruni menyunggingkan senyuman manis, "udah belasan tahun berlalu.. tapi dia masih tetap sweet, sama seperti dulu," lanjut Seruni bergumam.
Seruni teringat kejadian di butik Fina kemarin, di depan suami nya.. Doni bahkan nekat membelikan Seruni baju khusus ibu hamil.
Flashback on,,,
"Un, ini baju untuk mu. Anggap saja sebagai ucapan selamat, atas kehamilan mu yang keempat. Moga semuanya di mudahkan dan dilancarkan, selamat bayi dan juga ibu nya yang cantik," ucap Doni, sambil menyodorkan paper bag yang bertuliskan butik milik Fina kepada Seruni.
Ternyata, Doni tetap membelikan baju hamil untuk Seruni.. meski secara terang-terangan, Seruni sudah menolak nya kala Tiwi bertanya pada Seruni.
Seruni tak ingin menerima pemberian Doni tersebut, karena tak ingin memberi harapan pada Doni.. sekaligus, karena menjaga perasaan sang suami. Namun ternyata, Mahmudi justru menerima paper bag tersebut dan mengucapkan terimakasih atas nama diri nya.
"Biar aku yang bawakan bro, dan atas nama istri ku... aku ucapkan terimakasih banyak," balas Mahmudi, mewakili sang istri.
Seruni hanya mengernyit, sedangkan Doni tersenyum penuh arti seraya menatap Mahmudi.. yang membuat suami Seruni itu, segera mengalihkan pandangan nya.
Flashback off,,,
"Andai cinta kami tak terganjal restu orang tua, mungkin... saat ini aku adalah satu-satunya wanita yang paling bahagia di muka bumi ini." Senyum Seruni semakin mengembang lebar.
Sementara itu di dalam kamar di mana Mahmudi berada, begitu memasuki kamar.. Tari langsung menghambur memeluk Mahmudi, "mas,,, aku kangen," rajuk Tari, sambil bergelayut manja pada leher Mahmudi.. membuat laki-laki dengan tiga anak itu kesulitan bernafas.
"Tari, tolong jangan seperti ini," elak Mahmudi, sambil mencoba melepaskan pelukan Tari. Tapi wanita itu semakin memeluk leher Mahmudi dengan erat, hingga membuat Mahmudi terbatuk.
Uhuk,, uhuk,,
Tari segera melepaskan pelukan nya, "maaf mas, maaf... aku enggak bermaksud membuat mas seperti ini, aku hanya kangen sama mas," ucap Tari dengan menyesal.
Tari buru-buru mengambilkan air mineral untuk Mahmudi, dan kemudian membuka botol yang masih tersegel itu. "Minum dulu mas," ucap Tari sambil menyodorkan botol air mineral yang sudah di buka nya.
Dengan segera, Mahmudi duduk di tepi pembaringan dan meminum air tersebut hingga habis separo. Dan kemudian, meletakkan botol air mineral tersebut di atas nakas yang terletak di samping tempat tidur.
"Udah enakan mas?" Tanya Tari sambil ikut duduk tepat di samping Mahmudi, dan kemudian mengelus punggung Mahmudi sambil menempelkan gunung kembar milik nya ke lengan suami Seruni tersebut.
Mahmudi mencoba menghindar, tapi Tari malah semakin merapat kan tubuh nya. Bahkan Tari mulai berani menciumi pipi Mahmudi.
__ADS_1
Ayah tiga anak itu terus menghindar, dan tanpa Mahmudi duga.. Tari malah mendorong tubuh Mahmudi, hingga telentang di atas ranjang berukuran besar dengan kasur bisa nya yang empuk tersebut.
Tari segera naik ke atas tubuh laki-laki yang selama beberapa bulan terakhir ini dekat dengan nya karena projek bersama yang mereka garap, dan dengan tatapan penuh naf*su Tari hendak menyentuh kan wajah nya ke wajah laki-laki ganteng yang saat ini di tindih nya.
Reflek, Mahmudi menahan wajah Tari dengan tangan nya. "Sabar sayang,,," ucap Mahmudi lembut, sambil menjauhkan wajah Tari dari wajah nya.
"Mas, aku udah menahan ini dari kemarin mas..." rengek Tari, "lihat lah gunung ku ini mas, dia meronta sedari tadi ingin di re*mas tangan kekar mu seperti waktu di kafe itu mas,,," lanjut nya, seraya mulai membuka kancing blouse nya satu persatu.
Nafas Mahmudi mulai tak beraturan, dada nya berdebar kencang.. tapi sekuat hati, Mahmudi mencoba untuk menjaga kewarasan nya. "Aku harus berhasil memancing Tari, aku harus bisa mendapatkan kembali kepercayaan mama," bisik Mahmudi dalam hati.
"Stop sayang,,," tolak Mahmudi, seraya menatap Tari dengan dalam. "Aku enggak bisa bercinta dengan cara seperti ini," lanjut nya, dengan melembutkan suara nya.
Tari mengernyitkan dahi nya, "lantas?" Tanya Tari dengan rasa penasaran dan tidak sabar.
"Istri ku selalu mandi terlebih dahulu sebelum kami berhubungan," balas Mahmudi, mulai memancing.
"Tapi aku sudah mandi mas?" Protes Tari.
Mahmudi menggleng, "meskipun sudah mandi, istri ku akan tetap mandi lagi. Mau tahu, mengapa?" Tanya Mahmudi.
Tari mengangguk cepat, "katakan lah mas!" Ucap Tari dengan tidak sabar.
Mahmudi menelan saliva nya, pemandangan di depan mata nya sungguh sangat menggoda.. karena blouse Tari sudah terbuka seluruh nya, sehingga br* yang menutupi sebagian gunung kembar itu terpampang nyata tepat di depan wajah Mahmudi dan dengan jarak yang sangat dekat.
"Katakan mas?!" Ulang Tari.
"I,, iya sayang,," balas Mahmudi gugup, "aku lebih berhas*rat jika melihat istri ku keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan tergerai, serta menguarkan aroma wangi shampo.. dan tubuh nya, hanya di balut dengan handuk kecil yang hanya mampu menutupi bagian dada hingga kema*luan nya saja." Mahmudi tersenyum, karena dalam benak nya membayangkan wajah seksi sang istri kala selesai mandi.
"Pemandangan indah seperti itu, sungguh membuat gai*rah ku naik berkali-kali lipat," lanjut Mahmudi seraya mengerling, "mau mencoba?" Tantang Mahmudi, dan Tari langsung mengangguk cepat.
Tanpa kata, Tari yang sudah tidak sabar ingin merasakan timun suri milik Mahmudi itu segera bangkit dan langsung berlari ke arah kamar mandi. "Tunggu aku mas, aku janji takkan lama," ucap Tari sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Siap sayang,,, jangan lupa untuk keramas!"
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1