
"Pa, kok papa bisa ada di sini?" Tanya Seruni, seraya mengernyitkan kening nya. "Apa, papa ngikutin aku ya?" Batin Seruni.
"Iya ma, lagi meeting sama temen-temen di divisi," Mahmudi menunjuk teman-teman nya yang sudah duduk di salah satu meja panjang, di bagian ujung.
"Oh,," Seruni mengangguk seraya tersenyum kearah meja, dimana teman-teman suami nya berada.
Mahmudi kemudian menyalami semua sahabat-sahabat Seruni.
"Ma, ikut ke sana sebentar yuk." Ajak Mahmudi.
"Maaf, aku ajak Runi sebentar ya?" Pamit Mahmudi, pada sahabat-sahabat sang istri..
Fina, Tiwi dan Dewa mengangguk, Rindi dan Nila terlihat memasang wajah masam sedangkan Doni nampak kecewa.
Seruni kemudian mengikuti langkah suami nya, menuju meja yang berada di ujung. Seruni terlihat menyalami mereka semua dengan tersenyum ramah, dan kemudian ikut duduk di samping Mahmudi yang dengan posesif memeluk pinggang istri nya.
Sementara Doni menatap kepergian Seruni, dengan tanpa berkedip. Dan tangan Doni terkepal sempurna kala melihat Mahmudi memeluk pinggang Seruni, "sialan! Sengaja pamer kemesraan dia!" Geram Doni dalam hati.
"Om, seperti nya.. Runi benar-benar memberikan kesempatan kedua deh untuk suami nya." Ucap Tiwi yang membuat suasana hati Doni yang sejak kedatangan Mahmudi menjadi tak nyaman, kini menjadi semakin gelisah.
"Seperti nya sih begitu?" Timpal Fina, yang setuju dengan penilaian Tiwi. "Ya bagus lah, jadi anak-anak mereka enggak menjadi korban keegoisan orang tua nya," lanjut Fina.
Dewa mengangguk-angguk,, "come on Don,, terima kenyataan," ucap Dewa seraya menatap Doni, yang di balas Doni dengan tarikan nafas panjang.
"Kok, aku masih enggak rela ya... Runi baikan sama si Mahmud?" Ucap Rindi, yang di angguki oleh Nila.
"Hemmm,,, sama Rin, aku juga enggak sreg banget si Runi masih sama-sama si Mahmud," timpal Nila.
"Kalau menurut aku sih, enggak masalah ya.. selagi Mahmudi mau mengakui kesalahan nya dan menyesal," balas Fina.
"Iya, sekarang nyesel. Ntar sebulan, dua bulan, Runi udah lupa,, balik lagi deh itu penyakit selingkuh!" Ketus Nila.
"Ya jangan men-judge gitu lah Nil, siapa tahu Mahmud benar-benar berubah menjadi labih baik kan?" Balas Tiwi, dengan bijak.
"Udahlah, kita jangan terlalu masuk kedalam urusan rumah tangga mereka. Seruni wanita dewasa, pemikiran nya maju.. yakinlah kalau dia pasti akan bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk keluarga nya," ucap Dewa, menghentikan perdebatan kecil yang tercipta kembali di antara sahabat-sahabat wanita nya.
"Eh, pesan makan yuk... dah habis nih camilan, dari tadi malah?" Rajuk Fina, karena cacing di perut mulai berdemo meminta hak nya.
__ADS_1
"Iya nih, si Rindi enggak tanggung jawab banget. Di undangan kan ngajak nya makan siang bareng? Eh, malah debat terus dari tadi?" Protes Tiwi, yang juga mulai kelaparan.
"Hahaha,, iya, sorry. Keasyikan ngobrol kita, sampai lupa kalau kesini niat kedua nya mau makan," balas Rindi tanpa dosa.
"Kok, niat kedua?" Tanya Nila.
"Karena niat pertama, ya mau membahas soal si Runi tadi," balas Rindi.
"Hemmm,, mau bahas apa lagi, tentang aku?" Tanya Seruni, yang ternyata sudah kembali ke meja nya.
"Hehehe,, enggak kok Run, udah selesai. Tinggal nunggu keputusan kamu aja, pak Dirut tuh kayak nya udah enggak sabar. Mau mengisi jabatan kepala rumah tangga keluarga kamu, yang barangkali akan segera kosong?" Balas Rindi, yang jujur apa ada nya sesuai dengan pemikiran nya yang tidak setuju jika Seruni masih bersama Mahmudi.
"Aku lagi yang jadi kambing hitam," ucap Doni.
"Mengembik dong,,," timpal Nila seraya tergelak, diikuti oleh yang lain. Sementara Seruni hanya tersenyum.
"Sebelum Runi jawab, kita pesan makan siang dulu ya?" Pinta Fina setelah tawa mereka mereda, dan tanpa menunggu jawaban sahabat-sahabat nya Fina langsung memanggil waiters.
Seorang waiters datang sambil membawa dua buku menu, dan mereka semua kemudian memesan makanan sesuai dengan selera masing-masing.
"Oke, sambil menunggu makanan.. kita dengerin jawaban dari Runi," ucap Nila, yang juga sudah tidak sabar ingin mengetahui keputusan Seruni. Akankah sama dengan keinginan nya agar Seruni pisah sama Mahmudi yang telah berkhianat, atau Seruni tetap akan bertahan.
"Enggak ah, kelamaan.. bisa mati duduk karena penasaran aku Un," tolak Doni.
"Eh, memang nya ada ya Don. Orang penasaran, terus mati duduk dan bukan nya mati berdiri?" Tanya Fina dengan polos.
"Punya Doni kan enggak bisa berdiri, jadi ya mati duduk," balas Dewa seraya tergelak dan langsung kabur menuju toilet untuk menghindari kemarahan Doni.
"Sialan lu Wa!" Geram Doni, yang hendak melempar Dewa dengan botol minuman.
Para wanita hanya senyum-senyum saja, tak ada yang berkomentar.
Tak berapa lama, Dewa kembali dari toilet. "Eh, sampai mana tadi?" Tanya Dewa, sambil mendudukkan diri nya kembali di tempat nya semula di samping Rindi.
"Itu Wa, yang punya Doni enggak bisa berdiri. Memang nya benar ya Wa?" Tanya Rindi, yang membuat Dewa kembali tergelak. Tapi tidak dengan Doni, wajah putih dengan rahang keras itu terlihat sangat kesal.
Sedangkan yang lain hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Hufff,,," Seruni menghela nafas kasar, dan sejenak suasana menjadi hening.
"Jujur, ini yang enggak aku suka ketika banyak yang tahu permasalahan dalam rumah tangga ku." Ucap Seruni yang terdengar getir, "ini baru kalian yang tahu, tapi pendapat kalian sudah cukup membuat ku pusing! Ada yang menyarankan untuk mengakhiri semua, ada pula yang berharap agar aku masih tetap bertahan?" Seruni menatap sahabat nya satu persatu, tak terkecuali Doni yang terus menatap Seruni dengan dalam.
"Bagaimana jika keluarga besar ku tahu? Mereka juga pasti akan menyuruh ku, untuk meninggalkan suami ku. Dan bagaimana ketika keluarga besar suami ku juga tahu? Mungkin, mereka akan meminta ku untuk tetap bertahan dan memaafkan suami ku. Dan yang enggak tahu apa-apa, bisa saja malah menyalahkan aku atas perselingkuhan suami ku bukan?" Seruni membuang kasar nafas nya, wanita yang tengah hamil itu terlihat sedikit emosional.
Yang lain terdiam, mereka menjadi merasa bersalah pada Seruni. Karena turut memberikan pendapat, yang mungkin saja tidak disukai oleh Seruni
"Itu sebab nya, aku enggak cerita sama kalian. Karena aku enggak mau, keputusan yang aku ambil di pengaruhi oleh orang-orang yang enggak paham dengan kondisi rumah tangga ku. Baik kondisi ku sendiri, suami, maupun anak-anak," lanjut Seruni.
"Tapi aku tetap mengucapkan terimakasih atas perhatian kalian, karena aku yakin.. apa yang kalian sampaikan, itu karena kalian sayang sama aku," Seruni tersenyum tulus, "makasih Rin, makasih Nil, Fina, Dewa, Tiwi dan juga kamu Don, thanks alot for your support," Seruni menitikkan air mata haru, para wanita pun ikut larut dalam keharuan yang sejenak tercipta.
Ya, itulah persahabatan yang tulus. Meski saling mengejek, tetapi akan marah jika melihat salah satu dari sahabat nya tersakiti. Akan ikut merana jika sahabat nya terluka, dan akan ikut tertawa jika sahabat nya bahagia.
Tiwi yang duduk persis di samping Seruni, memeluk pundak sahabat nya itu. "Apapun keputusan kamu Run, seperti yang pernah aku katakan sebelum nya.. kami pasti mendukung mu," ucap Tiwi, yang disetujui oleh yang lain dengan mengangguk.
"Benar Un, meski mungkin aku tak punya lagi kesempatan untuk memiliki mu," lirih Doni, sambil menekan perasaan nya yang terasa perih dan pedih bagai tersayat sembilu.
"Kamu tetap bisa memiliki aku Don, sebagai sahabat," balas Seruni dengan senyum nya yang manis, seraya menepuk-nepuk punggung tangan Doni. Dan tanpa permisi, Doni langsung menggenggam tangan halus itu.
"Barusan kamu bilang, bahwa aku bisa memiliki mu kan Un,,, meski hanya sebagai sahabat?" Tanya Doni, ketika Seruni hendak protes karena tangan nya tiba-tiba saja sudah di genggam Doni. "Dan ini adalah genggaman persahabatan Un," lanjut Doni, yang semakin mengeratkan genggaman tangan nya.
Seruni menoleh kearah suami nya, khawatir jika sang suami salah sangka dengan apa yang nampak di depan mata.
Seruni menarik tangan nya perlahan dan tersenyum manis pada Doni. "Thanks for all, Doni. Tapi maaf, jika aku mengecewakan mu." Lirih Seruni, dan Doni mengangguk mengerti.
"Tadi, aku mau mengatakan kalau setiap orang pasti pernah berbuat khilaf atau melakukan kesalahan. Dan aku pikir, selagi kesalahan nya tidak fatal dan dia mau mengakui nya.. enggak ada salah nya kan, jika kita memberikan kesempatan kedua?" Seruni menatap sahabat nya satu-persatu.
"Apalagi dalam hal ini, aku tidak boleh egois dan memikirkan kesenangan diri ku secara pribadi. Tapi aku juga harus memikirkan, bagaimana dengan perasaan anak-anak ku. Hah, terdengar klise bukan? Tapi itulah fakta nya, semua ibu pasti lebih mementingkan kebahagiaan anak-anak nya ketimbang diri nya sendiri," Seruni tersenyum getir.
"Ya, menerima nya kembali dengan kesalahan yang pernah dia lakukan tapi tentu dengan berbagai syarat untuk membuktikan kesungguhan nya. Apakah dia benar-benar menyesal dan mau berubah menjadi lebih baik? Dan berjanji tidak akan membuat kesalahan seperti itu lagi? Dan beberapa syarat lain yang aku ajukan untuk suami ku," lanjut Seruni.
"Dan jika dalam beberapa bulan ke depan, dia bisa memenuhi semua syarat yang aku ajukan... maka dia layak untuk aku pertahankan," pungkas Seruni dengan tegas.
"Un, apa itu artinya.. aku masih punya kesempatan?" Tanya Doni dengan penuh harap, yang membuat semua nya menepuk jidat masing-masing.
"Don,,, move on!" Seru mereka semua dengan kompak.
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏