
Tiwi yang sedari tadi memperhatikan Seruni dari tempat duduk dan melihat bahwa sahabat nya itu sudah selesai menyusui baby Cinta, langsung mendekat. "Sini, biar anak kamu aku gendong," pinta Tiwi.
Seruni tak langsung memberikan baby Cinta yang belum memejamkan mata nya itu, tapi Seruni malah menatap lekat manik kecoklatan milik Tiwi.
"Ada apa?" Tanya Tiwi, yang menyadari arti tatapan Seruni.
"Apa Doni, akan berangkat ke Jakarta besok?" Balas Seruni bertanya, dengan berbisik lirih.
Tiwi menggeleng dan kemudian duduk di tepi bed di samping Seruni, "bukan besok, tapi nanti sore setelah mengantarkan kalian pulang," balas Tiwi, hingga membuat Seruni terkejut.
"Yang benar kamu Wi?! Jangan bercanda ah?!"
"Aku serius Run, kenapa? Kamu merasa kehilangan ya?" Tebak Tiwi seraya menatap sahabat nya itu dengan intens.
Seruni mengangguk, "pasti lah Wi, kita kan bersahabat sudah sangat lama," balas Seruni dengan menundukkan kepala nya.
"Yakin? Hanya sebatas itu?" Cecar Tiwi dengan menyelidik.
"Iya," balas Seruni dengan yakin, seraya mengangkat lagi kepala nya dan menatap Tiwi.
"Bukan karena kamu, masih belum bisa melupakan om Doni?" Desak Tiwi.
"Itu semua sudah berlalu Wi, enggak perlu lah nengok lagi ke belakang,,"
"Jadi, kamu enggak mau nih nengok ke belakang karena ada aku?" Tanya Doni yang entah sejak kapan sudah duduk di atas bed yang sama di belakang Seruni dan Tiwi.
"Kamu Don, ngagetin aja?!" Protes Seruni dengan mengerucut kan bibir nya.
"Bukan begitu maksud ku Don,,, enggak mau nengok nya itu, enggak mau nengok masa lalu? Karena udah berlalu, ya udahlah,, biar aja jadi kenangan indah kita kan?" Lanjut Seruni diplomatik.
Doni mencebik, "ya, ya,,, terserah kamu lah Un, karena bagiku yang penting kamu bahagia," balas Doni lirih.
"Jangan hanya yang penting aku bahagia dong Don, kamu juga harus bahagia?!" Kembali Seruni protes.
"Aku akan berusaha untuk itu Un," balas Doni tak bersemangat.
__ADS_1
"Tuan muda Sanjaya, yang semangat dong,,," goda Seruni, hingga membuat Doni mencubit hidung Seruni.
"Pinter ngeledek ya sekarang," ucap Doni seraya tersenyum lebar.
Dan mereka berdua kemudian tertawa bersama, sedangkan Tiwi tersenyum bahagia melihat adik sepupu nya bisa tertawa lepas seperti sekarang ini.
Tawa Seruni dan Doni terhenti, dan untuk sesaat keduanya sama-sama terdiam.
Dewa mendekat, "ngrumpi apa sih? Asyik banget kayak nya?" Tanya laki-laki yang ketampanan nya beda tipis sama Doni itu.
"Kepo,," balas Tiwi seraya terkekeh pelan.
"Hem,, gitu ya? Sama sahabat, main rahasia rahasiaan?" Protes Dewa.
Sedangkan Seruni dan Doni masih sama-sama terdiam, mereka sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Un, bolehkah aku memeluk mu untuk yang terakhir kali?" Pinta Doni lirih, membuyarkan lamunan Seruni.
Seruni menatap Doni, Dewa dan kemudian menatap Tiwi secara bergantian. Ibu empat anak itu seperti kebingungan, mungkin di satu sisi Seruni mau mengabulkan permintaan Doni sebagai sahabat. Tapi di sisi yang lain, dia tak mau terjadi kesalahpahaman nanti nya dengan sang suami.
Seruni dan Doni mengernyit, tak tahu maksud Dewa. Sedangkan Tiwi tersenyum, Tiwi paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Dewa.
"Ma, coba cek anak-anak. Pada berantem enggak di sana," titah Dewa pada sang istri, dan istri Dewa itu segera beranjak untuk melihat putra putri nya yang sedang bermain di luar bersama teman-teman nya yang lain.
Setelah istri nya Dewa menghilang di balik pintu, Tiwi segera mengambil baby Cinta dari pangkuan Seruni. "Udah, kalian berdua tuntaskan dulu semua nya. Kami akan ngobrol di sofa," ucap Tiwi penuh pengertian, hingga membuat Seruni dan Doni sesaat saling tatap.
"Semua udah selesai kok, enggak ada lagi yang perlu di bahas?" Protes Seruni.
"Belum, udah jangan banyak protes," Tiwi segera berlalu menuju sofa, sambil mendekap baby Cinta yang tengah terlelap.
Tiwi kemudian duduk di sofa, yang diikuti oleh Dewa. Sedangkan Fina, Nila dan Rindi menatap Dewa dan Tiwi dengan penuh tanya.
"Kita kasih waktu mereka berdua untuk ngobrol, biar jelas dan tuntas semua nya," ucap Dewa, menjawab pertanyaan yang tak terucap dari ketiga sahabat nya itu.
Nila hanya mencebik, sedangkan Rindi menghela nafas berat. Hanya Fina yang langsung protes, "kenapa enggak dari dulu aja sih, di Doni ngajak Runi kawin lari!"
__ADS_1
Dewa yang duduk tepat di sebelah Fina, menyentil kening wanita keturunan Arab itu. "Enggak enak tahu, kawin sambil lari," ucap Dewa seraya terkekeh, yang disambut tawa tanpa suara oleh yang lain.
"Ih,, mesum aja pikiran kamu Wa, enggak beda ama suami ku?!" Protes Fina.
"Itu udah berlalu Fin, Runi juga paham kok alasan Doni waktu itu apa?" Balas Tiwi, "kalau sekarang om Doni kembali mendekati Runi, itu karena om Doni ingin memastikan aja, apakah Runi benar-benar bahagia dengan pernikahan nya? Setelah apa yang diperbuat oleh si Mahmud pada Runi?" Lanjut Tiwi.
"Ya, nama nya usaha kan? Siapa tahu aja, Runi berubah pikiran dan mau menerima om Doni lagi? Toh yang jadi penghalang diantara mereka berdua, juga sudah enggak ada kan? Di akhir hayat nya, tante membebaskan om Doni untuk memilih jodoh nya sendiri.. pun misal om Doni kembali dengan Runi," Terang Tiwi panjang lebar, dan yang lain pun mengangguk mengerti.
"Yah, semoga aja yang terbaik untuk mereka berdua," ucap Rindi, yang seperti nya ikut nyesek mengingat kisah percintaan kedua sahabat nya itu.
Nila mengangguk setuju, "moga mereka berdua, bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan," timpal nya penuh harap.
Sementara Doni langsung beranjak, menuju sisi bed yang lain,, dimana Seruni duduk dengan menjulurkan kaki nya di atas kursi.
Doni kemudian duduk di samping Seruni, di tempat yang tadi di duduki oleh Tiwi.
Mereka berdua masih sama-sama diam, hanya helaan nafas panjang Doni yang sesekali terdengar,, membuat dada Seruni terasa ikut sesak, dan suasana disekitar mereka berdua terasa tegang.
"Un, untuk yang terakhir kali aku bertanya," lirih Doni mengurai ketegangan, seraya menatap dalam netra Seruni dan menggenggam tangan ibu empat anak itu.
"Sudah tidak adakah kesempatan lagi bagiku Un? Agar aku bisa membahagiakan kamu dan anak-anak?" Tanya Doni menuntut jawab.
Seruni yang membalas tatapan Doni, kini netra nya telah dipenuhi oleh air mata. Tapi wanita yang terlihat awet muda itu, tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Lidah nya tiba-tiba saja terasa kelu, Seruni hanya mampu menggeleng lemah.
Tapi Doni dapat mengartikan arti gelengan Seruni, dan pemuda matang dengan paras nya yang menawan itu langsung memeluk Seruni tanpa permisi lagi.
Kedua sejoli itu sama-sama menangis, menumpahkan rasa yang menyesakkan dada. Rasa, yang selama ini membelenggu hati dan jiwa kedua nya.
Hingga cukup lama kedua nya saling memeluk dengan erat, seolah tak mau terpisah kembali. Tapi nyata nya, takdir telah memisahkan mereka berdua,, dan mungkin akan selamanya seperti itu.
Kelima sahabat mereka, yang menyaksikan adegan mengharukan itu pun ikut menangis. Terutama Tiwi, yang dapat merasakan kesedihan adik sepupu nya. Tiwi tahu persis, betapa besar nya cinta Doni untuk Seruni. Dan Tiwi juga tahu betul, bagaimana dulu Doni sangat terpuruk,, kala kedua orang tua nya tak merestui.
Dan tanpa mereka semua sadari, ada sepasang mata yang melihat kejadian itu dengan tangan terkepal sempurna dan rahang nya yang mengeras. Sementara air mata nya, ikut menetes membasahi wajah yang dipenuhi bulu-bulu kasar itu. "Ada laki-laki sempurna yang begitu besar mencintai mu ma, tapi papa dengan bodoh justru malah menyakiti mama. Dan,,, apapun keputusan mu saat ini ma, papa harus rela."
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1