
Seruni bergegas mendahului Mahmudi dan menghadang langkah dua laki-laki yang sudah tidak sabar ingin melihat siapa tamu dari Tari itu, "harus pelan dan jangan terburu-buru, jangan sampai penghuni kamar depan curiga," ucap Seruni mengingatkan, yang di angguki oleh Mahmudi dan Arif.
Seruni kemudian membuka sedikit pintu kamar nya dan dengan sangat pelan, Seruni mundur dan menarik lengan suami nya untuk memberikan kesempatan pada Arif melihat keluar kamar.
"Ma, aku kan juga pengin lihat wajah si Edi itu? Apa benar dia itu Edi teman kantor papa atau bukan?" Protes Mahmudi, seraya menatap istri nya.
"Nanti aja, sekarang biarkan mas Arif yang melihat langsung apa yang akan dilakukan oleh istri nya," balas Seruni dengan tenang.
Dari dalam kamar, dengan pintu yang sedikit dibuka itu, Arif melihat dengan mata kepala nya sendiri bagaimana agresif nya Tari,,, yang begitu membukakan pintu untuk tamu nya, langsung mencium bibir laki-laki yang baru saja datang dan usia nya jauh di atas Arif itu. Dan dengan tidak sabar, Tari menarik tangan sang laki-laki untuk masuk kedalam kamar.
Setelah beberapa saat mengintai dan setelah laki-laki yang tadi mengetuk pintu kamar Tari masuk kedalam kamar tersebut, Arif langsung membalikkan badan. "Saya harus masuk ke sana sekarang," ucap Arif dengan wajah memerah menahan amarah dan kedua tangan yang terkepal sempurna, hingga buku-buku jari nya nampak memutih.
"Mas Arif yakin?" Tanya Seruni, "kalau sekarang, mungkin mereka belum sampai melakukan hubungan badan. Tapi kalau mas Arif mau bersabar sedikit lagi, mungkin semua nya akan lebih jelas," balas Seruni, seraya menatap Arif dengan penuh empati.
Arif menghembus kasar nafas nya, dan kemudian kembali duduk di kursi busa yang tadi dia tempati.
Seruni pun ikut duduk di kursi, di samping Arif. Sedangkan Mahmudi memilih tetap berdiri di samping sang istri.
"Ya, mbak Seruni benar. Saya harus bisa menangkap basah mereka berdua," Arif membenarkan ucapan Seruni, seraya mengangguk-anggukkan kepala.
"Apa nanti, saya harus mendobrak pintu tersebut?" Tanya Arif, seraya menatap Seruni. "Saya enggak mau, urusan rumah tangga saya menjadi konsumsi publik jika sampai terjadi keributan," lanjut nya seraya mengerutkan dahi nya,, seolah sedang berpikir dengan keras.
Seruni menggeleng, "tidak mas, suami saya sudah meminta kunci cadangan kamar tersebut pada pihak resepsionis tadi sewaktu pertama kali kami check-in." Balas Seruni, "Bukankah begitu pa?" Seruni menatap suami nya, yang berdiri sambil memainkan ponsel.
"Iya ma," balas Mahmudi, dan kemudian mengambil kunci cadangan dari dalam saku nya.
"Ini kunci nya," ucap Mahmudi seraya menyodorkan kunci tersebut kepada Arif, namun Arif tak langsung menerima nya. Suami Tari itu seolah ragu, untuk melangkah lebih lanjut.
__ADS_1
"Gimana kalau saya yang membukakan pintu nya?" Tawar Mahmudi seraya menatap Arif.
"Pa,,," Seruni mengernyit.
"Papa cuma pengin lihat siapa si Edi itu ma, dia Edi teman sekantor papa atau bukan?" Balas Mahmudi.
Arif dan Seruni mengangguk bersamaan, "saya setuju usul suami mbak Seruni, karena dengan demikian,,, mereka akan semakin shock menerima double surprise, dari kami berdua," ucap Arif, yang menyetujui ide Mahmudi.
"Iya, benar," timpal Seruni, "tapi nanti, papa jangan lama-lama berada di dalam sana." Titah Seruni.
"Kenapa ma? Mama udah tidak sabar ya, ingin berduaan sama papa di dalam kamar sini," bisik Mahmudi tepat di telinga sang istri, hingga membuat Seruni mencubit perut nya.
"Aw,, kok di cubit sih ma?" Protes Mahmudi cemberut.
"Papa tuh masih harus puasa ya? Jangan genit-genit, dan jangan harap aku akan luluh dengan rayuan kamu pa!" Bisik Seruni seraya menatap tajam suami nya.
Pinta Seruni.
"Bukan kah begitu, mas Arif," lanjut Seruni seraya menatap Arif.
Arif mengangguk, "iya mbak, terimakasih atas pengertian nya," balas Arif.
Dan mereka pun sepakat untuk menunggu beberapa saat, sambil membicarakan bagaimana rencana berikut nya.
Sementara di dalam kamar Tari, wanita muda yang hanya melilit tubuh nya dengan handuk kecil.. yang hanya mampu menutup bagian dada hingga kema*luan nya itu, langsung melucuti pakaian pasangan me*sum nya satu persatu dengan tidak sabar hingga membuat Edi terkekeh senang.
"Sudah tidak sabar saja kamu, my baby sayang ku," goda Edi, sambil memainkan alis nya.
__ADS_1
"Gimana aku bisa tahan mas, tadi aku sudah sempat menindih laki-laki sialan itu tapi dia malah menyuruh ku untuk mandi. Aku turuti apa mau nya, tapi dia malah ngeloyor pergi pas aku lagi mandi? Udah gitu ya mas, gara-gara di telpon bini nya dia enggak bisa balik ke hotel ini! Kan sebel!" Adu Tari, yang masih sibuk melepas ikat pinggang Edi. Dan begitu ikat pinggang berhasil di lepas, Tari membantu Edi untuk melepaskan celana nya.
"Memang nya, kamu tadi belum mandi dik waktu mau berangkat kencan sama Mahmud?" Tanya Edi.
"Ya udah lah mas, mas Mahmud nya aja yang aneh! Kata nya sih, dia enggak bisa bercinta kalau istri nya enggak mandi!" Geram Tari, yang masih memendam amarah dan kekecewaan karena ditinggalkan Mahmudi begitu saja.
"Mas, cepat re*mas milik ku," rajuk Tari setelah melempar dengan asal celana Edi, sambil mengarahkan tangan Edi pada gunung kembar milik nya. Dengan senang hati, Edi melakukan apa yang diminta oleh kekasih gelap nya itu.
Dan suara-suara desa*han, lengu*han disertai nafas yang memburu mulai mengisi penuh kamar hotel tersebut. Mereka berdua sama-sama melakukan foreplay, dan berusaha untuk menyenangkan pasangan main nya masih sambil berdiri di balik pintu.
Tari yang agresif dan tidak sabaran, segera mendorong tubuh Edi hingga telentang di atas ranjang yang empuk setelah dirasa milik nya mulai berdenyut dan menginginkan lebih dari sekedar pemanasan.
Dan wanita muda yang telah dikuasi gai*rah membara itu, langsung menindih tubuh laki-laki paruh baya yang menjadi teman kencan nya selama ini dengan penuh naf*su. Tari dengan liar, menciumi dan mencumbui area sensitif Edi. Begitu pun sebaliknya, Edi tak memberi celah sedikit pun pada tubuh Tari yang lolos dari rabaan nya.
Kedua nya kemudian bergumul di atas kasur busa empuk dengan sangat liar, tak ada yang mau menjadi objek.. dua-dua nya ingin menjadi subyek dan menjadi pemimpin dalam pergumulan. Dan pergumulan panas pun semakin membara, hingga ruangan berpendingin udara itu tak mampu lagi mendinginkan kedua nya yang sudah sama-sama diliputi gai*rah yang panas membara.
Peluh bercucuran membasahi tubuh polos kedua nya, permainan yang liar, nakal dan sedikit brutal layak nya slogan kera sakti pun,,, tak mampu menggambarkan, betapa panas nya pergumulan dua insan yang tersesat di hutan belantara dan lembah kenikmatan tersebut.
Kedua nya asyik dengan mainan yang mereka pegang, mereka sesap, dan mereka rasakan nikmat nya. Mereka berdua sangat menikmati sensasi dari permainan yang luar biasa yang mereka ciptakan sendiri, ketika inti tubuh kedua nya telah benar-benar menyatu sempurna.
Suara berisik kedua nya yang berlomba menemukan kenikmatan fatamorgana dari pergumulan panas tersebut, membuat mereka berdua tak menyadari ketika pintu kamar mereka di buka dari luar.
Dan Arif serta Mahmudi yang sudah berdiri di ambang pintu, di buat terkesiap dengan pemandangan tersebut. Dimana tubuh polos Tari, sedang meliuk-liuk di atas tubuh polos Edi yang tengah memejamkan mata menikmati goyangan dari Tari.
Dengan suara nya yang lantang, Arif menghentikan aksi istri nya yang menggila itu. "Tari!!"
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1