
"Jangan mau menerima si Mahmud gitu aja Run, laki kalau udah sekali selingkuh pasti bakalan ngulang kesalahan yang sama." Sahut Nila dengan nada yang sinis, sebelum Seruni memberikan jawaban atas pertanyaan Doni.
"Si Doni nanya nya sama Runi Nil, jangan asal nyahut aja deh," protes Fina, yang tak setuju jika Nila meracuni pikiran Seruni.
"Ya, aku kan kasih masukan sebagai sahabat Fin," balas Nila seraya cemberut.
"Iya Nil, kami tahu maksud kamu baik. Tapi biarkan Runi yang menentukan sendiri, mau bagaimana rumah tangga nya ke depan nanti," timpal Tiwi yang setuju dengan Fina.
"Aku juga setuju kok sama Nila, sebagai sahabat tentu kami ingin yang terbaik untuk Runi bukan? Dan aku pikir, si Mahmud emang udah enggak layak deh untuk di pertahankan," ucap Rindi, yang masih kekeuh dengan pendapat nya sejak awal.
Sedangkan Seruni masih terdiam dan menyimak pembicaraan sahabat-sahabat nya, sambil sesekali memijat pelipis nya yang terasa berdenyut.
"Pusing Un?" Bisik Doni sangat lirih, dan penuh perhatian. Seruni sekilas melirik Doni, dan menanggapi nya hanya dengan menggeleng.
"Oke, oke,, sekarang biarkan Runi yang berbicara," ucap Dewa yang sedari tadi diam saja dan menyimak perdebatan kecil sahabat-sahabat wanita nya, mencoba menengahi.
"Silahkan Run, kamu sampaikan aja unek-unek kamu pada kita-kita. Jangan di pendam sendiri Run, nanti bisa jadi bisul loh,,," lanjut Dewa, yang mencoba mencairkan suasana. Dan benar saja, Seruni tersenyum mendengar ucapan Dewa.
"Asal bisul nya jangan di pantat aja ya Wa," balas Seruni asal, seraya terkekeh. Hingga membuat sahabat-sahabat nya, ikut tertawa bersama.
"Wah, kalau bisul nya di pantat, bisa kerepotan sendiri si Doni karena enggak bisa duduk seharian? Mana berkas yang harus di tanda tangani udah numpuk segunung?" Timpal Dewa masih dengan tawa nya, seraya menatap Doni.
"Kok aku?" Protes Doni seraya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Lah, kan kamu juga masih memendam cinta sejak lama? Kalau jadi bisul semua, udah penuh tuh badan kamu sama bisul," balas Dewa, makin tergelak. Yang lain pun semakin tergelak, dan sejenak melupakan perbedaan pendapat di antara mereka semua.
Doni menatap Seruni, "kalau benar cinta yang aku pendam bisa jadi bisul semua, aku rela.. biar Uun tahu, seberapa banyak dan seberapa besar nya cinta ku pada Uun," ucap Doni, sungguh-sungguh. Dan suasana tiba-tiba menjadi hening, masing-masing ikut terhanyut dan terbawa dalam perasaan cinta dari Doni yang begitu mendalam untuk Seruni.
Seruni menunduk, menghindari tatapan Doni. "Dulu aja, waktu aku masih gadis.. orang tua kamu enggak bisa merestui cinta kita Don? Apalagi sekarang? Dimana buntut ku udah mau empat?" Gumam Seruni dalam hati, Seruni menghela nafas panjang.
"Duh Don, meleleh hati ana,,," balas Fina tiba-tiba, yang menguarai keheningan dengan gaya nya yang menggoda.
"Enggak, enggak,,, aku ogah sama kamu Fin, nanti tiap hari kamu suruh aku minum ramuan Arab biar punya ku gede." Tolak Doni dengan bergidik.
"Hahahaha,,, bener om, Fina kan penggemar babah-babah Arab yang itu nya gede," timpal Tiwi, yang kembali tergelak. Yang lain pun ikut tertawa seraya geleng-geleng kepala.
"Eit, jangan salah. Laki-laki itu, akan merasa sempurna jika anu nya gede tau?" Balas Fina, dengan mengerling kearah Dewa. "Punya kamu gimana om Dewa? Mau aku kasih ramuan enggak? Buat om Dewa, gratis deh.. tapi harus aku ukur dulu ya?" Lanjut Fina semakin menjadi, yang bergaya bak remaja yang sedang menawarkan keasyikan pada om-om kesepian. Hingga semua nya semakin tergelak, kecuali Dewa yang bergidik mendengar celoteh Fina yang absurd.
"Dasar, camelia absurd,,," gerutu Dewa, tapi sambil tersenyum karena sudah paham dengan candaan satu sama lain.
"Camelia?" Rindi mengernyit kan dahi nya.
__ADS_1
"Hemmm,,, onta betina," balas Dewa dengan terkekeh kecil, yang lain pun tertawa kembali.
"Assem kamu Wa, ngatain aku onta betina," protes Fina, tapi tetap ikut tersenyum.
Hening, kembali menyapa di sekitar meja tersebut.
"Gimana pertanyaan ku yang tadi Un?" Tanya Doni seraya menatap Seruni, dan menuntut jawab.
"Eh, yang mana Don?" Tanya Seruni yang benar-benar lupa, karena keasyikan bercanda bersama sahabat-sahabat nya.
Doni tersenyum, sedangkan yang lain mengernyit.
"Kamu beneran lupa Un?" Doni menatap dalam Seruni, Seruni bagai terhipnotis dengan tatapan Doni tersebut dan dia hanya bisa mengangguk.
"Mengenai lamaran ku barusan Un, apakah kamu mau menerima nya Un?" Tanya Doni dengan sengaja mengalihkan pertanyaan nya, untuk memancing Seruni.
Seruni mengernyit, sedangkan sahabat-sahabat nya yang lain semakin mengernyit dalam dan tidak mengerti arah pembicaraan Doni.
"Bukan, bukan itu pertanyaan kamu tadi Don," balas Seruni, sambil mengingat-ingat.
Doni semakin melebarkan senyum nya, "jadi, kamu sudah ingat Un?"
"Ihh,, kamu sengaja ya menjebak ku?" Balas Seruni seraya memukul lengan Doni dengan pelan, yang lain pun kemudian tersenyum begitu mengetahui ternyata Doni hanya bercanda.
"Ehm,,," Dewa berdeham, " melihat mereka berdua, kita kayak terjebak di dunia masa silam.. benar enggak sih?" Dewa menatap sahabat-sahabat nya yang lain.
"Iya, benar." Balas Fina.
"Udah deh Don, move to the on.. come on, you can do it!" Timpal Rindi, yang memberikan semangat pada sahabat nya itu.
"Santai aja Rin, aku pasti akan move on. Tapi nanti, setelah memastikan peri cantik ini bahagia," balas Doni masih dengan tatapan nya yang tertuju pada Seruni.
Seruni mendongak, memberanikan diri menatap Doni. "Aku pasti bahagia Don, karena aku sendiri yang menciptakan kebahagiaan hidup ku." Ucap Seruni meyakinkan.
"Setuju sama Runi, bahagia kita itu jangan tergantung pada bagaimana orang lain bersikap dan memperlakukan kita. Tapi bahagia kita, ada pada hati dan pikiran kita sendiri. Be positif thinking, keep smile and be smart person," timpal Nila.
"Halah,,, sok Inggris kamu, mentang-mentang suami nya bule Ausi," ledek Dewa seraya menatap Nila, Nila hanya menanggapi nya dengan terkekeh pelan.
"Tinggal bilang aja, urip iku, nrimo ing pandum.. InsyaAllah ati bakalan adem, ayem, tentrem," lanjut Dewa sok berfilosofi.
Fina yang tidak begitu mengerti bahasa Jawa mengernyit, "artinya apaan Wa?"
__ADS_1
"Itu merupakan pitutur atau petuah bijak Jawa, yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Nrimo berarti menerima, pandum berarti pemberian. Jadi nrimo ing pandum memiliki pesan, menerima segala pemberian Tuhan apa adanya tanpa menuntut yang lebih atau bersyukur atas apa yang telah dimiliki." Terang Dewa.
"Seringkali kita mendapati kenyataan, bahwa antara kenyataan dan harapan itu berbeda. Dalam kehidupan ini, juga selalu ada yg tidak kita sukai, tidak kita inginkan, tidak kita harapkan dan lain sebagainya," Dewa menatap Fina, dan sahabat-sahabat nya yang lain bergantian.
"Dan itu semua adalah bagian dari pembelajaran tentang kehidupan,,, karena kita harus selalu ingat, bahwa segala sesuatu yg terjadi baik yg kita harapkan ataupun tidak kita harapkan adalah bagian dari kehendak Sang Pencipta."
"Dalam hidup pasti ada masalah dan kesulitan, dan itu sudah sunnatullah,,, tinggal bagaimana kita mensikapi nya. Dan satu yang harus kita yakini, bahwa dibalik setiap masalah dan kesulitan pasti ada hikmahnya," lanjut Dewa.
Para wanita mengangguk-angguk setuju, begitu pun dengan Doni. "Jadi, aku harus rela jika Uun bukan jodoh ku?" Gumam Doni dalam hati, "tapi kok, aku masih berat ya melepaskan Uun? Dan hatiku, kenapa hati ku masih saja terpaku pada nya? Padahal, aku sudah pergi jauh selama bertahun-tahun?"
Ya, Setelah Doni keluar dari rumah sakit.. dia memutuskan untuk melanjutkan studi pasca sarjana di luar negeri, salah satu tujuan nya adalah agar bisa melupakan Seruni.
Sepulang dari luar negeri, Doni yang langsung diterima bekerja di salah satu bank swasta bonafid itu kemudian menyibukkan diri dengan pekerjaan dan mengejar karier nya. Hingga praktis, Doni tak punya waktu untuk memikirkan wanita lain. Tapi nama Seruni, masih terekam jelas di memori nya.
Doni juga sengaja jarang ikut ngumpul bareng sahabat-sahabat nya, terlebih jika ada Seruni.. pun sebaliknya, dan baru akhir-akhir ini mereka sering bertemu. Dan nama Seruni semakin kuat terikat di memori dan di hati Doni, meski Doni sadar bahwa saat ini Seruni masih berstatus sebagai seorang istri.
"Salah kah aku, jika masih berharap keajaiban itu Tuhan?" Do'a Doni dalam hati.
"Don,," dan panggilan Seruni yang terdengar bak dawai gitar di telinga Doni, membuyarkan lamunan laki-laki yang masih saja melajang di usia nya yang semakin matang itu.
"Eh, iya Un.. ada apa?" Tanya Doni tergagap.
"Mau dengar jawaban aku, atas lamaran kamu enggak?" Tanya Seruni yang mengikuti candaan Doni tadi.
Doni tersenyum, dan menatap netra Seruni seolah mencari jawab,,, masih kah ada cinta di hati wanita yang tengah mengandung itu, untuk diri nya?
"Don, kok melamun lagi?" Protes Seruni.
"Iya Un, katakan lah," balas Doni dengan tersenyum hangat.
"Jangan senyum gitu dong Don, lidah ku jadi kelu nih?" Protes Seruni, karena di tatap dan diberi senyuman seperti itu oleh Doni. Tatapan dan senyuman yang dulu menggetarkan hati nya, dan melambungkan angan nya.
"Ehmmm,, tinggal jawab aja, banyak drama nih pasangan?!" Protes Nila, yang juga sudah tidak sabar.
"Aamiin,,," balas Doni cepat, yang mengaminkan do'a Nila yang menyebut dia dan Seruni pasangan.
Sedangkan Seruni hanya tersenyum.
"Gini ya Don, setiap orang..."
"Ma," dan suara seseorang yang tiba-tiba muncul, membuat Seruni menjeda perkataan nya.
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
Sabar yah,,,, ada yang datang 😉😉