
Setelah Rindi tak terlihat lagi punggung nya, Doni mulai membuka suara. "Un,, aku tahu, dulu aku tak memiliki keberanian untuk memperjuangkan mu. Dan aku yakin, kamu tahu alasan nya apa?"
Doni menghela nafas pelan, "bagi seorang anak, tak ada yang lebih berharga selain nyawa ibunya bukan? Dan kamu juga tahu, bahwa mama ku memiliki riwayat penyakit jantung yang sewaktu-waktu bisa kambuh jika emosi nya tak terkontrol."
"Saat itu aku sudah berusaha,,,,"
"Cukup Don, tak perlu kamu jelaskan lagi. Aku sudah tahu semua nya dan aku bisa memahami keadaan mu saat itu. Aku justru bangga dengan pilihan kamu Don, kamu anak yang berbakti." Potong Seruni cepat.
"Aku enggak pernah marah sama kamu Don, aku juga tidak dendam sama mama dan papa kamu. Hanya satu yang aku sesalkan," Seruni sejenak menghentikan ucapan nya.
"Apa Un?" Tanya Doni.
"Kenapa kamu masih saja seperti ini Don? Kenapa kamu masih saja sendiri?" Sesal Seruni, seraya menatap Doni dengan dalam, "aku jadi merasa bersalah sama kamu Don, kesan nya.. aku yang jahat, karena meninggalkan kamu dan menikah dengan laki-laki lain," lanjut Seruni dengan sendu.
Doni menggeleng, "kamu enggak salah Un, kamu berhak mendapatkan kebahagiaan dari laki-laki lain karena aku telah gagal mempertahankan hubungan kita." Ucap Doni dengan netra berkaca-kaca.
Doni kemudian meraih tangan Seruni. Namun dengan halus, Seruni menepis nya. "Maaf Don, jangan buat hati ku semakin sedih," pinta Seruni.
Doni menghela nafas berat, "aku pun ingin bisa seperti kamu Un, aku pun ingin menjalin hubungan dengan wanita lain?" Doni menggeleng lemah, "tapi hingga detik ini, nyata nya aku belum bisa Un.. aku belum bisa," lanjut Doni, penuh penekan.
"Hanya ada kamu di hati ku Un, dan bayangan mu selalu muncul setiap saat setiap waktu tanpa bisa aku tolak." Doni menatap dalam netra indah milik wanita yang masih bertahta di hati nya itu.
Seruni menggeleng, "yang kamu butuhkan, hanya keberanian untuk membuka hati dan menerima kehadiran wanita lain dalam hidup mu Don dan tidak perlu kamu bersikeras untuk melupakan masa lalu kita jika memang kamu belum bisa. Aku yakin, jika kamu sudah berhasil membuka hati untuk dekat dengan seorang wanita, lambat laun wanita itu akan berhasil menggeser posisi ku dari hati mu," balas Seruni mencoba meyakinkan.
"Entahlah Un, aku enggak yakin dengan hal itu," ucap Doni lemah.
__ADS_1
Kedua nya terdiam, hingga beberapa saat lama nya.
"Un, katakan sejujurnya pada ku. Apakah kamu benar-benar bahagia dengan pernikahan mu Un?" Tanya Doni penuh perhatian.
"Tentu saja Don, kami bahkan sudah memiliki tiga anak dan sebentar lagi empat," balas Seruni seraya mengelus perut nya. "Kalau tidak bahagia, aku takkan bertahan sampai sejauh ini Don," lanjut nya dengan yakin.
"Ingin aku mempercayai kata-kata mu itu barusan Un, tapi entah mengapa aku sangsi." Balas Doni.
Seruni tersenyum, "awalnya, pernikahan ku memang tidak berdasarkan atas rasa cinta," Seruni menerawang jauh, "saat itu, hatiku benar-benar terluka karena perpisahan kita Don... aku menyendiri dan menjauh dari semua orang, hingga berbulan-bulan lama nya." Seruni mengenang masa lalu nya dengan bulir bening yang berjatuhan membasahi pipi nya.
Doni mengambil sapu tangan, dan memberikan nya pada Seruni.
Seruni menyeka air mata nya, "mas Mahmud, yang merupakan senior ku di kantor mencoba mendekati aku. Awal nya aku masih menutup diri, namun dia orang nya kekeuh dan tak patah semangat hingga perlahan aku mulai membuka diri."
"Kami pun berteman baik, dan mas Mahmud terus memberikan perhatian nya pada ku,,, hingga lambat laun, aku semakin merasa nyaman bersama nya. Dan pada saat dia nekat melamar aku, tanpa pikir panjang aku langsung menerima nya. Meski aku tahu, bahwa saat itu aku belum mencintai nya." Lanjut Seruni dengan tersenyum samar.
"Dan itu terbukti Don, aku mulai merasa kan getaran-getaran di hati kala bersama nya menjelang pernikahan kami. Dan aku juga bisa merasakan debaran jantung ku yang berdetak lebih cepat, kala ijab qabul telah terucap dan kami resmi menjadi suami istri,,,,"
"Cukup Un, jangan kamu lanjutkan." Potong Doni cepat, "aku tak sanggup Un, aku cemburu," lanjut nya dengan nada kecewa.
"Aku enggak bermaksud manas-manasin kamu Don, aku hanya ingin sharing pengalaman dan berharap kamu mau belajar dari pengalaman ku itu," ucap Seruni.
Doni menghela nafas berat, dan kemudian mengangguk. "Iya Un, aku tahu niat kamu baik." Balas Doni.
"Don, apa cuma ini yang ingin kamu bicarakan? Aku yakin pasti bukan ini kan?" Cecar Seruni, "Kita kayak muter-muter di lorong waktu yang enggak bertepi, tahu enggak sih Don? Terjebak pada masa lalu, yang sudah semestinya enggak perlu kita ingat! " Lanjut nya dengan memijat kening.
__ADS_1
Doni menghela nafas panjang, "papa meminta ku untuk segera pindah ke ibukota Un," lirih Doni.
"Ya bagus dong, kapan berangkat?" Tanya Seruni antusias.
"Kamu mengusir ku Un?" Tanya Doni balik.
"Iya," balas Seruni seraya tergelak, dan Doni pun ikut tertawa. Cukup lama kedua nya sama-sama tertawa, dan beberapa saat kemudian kedua netra mereka saling bertemu.
"Kamu sangat pantas untuk mendapatkan kepercayaan dari papa kamu Don, dan aku udah yakin sejak dulu. Kalau pun kemarin-kemarin papa kamu lebih memilih kakak ipar kamu yang menggantikan nya, itu hanya karena beliau ingin melihat kinerja kamu di tempat lain. Beliau ingin melihat, kamu sukses di tempat lain tanpa campur tangan nya. Dan itu terbukti kan Don, di usia kamu yang masih sangat muda, kamu telah menduduki jabatan direktur di sebuah bank ternama," ucap Seruni panjang lebar.
"Aku salut sama kamu Don, berangkat lah.. penuhi keinginan papa kamu. Doni Sanjaya, sangat layak untuk menjadi Chief Executive Officer di PT. Sanjaya Group. CEO muda, tampan dan cerdas.. pasti akan banyak wanita yang mengejar-ngejar kamu Don," lanjut Seruni dengan tersenyum tulus.
"Dan aku masih berharap, kamu akan cemburu Un," balas Doni dengan menatap dalam netra Seruni.
"Don,,," protes Seruni, dan mereka berdua kembali tertawa bersama.
"Kamu belum jawab pertanyaan ku Don? Kapan kamu akan berangkat?" Tanya Seruni sesaat kemudian, setelah tawa mereka reda.
"Aku baru mau mengajukan surat pengunduran diri," balas Doni dengan menghela nafas panjang, "aku ingin menunggu sampai kamu melahirkan dulu Un, baru aku pindah." Lanjut Doni.
"Itu masih dua bulan Don, dan dalam kurun waktu itu udah banyak yang bisa kamu lakukan di kantor kamu yang baru? Tak perlu lah, menunggu sampai aku lahiran?" Protes Seruni, "nanti pasti aku kabari, kalau aku dah mau melahirkan," lanjut nya, meyakinkan.
Doni menggeleng, "karena aku juga ingin memastikan, bahwa kamu benar-benar bahagia Un," balas Doni, yang lagi-lagi sangat mengkhawatirkan Seruni.
"Aku bahagia Don, sangat bahagia. Dan asal kamu tahu, aku akan bertambah bahagia, jika kamu tidak terus-terusan seperti ini!" Balas Seruni dengan penuh penekan.
__ADS_1
Doni menarik nafas panjang untuk mengisi penuh paru-paru nya, dan kemudian menghembus nya perlahan. "Beri aku satu kesempatan lagi Un, selama dua bulan ini untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Dan setelah ini, aku janji,,, aku akan melanjutkan hidup ku." Pinta Doni sungguh-sungguh.
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏