Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
54. Godaan Seruni Lebih Dahsyat


__ADS_3

Mahmudi bersama putra ketiga nya, yang langsung masuk kedalam ruangan dimana istri dan anak keempat yang baru saja dilahirkan itu berada,, langsung menghambur kearah sang istri dan mencium kening istri nya dengan sangat lama. "Maafkan papa ma, maaf karena tak bisa menemani di saat mama tengah berjuang melahirkan putri kita," lirih nya terbata.


"Enggak apa-apa pa, papa enggak ada di sisi mama kan bukan karena kemauan kamu pa. Tapi karena keadaan yang memaksa," balas Seruni, setelah sang suami melepaskan ciuman nya.


"Oh ya, anak mama yang ganteng.. adik udah enggak apa-apa kan sayang?" Tanya Seruni, seraya meraih tubuh Tsalis yang di dudukkan sang ayah di tepi bed.


"Enggak apa-apa ma, adik sudah sembuh. Tadi sudah diobati sama om dokter, dan adik juga dikasih hadiah sama om dokter. Ini, bagus kan ma..." Tsalis memamerkan jam tangan anak-anak yang di pakai di pergelangan tangan kiri nya


"Wah, bagus sekali jam tangan nya," balas Seruni seraya memeluk Tsalis dengan penuh kasih.


"Mas Tsalis, mau liat adik bayi enggak?" Mahmudi yang kini sudah menggendong bayi nya, mendekat ke arah Tsalis yang masih berada dalam dekapan sang mama.


"Mau pa, sini biar adik yang pangku," pinta Tsalis antusias, seraya bangkit dan kemudian duduk dengan tegap di sisi ranjang.


Mahmudi mendekatkan wajah bayi yang tertidur lelap itu ke wajah Tsalis, dan bocah laki-laki itu langsung mencium sang adik dengan lembut.


"Hem,,, sekarang kan mas Taslis udah jadi kakak nih, manggil nya sekarang mas ya?" Ucap sang papa, dan Tsalis mengangguk setuju.


"Hore,, Tsalis udah jadi mas, sama seperti mas Alif dan mas Arga," serunya dengan girang, hingga membuat sang adik terbangun dan kemudian menangis.


"Ssst,, mas Tsalis bicara nya jangan kenceng-kenceng," Sang mama mengingatkan dengan berbisik, dan Tsalis menutup mulut nya seraya terkekeh pelan.


"Maaf ma, habis nya Tsalis seneng banget," balas nya dengan netra bulat yang berbinar terang.


Sementara Mahmudi berdendang sambil menepuk-nepuk pelan pantat putri kecil nya, agar kembali tidur.


Baru saja bayi dalam gendongan sang papa itu terlelap, kembali suara berisik terdengar. Ternyata Tiwi, Doni, Dewa, Nila dan suami nya masuk ke ruangan tersebut.


"Run, selamat ya,,," ucap Nila dan Tiwi bersamaan, seraya memeluk Seruni dari dua sisi yang berbeda.


"Ih, kalian apa-apaan sih. Sumpek tahu di kekepin kayak gini?" Protes Seruni.


Dan ketiga nya kemudian tertawa bersama, setelah pelukan mereka terlepas.


"Congrats ya Run," ucap suami Nila, seraya menyalami Seruni. Dan Seruni membalas nya dengan tersenyum hangat.


"Selamat ya Run, pemecah rekor dengan anak terbanyak. Empat loh,, Doni aja, satu juga belum," ucap Dewa dengan tergelak.

__ADS_1


"Assem kamu Wa, nanti kamu bakalan aku salip Wa. Dua kali melahirkan, langsung enam,, hahaha," balas Doni yang juga ikut tergelak.


"Istri kamu emang nya kucing Don, melahirkan nya bisa kelipatan gitu.. habis dua, terus empat dan seterusnya, hihihi,," Nila terkikik geli sendiri.


Yang lain pun ikut tertawa, termasuk Seruni.


Doni pun kemudian ikutan maju, dan menyalami Seruni seraya tersenyum, "selamat ya Un," ucap Doni dengan menatap dalam netra Seruni.


Tiwi dan Nila mengernyit, "bukan nya tadi yang,,," ucapan Nila menggantung di udara.


"Tadi belum sempat ngucapin selamat, udah keburu di usir sama Uun," potong Doni cepat, dan Seruni hanya tersenyum mendengar nya.


"Run, mau dikasih nama siapa putri kamu?" Tanya Nila, seraya menatap bayi mungil yang kini sudah dibaringkan kembali di box bayi.


Seruni menatap Doni, ibu empat anak itu teringat dengan permintaan Doni sesaat setelah bayi itu lahir tadi. Dan Doni yang mengerti arti tatapan Seruni mengucapkan sebuah nama dengan mengeja, tanpa bersuara. "Cin - ta."


"Namanya Cinta," balas Seruni tanpa berpikir panjang.


Dewa yang sedari tadi memperhatikan Doni mengernyit kan dahi


"Nama yang bagus," ucap Tiwi dan Nila serempak, seraya menatap Doni dan laki-laki yang masih saja menyendiri itu hanya tersenyum.


Mahmudi mengernyit, "kok cinta ma?"


"Iya pa, agar kelak dia tumbuh menjadi gadis yang memiliki cinta yang luas untuk semua orang. Dan agar kelak, dia bisa mendapatkan cinta sejati nya," balas Seruni seraya melirik Doni, hingga membuat Doni menghela nafas berat.


"Ma, teman mas Tsalis ada yang namanya Donita, dia cantik dan baik deh ma. Adik dikasih nama itu saja ya ma, please,,," pinta Tsalis dengan penuh harap.


Seruni tertegun, sedangkan Mahmudi nampak tidak suka. Hanya Doni yang bersorak dalam hati, seraya menatap Tiwi memberikan kode.


Dewa masih terus mengamati satu-satunya sahabat laki-laki itu, dan rasa penasaran membawanya mendekati Tiwi dan Nila.


"Wah, nama yang bagus itu Tsalis. Nanti berarti nama adik nya mas Tsalis, Cinta Donita.. benar begitu kan?" Tiwi yang memahami permintaan adik sepupu nya mencoba membujuk Tsalis, dan bocah kecil itu mengangguk setuju.


"Benar tante, nama itu bagus. Tsalis suka, Tsalis suka," ucap Tsalis dengan gaya menirukan salah satu tokoh kartun, yang sering di tonton nya.


Mahmudi mendesah kasar, "huffff,,,"

__ADS_1


Sementara Seruni hanya terdiam.


"Ssst,, apa aku ketinggalan sebuah info penting?" Bisik Dewa bertanya, dengan manatap Tiwi dan Nila bergantian.


Tiwi kemudian menjelaskan pada Dewa, mengenai permintaan Doni pada Seruni untuk memberikan nama pada putri nya. Dan Dewa langsung menutup mulut, karena menahan Tawa.


Ketiga sahabat itu saling senggol dan sama-sama terkikik, seraya geleng-geleng kepala menatap Doni.


Sedangkan Doni yang jadi bahan perbincangan dan tertawaan, terus saja menyunggingkan senyum tanpa dosa. Padahal ada hati yang panas membara karena cemburu, putri nya di beri nama Cinta. Apalagi sang putra menambahkan nama Donita di belakang nama cinta, membuat Mahmudi semakin meradang tapi hanya dalam diam.


"Nanti manggilnya Nita aja ya tante, atau cinta juga boleh," ucap Tsalis lagi dengan penuh semangat.


"Asal jangan dipanggil Doni aja," gerutu Mahmudi, yang justru mengundang gelak tawa Tiwi, Dewa, Nila dan suami nya. Sedangkan Doni, hanya tersenyum di kulum.


"Ada-ada aja si papa, dia kan cewek pa. Masak iya dipanggil Doni?!" Protes Seruni, yang ikut tersenyum.


"Kita panggil cinta aja ya sayang," pinta Seruni seraya mengusap kepala Tsalis, dan bocah kecil itu mengangguk patuh.


"Run, kami balik ke villa dulu ya. Besok, kami kemari lagi, sama Fina dan Rindi juga." Pamit Tiwi.


Mereka semua kemudian kembali ke villa dengan mengajak serta Tsalis, agar bocah itu bisa beristirahat dengan baik di villa bersama kedua kakak nya.


Kini, di ruangan itu hanya ada Mahmudi, Seruni dan baby Cinta yang masih terlelep.


"Kenapa mama memberi nama putri kita Cinta?" Tanya Mahmudi yang belum puas dengan jawaban sang istri tadi, ayah empat anak itu curiga,, ada yang disembunyikan oleh sang istri dari nya.


Seruni menarik nafas dalam, dan menghembuskan nya perlahan. Memang benar, nama Cinta adalah pemberian dari Doni, yang bisa jadi diartikan oleh laki-laki lajang itu sebagai bukti bahwa Seruni adalah cinta pertama nya. Atau, bahwa cinta Doni begitu besar pada Seruni. Tapi berbeda dengan Seruni, yang memaknai arti cinta tersebut.


"Mama beri baby nama Cinta, karena mama berharap.. baby bisa menjadi pemersatu keluarga kita." Seruni menatap dalam netra sang suami yang terbakar api cemburu, "menjadi cinta yang bisa mengikat kedua orang tua nya, hingga tak ada lagi orang lain yang bisa memisahkan kita," pungkas Seruni, yang telak menghantam ke dalam relung hati Mahmudi.


Dan laki-laki empat orang anak itu hanya bisa menunduk malu, karena telah berburuk sangka pada istri nya sendiri. Nyata nya,,, sang istri adalah wanita yang setia, meski godaan Seruni lebih dahsyat ketimbang diri nya.


Doni, lebih segala-gala nya daripada Mahmudi. Tapi sang istri, memilih bertahan dan berjuang bersama,,, meski hujan badai sempat menghantam kapal kecil milik Mahmudi. Istri nya yang setia itu tetap bertahan, dan enggan berpindah ke kapal pesiar mewah milik Doni yang terus saja membujuk Seruni.


Mahmudi memberanikan diri menatap sang istri, dan kemudian menggenggam tangan istri nya itu. "Maafkan papa ma, maaf untuk semua yang sudah papa lakukan pada mama. Terima kasih, karena masih mau bertahan bersama papa," ucap nya lirih.


"Kita lihat aja pa, sejauh mana papa berusaha agar bisa membuat mama tetap bertahan disisi papa," balas Seruni datar, yang membuat hati Mahmudi menciut.

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2