
Kini Seruni dan Mahmudi sudah berada di dalam mobil, yang melaju dengan kecepatan sedang untuk menuju pulang.
"Pa, bisa kita cari tempat untuk bicara. Ada hal yang harus kita bicarakan," pinta Seruni, seraya menatap sang suami yang sedang fokus melihat kearah jalan raya.
Deg,,, jantung Mahmudi seketika berdetak kencang, ingatan nya langsung tertuju pada dua sahabat Seruni, yaitu Doni dan Tiwi. "Apakah mereka mengatakan nya pada mama ya?" Gumam Mahmudi dalam hati, dan wajah laki-laki dengan tiga putra itu seketika menjadi pias.
"Kenapa harus cari tempat segala ma? Kita bicara di rumah saja ya?" Tolak Mahmudi dengan halus, "Ini udah sore ma, kasihan anak-anak.. pasti mereka udah nungguin kamu sejak tadi," lanjut Mahmudi dengan membawa nama anak-anak, agar Seruni mau mendengar kan ucapan nya.
Seruni menggeleng, "aku akan telpon mbak Juju, agar jangan pulang dulu sampai kita kembali nanti," balas Seruni, dan tanpa menunggu persetujuan sang suami.. Seruni kemudian mendial nomor asisten rumah tangga nya.
Tut,, tut,,,
Pada panggilan kedua, telpon Seruni di angkat oleh Juju. "Halo bu Runi," terdengar suara Juju menyapa dengan nyaring, karena Seruni me-load speaker panggilan nya.
"Mbak, apa Tsalis rewel?" Tanya Seruni, yang sedikit mengkhawatirkan putra ketiga nya. Sebab, jarang-jarang dia meninggalkan Tsalis dari pagi sampai sore seperti ini. Apalagi, kini dia berencana untuk menyelesaikan masalah nya dengan sang suami.. yang tak dapat di prediksi waktu nya, hingga jam berapa nanti mereka akan pulang ke rumah.
"Tadi waktu bangun tidur siang sempat rewel bu, tapi sekarang anak nya lagi main sama mas-mas nya," balas Juju apa ada nya.
"Oh, syukur lah," ucap Seruni dengan lega, Tsalis memang belum terbiasa dengan asisten baru itu. Karena biasanya, jika Seruni keluar sampai sore.. karyawan nya yang di toko lah yang menjemput Tsalis dari sekolah dan menjaga bocah kecil itu hingga Seruni pulang.
"Mbak, aku mau minta tolong. Mbak Juju jangan pulang dulu, sampai nanti kami kembali... bisa mbak?" Lanjut Seruni, memohon.
"Iya, bisa bu." Balas Juju.
"Baik mbak, makasih banyak ya. Titip anak-anak," ucap Seruni penuh rasa syukur, dan kemudian menutup panggilan nya.
Seruni menatap sang suami, "anak-anak beres pa," ucap Seruni.
__ADS_1
Sedangkan Mahmudi terdiam, kerongkongan nya serasa kering.. hingga Mahmudi tak dapat mengucapkan kata sepatah pun untuk menjawab sang istri.
"Pa, bisa kan kita bicara? Kok papa diam aja?" Selidik Seruni, masih dengan menatap suami nya.
Mahmudi mengangguk cepat, "iya ma, bisa." Balas nya dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Ma,, mau bicara dim.. dimana ma?" Tanya Mahmudi dengan grogi.
"Di tempat papa makan tadi siang, bisa?" Seruni menatap tajam sang suami.
Deg,,, jantung Mahmudi semakin cepat berdetak, dan tenggorokan nya rasa nya semakin tercekat. "Dari mana mama tahu, kalau tadi siang aku makan di resto? Atau Jangan-jangan, Doni memata-matai aku? Gara-gara kemarin dia melihat aku jalan dengan Tari?" Mahmudi bermonolog dengan diam, dengan perasaan yang campur aduk tak karu-karuan.
"Pa, bisa kan kita makan di sana?!" Tanya Seruni, dengan penekanan.
"Makan dimana ma? Tadi siang, papa makan di kantin kantor ma?" Elak Mahmudi, dengan mencoba untuk bersikap renang.
"Mau apa ma?" Tanya Mahmudi, sambil menoleh sekilas kearah sang istri yang masih menunjuk arah depan.
"Ada yang mau aku tunjukkin sama papa," balas Seruni dengan tenang.
Mahmudi semakin gelisah, "apalagi ini ma? Apa mama tahu sesuatu tentang hubungan ku dengan Tari?" Bisik Mahmudi dalam hati.
Dengan berat hati, Mahmudi pun menepikan mobil nya di tempat yang cukup luas agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lain,, tepat nya di bawah pohon rindang, di depan sebuah showroom mobil yang sudah tutup karena memang hari telah menjelang sore.
Mahmudi terdiam dengan perasaan tak menentu, menanti dengan cemas apa yang akan ditunjukkan oleh sang istri kepada diri nya.
"Pa, sejak kapan papa menjalin hubungan dengan asisten sekaligus sekretaris papa itu?" Tanya Seruni dengan lirih, namun di telinga Mahmudi terdengar bagai suara petir yang menggelegar.
__ADS_1
Sontak Mahmudi menatap ke arah sang istri, "darimana mama tahu dengan detail siapa wanita itu? Kalau mama tahu hubungan ku dengan wanita lain dari Doni atau Tiwi, tidak mungkin kan.. mereka tahu bahwa wanita yang bersama ku kemarin adalah asisten ku?" Gumam Mahmudi dalam hati, dia yang tadi nya curiga bahwa sahabat Seruni lah yang sudah membocorkan rahasia nya pada sang istri, kini di buat bingung sendiri.
"Kenapa diam saja pa?! Sejak kapan, papa selingkuh dengan Tari?!" Suara Seruni mulai meninggi, dan bicara nya blak-blakan dengan mengatakan bahwa suaminya selingkuh
"Mama ini bicara apa sih?" Tanya Mahmudi pura-pura bodoh.
Seruni memejamkan mata nya sejenak, mengatur nafas nya yang mulai memburu karena terbawa emosi sesaat tadi. Wanita yang tengah hamil besar itu kemudian membuka ponsel nya, meng-klik galeri dengan folder 'buku kerja' tempat Seruni menyimpan bukti screenshot chat mesra suami nya dan Tari.
Seruni kemudian menyodorkan ponsel nya pada Mahmudi, "papa lihat dan baca kembali semua nya," titah Seruni, tanpa melihat kearah suami nya. Seruni kemudian menoleh ke arah luar jendela kaca di sisi kiri nya sambil bersidekap, dan wanita itu tidak mengetahui bahwa sang suami menerima ponsel dari nya dengan tangan bergetar.
Mahmudi yang menerima ponsel sang istri dengan perasaan takut, khawatir dan bingung menjadi satu, membuat tangan nya bergetar. Dan buru-buru Mahmudi meng-klik setiap gambar screenshot, dan membaca nya satu-persatu.
Mahmudi menatap nanar ponsel sang istri, tiba-tiba saja dunia nya seakan runtuh. Kepala nya terasa berat, tubuh nya lemas tak bertenaga. Tanpa laki-laki itu sadari, bulir bening jatuh dari sudut netra nya. "Maaf kan aku ma, aku telah menyakiti mu," lirih nya terdengar begitu samar di telinga Seruni, tapi istri Mahmudi itu bergeming dengan tatapan tajam keluar jendela kaca.
"Darimana mama dapatkan bukti ini? Perasaan setiap kali selesai chatting-an, aku selalu menghapus semua nya?" Gumam Mahmudi dalam hati.
Seruni masih terdiam, begitu pun dengan Mahmudi yang tidak berani mengeluarkan suara. Hingga beberapa saat, suasana di dalam mobil itu menjadi hening.
"Kenapa papa lakukan ini pada mama?" Tanya Seruni lirih memecah keheningan, tanpa menoleh kearah sang suami. Sekuat mungkin, Seruni menahan agar tidak menangis.. sebab dia telah mengetahui perselingkuhan suami nya, dari sebulan yang lalu.
Tapi berada di samping pelaku utama, membuat air mata wanita hamil itu tetap luruh juga. Sakit hati, perasaan kecewa, dan amarah.. kini menjadi satu. "Mama enggak sedih nak, mama hanya kecewa dan marah. Mama juga sangat malu, karena mama merasa telah gagal menjadi istri yang baik," lirih Seruni sambil mengelus lembut perut nya, yang tiba-tiba memberikan tendangan kecil.
Mahmudi langsung memeluk istri nya, "enggak ma, mama istri yang baik... sangat baik. Aku yang salah ma, aku yang salah. Maaf kan aku,,," ucap Mahmudi dengan suara bergetar karena menahan sesak di dada nya.
Seruni mendorong tubuh suami nya agar menjauh, dan kemudian mengusap kasar air mata nya. "Jika memang sudah tak nyaman dengan ku, kenapa masih bertahan?" Tatapan Seruni tajam, menembus ke jantung Mahmudi. Membuat jantung laki-laki itu, sejenak berhenti berdetak. Dan tatapan Mahmudi terpaku pada wajah sang istri, yang kini seolah tak dikenali nya.
Wajah Seruni terlihat sangar, dan tatapan nya sangat kejam. Membuat Mahmudi bergidik ngeri,,,
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏