Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
42. Masih kah Bertahan?


__ADS_3

Pagi hari nya, Seruni yang akan melepas kepergian anak-anak untuk berangkat ke sekolah bersama sang suami yang hendak pergi ke kantor meminta ijin pada suami nya untuk makan siang bersama sahabat-sahabat nya.


"Pa, nanti siang aku keluar ya? Di ajakin sama temen-temen untuk makan siang bareng," ijin Seruni, seraya mencium punggung tangan sang suami dengan takdzim setelah kedua putra nya masuk kedalam mobil.


Mahmudi kemudian mencium kening istri nya dengan dalam, dan setelah nya menatap sang istri dengan penuh tanya.


"Makan siang di mana? Biar papa antar mama?" Pinta Mahmudi yang takut kecolongan, jika sang istri terus-terusan bertemu dengan Doni tanpa diri nya yang mendampingi Seruni. Karena sepengetahuan nya, Doni sedang gencar-gencarnya mendekati Seruni kembali, terlebih setelah Doni mengetahui perselingkuhan diri nya dengan Tari.


Seruni menggeleng, "enggak perlu pa, aku bisa naik taksi online kok. Lagian tempat nya kan jauh dari kantor papa?" Tolak Seruni dengan halus.


"Tapi ma,,,"


"Jangan khawatir pa, aku Seruni.. aku bisa menjaga kepercayaan dari suami ku, karena aku bukan T A R I!" Potong Seruni cepat dengan menyindir dan menyebut nama Tari dengan penuh penekanan, karena seperti nya Mahmudi enggan memberikan ijin dan membiarkan diri nya bertemu dengan sahabat-sahabat nya tanpa pendampingan dari Mahmudi.


Mahmudi terdiam, dan tak lagi protes.


"Berangkat jam berapa nanti?" Tanya Mahmudi kemudian, sambil membuka pintu mobil.


"Berangkat jam dua belasan, bakda sholat dhuhur," balas Seruni.


"Ya udah, hati-hati," ucap Mahmudi seraya naik kedalam mobil. Dan sedetik kemudian, mobil yang dikendarai Mahmudi berlalu meninggalkan halaman rumah nya dengan diiringi lambaian tangan Seruni yang tersenyum lebar.


_____


Pukul dua belas kurang, sahabat-sahabat Seruni telah berkumpul di restoran favorit mereka. Ya, mereka sengaja berkumpul lebih awal atas permintaan Rindi yang menggagas pertemuan dadakan ini.


"Ada apa sih Rin? Undangan nya pakai hastag urgent segala?" Tanya Nila yang menyimpan rasa penasaran sejak semalam, ketika mendapat chat dari Rindi.


"Iya nih? Bikin orang susah tidur aja?" Keluh Tiwi yang baru saja datang tak lama setelah Doni, Tiwi yang terlihat mengantuk menopang dagu nya di atas meja.


"Tahu tuh, aku desak dari semalam enggak di jawab juga," gerutu Fina, yang kali ini datang sendiri tanpa sang suami.


"Sama kamu ngaku kali ya Wa?" Ada apaan memang nya?" Nila menatap dalam Dewa, mencoba menggali informasi dari laki-laki yang pernah dekat dengan Rindi itu.


Dewa hanya mengedikkan bahu nya, meskipun dia sudah mendapatkan bocoran dari Rindi tapi Dewa berlagak seolah tak mengetahui apa-apa sesuai permintaan Rindi.


Sedangkan Doni yang sedari tadi menyimak, nampak tak bersemangat dan pandangan mata nya selalu tertuju ke arah pintu masuk. Siapa lagi yang di nanti, kalau bukan Seruni?


Sejenak, hening menyapa meja tempat mereka berkumpul tersebut.


"Oke, karena udah pada ngumpul semua, aku akan mulai bercerita," ucap Rindi, mengurai keheningan yang sejenak tercipta di meja mereka yang telah penuh dengan minuman dan makanan pembuka.


"Kita enggak nunggu Uun dulu Rin?" Protes Doni, setelah menyeruput kopi nya.


"Heem,," timpal Fina, membenarkan Doni.


Nila dan Tiwi pun mengangguk.


"Aku sengaja ngundang Seruni belakangan, karena yang mau aku bicarakan ini ada hubungannya nya dengan Seruni dan suami nya," balas Rindi, yang membuat sahabat-sahabat nya semakin penasaran kecuali Dewa.


"Jangan ghibah ah Rin, apalagi sama sahabat sendiri?" Protes Fina yang paling agamis di antara sahabat-sahabat nya yang lain, yang langsung tak setuju jika Rindi membicarakan Seruni di belakang nya.


"Bukan ghibah ustadzah Fina,,, tapi ini realita, dan maksud aku tuh ingin membantu Seruni," balas Rindi, yang tak terima dikatakan ghibah.


"Oke, mau pada dengerin enggak?" Tanya Rindi, menatap sahabat nya satu persatu.

__ADS_1


Sementara Doni yang mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan Rindi, menatap Tiwi.


"Emm,, Rin, kalau memang masalah keluarga. Sebaiknya enggak usah di ceritain aja deh," ucap Tiwi, yang mengerti arti tatapan Doni. Karena baik Tiwi maupun Doni, sudah di beri warning sama Seruni agar tidak membahas lagi masalah perselingkuhan suami nya.


"Tapi Rin, Seruni itu sahabat kita loh. Mana bisa aku diam saja, ketika mengetahui dia diselingkuhin sama suami nya," balas Rindi yang langsung pada inti pembicaraan yang akan dia sampaikan.


"Apa? Si Mahmud selingkuh?!" Seru Nila dan Fina tak percaya.


Rindi mengangguk pasti, sedangkan Doni dan Tiwi menghela nafas perlahan.


"Kamu enggak asal bicara kan Rin?" Selidik Nila sambil mengernyit kan dahi nya.


Rindi menggeleng, "aku serius, karena yang mengatakan pada ku adalah suami dari selingkuhan Mahmud." Balas Rindi, "selingkuhan Mahmud itu istri nya Arif, sepupuku," lanjut nya, sambil menatap Doni.


Doni nampak terkejut, "jadi wanita itu?" Ucapan Doni menggantung di udara, dan Doni kemudian menatap Tiwi.


Tiwi mengangguk, "tak apalah, toh semua nya juga udah tau sekarang," ucap Tiwi.


"Jadi, kalian berdua udah tau kalau Mahmud selingkuh?" Tanya Rindi dengan tatapan menyelidik.


Doni dan Tiwi mengangguk.


"Apa Runi yang cerita sama kalian?" Cecar Rindi, begitupun dengan yang lain.. menatap Doni dan Tiwi dengan penuh tanya.


Doni dan Tiwi menggeleng serempak, "enggak," balas mereka berdua kompak.


"Kami melihat sendiri sore itu di kafe," lanjut Doni.


"Bahkan om Doni sempat memberikan bogem mentah sama Mahmud," timpal Tiwi.


"Saat kita ketemuan bareng, yang waktu mau nonton ingat enggak? Saat itu kan, kami bertiga, aku, om Doni dan Runi udah ketemu duluan untuk membahas masalah ini. Dan Runi enggak mau kami ikut campur, dan dia juga berpesan.. agar cukup hanya sampai di kami informasi itu," lanjut Tiwi.


Yang lain mengangguk-angguk mengerti.


"Terus sekarang gimana? Kita udah tahu semua kan?" Tanya Nila, seraya menatap sahabat-sahabat nya bergantian.


"Ya udah, kita bahas sekalian kan?" Rindi menatap sahabat-sahabat nya, untuk meminta persetujuan. "Kata om Arif sih, Runi masih mau menerima si Mahmud! Kalau aku sih, ogah!" Lanjut Rindi dengan emosi.


"Aku juga gak sudi lagi, menerima laki-laki yang udah mengkhianati kayak gitu!" Timpal Nila, yang ikutan geram.


"Hemm,, kalau aku sih, fleksibel aja ya." Ucap Fina, "tergantung gitu lah,,," lanjut nya.


"Tergantung apa nya Fin? Bukan nya tiap hari, udah ngengantung terus ya punya si Bahlul?" Canda Dewa, mencoba mencairkan suasana.


"Hahaha,,, ngeres aja kamu Wa, selalu itu yang ada di otak kamu," balas Fina.


"Tahu tuh si Dewa," gerutu Rindi, "orang lagi serius juga, malah becanda aja," lanjut nya dengan cemberut.


"Biar enggak cepet tua Rin," balas Dewa dengan tersenyum.


"Iya nanti lah, ada waktu nya sendiri untuk bercanda. Sekarang kita serius dulu, oke?" Pinta Rindi.


Dewa hanya mencebik.


"Maksud kamu tergantung itu, gimana Fin?" Tanya Rindi kemudian, menatap heran pada Fina.

__ADS_1


"Ya tergantung seberapa besar kesalahan nya, dan seberapa serius dia menyesal? Lantas, sanggup enggak dia membuktikan kalau tidak akan mengulang lagi perbuatan nya tersebut," balas Fina dengan bijak.


"Yups, aku setuju yang seperti itu," timpal Tiwi yang sedari tadi diam.


"Sekecil apapun kesalahan nya, kalau berkhianat tetap aja salah dan tetap aja di sebut pengkhianat kan? Aku sih tetap ogah ya!" Ucap Nila yang kekeuh dengan pendapat nya yang pertama.


"Emmm,, sama, aku juga tetap gak mau!" Timpal Rindi, yang juga kekeuh dengan pendapat nya.


"Ehm,,," Doni berdeham, untuk mengurai ketegangan sahabat-sahabat wanita nya.


"Emang nya, si Arif cerita gimana sama kamu Rin?" Tanya Doni.


"Jadi, kemarin itu om Arif di hubungi sama Runi untuk di ajak bekerja sama menjebak Tari. Karena Runi curiga gitu deh sama Tari, kalau pacar Tari itu bukan cuma di Mahmud," Rindi pun kemudian menceritakan semua nya, sama persis dengan apa yang dia dengar dari Arif.


"Gila! Sampai gancet gitu?!" Dewa geleng-geleng kepala, begitu pun dengan Doni.


Sedangkan sahabat-sahabat wanita nya, bergidik ngeri.


"Iya Wa, aku lihat sendiri rekaman video nya. Tadi nya aku pikir editan gitu? Tapi om Arif sendiri yang merekam kata nya, si Mahmud juga ikut merekam," ucap Rindi, dengan meyakinkan.


"Merekam apa Rin?" Tanya Seruni yang tiba-tiba saja sudah berada di sana, tak ada satupun yang menyadari kehadiran Seruni karena perhatian mereka terfokus pada Rindi.


"Eh,, Er,, Runi," sapa Rindi tergagap, "kapan sampai Run?" Tanya Rindi salah tingkah.


"Belum lama, sejak Dewa mengatakan gancet," balas Seruni seraya mendudukkan diri nya di samping Doni dan Tiwi, karena hanya itu bangku yang tersisa.


Seruni menghela nafas berat, "kalian seperti nya sudah tahu semua tentang aib keluarga ku?" Tanya Seruni dengan tatapan datar.


"Maaf Run, bukan aku yang menceritakan nya," ucap Tiwi hati-hati, karena takut melukai perasaan sahabat nya itu.


"Benar Un, bukan kami," timpal Doni, seraya menatap Seruni dengan lembut.


"Mereka benar Run, aku yang memberi tahu sahabat-sahabat kita. Karena aku pikir, masalah kamu, adalah masalah kita semua. Kesedihan kamu, adalah kesedihan kami semua," ucap Rindi, dengan penuh rasa bersalah.


Lagi, Seruni menghela nafas berat dan kemudian menggeleng lemah. "Kamu tahu dari mana Rin?" Tanya Seruni lirih, hampir tak terdengar oleh Rindi yang duduk di seberang Seruni.


"Dari sepupu ku Run, Arif.. dia sepupu ku," balas Rindi seraya menatap Seruni.


"Arif? Suami nya wanita itu?" Seruni hampir tak percaya, "sungguh sempit dunia ini ya?" Gumam nya dengan tersenyum kecut.


"Benar Run, memang sempit. Arif anak buah Doni, sempit banget kan?" Timpal Tari.


Seruni menatap Doni, dan Doni mengangguk.


"Kasihan mas Arif, anak nya masih kecil-kecil. Kemarin dia sempat curhat sama aku," ucap Seruni yang peduli sama Arif.


"Ya ampun ibu peri,,, kamu aja juga lagi kena musibah, tapi masih aja mikirin kesedihan orang lain?" Ucap Fina, seraya geleng-geleng kepala.


"Musibah ku enggak seberapa kok Fin, kalau mas Arif sampai harus menjatuhkan talak segala sama istri nya," balas Seruni yang tetap bersimpati atas keluarga Arif dan Tari.


"Kamu sendiri gimana Un? Masih kah bertahan?" Tanya Doni, seraya menatap dalam netra Seruni.


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏


Mak, tante, kakak... Uun harus jawab gimana ini???

__ADS_1


__ADS_2