
Tak perlu menunggu waktu Lama, Seruni mendapati Tari sedang melakukan panggilan pada nomor lain melalui aplikasi wasslap cloning yang sengaja dia pantengin sejak tadi.
"Lihat, dia telpon seseorang," ucap Seruni.
Reflek, Mahmudi dan Arif mendekat kearah Seruni.
"Dia mengetik untuk Edi? Seperti nya, panggilan dia tidak di angkat." ucap Seruni sesaat kemudian, masih sambil mengamati layar ponsel Tslis, yang sudah dia install aplikasi wasslap cloning dan saat ini dia pakai untuk menyadap wasslap Tari.
"Ada yang kenal dengan nama Edi?" Tanya Seruni, seraya menatap Mahmudi dan Arif bergantian.
Kedua laki-laki yang berdiri sambil membungkuk di samping kanan dan kiri Seruni menggeleng, "tapi nama itu, seperti nya tak asing di telinga papa," gumam Mahmudi.
"Pa, baca deh pa... dia menyebut nama papa," pinta Seruni, tatkala membaca chat Tari untuk Edi.
"Mas! Kemana aja sih?! Di telpon enggak di angkat-angkat!" Pesan pertama dari Tari untuk Edi.
"Target kita lolos lagi mas, padahal aku sudah berhasil membawa nya ke hotel tadi! Cuma gara-gara bini nya telpon, mas Mahmud langsung pergi gitu aja ninggalin aku!" Adu Tari, di pesan nya yang kedua.
"Target?" Mahmudi mengernyitkan kening nya dengan dalam, "apa maksud nya?" Gumam nya bertanya, seolah pada diri sendiri.
"Emang, papa punya musuh yang bernama Edi?" Selidik Seruni, seraya menatap suami nya. Sedangkan Arif hanya diam, menyimak obrolan sepasang suami istri itu.
Mahmudi menggeleng, "papa enggak pernah punya musuh ma," balas Mahmudi sungguh-sungguh.
"Rival di kantor, mungkin?" Tanya Seruni kembali.
Mahmudi mengedikkan bahu nya, karena memang selama ini hubungan nya dengan rekan-rekan kerja di kantor, baik-baik saja.
"Mbak, istri ku ngirim pesan lagi tuh," ucap Arif, yang menghentikan obrolan Seruni dan Mahmudi.
"Mas Edi cepetan kesini ya? Aku udah enggak tahan ini mas, pengin segera di sentuh dan di masuki milik mu mas...?? Barusan aku main sendiri dengan se*ks toys, tapi aku belum puas mas??" Pesan Tari yang ketiga, yang begitu vulgar,, hingga membuat Arif terduduk lemas di kursi busa nya.
Tari kemudian juga mengirimkan share lok kepada Edi.
"Astaghfirullahal'adzim," lirih Arif, sedangkan Seruni dan Mahmudi hanya saling pandang dan tak mampu berkata-kata.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, "mas Arif mau baca balasan dari Edi? Ini,,," Seruni menyodorkan ponsel nya, agar Arif membaca balasan dari Edi untuk istri nya.
Arif menggeleng lemah, laki-laki yang perilaku nya lurus-lurus saja itu merasa sangat terpukul mengetahui istri nya ternyata berperilaku menyimpang. "Mbak Seruni saja yang baca," balas Arif dengan tak bersemangat.
Seruni mengangguk, "Oke, dalam lima belas menit aku sampai situ dik. Kebetulan, aku lagi ada di daerah sekitar situ." Seruni menatap kembali ke arah Arif.
"Bagaimana mas? Mau nunggu, atau...?" Seruni menjeda ucapan nya.
"Kita tunggu aja enggak apa-apa mbak, kepalang tanggung.. biar aja sekalian aku tahu semua nya!" Balas Mahmudi, dengan meninggikan suara nya. Nampak jelas kemarahan dan kekecewaan, dari nada bicara nya.
Untuk beberapa saat, suasana di dalam kamar hotel itu menjadi hening. Tak ada yang bersuara, dan masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri-sendiri.
"Maaf mas Arif, bukan nya saya mau ikut campur masalah mas Arif dan istri. Tapi karena saya memang sudah terlibat langsung dengan keadaan yang seperti sekarang, mau enggak mau,, saya juga harus ikut bicara," ucap Seruni mengurai keheningan yang sejenak tercipta, di antara mereka bertiga.
"Atas nama suami, saya juga minta maaf.. karena, meskipun dia menjadi target yang entah apa itu, tapi suami saya tetap bersalah sebab sudah masuk dalam kehidupan rumah tangga mas Arif." Lanjut Seruni, seraya melirik suami nya.
Mahmudi yang masih berdiri di samping sang istri, hanya diam dan menunduk.
"Silahkan setelah ini, jika mas Arif mau memukul suami saya atau mau apa? Saya tidak akan melarang,,," kembali Seruni berbicara, kali ini sambil menatap Arif yang masih termenung di tempat nya.
Arif menggeleng, "tidak perlu mbak, saya tidak akan mengotori tangan saya untuk membela perbuatan kotor istri saya. Dalam hal ini Tari juga bersalah, karena sekuat apapun godaan laki-laki di luar sana.. jika Tari bisa berpikir jernih dan mendengarkan apa kata hati nurani nya, niscaya perselingkuhan tak akan pernah terjadi. Dan karena itu, saya juga minta maaf sama mbak Seruni atas nama istri saya," balas Arif panjang lebar dan dengan sangat bijak, seraya menatap Seruni.
"Barusan, saya sempat syok dan sedih mengetahui istri saya selingkuh. Tapi melihat mbak Seruni yang dalam keadaan hamil seperti ini, dan mengetahui suami selingkuh tapi mbak masih bisa tetap bersikap tenang dan tetap tersenyum, membuat saya merasa malu pada mbak Seruni." Lanjut Arif, masih menatap Seruni dengan kagum.
"Yah,, gimana ya mas? Mau di tangisi, juga percuma kan? Karena udah kejadian?" Balas Seruni dengan tersenyum getir.
"Dan dari kejadian tersebut kita bisa mengaca diri, apa kekurangan kita? Kenapa bisa sampai pasangan selingkuh? Apa pelayanan kita kurang baik dan maksimal? Apa perhatian dan kasih sayang kita kurang cukup?" Lanjut Seruni, seraya melirik sang suami.
Merasa di sindir, Mahmudi menggeleng dan kemudian memeluk pundak sang istri seraya berbisik. "Enggak ada yang kurang pada diri mama, juga apa yang telah mama berikan kepada papa. Papa aja yang khilaf dan enggak bisa bersyukur.. maafkan papa ya?"
Seruni hanya mengedikkan bahu nya.
Arif membuang kasar nafas nya, seolah hendak membuang semua beban berat yang menghimpit di dada. "Kalau sudah meraba diri, dan merasa bahwa semua sudah dilakukan dengan baik... tapi seperti nya, pasangan sudah enggak bisa di pertahan kan?" Lirih Arif bertanya, seolah pada diri sendiri.
"Dan jika memang sudah enggak bisa di pertahankan, ya sudah... pisah saja kan? Toh masih banyak di luar sana, orang yang lebih baik dari pasangan kita. Ya, anggap saja, ketemu jodoh yang tertunda," balas Seruni dengan enteng, hingga membuat Mahmudi langsung berlutut.
__ADS_1
"Please ma, kamu udah janji kan.. akan memberi papa kesempatan?" Rajuk Mahmudi, seraya menggenggam tangan sang istri. "Kamu harus janji ma, jangan kembali pada Doni," pinta Mahmudi mulai khawatir, karena Doni terus memberikan perhatian-perhatian kecil pada istri nya.
"Kita lihat, beberapa bulan ke depan. Jika papa bisa memenuhi semua syarat dari ku kemarin, aku akan bertahan di sisi papa," balas Seruni tersenyum seringai, hingga membuat Mahmudi semakin takut kehilangan istri nya.
Mereka bertiga kembali terdiam.
"Mas Arif, saya tahu.. memaafkan pasangan yang sudah berkhianat itu sangat sulit, tapi untuk mengakhiri sebuah ikatan pernikahan juga perlu pemikiran yang matang." Seruni memulai pembicaraan yang serius dengan Arif.
"Perbuatan suami saya atau pun istri mas Arif, itu sama sekali tak dapat dibenarkan. Selingkuh, apapun alasan nya tetap lah salah! Tapi pada kasus istri mas Arif yang bisa saya tangkap barusan, seperti nya..." sejenak Seruni terdiam.
"Seperti nya, istri mas Arif mengalami gangguan kelainan ****,, seperti hiperseks gitu mungkin?" Lanjut Seruni menduga-duga.
Arif mengernyit, "maksud mbak Seruni?"
"Dari chat istri mas Arif pada Edi tadi, saya pribadi kok menyimpulkan,, bahwa istri mas Arif, memiliki kecanduan sek*sual yang sulit dikendalikan." Balas Seruni, seraya menatap Arif.
Arif menggelengkan kepala nya lemah, "saya tidak mengerti itu mbak," gumam nya.
"Sekali lagi, saya minta maaf mas Arif. Tentang bagaimana nanti kelanjutan rumah tangga mas Arif dan istri, saya sadar betul bahwa itu bukan urusan saya. Tapi sebagai sesama istri, dan sesama wanita.. saya menyarankan, agar mas Arif membawa dulu istri mas ke psikolog atau psikiater untuk di obati. Karena bagaimana pun, dia masih menjadi tanggungjawab mas Arif sekarang. Pun misal nya nanti mas Arif melihat sendiri perselingkuhan istri mas, dan mas Arif menjatuhkan talak langsung kepada nya.. dia masih tetap menjadi tanggungjawab mas, hingga masa iddah nya habis."
"Sakit hati, pasti. Malas berurusan lagi dengan dia, dan sudah enggak peduli dengan apa yang akan dia lakukan.. saya pun bisa mengerti. Tapi setidaknya, mas Arif pikirkan juga bagaimana perasaan anak-anak mas. Bagaimana jika istri mas masih tetap berperilaku seperti itu ke depan, anak-anak mas pasti akan merasa malu dan ikut terbebani karena memiliki ibu yang berperilaku menyimpang seperti itu bukan?" Seruni menatap Arif.
Arif menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi penuh rongga paru-paru nya dengan oksigen, dan kemudian menghembus nya perlahan-lahan.
"Saya akan pikirkan saran mbak Seruni," balas Arif dengan lemah.
Suasana kembali hening.
Tok,, tok,, tok,,
Terdengar lirih suara ketukan pintu dari kamar depan, "seperti nya, itu dia,,," ucap Mahmudi, dan bergegas menuju pintu yang diikuti oleh Arif dan Seruni.
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
Siapkan amunisi nya ya mak, untuk penggerebekan Tari dan Edi.. 😄🤭
__ADS_1
Kasih amunisi vote juga dong buat aku, biar tetap cemungut 😊🙏