Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
06. Aku pun Ingin Dimengerti


__ADS_3

Di dalam ruangan yang nyaman, Seruni menjalani serangkaian terapi. Dari mulai facial, massage, hingga berendam dengan air aroma terapi yang hangat dan wangi nya menenangkan.


Saat memejamkan mata tadi, chat mesra dari Tari untuk suami nya sempat melintas.. namun Seruni hanya menanggapinya dengan senyuman indah, yang tersungging di bibir tipis nya.


Seruni benar-benar merasakan seluruh tubuh nya menjadi lebih relaks, pikiran nya pun menjadi lebih jernih dan tenang.


Seruni sempat mengecek ponsel nya sebelum acara berendam nya selesai, dan membuka aplikasi wasslap cloning. Dan di wasslap suami nya itu, Seruni menemukan chat sang suami dan wanita itu lagi sekitar satu jam yang lalu dan belum di hapus oleh Mahmudi.


Tari Asist : "Mas, aku dah sampai di kafe. Kamu di mana sayang?"


Tari Asist : "Udah jalan kan?"


Papa : "Maafkan mas, ayang beib... mas agak telat, karena di panggil sama pak Wali." Plus emoticon permintaan maaf hingga berderet.


Papa : "Mas janji, begitu selesai akan segera meluncur."


Papa : "Sabar ya, sayang..." di sertai emoticon love sekebon.


Seruni menghela nafas kasar, "bahkan kamu tak pernah meminta maaf pada ku jika terlambat menemuiku pa.. kamu juga tak seromantis itu pada ku," lirih nya bergumam.


"Pergilah,, jika kamu ingin pergi pa. Tapi jika kamu ingin tetap tinggal, maka kamu harus menuruti semua keinginan ku. Semua.. tanpa kecuali," tekad Seruni dalam hati.


Setelah berjam-jam, mereka akhirnya selesai juga menjalani perawatan. Doni yang hanya melakukan facial, sampai ketiduran di sofa ruang tunggu yang nyaman tersebut.


"Ya ampun,, pak Dirut sampai ketiduran di sini, gara-gara nungguin kita mak," celoteh Nila, sambil menoel-noel lengan Doni.


"Woy Don, bangun," Panggil Nila, dengan sedikit meninggikan suara nya.


Doni menggeliat, dan memicing kan mata nya.. "kalian di apain aja sih di dalam, lama banget?" Gumam Doni, seraya beringsut dan menegakkan tubuh nya.


"Nih, minum dulu om," Tiwi menyodorkan secangkir kopi hangat ke meja, di hadapan adik sepupu nya itu.


Setelah kesadaran nya kembali pulih, Doni mengambil cangkir kopi tersebut dan menghirup aroma wangi kopi dalam-dalam. Dan kemudian mulai menyeruput kopi nya perlahan-lahan, hingga habis tanpa sisa.

__ADS_1


"Yuk cabut, udah hampir jam makan siang nih.. takut nya Dewa, Fina sama Rindi udah nungguin," ajak Tiwi, setelah Doni meletakkan cangkir nya kembali di atas meja.


"Aku ke kasir dulu," pamit Seruni, yang diikuti Nila. Sedangkan Tiwi hanya senyum-senyum gak jelas, seraya menatap Doni.


"Aku tunggu di luar ya," ucap Tiwi, yang langsung beranjak keluar dan langsung diikuti Doni yang mengekor di belakang nya.


"Don, makasih ya.. diem-diem bae nraktir kita-kita," ucap Nila dengan suara riang beberapa saat kemudian setelah berhasil menyusul Doni dan Tiwi keluar. "Sering-sering ya pak Dirut," lanjut nya seraya terkekeh kecil.


"Makasih ya Don, harus nya kamu enggak perlu seperti ini. Kami bisa kok bayar sendiri," ucap Seruni, yang merasa sungkan.


"Enggak apa-apa kali Run, sekali-kali... enggak perlu merasa sungkan gitu? Toh bukan cuma kamu yang di traktir, tapi kita semua," sela Tiwi, mencoba membuat sahabat nya itu rileks.


Seruni hanya bisa menghela nafas pelan, tak ingin memperdebatkan nya kembali.


Sedangkan Doni menjadi merasa tak enak, sebab telah membuat Seruni salah paham. "Maaf ya Un, aku engga bermaksud..."


"It's oke Don, aku ngerti kok. Kamu hanya ingin berbagi kebahagiaan," potong Seruni, karena tak ingin membahas nya lagi.


"Don... kenapa kamu masih manggil aku dengan panggilan itu?!" Protes Seruni dalam hati. Un,, adalah panggilan kesayangan Doni untuk Seruni kala itu, empat tahun mereka berpacaran namun akhirnya kandas di tengah jalan.


Sikap Mahmudi yang dewasa dan penuh perhatian, membuat luka hati Seruni yang menganga karena putus sebab terganjal restu orang tua, berhasil terobati.


Dan kelembutan seorang Mahmudi yang usia nya tiga tahun di atas nya itu, berhasil meyakinkan Seruni untuk melangkah ke jenjang pernikahan meski baru setengah tahun mereka saling mengenal secara dekat.


Dan selama belasan tahun mereka menikah, rumah tangga mereka baik-baik saja, selalu adem ayem dan tak pernah ada percekcokan yang berarti.


Kedua nya saling percaya, saling menjaga, memahami dan mengerti karakter masing-masing.


Mahmudi yang ternyata tidak terlalu romantis, tapi Seruni memaklumi nya.. karena dalam rumah tangga bukan itu satu-satunya yang dibutuhkan agar bisa bertahan, meski sesekali hal itu memang perlu untuk mengeratkan sebuah hubungan.


Dan Seruni yang tegas dalam menerapkan aturan, Mahmudi pun bisa menerima nya.. karena yakin, itu demi kebaikan keluarga kecil mereka berdua.


Dan itu memang terbukti, Seruni mampu mewujudkan keinginan Mahmudi... memiliki keluarga kecil yang bahagia, dengan anak-anak yang cerdas dan penurut.

__ADS_1


"Gaess,, mampir ke toko bentar ya, aku udah di tunggu pelanggan nih? Enggak apa-apa kan?" Dan perkataan Nila, berhasil membuyarkan lamunan Seruni.


"Aku ikut mobil kamu sekalian ya Nil, enggak asyik di mobil sendirian," pinta Doni, seraya meminta kunci mobil Nila untuk di kemudikan nya.


"Maka nya cari pendamping biar enggak sendiri," balas Nila, seraya memberikan kunci mobil nya.


Doni hanya mengedikkan bahu nya, tak ingin menanggapi ucapan sahabat nya itu. Dan kemudian segera membuka kunci mobil dengan remot kontrol.


Mereka berempat pun meninggalkan klinik kecantikan tersebut, dan langsung menuju ke toko perhiasan Nila di pusat perbelanjaan terkenal... yang kebetulan searah dengan resto yang akan mereka tuju.


Tak berapa lama, mereka tiba di pusat perbelanjaan tersebut. Nila bergegas turun dari mobil, "kalian bebas mau kemana terserah, mau ikut hayuk.. mau jalan sendiri-sendiri silahkan, tapi aku enggak lama," ucap Nila sambil berlalu memasuki pusat perbelanjaan tersebut.


"Aku ikut kamu aja Nil," Seruni berlari kecil mengejar sahabat nya itu, sebisa nya dia ingin menjaga jarak dengan Doni.. meski dia tahu, Doni pun takkan mungkin menggoda nya yang berstatus sebagai istri orang.


Tiwi dan Doni pun mengekor kedua nya, ikut ke toko perhiasan milik Nila.


Sesampainya di toko, Nila langsung bertemu dengan customer nya. Sedangkan Seruni memilih untuk melihat-lihat koleksi perhiasan Nila yang harga nya selangit itu.


Netra Seruni menangkap satu set berlian yang sangat cantik, Seruni mendekat dan memberanikan diri untuk bertanya. "Mbak, yang itu satu set berapa?" Tanya Seruni dengan berbisik, karena tak mau Doni dan Tiwi yang juga tengah asyik melihat-lihat perhiasan mendengar suara nya.


"Tujuh pulang juta,,,, mbak," jawab pegawai Nila, yang juga berbisik karena Seruni memberi isyarat dengan jari nya.


Sejenak wanita yang tengah hamil enam bulan itu berpikir, dan kemudian segera mengangguk dengan pasti, "saya ambil yang itu mbak," ucap Seruni dengan mantap.


Berlian seharga motor matic termahal, yang diidam-idamkan oleh suami nya. Seruni tersenyum penuh kemenangan, mengingat keinginan suami nya yang pernah di lontarkan kala itu.


"Ma, motor nya bagus ya?" Ucap Mahmudi, yang melihat tayangan iklan di televisi.


"Kalau papa mau, bisa nabung dulu," balas Seruni enteng, namun dalam hati berjanji akan membelikan nya untuk sang suami sebagai hadiah pernikahan mereka.


Seruni memang memiliki banyak tabungan yang tidak diketahui oleh sang suami, dan tadi nya,,, Seruni hendak mewujudkan keinginan suami nya untuk memiliki motor matic prestisius itu, setelah anak keempat mereka lahir.


Tapi mengingat perlakuan Mahmudi terhadap nya, niat baik Seruni untuk memberikan hadiah kejutan bagi sang suami berubah haluan.. karena kini, kesenangan dan kebahagiaan Seruni dan anak-anak di atas segala nya.

__ADS_1


"Sorry pa, karena aku pun ingin dimengerti."


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2