
Keesokan hari nya, kebetulan hari ini adalah hari minggu dan anak-anak libur sekolah.
Usai sarapan, Mahmudi yang masih mengingat permintaan istri nya kemarin.. mendekati sang istri yang sedang mencuci piring bekas mereka sarapan di wastafel.
Ya, walaupun sudah ada asisten rumah tangga tapi Seruni tetap tak mau berpangku tangan saja. Ibu hamil itu tetap ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah, yang sekiranya ringan dan tidak membuat nya kelelahan.
"Ma, mau jalan kemana hari ini?" Bisik Mahmudi, sambil ikut membantu sang istri menata piring yang sudah di cuci, ke atas rak piring.
"Ada yang mau aku bicarakan sama papa, mending sekarang papa temani anak-anak dulu," titah Seruni tanpa melihat kearah sang suami, hingga membuat jantung Mahmudi berdebar-debar.
"Mama ada apa lagi ya? Apa aku membuat kesalahan lagi? Ah, seperti nya tidak. Tapi mama mau bicara soal apa?" Mahmudi bermonolog dalam diam, masih sambil menata piring di atas rak.
"Udah pa, tinggal aja. Papa temani anak-anak dulu," kembali Seruni mengingatkan.
"Iya ma," balas Mahmudi, dengan tidak bersemangat. Jika dapat memilih, laki-laki dengan tiga anak itu akan lebih memilih mengajak jalan-jalan istri dan anak-anak nya, daripada ngobrol serius berdua sama sang istri.
Karena kesalahan yang dilakukan nya kemarin-kemarin, membuat sang istri jika bicara pada nya wajah istri nya itu seolah mengeluarkan aura yang sangat mengerikan.. dan hal itu membuat Mahmudi menciut nyali nya.
Mahmudi pun dengan gontai meninggalkan sang istri, dan berjalan menuju ruang keluarga.. dimana ketiga anak nya, sedang asyik nonton televisi yang menayangkan film kartun anak-anak.
Sedangkan Seruni, usai mencuci piring kemudian terlihat berbicara dengan mbak Juju, asisten rumah tangga nya yang tengah mengangkat cucian dari mesin cuci.
"Mbak, tolong nanti titip anak-anak lagi ya? Saya mau keluar sama bapak, InsyaAllah sore udah di rumah." Pinta Seruni pada asisten rumah tangga nya itu.
"Iya bu, Juju akan jaga anak-anak," balas Juju mengiyakan, "bu, nanti kalau misal nya Tsalis rewel... boleh saya ajak pulang ke rumah saya enggak bu? Di tempat saya banyak anak-anak, pasti Tsalis senang kalau di sana," ijin Juju.
Seruni yang memang sudah tahu latar belakang keluarga Juju pun mengangguk, "iya mbak, boleh. Asal tidak merepotkan keluarga mbak Juju," balas Seruni.
"Tidak merepotkan kok bu," ucap Juju.
"Baiklah mbak, saya mau siap-siap sekarang," Seruni pun berlalu meninggalkan dapur, dan berjalan cepat menuju ruang keluarga.
"Mas Alif, nanti mas Alif ajak adik-adik main ya. Mama sama ayah mau ada perlu sebentar," bisik Seruni, yang mendekati putra pertama nya. Sedangkan Mahmudi yang sedang memangku Tsalis, melihat dengan penuh selidik.
Alif mengangguk, "iya ma," balas nya patuh.
"Pa, ayo," ajak Seruni tanpa bersuara, dan langsung melenggang menuju kamar. Sementara Mahmudi menatap kepergian sang istri, dengan tatapan yang penuh tanya.
Mahmudi kemudian menyuruh putra ketiga nya untuk duduk sendiri, "dik, adik nonton tivi sama mas-mas dulu ya? Papa ada kerjaan sebentar," pamit Mahmudi pada Tsalis, dan bocah kecil itu pun menurut.
__ADS_1
Masih dengan bertanya-tanya, Mahmudi berjalan menuju kamar nya. Dan sesampai nya di kamar, Mahmudi mendapati sang istri sudah duduk di sofa panjang seperti sedang menanti kedatangan nya.
Mahmudi segera mendekat dan kemudian mendudukkan diri di samping sang istri, "ada apa ma?" Lirih Mahmudi bertanya, masih dengan perasaan was-was.
"Papa beneran, mau putus sama ja*lang itu?!" Cecar Seruni, dan Mahmudi mengangguk pasti.
"Sudah tahu cara nya?" Tanya Seruni, dengan menatap dalam netra sang suami.
Mahmudi menggeleng, "belum ma, semalam.. papa sampai enggak bisa tidur karena mikirin itu," keluh Mahmudi, dan benar adanya... kantung mata Mahmudi memang terlihat kehitaman seperti mata panda.
"Mau di bantuin enggak?" Tawar Seruni serius.
Mahmudi mengangguk cepat, "mau ma, mau." Balas Mahmudi dengan penuh semangat, "kan semalam papa juga udah minta sama mama, agar bantu papa?" Mahmudi mengingatkan.
Seruni mencebik, dan kemudian membetulkan duduk nya menjadi bersandar. "Papa telpon ja*lang itu sekarang," titah Seruni, tanpa melihat ke arah sang suami.
Mahmudi mengernyitkan dahi nya, "untuk apa ma?"
"Untuk menjebak nya pa,,, apakah hanya papa pacar nya dia, atau ada laki-laki lain yang juga menjadi mangsa nya. Karena menurut mama, tipe wanita seperti itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan." Balas Seruni, berapi-api.
Mahmudi terdiam, belum bisa mencerna apa maksud sang istri.
"Dan sekarang, papa telpon dia segera dan ajak dia ketemuan di hotel." Titah Seruni kembali.
"Hot,, hotel ma?" Tanya Mahmudi tak mengerti dengan jalan pikiran istri nya, "mama yakin? Papa enggak mau ma," lanjut nya menolak.
"Aku yakin pa, dan papa harus mau kalau papa ingin bisa lepas dari nya?!" Balas Seruni penuh penekanan.
Sejenak suasana di dalam kamar menjadi hening, Mahmudi masih sibuk menerka-nerka apa maksud istri nya. "Apa, mama mau menjebak ku? Mama masih belum percaya padaku, kalau aku benar-benar sudah menyesal?"
"Gimana pa?" Tanya Seruni memecah keheningan.
"Apa rencana mama?" Mahmudi balik bertanya, masih dengan kebingungan nya.
"Seperti yang aku katakan tadi pa, kita akan menjebak ja*lang itu." Seruni kemudian mengutarakan ide nya untuk menjebak Tari.
"Papa bisa kan? Papa tidak akan tergoda dan malah melupakan misi kita kan?!" Selidik Seruni dengan tatapan nya yang kembali tajam, seakan menguliti suami nya.
Mahmudi menggeleng, "enggak ma, aku janji.. aku tidak akan tergoda." Balas Mahmudi meyakinkan, "mama percaya dong, sama papa?" Pinta nya merajuk.
__ADS_1
Seruni mencebik, "aku akan kembali percaya pada papa, kalau papa bisa membuktikan kesungguhan papa untuk bisa lepas dari ja*lang itu!" Balas Seruni, yang setiap kali membicarakan Tari,,, nada bicara nya selalu meninggi.
"Buruan telpon dia sekarang,," titah Seruni sambil bersidekap.
Mahmudi pun menuruti keinginan sang istri, dan mulai membuka ponsel nya hendak menghubungi Tari.
Belum sempat Mahmudi mendial nomor Tari, ada panggilan masuk ke ponsel nya dari Tari.
"Ma, dia telepon," ucap Mahmudi seraya menunjuk layar ponsel nya, yang menampilkan profil Tari kepada sang istri.
"Ya udah, angkat aja," balas Seruni, dan Mahmudi pun menerima panggilan tersebut dan kemudian mengaktifkan mode load speaker.
"Halo mas Mahmud sayang," sapa renyah suara di seberang sana.
"Iya, ada apa?" Tanya Mahmudi datar.
Seruni langsung melotot, "ingat misi kita, ajak ketemuan," bisik Seruni, dan Mahmudi mengangguk.
"Mas, kita jalan yuk? Sekali-kali lah.. masak tiap minggu mas selalu enggak bisa sih?" Pinta Tari dengan manja.
"Iya, mau kemana?" Tanya Mahmudi mulai memancingnya, sambil tangan nya mengelus perut sang istri.
"Emm,, kemana ya mas enak nya? Yang kita bisa asyik-ayik gitu lah, tanpa ada yang ganggu?" Tari balik bertanya, sambil meminta pertimbangan.
Sejenak Mahmudi menatap istri nya, untuk memastikan bahwa rencana Seruni sungguh-sungguh. "Kalau kita ke hotel gimana? Mau enggak?" Tanya Mahmudi.
"Mau, mau mas,, aku mau banget,,,," balas Tari dengan cepat dan dengan suara nya yang terdengar begitu gembira, "kemarin kan, kita enggak jadi senang-senang bareng,,, karena mas harus segera balik ke kantor? Dan kali ini, aku enggak mau gagal lagi mas? Aku mau milik mas yang besar itu?? Ehmmm...mas... ah,, pasti rasa nya nikmat.... banget." De*sah Tari, "aku udah enggak sabar mas??" Rajuk Tari dengan suara nya yang mendayu.
Mahmudi menatap istri nya, sambil mengusap tengkuk. "Oke, nanti aku chat nama hotel nya," pungkas Mahmudi dan segera mengakhiri panggilan nya.
"Darimana ja*lang itu tahu, kalau punya papa besar?! Dia sudah pernah lihat?! Sudah pernah pegang?! Atau, sudah pernah nyicipin?!" Tatapan Seruni mengintimidasi Mahmudi, hingga membuat laki-laki itu membeku sambil menahan nafas.
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
Ternyata yang aku up dini hari tadi, di jam pocong belum terbit 🤦♀️
Tak apalah, langsung aku susulin bab selanjut nya.
Moga bisa terbit bareng.. dan kalian puas baca nya, karena dua bab sekaligus 😉
__ADS_1