
"Mami Uun,,," panggil Doni, dengan panggilan kesayangan nya kala mereka berdua masih bersama dulu, "kok malah bengong? Diminum dong, jus alpukat nya," titah Doni, seraya tersenyum hangat.
Seruni tergagap, dan buru-buru meminum jus alpukat yang sudah dipesankan Doni untuk nya. Seruni memainkan sedotan, untuk menutupi kegugupan nya mendengar panggilan kesayangan Doni untuk nya tadi. Panggilan yang sudah sangat lama tak Seruni dengar, setelah mereka berpisah belasan tahun silam.
Doni menatap Seruni begitu dalam, hingga membuat Seruni menjadi serba salah. Sedangkan Tiwi menatap sepupu nya, penuh dengan rasa iba.
Ketiga nya saling terdiam, hingga membuat suasana kembali menjadi sunyi.
"Run, aku ngajak kamu kesini... karena ada yang mau kami sampaikan," ucap Tiwi memecah kesunyian.
Seruni menatap Tiwi, dan meletakkan sedotan nya. "Apa?" Tanya Seruni datar.
Tiwi menatap Doni, menagih janji nya kemarin bahwa Doni lah yang akan menyampaikan berita tidak mengenakkan itu kepada Seruni.
Doni mengangguk, mengerti tuntutan kakak sepupu nya. Doni membetulkan duduk nya, menegakkan punggung dan menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi penuh rongga paru-paru nya dengan oksigen,, dan kemudian menghembus nya kuat-kuat, untuk mengurai sesak di dada nya mengingat kejadian kemarin.
Pengkhianatan Mahmudi pada wanita yang sangat di cintai nya, telah mampu membuat hati Doni ikut remuk dan sakit.
"Un, sebelum nya aku minta maaf.. kalau apa yang akan aku sampaikan nanti, membuat mu terluka," lirih Doni, memulai percakapan.
Seruni mengernyit dalam. "Aku? Terluka? Ada apa memang?" Tanya Seruni dengan tak sabar.
"Kemarin sore, aku sama kak Tiwi ngopi di kafe taman. Di sana tak sengaja, kami melihat suami kamu, Mahmudi,,," Doni menghentikan sejenak ucapan nya, dan menatap Seruni dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Suami ku? Kenapa dia? Apa dia membuat keributan?" Cecar Seruni makin tak sabar, perasaan nya mulai tak enak.. khawatir, kedua sahabat nya itu mengetahui perselingkuhan suami nya.
"Oh,, palingan dia lagi ada rapat kali ya, sama teman-teman nya di sana," lanjut Seruni kemudian, mencoba bersikap tenang kembali. Sambil dalam hati berdo'a, semoga kedua sahabat nya itu tak mengetahui aib suami nya yang juga merupakan aib diri nya.
Doni menggeleng, "bukan rapat, karena hanya berdua dengan..." Doni menelan saliva untuk membasahi tenggorokan nya yang tiba-tiba saja terasa kering, Doni kemudian meneguk soft drink milik nya hingga tandas tak tersisa.
"Suami mu dengan seorang wanita yang masih cukup muda, dan mereka..", Doni memejamkan mata nya, tanpa terasa bulir bening jatuh dari sudut mata nya dan membasahi pipi nya yang putih. Doni benar-benar seperti ikut merasakan sakit hati nya Seruni, jika sampai Seruni melihat kejadian kemarin.
__ADS_1
"Don, katakan cepat. Jangan membuat ku menerka-nerka tidak jelas seperti ini," tuntut Seruni masih mencoba bersikap tenang, meski dada nya terasa bergemuruh.. khawatir hal yang selama ini dia tutupi dari keluarga juga sahabat-sahabat nya akhirnya terbongkar juga.
"Mereka bermesraan di kafe itu Un,, maaf..." lirih Doni, yang reflek menggenggam tangan Seruni.
Sejenak Seruni terhenyak, ketakutan nya kini terjadi. Sahabat nya sudah mengetahui aib sang suami. Seruni menarik nafas dalam, dan kemudian menghembus nya perlahan.
"Aku sudah tahu Don," lirih Seruni, dengan menatap Doni dan Tiwi bergantian. Seruni masih berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Kamu, kamu sudah tahu Run?! Sejak kapan? Lantas? Kenapa kamu masih bersama nya?!" Cecar Tiwi, dengan membulat kan mata nya.
Sementara Doni yang masih menggenggam tangan Seruni semakin mengeratkan genggaman nya, dan Seruni membiarkan nya saja untuk sementara waktu. Entahlah,, Seruni merasa sedikit tenang, tangan nya di genggam Doni.
"Sebulan terakhir ini, aku mengetahui nya." Balas Seruni.
"Nek, kenapa enggak cerita ke kita?! Berarti minggu lalu saat kita ketemuan, kamu sudah mengetahui nya?!" Tiwi kembali ngegas, seraya menatap Seruni dengan tajam.
Seruni menggeleng, bukan nya menjawab pertanyaan Tiwi tapi malah mengajukan pertanyaan balik. "Ini, baru kalian yang tahu apa anak-anak yang lain sudah tahu?" Wajah Seruni nampak sangat khawatir.
"Baru kami yang tahu Un," balas Doni dengan menatap Seruni penuh rasa simpati.
Tiwi mengernyit, tak mengerti maksud perkataan Seruni dengan mengucap syukur.
Seruni menarik nafas panjang, dan menghembus nya perlahan. Seruni kemudian menceritakan garis besar nya, ketika pertama kali mengetahui bahwa suami nya ternyata berkhianat.
Doni nampak geram mendengar cerita Seruni, begitu pun dengan Tiwi.
"Setiap rumah tangga, pasti memiliki masalah nya masing-masing bukan? Sengaja aku tak menceritakan nya pada kalian, karena bagiku.. aib suami ku adalah juga aib ku yang harus aku tutup rapat-rapat agar tak diketahui oleh orang lain, bahkan keluarga sekalipun," ucap Seruni, menatap kedua sahabat nya bergantian.
"Dan dengan tidak bercerita, itu akan mempermudah kami untuk menyelesaikan masalah tanpa campur tangan orang lain," lanjut nya.
Tiwi hendak membuka mulut nya, namun buru-buru Seruni menambah kan ucapan nya.
__ADS_1
"Jika banyak yang tahu masalah kita, bukan tak mungkin.. mereka akan ikut masuk dan mempengaruhi kita dalam bersikap dan mengambil keputusan, yang bisa jadi justru itu akan memperunyam masalah yang sedang dihadapi bukan?" Seruni kembali menatap kedua sahabat nya, yang duduk tepat di hadapan nya.
Doni mengangguk-angguk, sedangkan Tiwi memijat pelipis nya.
Untuk sesaat suasana terasa mencekam dan tegang.
"Percayalah, aku bisa menyelesaikan semua nya sendiri," ucap Seruni mengurai ketegangan.
"Dan aku mohon, cukup kalian yang tahu masalah ini," pinta Seruni dengan sungguh-sungguh pada kedua sahabat nya.
Doni dan Tiwi hanya bisa mengangguk, mengiyakan permintaan Seruni.
Tiwi kemudian menghambur, memeluk sahabat nya yang sedang hamil besar itu. "Apapun keputusan kamu, aku pasti dukung Run. Dan jangan pernah lupakan, jika kamu butuh bantuan.. segera hubungi kami, karena kita adalah sahabat, kita saudara Run," lirih Tiwi menahan sesak di dada, agar tangis nya tidak pecah.
Tiwi tak dapat membayangkan jika diri nya ada di posisi Seruni saat ini, yang tengah hamil besar.. tapi malah di khianati oleh pasangan hidup nya.
Seruni mengangguk dan tersenyum, "pasti Wi, pasti aku akan hubungi kalian," balas Seruni, "bayi ku terjepit Wi," seloroh nya, sambil melepaskan diri dari pelukan Tiwi. Hingga membuat Tiwi terkekeh dan sejenak melupakan kisah pahit sahabat nya.
Tiwi pun kembali ke tempat nya semula, "hebat kamu Run, masih tetap bisa bersikap tenang dan seolah tak memiliki masalah," puji Tiwi dengan tulus, "strong woman," lanjut nya dengan tangan terkepal ke udara.
Sedangkan Doni yang masih menggenggam tangan Seruni sedari tadi, terus menatap wanita yang nama nya belum bisa tergantikan oleh yang lain itu dengan intens.
"Pak Dirut, dari tadi loh pegang tangan aku? Sebagai apa nih? Kalau sebagai sahabat, aku akan biarkan sampai kamu bosan dan kemudian melepas nya?" Perkataan Seruni, membuyarkan angan Doni.
"Memang nya boleh ya Un,, aku berharap lebih??" Doni menelusuri netra indah Seruni, untuk mencari jawab apakah masih ada nama nya di sana.
"Kalau boleh sih, aku mau nya lebih dari sekedar sahabat Un,," lanjut nya, masih dengan tatapan nya yang membuat Seruni sejenak terhipnotis.
"Un,, aku juga dukung apapun keputusan kamu, dan jika kamu membutuhkan tempat untuk bersandar.. ingatlah selalu Un, bahwa aku masih setia menanti mu," Doni mengecup tangan Seruni dengan lembut, yang membuat Seruni sejenak terpaku.
"Aku enggak rela kamu diginiin Un, hatiku ikut sakit..." pungkas Doni, dengan netra berkaca-kaca.
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
Pak Dirut,,, kata-kata mu bikin meleleh 🥰🥰