Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
57. Menemukan Pengganti Runi


__ADS_3

Mahmudi masih berdiri mematung di balik pintu yang sedikit dibuka nya tadi, dan tatapan mata ayah empat anak itu masih nanar kearah istri dan sang mantan yang semakin erat saling memeluk seakan tak ingin dipisahkan satu sama lain.


Laki-laki berkulit coklat itu kini menyadari, bahwa cinta sang istri untuk Doni masih sangat lah besar. Mahmudi menghela nafas dengan berat, dan hendak berlalu,,, namun suami Seruni itu mengurungkan nya, kala mendengar perkataan sang istri yang bagai embun penyejuk bagi hati nya yang terbakar api cemburu.


"Kita tak bisa terus-terusan seperti ini Don, aku seorang istri dan ibu dari keempat anak kami. Aku akan tetap mempertahankan rumah tangga ku Don,, "ucap Seruni akhirnya, sambil mengurai pelukan kedua nya.


Mahmudi tersenyum lebar, dan air mata nya semakin mengucur deras. "Terimakasih ma, terimakasih karena mama lebih mengutamakan kepentingan anak-anak dan juga keutuhan rumah tangga kita," lirih nya dengan suara bergetar, "kamu memang wanita yang tulus ma, dan papa janji,, papa akan menjaga hati mama dan juga keutuhan rumah tangga kita, seperti papa menjaga nyawa papa sendiri." Pungkas Mahmudi, dan segera berlalu dari depan kamar perawatan sang istri sebelum kehadiran nya di sadari oleh sahabat-sahabat Seruni.


Sementara itu di dalam ruang perawatan, Doni yang masih menggenggam tangan Seruni menatap wanita di hadapan nya itu dengan sangat dalam. Doni mengangguk dan tersenyum tulus. "Oke Un, aku bisa mengerti keputusan mu." Balas Doni, sambil menelan saliva nya dengan susah payah.


Dada laki-laki matang yang masih saja melajang itu terasa sangat sesak, bagai dihimpit bebatuan besar dengan bobot ribuan kilogram. Dengan berat Doni menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskan dengan sangat perlahan.


Doni sejenak memejamkan mata, dan bulir bening kembali menetes membasahi wajah nya yang putih bersih.


Seruni mengusap air mata Doni dengan ibu jari nya, "aku enggak munafik Don, aku juga masih menyayangimu. Tapi aku harus berdamai dengan perasaan ku, karena saat ini aku bukan lagi wanita lajang. Ada banyak hati yang harus aku jaga Don,,, dan aku memilih mereka,,, maaf," bisik Seruni, hingga membuat air mata Doni mengalir semakin deras.


Doni menggeleng dan terus menggeleng, meski berkali-kali Doni menyusut air mata nya tapi air mata Doni terus saja menyeruak tanpa dapat dicegah.


Seruni mengeratkan genggaman tangan Doni, dan menepuk-nepuk punggung tangan kekar itu dengan tulus. "Maaf Don, maaf,,," kembali Seruni meminta maaf, padahal diri nya sama sekali tak bersalah.


Doni membelai pipi Seruni, wanita itu sama sekali tak mengelak dan membiarkan nya saja. "Enggak perlu minta maaf Un, tidak ada yang salah di antara kita. Cinta kita enggak salah Un, hanya saja takdir memang tidak berpihak pada kita." Ucap Doni, dan Seruni mengangguk-angguk.


Doni menghela kasar nafas nya, dan membuang pandangan kearah lain. Sejenak kedua nya membisu, masing-masing sibuk menata hati sendiri-sendiri.


"Kamu seorang wanita Un, tapi kamu mampu berdamai dan mau mengorbankan perasaan mu." Lirih Doni mengurai keheningan, seraya kembali menatap Seruni.


"Aku akan belajar dari mu Un, aku pun akan berdamai dengan perasaan ku. Aku akan belajar membuka hati untuk wanita lain," lanjut Doni dengan tatapan nya yang kembali sendu.


Seruni mengangguk dan tersenyum lebar, "semangat Don, tuan muda Sanjaya pasti bisa." Seruni menepuk pundak Doni dengan lembut, dan Doni tersenyum kecut mendengar nama panggilan untuk nya.


"Terimakasih Uun,,, terimakasih karena kamu masih tetap menyayangi ku," kembali Doni memeluk wanita yang masih sangat dicintai nya itu, "ini pelukan persahabatan Un, pelukan saudara. Anggap aku adalah kakak mu, dan kamu adalah adikku." Bisik Doni di telinga Seruni, yang membuat hati ibu empat anak itu kembali trenyuh.


Cukup lama mereka saling memeluk untuk yang kedua kali nya, hingga suara Dewa mengurai pelukan mereka berdua.


"Udah selesai belum, sidang pleno nya? Bagaimana keputusan mu Run?" Tanya Dewa, pura-pura tidak tahu. Padahal dari sofa tempat nya duduk, Dewa dan sahabat nya yang lain dapat mendengar dengan jelas pembicaraan Seruni dan Doni.


Seruni dan Doni sama-sama tersenyum, dan mereka sama-sama mengedikkan bahu nya. "Enggak ada yang penting yang kami bicarakan, om Doni cuma pamitan karena nanti sore mau berangkat ke Jakarta." Balas Seruni, dan Doni mengangguk membenarkan.

__ADS_1


Dewa mencebik, "bagus lah kalau begitu, kalian sudah dewasa dan aku yakin.. kalian bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk semua nya," timpal Dewa.


Tok,, tok,, tok,,


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar, dan kemudian nampak Mahmudi membuka pintu dengan lebar. Suami Seruni itu masuk mengiringi langkah dokter dan suster dengan mengulas senyum lebar, seolah tak pernah mengetahui apa-apa.


"Ma, dokter visit. Akan memastikan, apakah kondisi mama sudah memungkinkan untuk bisa pulang sekarang atau belum," ucap Mahmudi yang berjalan kearah sang istri mendahului dokter.


Seruni mengangguk, dan tersenyum menyambut dokter wanita yang membantu persalinan nya semalam.


Doni dan Dewa segera menjauh, dan menuju sofa untuk bergabung bersama sahabat-sahabat nya.


"Kita periksa dulu ya mbak Runi," ucap bu dokter dengan lembut, seraya memeriksa tekanan darah Seruni.


"Masih ada keluhan kah?" Tanya bu dokter, dan Seruni menggeleng.


"Pusing?" Kembali dokter kandungan itu bertanya.


"Tidak dok, Alhamdulillah saya merasa bugar," balas Seruni dengan jujur.


"Mbak Runi sudah boleh pulang, tapi nanti di rumah tolong di jaga pola makan nya ya. Dan obat yang saya resep kan, harap dihabiskan agar luka di dalam dan di luar bisa cepat kering," lanjut bu dokter.


"Terimakasih dok," balas Seruni dan Mahmudi yang sedari tadi mendampingi sang istri, bersamaan.


Dokter dan suster pun keluar meninggalkan ruangan tempat Seruni di rawat, "mama mau pulang sekarang, apa nanti agak siangan?" Tanya Mahmudi, meminta pendapat sang istri.


"Sekarang aja ya pa, sekalian tolong nanti papa carikan kado buat Doni. Papa mau kan?" Pinta Seruni dengan berbisik.


Mahmudi mengernyit, "Doni ulang tahun? Atau, mau nikah?" Tanya Mahmudi.


Seruni menggeleng, "bukan pa, om Doni kan mau pindah ke Jakarta dan rencana sore ini mau berangkat," balas Seruni.


"Oh,, di percepat?" Tanya Mahmudi dengan netra nya yang berbinar bahagia, dalam hati Mahmudi bersyukur.. rival terberat nya akan segera pergi jauh dari kehidupan sang istri.


"Iya," balas Seruni singkat, dan Mahmudi langsung mengangguk menyetujui permintaan sang istri.


"Di kado apa ya pa? Secara kan, si Doni udah punya semua nya?" Seruni mengerutkan kening nya dengan dalam.

__ADS_1


"Jam tangan, tas, atau dasi ya pa?"


"Nanti papa pikirkan sambil jalan ya ma, sekarang papa mau packing barang-barang dulu," Mahmudi mengusap lembut lengan sang istri seraya tersenyum hangat, kemudian segera mulai berbenah dan memasukkan semua perlengkapan sang istri dan putri nya kedalam tas.


"Memang nya, Runi sudah boleh pulang?" Tanya Tiwi yang masih memangku baby Cinta, seraya menatap Mahmudi yang tengah sibuk berbenah.


"Iya Wi," balas Seruni mewakili sang suami, dan mereka semua nya kemudian bersiap.


"Sini kak, biar Cinta sama aku. Kakak bantu urus Tsalis dan kedua kakak nya, biar si Mahmud urus istri nya," pinta Doni, yang untuk pertama kali secara tidak langsung menyebut Seruni sebagai istri Mahmudi.


Mahmudi tersenyum mendengar perkataan Doni, begitupun dengan Seruni.


Tiwi memberikan baby Cinta kepada Doni seraya berbisik, "jangan khawatir om, kamu akan menemukan pengganti Runi secepatnya di sana."


"Aamiin,,," Doni mengaminkan do'a kakak sepupu nya dengan sepenuh hati.


🙏🙏🙏🙏🙏 The End 🙏🙏🙏🙏🙏


Kok End Thor??


Iya bestie, karena dari awal alur nya memang di buat seperti ini 😊🙏🙏


Seruni yang memilih bertahan, meski pernah mendapatkan pengkhianatan dari sang suami. Bukan karena dia wanita lemah,, tapi karena Seruni memiliki berbagai macam pertimbangan, hingga dia tetap memilih bertahan.


Kisah Seruni menggambarkan kehidupan nyata bagi banyak pasangan yang di luar terlihat baik-baik saja dan seperti tak pernah ada masalah, itu karena mereka tetap tegar dan tetap tersenyum demi menjaga banyak hati,,, sambil terus belajar untuk memperbaiki kesalahan masing-masing dan saling menghargai.


Meski ada juga yang akhirnya memilih untuk berpisah dan tentu nya dengan berbagai macam pertimbangan yang saaaaangat panjang dan matang,,, karena pasti akan ada banyak perasaan yang dikorbankan.


Keep strong untuk Seruni Seruni di luar sana,, apapun pilihan kalian, Lepaskan atau Bertahan? 💪💪🤗🤗


Jaga hati, jaga iman,, agar kita tidak terjebak kedalam kondisi hingga menjadi seperti Tari, Na'udzubillah,,


Ingat,,, karena sejati nya 'tak akan ada Mahmudi jika tak ada Tari' 😄😄


Masak iya, Mahmudi mau sama monyet yang di pakai-in lipstik! 🤭


The last,,, makasih untuk semua nya, love you all 🤗😘

__ADS_1


__ADS_2