Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
47. Kami Semua Juga Bersedih


__ADS_3

Waktu pun terus berlalu, siang dan malam datang dan pergi silih berganti. Tanpa terasa, hampir dua bulan telah terlewati. Dan selama itu pula, Mahmudi benar-benar menunjukkan penyesalan nya. Dia terus berusaha untuk memenuhi segala keinginan sang istri, meski terkadang terkesan berlebihan.


Ya, Seruni memang kadang-kadang menguji kesabaran dan kesungguhan sang suami untuk memastikan apakah Mahmudi telah benar-benar menyadari kesalahannya dan mau berubah untuk menjadi lebih baik atau tidak?


Dan Mahmudi membuktikan nya dengan berusaha sebisa mungkin, untuk selalu memenuhi permintaan sang istri.


Seperti sore ini, ketika Mahmudi baru saja pulang dari kantor. "Pa, antar mama ke supermarket ya?" Pinta Seruni yang sudah tampil cantik dengan dress hamil berwarna peach dan hijab motif bunga-bunga warna senada, yang semakin membuat wanita dengan perut yang semakin membuncit itu terlihat sempurna.


"Harus sekarang ya ma?" Tanya Mahmudi seraya mengernyit kan dahi nya, pasal nya hari sudah sore dan diri nya juga belum mandi.


"Iya pa, kenapa?" Tanya Seruni dengan wajah yang mulai merajuk.


"Enggak apa-apa ma, papa cuma nanya," balas Mahmudi seraya tersenyum, mencoba untuk tetap bersikap manis di hadapan sang istri.


"Sabar Mud, sabar,,, ini semua buah dari kesalahan kamu sendiri. Masih untung istri mu tidak minta pisah, bagaimana coba hidup mu jika dia menggugat cerai dan memilih melanjutkan hidup nya dengan laki-laki yang lebih mapan dan tampan macam Doni?" Batin Mahmudi, sambil kembali naik ke dalam mobil.


Tak lama kemudian, mobil Mahmudi kembali melaju di jalan raya beraspal untuk memenuhi keinginan istri tercinta.


"Mama mau belanja apa?" Tanya Mahmudi, sesaat setelah mobil nya melaju di jalan raya.


Seruni menggeleng, "belum tahu pa, mama cuma pengin jalan aja," balas Seruni, yang membuat Mahmudi menarik nafas panjang. "Enggak apa-apa kan pa?" Tanya Seruni, sambil bergelayut manja di lengan sang suami.


"Iya, enggak apa-apa," balas Mahmudi, seraya mengusap lembut pipi sang istri.


Mahmudi tersenyum dan dalam hati bersyukur, meski sang istri sering memberi nya hukuman dengan permintaan nya yang aneh-aneh dan terkadang berlebihan, namun sang istri tak benar-benar menghukum nya untuk berlama-lama berpuasa.


Sebab seminggu setelah kejadian di hotel itu, sang istri akhirnya mau melayani diri nya di tempat tidur meski sebelum nya Mahmudi harus merengek seperti anak kecil. Tapi setelah itu, seperti biasa Seruni sendiri yang akan dengan senang hati melayani Mahmudi dan membuat diri nya terbang melayang hingga ke nirwana.


"Ma, mbak Juju masih menemani anak-anak kan?" Tanya Mahmudi memastikan, sebab Seruni selalu berpesan pada asisten nya itu untuk menemani anak-anak jika mereka berdua tiba-tiba keluar seperti saat ini.

__ADS_1


Seruni mengangguk, "iya pa, kenapa?" Tanya Seruni seraya menatap sang suami, dan Seruni mengernyit kala mendapati suami nya sedang tersenyum.


"Kok papa senyum-senyum?" Tanya Seruni curiga.


"Ma, kita check in dulu ya? Pulang nanti jam sembilan," pinta Mahmudi, yang tiba-tiba membelokkan mobil nya ke sebuah hotel tanpa menunggu persetujuan sang istri.


"Pa, kan bisa nanti di rumah?" Protes Seruni, kala sang suami telah memarkirkan mobil nya di tempat yang tersedia di depan hotel tersebut.


"Beda ma, anggap saja ini adalah baby moon." Balas Mahmudi, seraya tersenyum menggoda. Dan Seruni membalas nya dengan mengerucut kan bibir, yang langsung disambar oleh Mahmudi dengan rakus.


Ya, segala cara di tempuh oleh Mahmudi untuk mendapatkan kembali secara utuh hati sang istri yang sempat terluka oleh ulah nya.


Mahmudi juga keluar dari projek pengembangan sumber daya manusia, tempat di mana diri nya bertemu dengan Tari dan kemudian menjalin hubungan yang salah. Apalagi ternyata, Tari juga masih bergabung di sana.


Kasus Tari dan Edi nyata nya tak mempengaruhi pekerjaan mereka berdua, karena kedua belah pihak keluarga yaitu antara orang tua Tari dan anak-anak Edi sepakat untuk berdamai.


Namun istri Edi tetap menuntut untuk berpisah, dan rumah beserta isi nya jatuh ke tangan istri nya Edi tersebut. Edi hanya membawa mobil tua, dan kini laki-laki paruh baya itu memilih tinggal di kontrakan kecil karena tidak ingin merepotkan putra-putri nya yang belum lama berumah tangga.


"Apa aku enggak salah dengar pak tua! Kamu melamar aku?!" Seru Tari dengan penuh keterkejutan.


Memang setelah kejadian penggerebekan di hotel hampir dua bulan yang lalu, mereka berdua tak pernah lagi terlihat berkencan di hotel. Tapi sesekali Tari berkunjung ke kontrakan Edi, kala wanita muda itu tak mampu lagi membendung keinginan nya.


Dan Edi, masih mampu untuk memuaskan Tari. Sehingga Edi berfikir, daripada mereka terus melakukan kesalahan seperti itu,,, mengapa tak sebaiknya jika hubungan nya dengan Tari berlanjut ke jenjang pernikahan?


Tapi ternyata apa yang dipikirkan Edi salah, karena Tari tak pernah menginginkan untuk menjalin hubungan yang serius dengan Edi. Tari hanya butuh Edi untuk memuaskan hasrat nya yang gila, yang jika datang tak bisa dikendalikan itu.


"Kenapa dik? Bukankah aku masih bisa membahagiakanmu?" Tanya Edi tak mengerti.


"Dengan apa?! Rumah aja enggak punya gitu kok! Dengan mobil tua mu itu, yang BBM nya campur dorong?!" Sinis Tari, seraya membuang muka tak sudi melihat Edi yang malam ini tampil totalitas dengan rambut klimis dan mengenakan pakaian ala anak muda.

__ADS_1


Aroma parfum Edi yang menguar pun sempat membangkitkan hasrat Tari tadi, tapi begitu mendengar kalimat Edi yang mengajak nya untuk menikah, Tari langsung naik pitam.


"Aku memang tidak memiliki rumah dik, tapi kan aku masih punya gaji?" Balas Edi, yang masih kekeuh mengajak Tari untuk menikah.


"Aku bilang enggak ya enggak! Titik!" Ketus Tari, "udah sana pulang! Aku udah males bertemu sama kamu! Setelah ini, anggap kita tak pernah saling bertemu dan tak saling kenal!" Usir Tari dengan sarkas.


Dan Edi pun pulang dengan hati dan pikiran yang nestapa, hilang sudah semangat hidup nya kini. Tak ada lagi yang tersisa, mantan istri nya melarang anak-anak mereka untuk berkunjung ke kontrakan Edi. Dan kini, satu-satunya wanita yang diharapkan mau menemani diri nya menghabiskan masa tua, nyata nya malah mengusir nya bagai binatang yang tak berharga sama sekali.


Sepanjang jalan Edi hanya bisa meratapi nasib nya, nasib menjadi duda yang hidup sendiri tanpa keluarga dan orang-orang terkasih yang menemani.


"Ya Tuhan, inikah balasan yang harus aku terima dari semua kesalahan ku di masa lalu?" Ratap Edi dengan air mata berlinang.


_____


Sementara kehidupan Arif menjadi lebih baik, meski untuk sementara Arif tinggal di rumah kontrakan milik sepupu nya yang sederhana, tapi Arif sangat bahagia. Kedua anak nya yang masih balita, setiap hari di asuh oleh bibi yang sudah merawat anak-anak nya semenjak masih bayi sehingga mereka tidak pernah rewel meski tak ada ibu nya.


Sedangkan di malam hari, Arif sendiri yang menjaga putra putri nya karena Arif sudah pindah ke bagian kantor atas rekomendasi dari Doni.


Rindi juga selalu mengajak anak-anaknya untuk bermain ke tempat Arif selepas maghrib, dan membantu mengurus anak kedua Arif yang baru berusia sekitar satu tahun. Dan Rindi baru akan mengajak anak-anaknya pulang, jika mereka sudah mengantuk sehingga Arif tidak merasa sendiri dalam mengurus kedua anak nya.


Sesekali suami Rindi juga akan ikut menyusul ke tempat Arif, hingga rumah kontrakan sederhana yang di tempati Arif secara cuma-cuma itu terdengar ramai dan suasana nya selalu hangat.


"Mbak, emang benar ya pak Doni mau pindah ke Jakarta?" Tanya Arif pada Rindi, yang sedang menyuapi anak kedua Arif. Sedangkan suami Rindi tengah asyik bermain dengan kedua anak nya, dan juga putri sulung Arif.


"Iya," balas Rindi, "apa Doni sudah mengumumkan nya di kantor?" Tanya Rindi balik.


"Secara resmi sih belum mbak, tapi sama orang-orang yang terdekat pak Doni udah mulai berpamitan." Balas Arif, "pada sedih tahu mbak, mendengar pak Doni mau pindah? Beliau itu pemimpin yang bisa mengerti anak buah nya," lanjut Arif.


"Ya, kami semua juga bersedih karena pasti akan jarang bertemu. Tapi ya gimana lagi, Doni harus melanjutkan perusahaan papa nya," ucap Rindi sendu.

__ADS_1


"Dengar-dengar sih, minggu depan serah terima jabatan nya." Ucap Arif, "moga aja pak Doni bisa segera menemukan seseorang yang bisa menggantikan mbak Runi di hati nya," do'a Arif dengan tulus, yang diaminkan oleh Rindi.


"Aamiin,,,"


__ADS_2