
Edi terkejut dan langsung membuka mata nya, dan bola mata Edi membulat sempurna kala melihat Mahmudi sudah berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka lebar seraya memegang ponsel dan diarahkan ke tubuh polos kedua nya. "Tolong, jangan di rekam mas Mahmud," pinta Edi menghiba.
Sedangkan Tari yang juga tak kalah terkejut karena mendapati suami nya dan juga lumbung uang nya telah sama-sama berdiri di ambang pintu, langsung menghentikan goyangan nya dan hendak beranjak. Namun Tari menjadi panik, pasal nya milik nya tak bisa lepas begitu saja. Milik Edi seperti nya membesar dan nyangkut di kema*luan Tari.
"Mas, gimana ini?!" Seru Tari panik.
"Ya, kamu bangkit dik! Jangan nangkring di atas ku terus!" Bentak Edi tak kalah panik.
"Aku udah mencoba bangkit mas, tapi enggak bisa!" Omel Tari, karena merasa di bentak. "Mas Edi dong yang lepas!" Lanjut nya dengan marah.
Edi dan Tari masih berdebat dan saling menyalahkan, sedangkan dua laki-laki yang berdiri di ambang pintu, masih sibuk dengan kegiatan nya masing-masing dengan ponsel di tangan.
"Mas Arif, tolong kami dong?" Pinta Tari memohon.
"Bodo amat! Karena mulai detik ini, kamu bukan lagi istri ku! Aku ceraikan kamu, dan video ini akan aku jadikan bukti di pengadilan nanti," balas Arif dengan tenang, sambil memamerkan hasil rekaman nya barusan.
"Mas Mahmud, tolong kami mas," pinta Edi, mengharap belas kasihan Mahmudi.
"Apa keuntungan saya jika menolong pak Edi? Bukan nya bagus ya kalau gancet seperti itu? Jadi nikmat nya bisa bertahan lama..." balas Mahmudi seraya terkekeh.
***** captivus atau gancet adalah kondisi ketika organ intim pria tersangkut di dalam ****** saat melakukan hubungan intim.
Dalam dunia medis, gancet terjadi ketika pe*nis terjepit di dalam va*gina akibat ukurannya semakin membesar sebelum mencapai orgas*me. Umumnya, laki-laki akan mudah melepaskan pe*nis setelah mengalami orgas*me.
Namun, pe*nis yang terjebak dalam va*gina membuat aliran darah ke ujung pe*nis justru semakin deras. Akibatnya, ukuran pe*nis semakin membesar karena mengalami erek*si yang terlalu kuat sampai sulit dikeluarkan dari va*gina. Selain karena erek*si yang terlalu kuat, gancet juga bisa disebabkan karena vaginismus atau liang va*gina yang menyempit.
__ADS_1
Kondisi ini terjadi saat otot-otot panggul bawah wanita berkontraksi sangat kuat ketika pe*nis berada dalam va*gina. Kontraksi kemudian membuat liang va*gina menyempit sampai menjepit pe*nis. Alhasil, laki-laki kesulitan untuk mengeluarkan pe*nis nya terlebih jika masih mengalami erek*si yang kuat.
"Oh ya, video ini juga akan aku jadikan bukti. Jika suatu saat nanti, pak Edi mencurangi saya," ucap Mahmudi, setelah tawa nya mereda. "Saya enggak tahu apa motif pak Edi ingin menjebak saya agar tidur dengan dia, tapi yang jelas saya tahu pasti.. ini ada hubungannya dengan kenaikan jabatan," lanjut nya, seraya menatap tajam Edi yang masih ditindih oleh Tari.
Edi terdiam, dan semakin panik.. hingga milik nya semakin tegang dan tetap menancap dalam pada milik Tari.
Tari yang juga stress berat, otot-otot panggul nya pun menegang.. hingga milik nya semakin menyempit dan menjepit milik Edi, dan pergerakan kecil saja dari Tari bisa membuat Edi maupun Tari merasa kesakitan.
"Aw,, sakit bo*doh! Diamlah! Jangan banyak bergerak!" Maki Edi, ketika Tari mencoba untuk melepaskan diri.
"Bukan hanya kamu yang sakit bandot tua! Milik ku juga perih!" Geram Tari, tak kalah tinggi suara nya.
"Udah, jangan pada ribut! Have fun aja lah...hahaha," ucap Mahmudi seraya terbahak, sambil melangkah kembali ke kamar sang istri.
"Mas Arif, tolong aku mas.. aku menyesal mas, aku minta maaf," rajuk Tari, yang masih berada di atas tubuh laki-laki paruh baya yang dikatai nya sebagai bandot tua.
"Silahkan kalian nikmati keintiman itu, sampai malam,,, sampai pagi,,, atau, kalau perlu sampai maut memisahkan kalian," pungkas Arif sambil berlalu meninggalkan kamar dimana dua manusia yang tersesat, tengah menikmati buah dari perbuatan mereka berdua.
Sebelum berlalu, Arif menutup pintu kamar itu kembali karena tak ingin perbuatan ibu dari anak-anak nya menjadi perbincangan umum. Karena bagaimana pun sakit hati nya Arif, dia harus tetap memikirkan perasaan anak-anak nya seperti yang dikatakan Seruni.
Di dalam kamar tersebut, Tari dan Edi masih saling menyalahkan. Makian, umpatan dan kata-kata kasar,, semua keluar dari mulut kedua nya yang saling menghujat dan mencari pembenaran diri. Rasa sakit di inti nya, juga sama-sama mereka berdua rasakan.
"Sakit mas, diam lah.. jangan marah-marah terus?" Pinta Tari akhir nya yang mengalah, dan tak lagi dengan nada suara nya yang tinggi.
Edi hanya membuang kasar nafas nya, "coba kamu searching di internet, bagaimana cara mengatasi ini," titah Edi, yang juga dengan merendahkan suara nya.
__ADS_1
Sementara di luar kamar, Arif masih berdiri terpaku sambil menyandarkan tubuh nya di depan dinding kamar Tari. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Anak ku yang kedua bahkan baru berusia beberapa bulan?" Tanpa disadari, air mata menyeruak dari sudut netra nya.
"Apa sebaik nya, aku ngobrol sama mbak Seruni ya? Biar aku dapat pencerahan?" Gumam Arif dalam hati, "wanita itu benar-benar luar biasa, pemikiran nya matang dan semua nya terencana dengan baik meski aku yakin hati nya tak sedang baik-baik saja," lanjut nya penuh kekaguman.
"Mahmudi benar-benar laki-laki bo*doh yang tak bisa melihat kemilau nya berlian di dalam rumah, malah mencari batu kali yang tak ada harga nya sama sekali," rutuk nya pada suami Seruni.
"Andai aku memiliki istri seperti mbak Seruni, pasti aku akan menjaga hati nya dan akan senantiasa membuat hati nya bahagia," lanjut Arif sambil tersenyum.
"Ah,, enggak-enggak, seperti nya aku sudah gila? Malah mengagumi istri orang lain, yang jelas-jelas mbak Seruni masih ingin mempertahankan rumah tangga nya?" Arif masih bermonolog.
"Tapi, jika mbak Seruni udah enggak mau lagi sama si Mahmudi itu, bolehlah aku kejar dia," kembali Arif tersenyum, dan dengan penuh semangat Arif mengetuk pintu kamar Seruni.
Tok,, tok,, tok,,
Di dalam kamar, Mahmudi yang sedang berusaha merayu istri nya di buat keki dengan suara ketukan pintu tersebut. "Siapa sih? Ganggu aja?" Geram Mahmudi, sambil berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki nya ke lantai. Sedangkan Seruni tersenyum senang, melihat wajah sang suami yang masam seperti belimbing wuluh tersebut.
Begitu pintu di buka, Mahmudi semakin masam saja wajah nya kala mendapati Arif berdiri di balik pintu. "Ada apa lagi?!" Tanya Mahmudi ketus.
"Saya kemari, di undang sama mbak Seruni. Dan tak sopan rasa nya, jika saya pergi tanpa pamit sama mbak Seruni," balas Arif dengan tenang.
"Oh, mas Arif." Ucap Seruni, yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Mahmudi.
"Masuk dulu mas Arif, kita ngobrol dulu di dalam," pinta Seruni, yang membuat Mahmudi semakin menekuk wajah nya.
"Sabar dik, sabar,,," gumam Mahmudi sambil mengelus milik nya yang sedari tadi sudah meronta akibat menyaksikan live streaming goyang dumang tepat di depan mata nya.
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏