
Keesokan harinya, Seruni yang baru saja mengantar kepergian suami dan kedua anak nya di teras depan.. di kejutkan dengan kedatangan Tiwi, yang hendak menjemput nya untuk di ajak ngobrol terlebih dahulu bersama Doni sebelum siang nanti mereka berencana untuk nonton bersama sahabat-sahabat nya yang lain.
"Wi, kok pagi-pagi udah sampai sini? Dari mana atau mau kemana?" Tanya Seruni terkejut, ketika Tiwi baru saja turun dari mobil nya.
Tiwi tak langsung menjawab, tapi cipika cipiki terlebih dahulu dengan sahabat nya itu. "Kamu mau nganter Tsalis ke sekolah kan? Yuk, aku antar.. sekalian ada yang mau aku obrolin," balas Tiwi kemudian.
"Aku sengaja sih kesini pagi, buat jemput kamu," lanjut nya, seraya nyelonong masuk. Seruni mengekor di belakang sahabat nya itu, dengan kening mengernyit.
"Ngobrol apa? Penting banget ya? Nanti siang kan, kita juga ketemu bareng sama anak-anak yang lain? Kenapa enggak nanti siang saja?" Cecar Seruni, seraya menatap dalam netra Tiwi yang sudah duduk di meja makan.
"Harus sekarang Run," balas Tiwi sambil menyomot tahu bakso dari meja makan, "karena ini urgent banget," lanjut nya, dan kemudian Tiwi asik menikmati tahu bakso buatan tangan Seruni tanpa mempedulikan Seruni yang masih berdiri menatap nya dengan tatapan penuh tanya.
"Udah, cepetan siap-siap.. nanti Tsalis terlambat loh," ucap Tiwi mengingatkan Seruni, yang masih terpaku di tempat nya.
Dan tanpa bertanya lagi, Seruni segera masuk kedalam kamar nya untuk mengambil tas. Seruni tidak perlu lagi mengganti pakaian, karena setiap pagi dia pasti sudah mengenakan pakaian rapi sebab harus mengantar putra bungsu nya ke sekolah dan lanjut ke toko milik nya.
"Ayo berangkat," ajak Seruni, "aku panggil Tsalis dulu dikamar," lanjut nya, sambil berjalan menuju kamar anak-anak.
Tiwi tak langsung beranjak, mencomot kembali tahu bakso yang sudah tidak lagi hangat itu tapi tetap enak.. karena Seruni memang jago masak.
"Ayo Wi!" Panggil Seruni dari ruang keluarga, karena sahabat nya itu tak kunjung keluar.
"Bentar, aku mau minum dulu," Tiwi pun mengambil air minum dari teko, menuang di gelas dan kemudian meminum nya dengan cepat. Dan dengan berlari kecil, Tiwi segera keluar menyusul Seruni yang sudah terlebih dahulu keluar dengan putra nya.
Ya, begitu lah Tiwi atau pun juga sahabat Seruni yang lain, mereka satu sama lain sudah terbiasa melakukan apa-apa sendiri di rumah sahabat nya.
"Kita mau ngobrol tentang apa sih Wi?" Tanya Seruni, setelah mengantar kan putra nye ke sekolah dan Tiwi sudah melajukan mobil nya membelah jalan raya untuk menuju sebuah kafe yang di rekomendasikan oleh Doni tanpa Seruni ketahui.
__ADS_1
"Nanti di kafe kamu juga bakalan tahu," balas Tiwi, dengan pandangan fokus ke depan.
Seruni terdiam, tak lagi bertanya meski dalam hati wanita yang tengah hamil besar itu begitu penasaran,,, dengan apa yang akan di obrolkan oleh sahabat nya itu.
Seruni akhirnya memilih fokus ke ponsel untuk mengecek toko online milik nya meski sudah ada admin yang menghandle, daripada pikiran nya sibuk menerka-nerka apa yang akan dibicarakan oleh Tiwi nanti.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Tiwi berbelok menuju ke sebuah kafe. "Kita sudah sampai," ucap Tiwi, setelah berhasil memarkir mobil nya di tempat yang telah di sediakan.
"Yuk turun," ajak Tiwi, dan kedua wanita cantik itu pun segera turun dari mobil mewah milik Tiwi.
"Om Doni udah nyampe duluan deh kayak nya, tuh mobil nya udah ada," ucap Tiwi seraya menunjuk mobil sport milik Doni, yang terparkir tak jauh dari mobil Tiwi.
Deg,,, jantung Seruni berdetak lebih kencang.
"Doni? Kenapa ada Doni juga? Tiwi mau ngobrolin apa sih?" Pikiran Seruni mulai berkecamuk, ada sedikit rasa tak nyaman di hati Seruni ketika tadi Tiwi menyebut nama Doni di saat hanya ada mereka berdua saat ini.
"Pagi Un,," sapa Doni, ketika Seruni dan Tiwi sampai di meja Doni.
"Pagi Don," balas Seruni mencoba untuk bersikap tenang, sambil menjabat tangan Doni yang terulur terlebih dahulu.
Seruni tak langsung duduk, karena Doni tak juga melepaskan jabat tangan nya. Netra elang Doni terus menatap dan mengagumi kecantikan natural Seruni, tanpa berkedip.
"Don, aku boleh duduk enggak. Bumil loh ini, pegel tau lama-lama berdiri," protes Seruni seraya tersenyum, dan mencoba mencair kan suasana hati nya sendiri.
Sontak, Doni tersadar dari apa yang di lamun kan nya dan kemudian segera melepaskan tangan lembut Seruni yang selalu dia rindukan itu. "Maaf Un, habis nya aku kangen sama kamu," ucap Doni, yang jujur dari lubuk hati nya yang terdalam.
Seruni hanya tersenyum dan menggeleng, dan kemudian segera duduk mengambil jarak dari Doni.
__ADS_1
"Jangan jadi pebinor deh om,," cibir Tiwi, sambil mencubit lengan sepupu nya itu.
"Aduh kak, sakit tau..." protes Doni, "nama nya juga usaha, kan sah-sah aja. Kalau wanita nya enggak mau, juga enggak bakalan aku jadi pebinor. Paling di sebut nya, si purilan," lanjut Doni seraya terkekeh.
Seruni dan Tiwi mengernyit, "apaan itu?" Tanya keduanya kompak.
"Si pungguk yang merindukan rembulan," jawab Doni seraya menatap dalam netra indah milik Seruni, membuat Seruni langsung mengalihkan pandangan kearah lain.
Sedangkan Tiwi terkekeh mendengar jawaban Doni, "ya, ya,, kamu benar om. Kamu memang pantas di sebut si purilan," olok Tiwi masih dengan tawa nya, sambil menunjuk adik sepupu nya.
Doni pun ikut terkekeh kembali, menertawakan ketidakberuntungan diri nya sendiri yang tak bisa memiliki wanita yang sangat dia cintai.
"Kita hanya bertiga nih? Mau ngomongin apa sih?" Tagih Seruni seraya menatap Doni dan Tiwi bergantian, setelah tawa keduanya terhenti.
Sejenak hening menyapa meja mereka, seorang waiters datang membawa kan minuman dan makanan ringan yang telah dipesan oleh Doni sebelum Seruni dan Tiwi datang tadi.
"Minum juz nya dulu deh Un, pasti kamu haus kan? Ini aku pesankan jus kesukaan kamu," Doni mendekatkan jus alpukat yang di blender kasar dengan taburan keju di atas nya ke hadapan Seruni, dengan penuh perhatian. Jus itu memang favorit Seruni, dan mendapat perhatian seperti itu dari Doni membuat Seruni sekilas mengenang masa lalu nya yang indah bersama Doni.
"Laki-laki ini masih saja sama seperti dulu, penuh perhatian dan tatapan mata nya selalu hangat." Gumam Seruni dalam hati, dengan tersenyum samar.
"Tidak, tidak,, ini tidak lah benar. Semua memang terlihat bagus dan indah jika kita belum menggenggam nya, namun ketika kita sudah berhasil mendapatkan dan memiliki nya pasti rasa nya akan sama saja.. atau bahkan mungkin, bisa jadi enggak akan ada artinya lagi?"
"Itulah sifat manusia yang enggak pernah merasa puas dan tidak pandai bersyukur, hingga akhirnya perselingkuhan sering kali terjadi,,, sebab, melihat yang di luar lebih indah dan sempurna dari pada yang di rumah." Seruni bermonolog dalam diam, dan wajah cantik itu tiba-tiba menjadi murung.
Seruni mengingat perselingkuhan sang suami, dengan wanita muda yang tak lebih cantik dari diri nya. "Apa yang kamu cari sebenarnya pa?"
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Si purilan kira-kira akan bersatu dengan mam Uun gak ya?