Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
27. Beranikah Aku Bicara Jujur?


__ADS_3

Mahmudi berjalan bersisihan Dengan Tari sambil menggandeng tangan wanita itu, yang pura-pura berjalan dengan lemah. Mereka tak perlu menaiki mobil, karena letak hotel yang dituju, tepat berada di sebelah resto tempat mereka berdua makan siang barusan.


Mahmudi segera check-in, dan setelah mendapatkan kunci kamar hotel.. Tari dengan tidak sabar, menyeret tangan Mahmudi untuk masuk kedalam lift untuk menuju kamar mereka yang berada di lantai tiga.


Di dalam lift yang kebetulan hanya ada mereka berdua, Tari langsung memeluk Mahmudi dan menciumi ceruk leher laki-laki tiga anak itu,,, yang membuat Mahmudi sedikit merasa risih dan berusaha menjauh.


Hati dan pikiran pikiran Mahmudi kini di penuhi oleh bayangan istri cantik nya yang sedang hamil besar, dan ketiga anak nya yang penurut dan selalu membuat hati nya merasa tenang.


Tingkah Tari yang agresif membuat laki-laki itu menjadi ilfil dan waspada tingkat tinggi, "aku harus cari alasan, agar tidak ikut masuk kedalam kamar hotel. Bisa bahaya kalau sampai aku masuk, wanita ini bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan," gumam Mahmudi dalam hati.


Ting,,,


Dan aksi Tari terhenti, ketika pintu lift terbuka. Bergegas Tari yang sudah dikuasai naf*su bira*hi, menyeret lengan Mahmudi untuk menuju kamar nya.


Tari merebut kunci dari tangan Mahmudi dan dengan cepat membuka pintu kamar hotel, "ayo mas, kita masuk," ajak Tari dengan tidak sabar.


"Duh, bentar dik. Aku lupa, kalau habis jam makan siang di tunggu sama pak Wali untuk rapat. Aku balik ke kantor dulu ya, kamu istirahat lah.. nanti kalau rapat nya sudah selesai, aku akan segera telpon kamu," ucap Mahmudi mencari alasan, dan segera berlalu menuju lift meninggalkan Tari seorang diri yang menahan bira*hi dan amarah yang bercampur menjadi satu.


"Kurang ajar! Dia menolak ku!" Geram Tari, sambil membanting pintu kamar hotel begitu keras.


Tari melepas kasar hijab modern yang menutupi rambut nya, wanita dengan make up tebal itu berjalan mondar-mandir mengelilingi kamar hotel dengan ranjang besar di dalam nya.


"Aku harus gimana sekarang? Apa aku harus menunggu mas Mahmudi selesai rapat? Ah,, tidak! Aku sudah tidak tahan, dan aku tidak membawa se*ks toys?" Keluh Tari, yang mulai kelimpungan karena has*rat nya telah mencapai ubun-ubun dan tak dapat terbendung lagi.

__ADS_1


Tari mengobrak-abrik isi tas nya seperti orang gila, mencari-cari sesuatu. Namun, hingga semua isi tas nya di keluarkan.. Tari tak menemukan apapun yang bisa memenuhi has*rat nya yang menggebu.


"Mas Edi, aku harus telpon dia sekarang. Sayang banget, dapat kamar bagus dan adem seperti ini jika tidak dimanfaatkan dengan maksimal," gumam Tari, sambil mendial nomor laki-laki yang selama ini menjadi teman kencan nya dan memuaskan naf*su liar nya.


Tari menempel kan ponsel ke telinga kiri nya, sedangkan tangan kanan nya sibuk mere*mas salah satu gunung kembar milik nya sendiri.


Wanita itu mele*nguh kecil merasai rangsangan dari tangan nya sendiri yang memainkan puncak gunung Himalaya milik nya, ketika suara seseorang di seberang sana terdengar menyapa nya.


"Halo sayang,,," sapa Edi dengan suara berat nya.


"Auh,,,, mas, cepetan mas Edi kesini. Aku di hotel XX kamar nomor tiga belas lantai tiga, cepetan mas... aku sudah tidak tahan," desah Tari, yang terdengar seksi di telinga Edi.


"Oke sayang, aku segera meluncur," balas Edi dengan penuh semangat, karena sebentar lagi laki-laki paruh baya itu akan bisa segera ganti oli tanpa mengeluarkan biaya.


_____


Sedangkan Mahmudi yang kini sudah berada di kantor nya kembali, dapat menarik nafas dengan lega.


"Aku harus selesaikan pekerjaan ini dengan cepat, agar bisa segera pulang. Jika mama belum pulang, aku akan menjemput nya di bioskop. Dia pasti akan senang, mendapatkan kejutan kecil dari ku," gumam Mahmudi seraya tersenyum, dan mulai membuka berkas-berkas yang ada di atas meja kerja nya.


Mahmudi baru saja menyelesaikan satu berkas, ketika tiba-tiba ingatan nya tertuju kembali pada Tari. "Ah, wanita itu. Aku harus bisa bersikap tegas, dan segera memutuskan hubungan yang tidak benar ini. Seperti nya, dia mulai ingin menguasai diri ku. Tidak, ini tak bisa aku biarkan. Aku kan awalnya hanya iseng, dan aku pikir dia juga sama.. karena dia juga sudah menikah," Mahmudi bermonolog dengan diri nya sendiri.


Laki-laki bertubuh gagah dan berkulit coklat itu kemudian segera beranjak, "aku lanjut besok aja lah, aku akan telpon mama dan menjemput nya," Mahmudi melirik jam tangan couple di tangan nya, dan kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi sang istri.

__ADS_1


Tangan nya baru hendak mendial nomor sang istri ketika tiba-tiba Mahmudi teringat sesuatu. "Tidak, tidak,, di sana pasti ada Doni dan Tiwi, aku malu jika sampai bertemu dengan mereka berdua," keluh Mahmudi, yang kini benar-benar menyesali perbuatan nya yang main serong di belakang sang istri... hingga akhirnya ketahuan sahabat-sahabat istri nya.


Mahmudi kembali mendudukkan diri di kursi empuk milik nya, pikiran nya kini menjadi tidak tenang, "gimana kalau mereka cerita sama mama ya? Bisa mati aku kalau mama marah besar,," Mahmudi mengusap kasar wajah nya.


Untuk sesaat, laki-laki itu menimbang-nimbang. "Aku harus telpon mama, aku laki-laki.. apa yang akan terjadi, harus aku hadapi. Ini salah ku, dan aku harus siap mempertanggung jawabkan nya. Siap atau tidak siap. Meski aku tetap berharap, mama jangan sampai tahu perbuatan ku. Aku enggak mau mama sakit hati," lagi, Mahmudi bermonolog dengan diri nya sendiri.


Mahmudi kembali mengeluarkan ponsel dengan logo apel bekas gigitan vampir, hadiah dari sang istri. Dan dengan segenap keberanian yang dia miliki, akhirnya jari Mahmudi berhasil mendial nomor sang istri.


"Halo mas," terdengar suara merdu menyapa, dari ujung sana.


"Ma, mama udah selesai nonton nya? Udah jalan pulang belum?" Tanya Mahmudi.


"Ini baru aja keluar dari bioskop pa," balas Seruni, "tapi mau mampir dulu ke butik Fina, anak-anak pada ngajakin ke sana. Aku boleh ikut kan mas?" Pamit Seruni.


"Butik yang dimana? Biar papa susul mama ke sana?" Tanya Mahmudi, "ini kerjaan papa, juga udah selesai kok ma. Daripada Tiwi nganterin mama pulang, kasihan nanti dia kesorean sampai ke rumah," terang Mahmudi.


"Yang di jalan Gajah Mada pa, sebelah stasiun radio itu lho," balas Seruni dengan suara nya yang terdengar sangat bahagia.


"Oke ma, sampai nanti ya," senyum Mahmudi mengembang sempurna, seperti ada kelegaan yang luar biasa karena berhasil mengalahkan ketakutan nya.


"Aku masih punya satu PR, yaitu jujur pada mama dan mengakui semua kesalahan ku. Sanggup kah aku mengatakan nya? Beranikah aku bicara jujur?" Mahmudi berbisik pada diri nya sendiri, sambil melangkahkan kaki nya dengan cepat menuju tempat dimana mobil nya terparkir.


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2