
"Ma, ada apa?" Tanya Mahmudi yang mulai panik, Mahmudi dapat menangkap kegelisahan di wajah sang istri.
"Aku udah mau melahirkan pa, ketuban nya udah pecah," balas Seruni yang mencoba untuk bersikap tenang.
Doni langsung beranjak, "bro, bawa istri mu ke mobil ku. Aku antar kalian ke klinik terdekat," titah Doni, seraya hendak keluar untuk menyiapkan mobil.
Namun baru saja Doni melangkah, dari arah dalam.. yu Siti nampak tergopoh-gopoh dengan wajah yang sangat panik, "non Uun, maaf.. itu putra nya yang kecil berdarah non," ucap yu Siti dengan tergesa.
"Berdarah? Maksudnya gimana yu?" Tanya Seruni dengan panik.
"Tadi mereka main kejar-kejaran non, saya juga ndak tahu gimana kejadian nya," balas yu Siti dengan jujur.
"Tsalis nya sekarang dimana?" Tanya Mahmudi dengan wajah kebingungan.
"Ada di dalam, sama suami saya," jawab yu Siti, sambil menunjuk arah dalam.
"Papa tolongin Tsalis aja pa, cepat pa," pinta Seruni.
"Terus, mama gimana?"
"Udah, biar Runi sama Tiwi dan Doni. Ayo, kita lihat keadaan anak kalian," Dewa segera menyeret lengan Mahmudi dan membawa nya masuk kedalam, dan laki-laki ayah dari tiga anak itupun hanya bisa nurut dan berjalan mengikuti langkah Dewa.
Sedangkan Doni yang mengurungkan niat nya untuk menyiapkan mobil, menatap Seruni dengan bingung. Hingga Tiwi menyadarkan lamunan nya, "om Doni, ayo bantu Runi jalan."
"Oh iya," Doni segera menghampiri Seruni dan Tiwi, "masih sanggup jalan apa enggak Un? Aku gendong aja ya?" Tawar Doni dengan tulus, dan tanpa menunggu persetujuan Seruni, Doni langsung menggendong wanita yang akan melahirkan itu tanpa rasa risih padahal dress Seruni sudah basah oleh air ketuban yang telah pecah.
Tiwi langsung berlari keluar, yang disusul oleh suami nya untuk menyiapkan mobil Doni.
Sedangkan Nila dan yang lain nya, menyusul Mahmudi dan Dewa kedalam villa untuk memastikan anak-anak mereka baik-baik saja.
"Pa, aku temani om Doni ke klinik ya? Papa tolong urus anak-anak," pinta Tiwi pada suami nya, ketika Doni telah mendudukkan Seruni di dalam mobil. Dan Doni kemudian membuka pintu kemudi dan duduk di belakang kemudi.
"Iya ma, mama santai saja." Balas sang suami, dengan penuh pengertian.
"Mas, tolong sampaikan pada kang Udin agar menyusul ke klinik dan membawakan aku baju ganti," pinta Doni pada suami Tiwi.
"Oke om, jangan panik nyetir nya," suami Tiwi yang berwibawa itu mengingatkan, dan Doni mengangguk seraya tersenyum.
Doni segera melajukan mobil nya, membelah jalanan pegunungan yang dingin dan berkabut untuk menuju klinik terdekat.
__ADS_1
"Don, maaf ya.. baju kamu jadi basah," lirih Seruni dengan tak enak hati, seraya menatap Doni melalui pantulan rear vision mirror.
"Tak mengapa Un, hanya basah bisa ganti kan?" Balas Doni dengan santai, dan membalas tatapan wanita yang sulit dilupakan nya itu seraya tersenyum hangat.
Sedangkan Tiwi, nampak sibuk dengan ponsel nya dan terlihat sedang berbalas pesan dengan Nila.
"Nila dan suami nya akan segera menyusul, sambil membawakan tas kamu Run. Karena suami kamu dan Dewa, membawa Tsalis ke dokter Agung yang arah nya berlawanan dengan kita. Tsalis butuh pertolongan cepat, dan Dokter Agung yang terdekat dari villa om Doni," terang Tiwi setelah bertukar pesan dengan Nila.
"Ya Allah, parah kah kondisi Tsalis?" Seruni nampak sangat khawatir.
Tiwi menggenggam tangan sahabat nya itu, "hanya luka kecil di pelipis, tapi karena mengeluarkan darah.. Tsalis nangis terus, jadi nya susah untuk diobati. Tenangkan diri mu, fokus pada bayi yang ingin segera lahir dan melihat mama nya yang cantik ini," hibur Tiwi, dengan tersenyum hangat.
"Dan melihat om nya yang paling tampan," timpal Doni dengan menoleh sekilas ke belakang, sembari mengerling pada Seruni. Hingga membuat Seruni ikut tersenyum.
Hening sejenak menyapa, masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri.
"Aw,,," rintihan lirih Seruni, mengurai keheningan dan membuat Doni menjadi panik.
Tiwi mengelus perut Seruni sambil berbisik, "tarik nafas dalam-dalam, keluarkan perlahan melalui mulut."
"Un, kita ke klinik tapi bukan klinik khusus bersalin.. tak mengapa kan?" Tanya Doni, "karena itu yang terdekat," lanjut nya dengan suara yang terdengar panik.
"Iya Un, ini aku udah percepat kok," balas Doni yang tatapan nya fokus ke jalan raya, gerimis kecil nampak mulai membasahi jalanan yang berkelok tersebut.
Setelah lika belas menit melaju dengan jantung yang berdebar kencang, berpacu dengan kecepatan mobil yang dikendarai nya.. Doni membelokkan mobil nya menuju klinik dua puluh empat jam, dan kemudian segera memarkirkan mobil tepat di depan lobi.
Doni segera turun dan membuka pintu mobil bagian belakang dimana Seruni duduk, dan tanpa berkata-kata Doni kembali menggendong Seruni dan membawa nya masuk kedalam klinik.
Tiwi yang sudah terlebih dahulu masuk berbicara pada petugas jaga, dan perawat tersebut mengarahkan Doni untuk membaringkan pasien di ruang IGD.
Perawat segera memanggil bantuan, dan dalam sekejap ruangan yang didominasi warna putih itu terlihat sibuk dengan lalu lalang orang-orang dengan pakaian yang serba putih.
Brankar tempat Tiwi berbaring dipindahkan ke sisi yang lain, dan langsung ditutup dengan kain penyekat. Karena seperti nya, seorang dokter yang telah bersiap dengan tangan yang telah terbungkus oleh surgical gloves atau sarung tangan medis, akan mengecek kondisi Seruni.
"Maaf, bisa tinggalkan pasien bersama kami? Kami akan segera menangani pasien, kerena pembukaan nya sudah hampir penuh," tutur dokter dengan name tag dr. Nurida, Sp.Og yang baru keluar dari ruangan tempat dimana Seruni berada.
"Apakah tidak boleh jika kami menemani nya dok?" Tawar Doni penuh harap, sedangkan Tiwi mengernyitkan dahi.
"Om, biasa nya hanya suami atau ibu nya yang boleh menemani," bisik Tiwi.
__ADS_1
"Kakak bilang saja, aku suami pasien," balas Doni dengan berbisik pula.
"Maaf bu dokter, suami nya ingin menemani. Boleh kan?" Pinta Tiwi, dan dokter tersebut mengangguk.
"Tentu boleh mbak, mas. Silahkan,," balas dokter yang masih muda tersebut dengan ramah.
"Yes," sorak Doni dalam hati, bibir laki-laki berbadan tegap dan berkulit putih bersih itu menyunggingkan senyum lebar.
"Aku masuk kak," pamit Doni, yang langsung mengikuti langkah dokter menuju ruang bersalin yang tertutup korden berwarna hijau. Sedangkan Tiwi langsung berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Seruni nampak terkejut kala melihat Doni berjalan di belakang dokter yang tadi memeriksa nya. Dan buru-buru Doni menempelkan ibu jari nya ke bibir, sebagai tanda agar Seruni tidak bicara apapun.
Doni langsung mendekati Seruni, "ijinkan aku menemani kamu, sebelum aku pergi dan kita benar-benar berpisah," pinta Doni, dengan berbisik di telinga Seruni.
Seruni tak bisa berbuat apa-apa, wanita yang tengah berjuang melawan rasa sakit demi melahirkan sang buah hati itu hanya membisu.
Doni kemudian menggenggam tangan Seruni, kala Doni melihat wajah ayu itu meringis menahan sakit. "Apa sakit banget Un?" Bisik Doni, dan Seruni hanya menjawab nya dengan gumaman.
"Heem,,," Seruni menggigit bibir bawah nya dan tangan nya mengeratkan genggaman tangan Doni.
"Gigit aku aja Un, dimana aja,, sesukamu," lirih Doni seraya tersenyum, yang membuat Seruni mau tak mau ikut tersenyum.
"Jangan aneh-aneh kamu Don," balas Seruni, juga dengan lirih.
Sedangkan di bawah sana, dokter Nurida kembali melakukan pengecekan kedalam inti Seruni hingga membuat Seruni kembali meringis. Dan Doni ikut meringis, seolah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Seruni.
"Sudah lengkap pembukaan nya ya mbak, ayo posisi kan kaki dengan benar." Titah dokter Nurida sambil membantu Seruni memposisikan kaki nya dengan nyaman.
Sedangkan tiga orang perawat nampak mempersiapkan segala sesuatu, untuk proses persalinan Seruni.
"Atur pernafasan dulu ya mbak, yuk tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan perlahan-lahan," pandu dokter wanita itu dengan tutur kata nya yang lembut.
Dan Seruni mengikuti instruksi dari dokter tersebut, sedangkan Doni dengan telaten mengelap kening Seruni yang telah basah oleh keringat dengan sapu tangan yang selalu ada di kantong celana nya.
"Tarik napas dalam-dalam, buang perlahan, dan dorong...” instruksi terakhir dari dokter Nurida diikuti oleh Seruni seraya mengangkat punggung dan mendorong ke depan hingga dagu nya menempel di dada dan posisi Seruni menjadi setengah duduk.
Disaat yang sama, dokter Nurida telah bersiap menyambut bayi tersebut, dan.. "oe,,,," suara tangis bayi yang melengking memenuhi ruangan yang bercat putih itu seketika membuat Seruni menitikkan air mata.
Dan Doni dengan reflek mencium kening Seruni dengan dalam, layak nya suami yang mencium kening sang istri untuk menggambarkan perasaan suka cita dan rasa syukur karena istri dan buah hati nya telah selamat.
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏