
Seruni segera manarik tangan nya, "aku lebih suka jika kau genggam tangan ku sebagai sahabat Don, seperti hal nya Dewa atau sahabat kita yang lain.. karena kisah kita, sudah lama usai." Seruni menatap dalam netra Doni, mengharap pengertian laki-laki tampan di hadapan nya.
"Aku bukan lagi Uun mu yang yang masih single seperti yang kamu kenal dulu Don, aku sudah menjadi ibu.. bahkan anak ku sudah mau empat." Seruni sejenak menghentikan ucapan nya, dan meraba bayi yang ada dalam perut yang tiba-tiba memberi nya tendangan kecil
"Kamu tampan Don, kamu mapan.. dan kamu punya segala nya." Seruni menepuk-nepuk punggung tangan Doni yang masih berada di atas meja, "mulailah buka lembaran baru Don, jangan terpaku dengan kisah masa lalu yang memang enggak bisa kamu genggam. Aku yakin kamu bisa, pasti bisa."
Doni menggeleng lemah.
"Kamu hanya butuh sedikit tekat dan keberanian untuk itu, yakinlah Don?! Jika kamu sudah menemukan seseorang, meski awal nya kamu belum bisa mencintai dia dengan seutuhnya,,, maka seiring berjalan nya waktu, sering nya kebersamaan kalian dan perhatian kecil yang diberikan pasangan mu, pasti akan bisa membuat mu melupakan masa lalu kita."
Doni menggeleng lebih kuat.
"Aku contoh nya Don?!" Ucap Seruni penuh penekan, mencoba meyakinkan laki-laki di hadapan nya yang dulu selalu mengisi hari-hari indah nya itu.
"Jangan kamu pikir, dulu aku begitu mudah melupakan diri mu setelah sekian lama kebersamaan kita,,, dengan mimpi-mimpi indah yang kita rajut bersama, sejak kita masih duduk di bangku Sekolah. Tapi aku terus mencoba dan berusaha Don, hingga aku bertemu dengan mas Mahmudi." Seruni mengalihkan pandangan nya jauh ke depan, menerawang di masa belasan tahun silam.
"Aku beranikan diri untuk membuka hati untuk laki-laki lain, meski saat itu aku tak benar-benar yakin dengan perasaan ku. Tapi aku harus tetap mencoba nya bukan? Karena aku juga ingin bahagia?! Dan bersamamu? Jelas saat itu tak mungkin kan Don? Karena orang tua mu menolak ku," kembali Seruni menatap Doni.
"Tapi aku enggak mau menjadi wanita cengeng, wanita yang menyerah begitu saja ketika cinta nya tak bisa bersatu dengan laki-laki yang diharapkan. Masih ada cinta lain, yang pasti bisa membawaku untuk meraih kebahagiaan."
Kedua netra itu bertemu, saling menatap dengan arti masing-masing.
"Dan, inikah kebahagiaan yang kamu maksud Un? Dia menyakiti mu Un.. Dia membuat mu terluka??!" Netra Doni kembali berkaca-kaca, dan Doni meraih kembali tangan Seruni untuk di genggam.
Tiwi yang sedari tadi menyimak, menggeleng-gelengkan kepala nya.
Seruni menarik nafas dalam-dalam, dan menghembus nya perlahan. Dia biarkan saja Doni menggenggam kembali tangan nya, sambil Seruni berpikir keras bagaimana cara nya berbicara pada Doni.
__ADS_1
Benar apa kata sahabat-sahabat nya, meyakinkan Doni agar mau membuka hati nya kembali untuk wanita lain... ternyata memang sangat sulit.
Tiwi bahkan sudah menyerah, karena usaha yang dilakukan nya selama ini selalu dimentahkan oleh Doni.
"Setiap manusia pasti pernah berbuat kesalahan kan Don?" Seruni kembali menatap Doni, kali ini dengan tatapan lembut. "Dan aku yakin, suamiku hanya sedang khilaf." Dalam hati, Seruni juga mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Dia pasti akan segera menyadari kesalahannya," lanjut nya mencoba meyakinkan Doni, meski ada sedikit keraguan di hati nya.
"Kamu terlalu baik Un, hati mu terlalu lembut." Doni mengeratkan genggaman tangan nya, "kenapa kamu selalu saja, begitu mudah memaafkan setiap kesalahan yang orang lain lakukan pada mu Un? Kenapa?! Bahkan, kamu juga memaafkan kedua orang tua ku.. yang jelas-jelas telah menghina mu Un?!" Air mata Doni, mulai tak dapat dibendung. Laki-laki itu memang selalu melankolis, jika menyangkut segala hal tentang Seruni.
"Udah dulu ya, pegang tangan nya," ucap Seruni sambil menarik kembali tangan nya, "tangan ku ada lem nya loh, kalau di pegang terus,,, nanti kamu akan semakin sulit untuk melepaskan, karena kadung nempel," canda Seruni seraya tersenyum, untuk mencair kan suasana.
Doni pun ikut tersenyum, begitu juga dengan Tiwi.
Seruni kemudian menyodorkan tissue kepada Doni, "pak Dirut enggak boleh menangisi emak-emak yang buntut nya udah banyak, buruan di lap air mata nya," titah Seruni, masih dengan senyum nya yang manis.
"Om Doni memang cengeng kalau berurusan dengan masalah cinta kalian Run, dulu waktu kalian udahan.. sampai seminggu kan dia dirawat di rumah sakit? Padahal, luka luar nya tak seberapa?" Kenang Tiwi, sambil menatap sepupu nya yang masih sibuk mengelap wajah.
"Luka dalam nya yang menganga kak," lirih Doni dengan tersenyum getir, sedangkan Seruni menatap Doni dengan perasaan iba.
"Maaf ya Don, saat itu aku sengaja enggak menjenguk mu. Kamu pasti tahu kan, apa alasan ku?" Ucap Seruni.
Doni menggeleng, "tak mengapa Un, aku tahu kok. Aku yang minta maaf, karena enggak berhasil meyakinkan orang tua ku.. bahwa kamu adalah wanita terbaik untuk ku," balas Doni dengan tatapan sendu.
Saat itu, mendengar papa dan mama nya mencaci maki Seruni dan mengusir wanita yang sangat disayangi nya begitu saja dari rumah megah kedua orang tua nya... Doni yang mencoba mengejar Seruni dan tak melihat dengan benar kondisi jalanan, tiba-tiba terpental jatuh karena di seruduk oleh sepeda motor yang melaju dengan kencang.
Doni yang pingsan segera dilarikan ke rumah sakit, dan harus dirawat hingga seminggu lama nya.. bukan karena luka nya yang parah akibat kecelakaan, tapi karena luka hati nya yang menganga sebab tak dapat mengantongi restu kedua orang tua nya.
__ADS_1
Selama di rumah sakit, Doni terus mencoba untuk meyakinkan kedua orang tua.. namun hasil nya tetap saja sama. Sang papa dan mama tetap kekeuh dengan pendirian nya, yang mengutamakan bibit bebet dan bobot... dan menghendaki menantu, dari kalangan ningrat seperti mereka.
Mereka tak merestui hubungan sang putra dengan Seruni, yang hanya seorang gadis dari keluarga sederhana.
"Udah ah, malah mengenang masa lalu," ucap Tiwi, setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Lah, kan kakak yang mengingatkan?!" Protes Doni.
"Iya, iya,, aku minta maaf om," balas Tiwi sambil tersenyum dan mulai mengambil camilan, "sambil di makan yuk Run," lanjut nya, sambil menyodorkan piring yang berisi lumpia yang masih hangat kehadapan Seruni.
Dan mereka pun kemudian menikmati camilan dengan ditemani keheningan, masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Run, jadi suami kamu belum tahu ya, kalau kamu sudah mengetahui perselingkuhan nya?" Tanya Tiwi mengurai keheningan.
Seruni menggeleng,
"Kalau menurut ku nih Run, sebaiknya kamu katakan saja kalau kamu sudah mengetahui belang nya suami kamu itu sambil kamu tunjukkan bukti-bukti yang sudah kamu miliki." Tiwi menatap Seruni, "biar dia enggak mengira bahwa kamu adalah istri bodoh yang mudah untuk di bohongi, dan kamu juga jadi punya bergain di mata nya dia."
Seruni masih terdiam.
"Jika dia akhirnya memutuskan untuk menyudahi perselingkuhan nya, biar dia mikir seribu kali,,, kalau mau mengulangi kesalahan nya lagi?!" Lanjut Tiwi, penuh penekanan.
Doni mengangguk-angguk, "benar itu Un, kamu harus terlihat kuat di mata suami kamu. Kalau perlu, kamu buat kesepakatan jika benar dia memilih mempertahankan rumah tangga kalian?!" Imbuh Doni dengan berapi-api.
"Jadi, kamu beneran dah rela nih om.. kalau Runi baikan sama suami nya??" Seloroh Tiwi, seraya memainkan alis nya dan tersenyum menggoda.
"Asal Uun bahagia,, apapun itu, aku pasti rela."
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏