Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
24. Pasangan Sejati yang Tak Direstui


__ADS_3

Mereka bertiga pun melanjutkan ngobrol, hingga tanpa terasa waktu menjelang siang.


"Cabut yuk, langsung ke tempat biasa. Nila udah on the way kata nya," ajak Tiwi.


Mereka bertiga bergegas meninggalkan kafe tersebut, menuju mall terbesar di kota itu untuk nonton bareng bersama sahabat-sahabat nya yang lain.


Setiba nya di mall, Doni, Tiwi dan Seruni langsung berjalan menuju restoran cepat saji.. tempat mereka janjian untuk bertemu. Dari jauh, terlihat Nila sudah menunggu di dalam resto.


"Kok, kalian bisa barengan?" Tanya Nila, penuh selidik. Pasal nya Nila tahu persis, Seruni lebih senang menghindar dari Doni.


"Tadi aku yang jemput Runi, terus tadi waktu di jalan om Doni telpon.. kata nya juga lagi mau jalan. Ya udah, mobil kami jalan barengan. Kebetulan kan aku lewat depan kantor nya om Doni," terang Tiwi, memberikan alasan.


Nila mengangguk mengerti.


Seruni merasa lega, mendengar jawaban Tiwi. Sebab sebelum nya, Seruni merasa was-was dan khawatir kalau Tiwi akan keceplosan dan menceritakan tentang masalah rumah tangga nya pada Nila.


Mereka bertiga pun kemudian duduk bersama Nila, dan memesan makanan. Sedangkan Nila, sudah mulai menikmati makan siang nya.


Ya, begitulah kebiasaan mereka. Jika sudah lapar, tak perlu menunggu yang lain untuk memesan makanan. Tapi yang bayar, yang paling akhir makan nya.


"Wih, tumben pak Dirut bisa datang awal?" Celoteh Rindi beberapa saat kemudian ketika mereka sedang menikmati makan siang, Rindi kali ini datang bersama Dewa.


"Bukan awal lagi Rin, tapi dia yang paling bersemangat dan yang datang pertama tadi ketika kami ketemuan bertiga," gumam Tiwi dalam hati.


"Aku pesankan makan dulu ya Rin," ucap Dewa.


Rindi mengangguk, dan kemudian menyalami sahabat-sahabat nya yang sudah datang terlebih dahulu. Rindi kemudian mendudukkan diri nya di samping Tiwi.


"Nah kamu, tumben-tumbenan datang bareng Dewa. CLBK ya kalian?" Tuduh Doni, sambil menatap Rindi dan Dewa yang masih berdiri.


"Hari gini, CLBK?! Enggak jaman nya lagi bro?!" Balas Dewa dengan santai, dan kemudian duduk di samping Rindi.


"Hem,, betul banget tuh, apa yang dikatakan pakdhe Dewa. Yang lalu biarlah berlalu," imbuh Rindi seraya tersenyum.


"Memang nya, suami kamu kalau lihat kalian jalan bareng gini,, enggak marah ya Rin?" Tanya Doni, yang memang jarang ikut ngrumpi di group chat bersama geng nya. Doni paling hanya akan scroll scroll, dan sesekali menanggapi jika Seruni muncul di group tersebut.


"Ya enggak bakalan lah bro, malah kalau kami mau pergi.. suami nya Rindi sendiri yang nitipin bini nya sama aku," balas Dewa.


"Maka nya baca chat di group Don, jangan Runi terus yang kamu kepoin?!" Olok Nila, yang makanannya sudah habis terlebih dahulu.


"Ck,," Doni berdecak, "apa hubungannya hubungan mereka berdua sama group chat?" Tanya Doni tak mengerti.


"Lah, beneran ketinggalan info dia?!" Sahut Rindi, sambil mulai menikmati makanan nya.

__ADS_1


"Jadi nih ya om, suami Rindi itu ternyata saudara nya istri nya Dewa." Terang Tiwi, "sepupuan gitu ya, kalau enggak salah?" Tiwi menatap Rindi.


Rindi mengangguk, "suami ku, adik sepupu nya istri nya Dewa. Keluarga mereka udah lama banget terpisah, dan baru-baru ini aja ketemu nya," jelas Rindi.


Doni mengangguk-angguk, "pantesan, tiba-tiba kamu manggil Dewa pakdhe, kirain panggilan kesayangan baru," ucap Doni seraya tersenyum.


"Panggilan kesayangan,, emang nya kamu, yang masih aja manggil Runi dengan panggilan mami Uun?!" Olok Dewa seraya tergelak, yang membuat Doni garuk-garuk kepala,, sedangkan Seruni hanya tersenyum simpul.


Yang lain pun ikut tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Halo gaes,, maaf yah, aku telat," ucap Fina, yang diikuti oleh seorang pria berwajah khas timur tengah. Fina kemudian menyalami semua sahabat-sahabat nya, yang diikuti oleh laki-laki tersebut.


"Telat banget Fin, kami aja udah selesai makan," balas Seruni.


"Apa kabar brother," sapa Dewa, sambil melakukan salam highfive. Doni pun melakukan hal yang sama.


"Eh, suami ku pengin ikut gabung? Boleh dong?" Ucap Fina, sambil mendudukkan diri nya di bangku yang masih kosong.


"Abi,, ambil bangku itu bi, bawa kemari," titah Fina pada suaminya, tanpa menunggu persetujuan sahabat-sahabat nya.


"Kami kan belum jawab Fin, kasih ijin apa enggak?" Protes Dewa.


"Alah,,, biasa nya juga boleh, pakai protes segala kamu Wa," balas Fina santai, sambil menggeser kursi agar sang suami duduk di samping diri nya.


"Nah itu, kamu sudah tahu,, kenapa juga basa-basi minta ijin?!" Timpal Nila, "berarti kalian ya yang bayar makanan kita?" Lanjut nya dengan tersenyum.


"Yah, kesan nya.. biar aku terlihat sopan gitu Nil," balas Fina seraya terkekeh, yang di sambut tawa oleh yang lain.


"Sejak kapan kamu peduli sama sopan santun Fin?!" Ledek Rindi masih dengan tawa nya.


"Ya sejak sekarang lah, kata abi.. biar nanti anak nya kalau lahir sopan, nangis nya biasa aja enggak sampai ya kenceng memekakkan telinga," balas Fina, seraya mengerling kearah sang suami.


Suami Fina yang berbulu lebat itu hanya geleng-geleng kepala seraya terkekeh mendengar ke-absurd-an sang istri, sedangkan sahabat-sahabat nya yang lain kembali tertawa.


"Dasar, bumil absurd!" Olok Rindi, sambil geleng-geleng kepala.


"Eh, beneran tau.. tanya tuh, ama ibu peri yang alim. Kalau anak nya lahir, pasti nangis nya enggak sampai yang histeris. Secara dia kan sopan dan lembut benget tuh," Balas Fina seraya melirik Seruni.


"Ya enggak lah, memang nya anak nya di cekik.. sampai nangis nya histeris? Ada-ada aja deh, ni emak yang satu?!" Gerutu Nila.


"Kalau aku lihat sih, Fina emang jadi aneh sejak hamil. Bawaan orok nya kali ya? Atau, bentuk protes dari bayi nya?!" Dewa pura-pura berpikir, hingga kerutan di dahi nya terlihat jelas.


"Protes gimana maksud mu, Wa?" Tanya Fina.

__ADS_1


"Ya, tiap hari bayi kamu di tengokin sama gajah.. gimana enggak protes coba?!" Balas Dewa dengan tergelak, seraya melirik suami nya Fina.


"Hahahaha,,," sahabat-sahabat nya yang lain pun kembali tertawa, termasuk suaminya Fina sendiri.


"Asem kamu Wa, ngatain punya suami ku kayak belalai gajah," ucap Fina masih dengan tawa nya, sambil bersandar mesra di bahu sang suami.


"Tapi kamu memang benar sih Wa, lebih gede dari belalai gajah malah," lanjut Fina sambil melirik sang suami, dan suami nya kembali menggeleng-gelengkan kepala masih dengan tawa nya.


"Mau tahu enggak Wa rahasia nya, biar itu nya gede?" Tanya Fina kemudian, setelah tawa mereka mereda.


"Ogah ah, percuma juga gede kalau enggak tahan lama," balas Dewa, setelah menyuapkan makanan terakhir kedalam mulut nya, "iya enggak Don?" Dewa menatap Doni, yang hanya ditanggapi Doni dengan mengedikkan bahu nya.


"Hmm,,, betul tuh Wa, enggak perlu gede yang penting kuat lama," imbuh Tiwi dengan vulgar.


"Dan mampu membuat pasangan terpuaskan, hingga ******* berkali-kali," timpal Rindi semakin vulgar, sambil mengelap mulut karena makanan di piring nya telah habis tak tersisa.


"Ck,,, kalian ini, ngomongin apa sih? Aku masih suci tau?!" Protes Nila.


"Halah,, suci dalam debu?! Biasa nya juga, kamu yang paling ngaco kalau bicara!" Olok Doni.


Nila pun terkekeh pelan, "habis nya, kalian malah pada ngomongin belalai. Suami ku kan lagi pulang kampung ke Ausi, kalau aku pengin gimana coba?" Keluh Nila dengan memasang wajah sedih.


"Udah yuk, udah pada makan semua kan? Nanti keburu habis tiket nya, kalau kita kelamaan," ajak Fina.


"Memang nya, kalian udah makan?" Tanya Rindi.


"Udah tadi, di tempat saudara ada yang syukuran," balas Fina, "tapi santai aja, aku hafal kok peraturan nya,, jadi tetap akan aku bayarin." Lanjut Fina, seraya beranjak yang diikuti oleh yang lain.


"Eh, bentar-bentar.. kita mau nonton film apa nih?" Tanya Doni.


"Lah, kan di group udah disepakati mau nonton film romantis," balas Nila.


"Tuh kan, hanya di scroll aja enggak di baca. Kalau mami Uun komen, baru deh ikutan komen," cibir Dewa.


"Jangan film romantis ya, komedi aja gimana?" Pinta Doni, "suka baper kalau nonton film romantis," keluh Doni.


"Iya, komedi aja deh.. biar seru, bisa ketawa bareng kita," timpal Seruni, yang menyetujui permintaan Doni.


Doni tersenyum, karena mendapat dukungan dari Seruni.


"Kalian berdua ini, memang pasangan sejati ya,,, meski tak lagi bersama tapi masih kompak aja," ucap Dewa.


"Pasangan Sejati yang tak di restui," gumam Doni, seraya melirik Seruni.

__ADS_1


"Ya udah deh, komedi juga boleh.. yang penting kita bisa nonton rame-rame kan?" Pungkas Tiwi, mengambil keputusan.


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2