
Malam hari nya, setelah memastikan anak-anak tidur dengan nyaman. Mahmudi segera menghampiri Seruni yang masih asyik di meja kerja nya, "ma, udah selesai belum?" Tanya Mahmudi.
"Iya, aku beresin catatan dulu," balas Seruni seraya merapikan buku, serta kertas-kertas yang berserak di atas meja.
Setelah selesai, Mahmudi menggandeng mesra istri nya seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka berdua. "Mau nonton tivi dulu atau langsung tidur ma?" Tanya Mahmudi, sambil berharap dalam hati semoga sang istri tak menagih janji nya untuk menghubungi Tari kembali.
"Langsung ke kamar saja pa," balas Seruni, hingga membuat Mahmudi bernafas lega.
"Semoga malam ini, mama mau berbaik hati dan mau aku sentuh," harap Mahmudi dengan sungguh-sungguh.
Setiba nya di kamar, Mahmudi langsung mengganti lampu utama dengan lampu tidur.
"Jangan pura-pura lupa deh pa, mau enak-enak langsung tidur," ketus Seruni, yang masih ingat janji suami nya tadi sore.
"Enggak lupa mama sayang, papa hanya ingin agar suasana nya sejuk aja kok," kilah Mahmudi, seraya menyusul sang istri yang sudah terlebih dahulu duduk di tepi ranjang.
"Papa akan telpon dia sekarang," lanjut Mahmudi, sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku baju nya.
"Ngomong-ngomong, mama dapat bukti chat papa dan dia darimana?" Tanya Mahmudi sengaja mengulur waktu, karena suami Tari pasti belum berangkat kerja. Lagi pula, Mahmudi juga sangat penasaran sejak tadi sore, tapi belum ada waktu yang tepat untuk menanyakan pada sang istri.
"Kenapa pa?" Tanya Seruni menyelidik, seraya tersenyum smirk.
Mahmudi menggeleng, "enggak apa-apa ma, pengin tahu aja," balas Mahmudi sedikit kecewa, karena keingitahuan nya yang begitu besar... seperti nya terhempas begitu saja, demi melihat senyum Seruni
"Tadi nya aku pikir, mama tahu dari Doni dan Tiwi. Tapi begitu melihat screenshot chat itu, papa berubah pikiran dan jadi bingung aja.. kok bisa? Padahal kan,,,"
"Padahal semua chat udah papa hapus, begitu kan?" Potong Seruni, seraya menatap sang suami dengan mencibir.
"Jangan sebut namaku Seruni, jika aku tak bisa melakukan apa yang aku inginkan pa," lanjut Seruni kali ini dengan angkuh, sengaja dia melakukan nya.. karena tak ingin sang suami menganggap dia sebagai wanita yang lemah.
"Selingkuh seperti papa pun, aku bisa! Hanya saja, aku masih waras dan masih punya otak! Aku juga masih punya rasa malu, dan harga diri yang tinggi!" Lanjut Seruni, menyindir dengan telak perbuatan suami nya.
"Iya ma, iya.. papa salah, papa minta maaf," kembali Mahmudi meminta maaf, dengan melembutkan suara nya dan tak ingin lagi membahas masalah tersebut. "Aku telpon dia sekarang ya?"
Seruni hanya diam, memperhatikan.. tatkala Mahmudi mulai mendial nomor Tari.
Tut,, tut,,
Tepat pada deringan kedua, panggilan dari Mahmudi di terima oleh Tari.
__ADS_1
Mahmudi segera merubah stelan menjadi mode louds peaker, agar sang istri bisa ikut mendengarkan pembicaraan diri nya dengan Tari.
"Halo mas,,, kenapa tadi enggak jadi telpon? Padahal aku masih nungguin kamu loh, di hotel," rajuk Tari, dengan suara manja nya yang khas.
Seruni langsung menatap tajam sang suami, sedangkan Mahmudi mengusap tengkuk nya.. merinding bulu roma nya, melihat tatapan sang istri.
"Iya, tadi aku jemput istri ku," balas Mahmudi dengan jujur.
"Yah,, mas kok gitu sih, tega ma aku,,," rengek Tari, "aku kan udah,,,"
"Tari," panggil Mahmudi, memotong ucapan Tari yang belum selesai.
"Ada apa mas? Apa, di dekat mas lagi ada istri?" Tebak Tari, karena tak biasa nya mendengar ucapan Mahmudi yang tegas dan memanggilnya hanya dengan nama.
"Tidak ada," balas Mahmudi seraya menggenggam tangan sang istri, Mahmudi enggak mau Tari berpikir bahwa apa yang akan disampaikan nya nanti karena desakan sang istri. Karena sebelumnya, Mahmudi juga sudah berkeinginan untuk mengakhiri petualangan nya bersama Tari.. hanya saja, dia belum memiliki tekad yang bulat untuk berbicara.
Sedangkan Seruni terdiam, dan membiarkan saja tangan sang suami menggenggam tangan nya.
"Ada apa mas? Enggak biasa nya deh, mas manggil aku dengan nama?!" Protes Tari, yang membuat Seruni membalas genggaman tangan suami nya dengan sangat erat.
Mahmudi kembali menatap istri nya, dan tersenyum kecut. "Maaf," ucap Mahmudi tanpa bersuara, dan Seruni hanya mencebik.
"Tidak mas! Mas tidak bisa begitu saja memutuskan hubungan kita secara sepihak!" Potong Tari cepat, dan benar dugaan Seruni.. Tari takkan mungkin melepas kan begitu saja, pundi-pundi rupiah milik nya.
"Tapi Tar,, apa yang kita lakukan kemarin-kemarin itu salah?!" Seru Mahmudi, dengan suara yang mulai meninggi mengikuti nada suara Tari.
"Enggak mau! Pokoknya Tari akan hubungi mas terus! Kalau perlu, Tari akan datang ke tempat kerja mas!" Ancam Tari, dan langsung mematikan ponsel nya.
Mahmudi menatap nanar ponsel dengan logo apel bekas gigitan vampir, yang panggilan nya sudah berakhir karena dimatikan secara sepihak oleh Tari.
Kepala Mahmudi berdenyut, laki-laki itu termenung dan tak tahu apa yang harus dilakukan nya.
Sejenak, suasana di dalam kamar yang cukup luas itu menjadi hening.
"Jadi, tadi siang habis makan.. papa booking hotel untuk ja*lang itu?!" Cecar Seruni, memecah keheningan.
Mahmudi mengangguk seraya menatap istri nya, "iya ma," balas Mahmudi dengan tak bersemangat.
Mahmudi kemudian menceritakan tentang tingkah Tari yang seolah ingin menjebak diri nya, dengan berpura-pura sakit kepala. "Untung papa masih bisa ngelak ma, kalau tidak... papa pasti akan sangat menyesal," ucap Mahmudi mengakhiri cerita nya.
__ADS_1
"Bukan nya,,, papa makin nyesel ya, karena enggak jadi tidur bareng sama ja*lang itu?!" Sindir Seruni.
"Kok mama ngomong nya gitu sih? Papa kan sudah bilang tadi sore, kalau papa bersedia ketemuan sama dia untuk makan siang bareng.. karena papa akan mengakhiri semua nya," terang Mahmudi.
"Tapi nyata nya, begitu ketemu... enggak jadi di putusin kan? Papa masih sayang kan, sama dia?!" Seruni kembali menatap tajam suami nya.
"Hufff,,," Mahmudi membuang kasar nafas nya, "please ma, jangan sudutkan papa terus? Papa tahu, papa sudah melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar. Dan jujur ma, papa sebenarnya sangat malu sama mama?? Papa juga merasa sangat bersalah pada mama,,, tapi please ma, jangan ungkit itu terus ya, please..." mohon Mahmudi dengan berlutut di depan istri nya.
Seruni menarik nafas dalam, dan menghembus nya perlahan. "Tak semudah itu untuk melupakan semua nya pa, chat mesra itu,,, hadiah-hadiah dari papa untuk nya,,, dan pemandangan saat papa menjemput dia di mini market." Sejenak Seruni menghentikan ucapan nya, dan menatap sang suami dengan intens.
"Semua masih terekam jelas di memori ku, dan aku enggak tahu pa.. apa aku bisa menghilangkan nya dari ingatan ku atau tidak?" Gumam Seruni.
"Ternyata benar, kata temen-temen aku. Bahwa kami, para wanita.. akan mudah untuk memafkan kesalahan suami, tapi akan sulit untuk melupakan kesalahan nya. Dan mungkin, akan butuh waktu hingga seumur hidup untuk bisa melupakan nya," lanjut Seruni dengan masih menatap suami nya, hingga membuat Mahmudi semakin merasa bersalah.
"Maafin papa ma, maaf,,," lirih Mahmudi seraya memeluk perut buncit sang istri dengan erat, hingga membuat janin yang masih bersembunyi di dalam perut Seruni memberikan tendangan kecil di wajah papa nya.
"Duh, kok kamu nendang nak," protes Mahmudi dengan tersenyum, seraya menjauhkan sedikit wajah nya. Tangan Mahmudi kemudian mengelus perut istri nya yang masih bergerak-gerak.
"Nak, apa kamu kangen sama papa nak?" Tanya Mahmudi sengaja dengan mengeraskan sedikit suara nya, agar Seruni dapat mendengar.
Seruni hanya mencebik.
"Ayolah nak, bilang sama mama.. kalau kamu kangen sama papa, dan pengin ketemu sama papa," lanjut Mahmudi, masih dengan melancarkan modus nya.
"Nak, bilang sama papa,,, kalau kamu enggak ingin ketemu sama papa, sampai kamu lahir ke dunia nanti," balas Seruni, dengan meraba perut nya,, sedangkan tatapan nya meghunus tajam kearah sang suami, hingga nyali Mahmudi kembali menciut.
"Yah,,, beneran puasa nya lama," gumam Mahmudi yang masih bisa di dengar oleh Seruni.
"Bahkan, akan selama nya puasa,,, kalau papa tidak berhasil menjauh dari ja*lang itu!" Ancam Seruni, tak main-main.
Mahmudi bangkit dan kemudian duduk kembali di samping sang istri, "ma, please... bantu papa," pinta Mahmudi dengan memohon.
"Bantu gimana?!" Tanya Seruni ketus.
"Gimana cara nya, agar dia mau papa putusin?" Balas Mahmudi, masih dengan tatapan nya yang memohon.
"Ya papa pikir aja sendiri! Enak aja, minta tolong sama mama!" Balas Seruni masih dengan nada yang ketus, dan kemudian segera merebahkan diri di pembaringan. Dan membiarkan sang suami, dengan pikiran nya yang kalut.
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1