Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
39. Kok, Aku Enggak Rela ya...


__ADS_3

Seruni dan Arif pun ngobrol banyak hal, Arif yang terlihat lebih mendominasi obrolan dengan bermacam-macam pertanyaan. Baik seputar pengasuhan anak, tentang peluang usaha dan lain sebagainya.


Dengan senang hati, Seruni pun berbagi pengalaman. Arif nampak sangat antusias mendengarkan pembicaraan Seruni, selain penyampaian nya yang enak di dengar.. wajah Seruni juga menyenangkan untuk di pandang, hingga membuat Arif betah berlama-lama berbincang dengan wanita yang tengah hamil besar itu.


Berbeda dengan Mahmudi, yang sepanjang obrolan berlangsung terus saja menekuk wajah nya. Mahmudi cukup bersabar, hingga hampir satu jam menunggu tapi obrolan istri nya dan laki-laki yang telah merusak mood nya itu seperti nya tak kunjung akan berakhir.. Mahmudi pun memberanikan diri mengusir Arif.


"Maaf, istri saya sedang hamil besar. Dia butuh istirahat yang cukup," sela Mahmudi, ketika Arif masih ingin menanyakan sesuatu hal.


Seruni mengernyit kan dahi nya.


"Oh, iya.. maaf," balas Arif merasa sungkan, karena kehadiran nya ternyata telah mengganggu Seruni. "Maafkan saya mbak Seruni, keasyikan ngobrol saya sampai lupa kalau mbak Seruni lagi hamil dan butuh istirahat," lanjut Arif dengan menyesal.


"Enggak apa-apa kok mas, santai saja," balas Seruni, seraya melirik sang suami.


"Kalau begitu, saya permisi dulu mbak. Terimakasih atas waktu nya, terimakasih juga untuk sharing nya." Arif segera beranjak, dan hendak pamit. Ketika di luar terdengar suara keributan, yang berasal dari kamar depan. Arif pun mengurungkan niat nya untuk keluar dari kamar Seruni, dan bersama Mahmudi serta Seruni, Arif mengintip keadaan di luar dari celah pintu kamar yang di buka sedikit.


Mereka bertiga terkejut, kala mendapati seorang wanita paruh baya bersama beberapa orang petugas dari kepolisian beserta petugas resepsionis hotel tengah menggelandang Tari dan Edi yang belum memakai pakaian lengkap.


"Dasar tua bangka, sudah punya cucu juga masih saja main gila dengan pela*cur murahan! Untung saja tadi mama ikuti, jadi mama tahu kemana papa pergi!" Omel wanita paruh baya, yang ternyata adalah istri nya Edi.


"Pak komandan, tadi yang menyewa kamar ini atas nama Mahmudi, bukan Edi Suharno suami ibu ini," terang petugas resepsionis kepada komandan polisi yang ikut menggerebek Edi atas laporan istri nya Edi.


Mendengar nama nya di sebut, Mahmudi menoleh kearah sang istri. "Ma, kita harus keluar dan mengklarifikasi nya. Papa enggak mau citra papa jadi ikutan buruk karena kasus ini," pinta Mahmudi dengan menatap dalam istri nya.


Seruni mengangguk, "iya pa, aku juga enggak mau anak-anak terkena imbas dari berita ini nanti nya jika sampai nama papa terseret." Balas Seruni menyetujui.


"Maaf mas Arif, mas Arif mau bantu kami kan untuk menjadi saksi?" Pinta Seruni seraya menatap Arif.


"Iya mbak Seruni," balas Arif dengan tersenyum manis, "apapun itu mbak, asal mbak Seruni senang pasti akan saya lakukan," lanjut Arif mulai melancarkan aksi gombalan nya, hingga membuat Mahmudi yang mendengar gombalan Arif merasa geram.


"Apa maksud mu bicara seperti itu?!" Mahmudi menatap tajam Arif, namun Arif hanya mengedikkan bahu nya.


"Kalau situ enggak mau istri nya di rebut sama orang lain, ya di jaga dong... dengan baik, dan benar," balas Arif dengan begitu santai.


"Udah, udah,,, ayo kita keluar," titah Seruni menghentikan perdebatan kecil itu, seraya membuka pintu kamar nya dengan lebar. Seruni kemudian keluar dari kamar tersebut, yang diikuti oleh Mahmudi dan juga Arif yang berebut ingin berada di samping Seruni.


"Siang pak, tadi saya dengar ada yang menyebut nama saya?" Tanya Mahmudi, sambil berjalan mendekat kearah petugas resepsionis dan juga komandan polisi tersebut.

__ADS_1


"Oh ya, ini dia orang nya yang menyewa kamar tersebut pak," ucap petugas resepsionis hotel, sambil menunjuk Mahmudi.


Komandan polisi mengernyit, "anda baru saja keluar dari kamar itu?" Tanya nya sambil menunjuk kamar di depan nya, dengan tatapan penuh selidik.


"Iya, benar pak. Beserta istri saya, dan teman kami,", balas Mahmudi seraya menggandeng tangan istri nya dan menunjuk Arif.


"Lantas? Kenapa bisa ada suami nya ibu ini dan seorang wanita muda di kamar ini? Kamar yang anda sewa?" Cecar pak komandan, masih dengan menatap Mahmudi.


"Mas Arif! Tolong aku mas!" Seru Tari, yang sudah digelandang menjauh untuk menuju mobil petugas kepolisian.


"Siapa yang bernama Arif?" Tanya pak komandan, mengalihkan topik pembahasan sebelum Mahmudi menjawab pertanyaan nya.


"Saya pak, wanita itu istri saya," balas Arif dengan sikap nya yang tenang.


"Anda di kamar itu, sedangkan istri anda di kamar sini,,," pak komandan mengernyitkan dahi nya dengan dalam, hingga wajah tegas itu terlihat semakin menyeramkan. "Anda tahu, istri anda selingkuh?"


Arif mengangguk pasti, "tahu pak, dari mbak Seruni ini," balas Arif dengan jujur seraya menunjuk Seruni.


"Maaf pak, mungkin kita bisa selesai kan ini dengan berbicara sambil duduk? Saya tidak kuat jika harus berdiri lama-lama, " pinta Seruni, dan pak komandan yang paham dengan kondisi wanita hamil itu mengangguk.


Petugas resepsionis segera mengajak komandan dan tamu di hotel nya itu untuk menuju ruangan khusus, agar pembicaraan mereka bisa lebih leluasa dan tidak terganggu dengan pengunjung hotel yang lain.


Sedangkan petugas dari kepolisian yang lain, telah membawa Tari dan Edi menuju kantor polisi terdekat. Yaitu polsek, tempat dimana istri nya Edi melapor tadi.


Mereka semua telah duduk di sofa di ruangan tersebut, "pak komandan, bisa saya mulai cerita nya?" Seruni menatap komandan polisi.


"Iya, silahkan mbak,,," balas komandan.


"Har, kamu rekam keterangan mbak ini," titah pak komandan kepada bawahan nya.


"Siap ndan," balas pak Har dengan tegas.


"Nama saya Seruni," Seruni memperkenalkan diri nya terlebih dahulu sebelum melanjutkan cerita, "jadi, suami saya sudah cukup lama menjalin hubungan spesial dengan wanita yang bernama Tari tersebut. Dan ketika suami saya telah menyadari kesalahan nya dan ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, Tari menolak dan bahkan mengancam suami saya," Tari melirik Mahmudi, dan laki-laki itu menunduk karena malu.


"Kemudian, saya sama suami saya sepakat untuk menjebak Tari.. karena saya curiga, bahwa pacar Tari bukan hanya suami saya saja." Sejenak Seruni menghentikan ucapan nya, "saya kemudian menghubungi suami Tari, dan meminta sama mas Arif untuk bekerja sama." Lanjut Seruni.


"Dan pagi tadi, kami janjian bertemu di tempat ini. Suami saya janjian sama Tari, di kamar yang bapak dobrak tadi. Dan saya, di kamar depan nya menunggu bersama suami Tari ini." Seruni menunjuk Arif, dan Arif mengangguk membenarkan.

__ADS_1


"Iya, benar pak," balas Arif menguatkan.


"Ternyata dugaan saya benar, bahwa Tari memiliki kekasih lain selain suami saya. Dan rupanya, Tari mendekati suami saya juga atas suruhan pak Edi... pacar nya Tari tersebut, karena pak Edi memiliki niat yang seperti nya kurang baik untuk karier suami saya." Terang Seruni panjang lebar.


Komandan polisi serta seorang anak buah nya, mendengarkan dengan seksama cerita Seruni. Sedangkan istri Edi, nampak tidak peduli dengan apapun yang akan terjadi pada suami nya. Seperti nya, wanita itu sudah lelah dengan ulah Edi yang sering main gila dengan wanita lain.


"Saya memiliki bukti chat mereka berdua pak, di sini jelas di sebutkan bahwa suami saya adalah target nya..", Seruni menyodorkan ponsel yang berisi percakapan Tari dan Edi, " ya, meskipun suami saya sendiri juga tidak tahu pasti... yang di maksud menjadi target itu, target untuk apa?" Seruni mengedikkan bahu nya.


Komandan polisi menerima ponsel dari Seruni dan kemudian membaca nya. "Jadi, setelah gagal menjebak suami mbak Seruni, Tari menghubungi pak Edi untuk memuaskan has*rat nya?" Komandan itu bergumam, seolah bicara pada diri nya sendiri.


"Benar pak, dan saya juga mas Arif juga memiliki bukti rekaman video perbuatan me*sum mereka," Mahmudi menyodorkan ponsel milik nya, yang sudah menampilkan video rekaman yang sengaja dia ambil tadi.


Komandan tersebut menerima nya, dan netra nya membulat sempurna kala mendapati sepasang kekasih yang saling tindih itu. "Mereka tadi gancet?!" Seru pak komandan hampir tak percaya, seraya menatap Mahmudi, Arif dan Seruni bergantian.


Mahmudi dan Arif mengangguk, sedangkan Seruni yang tak tahu apa-apa itu mengernyit dalam. "Gancet?" Tanya nya berbisik, seraya melirik sang suami. Dan Mahmudi kembali mengangguk.


"Kok kamu enggak cerita pa?" Protes Seruni.


Mahmudi tersenyum tanpa dosa, "kan mama enggak nanya?" Hingga membuat Seruni sebal dan mencubit perut suami nya.


"Ihh, mama udah enggak sabar ya? Santai aja ma, habis ini kita balik ke kamar," lirih Mahmudi tepat di telinga sang istri, sambil memeluk pinggang Seruni hingga membuat Seruni meremang. "Nanti papa pijat kaki mama, sampai mama tidur," lanjut nya, seraya mencuri kecupan di pipi Seruni.


Sementara Arif yang duduk bersebelahan dengan Mahmudi dan dapat mendengar apa yang dikatakan Mahmudi pada Seruni, tiba-tiba raut wajah nya menjadi berubah. Arif merasa cemburu pada Mahmudi, "kok, aku enggak rela ya kalau hubungan mereka baik-baik saja," gumam nya dalam hati.


"Baik, ini akan kami salin dulu untuk dijadikan sebagai bukti tambahan." Dan suara pak komandan, menghentikan gombalan Mahmudi terhadap istri nya, dan juga membuyarkan lamunan Arif yang dikuasai rasa cemburu yang tak semestinya.


"Dan saya mohon kerja sama dari mbak dan mas-mas sekalian, untuk bersedia datang ke kantor jika kami membutuhkan keterangan nya," pungkas komandan polisi tersebut.


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏


Wah,,, rival si Mumud makin banyak aja ya 😄😄


Yuk bestie, setelah baca biasakan kasih like, dan komen ya... biar akun kalian enggak di anggap robot dan novel ku bisa tetap kalian baca lanjutan nya.


Karena NT lagi dalam perbaikan dan lagi sensitif, dalam memberikan penghargaan pada karya para author nya. Sehingga banyak author yang pindah ke PF tetangga 😬


Komen apa aja deh, asal jangan hanya next.. karena komen seperti itu akan langsung di hapus oleh sistem. NT lagi mode galak 🤭

__ADS_1


Sekian curcol dari ku 😊🙏🙏


__ADS_2