
Doni langsung keluar, ketika dokter memberikan bayi mungil yang berjenis kelamin perempuan itu pada Seruni untuk inisiasi menyusu dini. Tapi sebelum keluar, Doni sempat berbisik. "Apa aku boleh memberi dia nama?" Tanya Doni dengan menatap hangat netra indah milik Seruni.
Seruni hanya mengangguk, "cepat lah keluar," usir Seruni dengan berbisik pula, seraya tersenyum.
Doni segera keluar dengan bibir yang terus menyunggingkan senyum, hingga tiba di luar ruangan IGD.
"Om, seneng banget? Runi gimana? Anak nya cewek apa cowok?" Cacar Tiwi dengan banyak pertanyaan.
"Tuan muda, ini baju ganti tuan," kang Udin yang baru saja datang, berjalan cepat menghampiri putra majikan nya itu dan memberikan baju ganti seperti yang diminta oleh Doni.
"Nanti dulu kak, aku mau ganti baju," Doni berlalu sambil bersiul, terlihat jelas bahwa laki-laki itu tengah berbahagia.
Setelah Doni menghilang dari pandangan Tiwi, Nila dan suami nya muncul dengan wajah khawatir.
"Gimana Wi?" Tanya Nila, yang langsung mendekati Tiwi.
Tiwi hanya mengedikkan bahu, "nunggu om Doni bentar," balas Tiwi.
"Kok nunggu Doni? Aku kan nanya keadaan Seruni?" Protes Nila, yang langsung duduk di samping Tiwi dan diikuti oleh suami bule nya.
"Iya, tadi yang nungguin di dalam om Doni. Dan sekarang orang nya lagi ganti baju," balas Tiwi.
"What?! Kok bisa?!" Seru Nila yang terkejut, "nanti kalau suami nya Runi tahu gimana?" Lanjut nya bertanya, dan dengan nada khawatir.
"Tadi kami ngaku nya, om Doni itu suami nya Runi, hahaha,," Tiwi pun tergelak, sedangkan Nila sejenak mengernyit dan kemudian ikut tergelak bersama Tiwi.
"Gila tuh anak. Benar-benar ya, cinta nya ma Runi udah mendarah daging," ucap Nila, masih dengan tawa nya.
"Tapi, ini jangan sampai si Mahmud tahu ya. Hanya untuk kita," ucap Tiwi kemudian, setelah tawa mereka reda.
Doni muncul dengan wajah yang lebih segar, dengan pakaian bersih yang baru dikenakan nya.
"Wah, selamat ya ayah baru. Wajah nya kelihatan berseri nih," ledek Nila pada Doni, yang hanya ditanggapi Doni dengan senyuman.
Doni kemudian duduk di samping kanan Tiwi.
"Runi gimana? Cowok apa cewek anak nya?" Tiwi kembali mengulang pertanyaan yang tadi.
"Alhamdulillah, persalinan nya lancar. Anak nya cewek, dan aku yang akan memberi gadis mungil itu nama," balas Doni dengan netra berbinar, membayangkan bayi mungil yang tadi sempat dilihat nya meski hanya sekilas.
__ADS_1
"Pasti mau di kasih nama Dona?" Tebak Tiwi, tapi Doni menggeleng cepat.
"Bukan, itu udah biasa kak. Ini lain daripada yang lain, tunggu saja ya?" Balas Doni dengan tersenyum simpul.
"Eh Don, aku jadi curiga deh. Jangan-jangan, bayi itu emang anak kandung kamu?!" Tuduh Nila, yang langsung mendapatkan tatapan taj dari Tiwi.
"Nil, kamu omong apaan sih?!" Protes Tiwi, "itu sama aja, kamu menganggap Seruni wanita yang enggak bener!" Lanjut nya dengan sedikit meninggikan suara nya.
"Hehe,,, aku becanda kali Wi," balas Nila tanpa dosa.
"Becanda nya jangan kelewatan juga kali?! Kalau si Mahmud sampai dengar, bisa, berabe kan?" Tiwi mengingatkan.
Nila mengangguk, sementara suami Nila nampak sibuk memainkan ponsel nya. a
Sedangkan Doni hanya tersenyum, "kalau Uun nya mau sih, pengin banget aku bisa punya baby dari dia?" Gumam Doni dalam hati.
Dari jauh, mereka melihat kehadiran Mahmudi yang menggendong Tsalis yang berjalan cepat menuju ke arah mereka, dengan diikuti oleh Dewa.
"Wi, dimana Runi?" Tanya Mahmudi yang terlihat cemas.
"Dia masih di dalam, jangan khawatir.. ibu dan bayi nya selamat, anak kalian perempuan," balas Tiwi dengan cepat, khawatir Doni keceplosan yang menjawab.
Mahmudi menghembus nafas dengan lega, seraya mengucap rasa syukur, "Alhamdulillah,," lirih nya.
"Sebaiknya jangan sekarang mas, tunggu dokter keluar dulu," saran Tiwi.
Dan Mahmudi hanya bisa mengikuti saran dari Tiwi, ayah dari empat anak itu kemudian duduk di bangku lain yang agak jauh dari sahabat-sahabat Seruni. Dan suami nya Nila langsung beranjak menyusul Mahmudi, dan menemani nya mengobrol.
Sedangkan Dewa yang langsung duduk di samping Nila, di beritahu oleh Nila dengan berbisik tentang apa yang tadi dilakukan oleh Doni. Sontak, Dewa tergelak seraya menunjuk Doni dengan ibu jari nya dan mengata-ngatai sahabat nya itu.
"Hahaha,,, gila kamu Don, nekat banget! Sumpah!"
Nila dan Tiwi pun kembali ikut tertawa, sementara Doni hanya senyum-senyum.
"Kapan lagi kan, aku bisa deket banget sama Uun kayak tadi setelah perpisahan kami kala itu?" Balas Doni, "orang bijak bilang, kesempatan baik tidak datang dua kali. So, gunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Dan aku hanya mengikuti apa yang di nasehat kan oleh orang bijak yang tak ku kenal tersebut" lanjut Doni dengan asal, yang kemudian ikut tertawa bersama sahabat-sahabat nya.
Tawa mereka terhenti, kala dokter kandungan yang tadi menangani Seruni keluar dengan diiringi seorang perawat.
Semua nya segera berdiri, dan dokter Nurida menatap Doni sambil berkata. "Istri mas, baru bisa dipindahkan ke ruang rawat inap besok pagi. Karena malam ini, masih masa observasi."
__ADS_1
Dan Mahmudi yang mendengar dokter wanita tersebut berbicara demikian dengan Doni, langsung mengepalkan tangan nya. Rahang suami Seruni itu mengeras dan gigi nya terdengar gemurutuk.
Mahmudi tidak dapat fokus lagi mendengarkan penjelasan dokter, mengenai kondisi istri dan anak nya. Fokus Mahmudi hanya tertuju pada Doni, yang nampak tenang menjelaskan penjelasan dokter dan sesekali terlihat bertanya.
"Kapan istri saya bisa dipindahkan ke ruang perawatan dokter?" Tanya Doni, seraya tersenyum.
Sedangkan yang lain menahan tawa.
"Besok pagi, jika pasien sudah tidak mengalami pusing dan tidak ada keluhan lain." Balas dokter tersebut.
Sedangkan Dewa nampak berbisik, "gila kamu Don, udah ada suami nya masih aja ngaku-ngaku?!"
"Kepalang tanggung bro, bu dokter tahu nya aku suami Uun," balas Doni yang juga dengan berbisik.
Dan ketika dokter tersebut berpamitan, barulah Mahmudi tersadar dari emosi yang menguasai pikiran nya. "Sekali lagi selamat ya mas, putri nya sangat cantik. Seperti nya perpaduan sempurna antara mas dan mbak Seruni," pungkas dokter tersebut, dan segera berlalu dengan diiringi sang suster.
"Hahaha,," tawa sahabat-sahabat Doni langsung pecah, setelah dokter dan perawat menjauh. Sedangkan Doni mengusap-usap tengkuk nya kala menyadari tatapan tajam Mahmudi yang menuntut penjelasan.
Tiwi yang segera menyadari hal tersebut, langsung menjadi penengah.
"Jadi gini mas, tadi sewaktu kami baru sampai disini... pihak klinik enggak mau langsung menangani, dengan alasan dokter nya sedang cuti." Tiwi mulai mengarang cerita.
"Tapi, om Doni maksa dan bersikeras akan menuntut klinik ini jika sesuatu hal yang buruk terjadi pada istri nya. Hingga akhirnya, pihak klinik bersedia menolong Runi. Jadi, itu semua bukan karena di sengaja mas. Murni karena kepanikan dan kekhawatiran melihat Runi yang kesakitan sepanjang perjalanan, dan air ketuban nya juga keluar terus," terang Tiwi mencari alasan, yang mungkin saja bisa di terima oleh Mahmudi.
Dan Mahmudi hanya terdiam, namun urat-urat di wajah nya mulai mengendur. "Makasih," ucap nya sesaat kemudian dengan singkat, dan segera berlalu masuk kedalam ruangan IGD dimana sang istri berada.
Doni yang sedari tadi menahan nafas, karena khawatir Mahmudi akan marah besar yang dapat menimbulkan keributan di klinik, akhirnya bisa bernafas dengan lega.
"Huh, untung saja si Mahmud percaya ya kak."
"Iya, tapi awas ya kalau aneh-aneh lagi," ancam Tiwi.
Doni menggeleng, dan wajah yang tadi terus saja menyunggingkan senyum itu tiba-tiba menjadi mendung. "Ini kenangan terakhir kak, karena besok aku akan berangkat ke Jakarta."
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
"Om Doni, I love you... " ucap seorang gadis belia, seraya berlari kecil kearah Doni. Gadis itu kemudian memberikan setangkai bunga yang baru dia petik dari salah satu pot yang ada di taman, dimana acara family gathering sekaligus perjamuan makan malam dalam rangka di kukuhkan nya Doni menjadi Direktur Utama di PT. Sanjaya Group itu sedang berlangsung.
Doni mengernyit kan kening nya dengan dalam, "hah, enggak salah? Gadis bau kencur ini nembak aku?" Gumam Doni dalam hati.
__ADS_1
Sedangkan ayah si gadis, nampak menepuk jidat nya dengan keras. "Ya ampun, kembar... lihat kelakuan adik mu?!"
____ Kira-kira seperti itu ya, masa depan nya Doni di Jakarta 😊😊