Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
26. Menikmati Timun Suri..


__ADS_3

Genggaman tangan Doni, memaksa Seruni untuk membuka kembali mata nya dan mengurungkan niat nya untuk tidur. Seruni tak mau, jika Doni terus larut dalam perasaan yang masih saja pemuda itu jaga,,, jika terus dibiarkan menggenggam tangan nya.


Dan Seruni juga tak mau terjebak dengan perasaan masa lalu nya yang tiba-tiba saja muncul, dan sesaat menguasai dan mengganggu pikiran nya.


Seruni buru-buru menarik tangan nya dari genggaman Doni, hingga membuat Doni yang sedari tadi menatap wajah nya sambil melamun menjadi terkejut. "Un, kamu enggak jadi tidur?" Tanya Doni dengan sedikit rasa canggung.


"Enggak Don, aku enggak jadi ngantuk," balas Seruni seraya membetulkan kembali duduk nya.


Seruni menarik nafas dalam-dalam, agar bisa bersikap biasa saja pada Doni seperti selama ini yang telah dia lakukan. "Dia hanya bagian dari masa lalu kamu Runi, lupakan,,, buang jauh kenangan itu," bisik Seruni dalam hati.


"Oh,Uun sayang ku,,, aku tahu, saat ini kamu sedang tidak baik-baik saja. Jika saja memeluk mu bukanlah sebuah kesalahan, aku pasti sudah melakukan nya sejak tadi Un. Aku ingin menenangkan mu Un, aku ingin menjaga perasaan mu," Doni yang masih menatap Seruni, bermonolog dengan diri nya sendiri.


"Don,," panggil Seruni, "kok malah bengong?"


"Eh, enggak kok," Doni pun kemudian merubah posisi duduk, yang tadi nya cenderung menghadap ke arah Seruni,,, kini menatap ke depan, menghadap layar lebar yang sedang menayangkan adegan konyol pemeran utama nya sehingga menimbulkan gelak tawa dari para penonton, kecuali Doni dan Seruni.


Bahkan sahabat-sahabat mereka, tertawa terbahak-bahak dengan saling tuding diantara mereka.. "itu, kayak kamu banget deh Rin. Sumpah, jorok nya mirip kamu," ledek Dewa pada Rindi.


"Hahaha,, iya, kamu benar Wa. Cara ngupil nya juga sama, persis banget," timpal Nila, dengan masih terpingkal-pingkal.


"Iya, benar. Cara ngelap mulut nya kalau habis makan juga sama, bener-bener bikin ilfil," Tiwi ikut menimpali.


Fina pun mengangguk setuju, sambil menatap Rindi dan masih dengan tawa nya.


Sedangkan Rindi hanya cengar-cengir saja menjadi bahan olok-olok sahabat nya, karena memang apa yang dilakukan pemeran utama dalam film tersebut yang sembarangan ngupil dan kemudian di usapkan di baju sang pacar sama persis dengan apa yang dilakukan Rindi dulu pada Dewa.


"Tapi gaya kentutnya tadi, persis kamu deh Nil," olok Rindi balik, pada Nila.


"Enggak lah, mirip sama Fina itu.. yang kalau kentut suara nya ngebas," balas Nila masih dengan tawa nya, seraya menatap Fina. Yang membuat suami Fina, ikut tertawa terbahak.

__ADS_1


"Hahaha,, iya, sis Nila benar," timpal suami Nila, yang sering dijuluki Dewa dengan sebutan mister bahlul.


Yang lain pun tertawa kembali, Fina pun ikut tertawa dan tidak merasa malu dengan ledekan dari sahabat-sahabat nya itu... meskipun di depan suami nya sendiri.


Sedangkan Doni dan Seruni mengernyitkan dahi, karena mereka berdua ketinggalan pertunjukan seru dalam film tersebut.


Doni dan Seruni saling pandang, dan sejenak kemudian sama-sama mengedikkan bahu tak mengerti.


"Yuk, fokus nonton. Kita disini kan mau nonton seru-seruan," ajak Seruni yang juga mengingat kan dirinya sendiri, tujuan pergi nonton bareng sahabat-sahabat nya.


Doni mengangguk setuju, dan mereka berdua kemudian ikut asyik menyaksikan tayangan film komedi yang mengundang gelak tawa penonton sepanjang pertunjukan dari awal hingga akhir.


_____


Di restoran cepat saji, di pusat kota. Mahmudi kini telah duduk berhadapan dengan Tari, satu-satu nya wanita yang sangat ingin dihindari nya tadi.


Dan saat ini, Mahmudi malah terdiam dan tak berkutik kala Tari dengan manja nya menggenggam mesra tangan Mahmudi yang berada di atas meja.


Mereka telah menyelesaikan makan siang nya, dan Tari menahan Mahmudi ketika hendak segera balik ke kantor. "Tunggu sebentar lah mas, aku kan masih kangen," rengek Tari, sambil menatap laki-laki di hadapan nya dengan tatapan penuh damba.


"Pokoknya aku harus bisa merayu laki-laki gagah ini untuk ke hotel sekarang juga, ah... rasa nya aku sudah tidak tahan ingin menikmati sentuhan tangan kekar nya, dan merasakan milik nya yang menonjol itu," gumam Tari dalam hati.


Ya, di otak wanita itu saat ini isinya hanya lah... bagaimana cara nya agar bisa menaklukkan Mahmudi dan membuat laki-laki itu kecanduan dengan tubuh nya, sehingga Tari tak perlu lagi menemui Edi yang sudah bangkotan.


"Aku tak peduli apakah mas Mahmudi atau mas Edi yang akan naik jabatan, yang penting hasrat ku bisa terpuaskan dan segala keinginan ku terpenuhi," lanjut Tari bergumam, masih dengan menggenggam tangan laki-laki yang menjadi target nya.


"Mas, kepala ku kok tiba-tiba pusing ya?" Rajuk nya manja, sambil menggeletakkan kepala di atas meja dengan berbantal tangan nya Mahmudi.


"Apa kamu sakit dik?" Tanya Mahmudi yang nampak prihatin.

__ADS_1


"Enggak tahu mas, tiba-tiba saja pusing." Balas Tari, dengan suara nya yang terdengar lemah oleh Mahmudi.


"Aku antar pulang ya?" Ajak Mahmudi lembut.


Tari mengangkat kepala nya dan menggeleng, "aku enggak kuat jalan jauh mas, pengin tiduran bentar aja," rajuk nya, dengan wajah di buat sesendu mungkin.


"Kalau gitu, istirahat di dalam mobil dulu yuk," ajak Mahmudi kembali, "nanti kalau sudah enakan, aku antar kamu pulang," bujuk Mahmudi, seraya menatap Tari dengan iba.


Tari menggeleng, "enggak enak, pengin tidur di kasur yang empuk," rengek nya, dengan netra yang mulai berembun.


Mahmudi menjadi tak tega melihat wanita di hadapan nya, laki-laki dengan tiga anak itu memang berhati lembut dan selalu tak tega jika melihat wanita menangis.


Itu sebab nya, Mahmudi tak pernah bersikap kasar pada Seruni karena tak ingin membuat istri nya menangis. Tapi Mahmudi tak menyadari, bahwa apa yang dilakukan nya saat ini justru sangat menyakiti hati Seruni. Bukan hanya bisa membuat istri nya menangis, tapi juga membuat Mahmudi sendiri yang akan menangis jika tak cepat-cepat di akhiri.


"Mas, kita ke hotel yang di sebelah itu ya.. bentar aja? Aku cuma pengin rebahan bentar, abis itu pasti langsung enakan. Dan kita bisa cepat pulang??" Tari kembali melancarkan aksi busuk nya, dengan rengekan nya yang terdengar sangat manja sambil menunjuk hotel yang berada tepat di samping restoran tersebut.


Mahmudi menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, laki-laki itu menjadi bingung,,, antara rasa iba ingin mengikuti kemauan Tari, dan hati nurani yang menuntun kewarasan nya agar tidak masuk kedalam hotel berduaan dengan wanita lain.


Cukup lama Tari menanti jawaban laki-laki di hadapan nya, hinga Tari merasa semakin tidak sabar. "Mas,,, ayo?? Kamu udah enggak sayang ya sama aku? Sampai tega membiarkan aku menahan rasa sakit ini?!" Protes Tari, dengan mengerucut kan bibir nya.


"Mas mau, aku pingsan di sini?!" Rengek nya lagi.


"Iya, iya,, ayo kita ke hotel. Aku bayar dulu ya," Mahmudi segera meminta bill pada waiters, dan kemudian membayar tagihan makan siang mereka berdua.


Tari tersenyum smirk, "akhirnya, sebentar lagi aku akan dapat menikmati timun suri milik mu itu mas. Ah.. rasa nya aku sudah tidak sabar, aku pasti bisa gila setelah ini. Aku pasti akan selalu merindukan timun suri itu,,,,"


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏


Timun Suri gaess.. enggak main-main loh ini gede nya 😄😄🤭

__ADS_1


__ADS_2