
Setelah berbasa-basi sebentar dengan Seruni dan Mahmudi, Doni yang cukup pengertian melihat sikap Mahmudi yang tak nyaman dengan kehadiran diri nya pun langsung pamit. "Aku duluan ya, cuma mau mengambilkan pesanan kak Tiwi aja kok. Aku tunggu kehadiran kalian di villa nanti sore," Doni segera berlalu sembari menepuk pundak Mahmudi, meninggalkan Seruni dan Mahmudi yang terlihat lega.
Sementara Seruni segera meneruskan langkah nya menuju counter pakaian merk terkenal yang terletak di lantai tiga, yang diikuti oleh Mahmudi dengan menggamit lengan sang istri.
Mahmudi masih terus mendampingi sang istri, kala memilih t-shirt dan jaket couple dari sebuah brand kenamaan itu.
"Pa, warna yang ini saja ya?" Seruni menunjukkan jaket berwarna navy kepada sang suami, dan Mahmudi mengangguk menyetujui pilihan sang istri.
Selesai dari counter pakaian, Seruni mengajak sang suami untuk menuju lantai empat dimana toko tas dan sepatu brand ternama yang diincar wanita hamil itu ada di sana. Dan lagi-lagi, Mahmudi hanya menurut saja dengan segala keinginan istri nya.
Baru saja Seruni memasuki toko tersebut, pandangan nya menangkap sosok wanita muda yang sangat dia kenal. "Pa, itu mantan istri nya mas Arif kan?" Tanya Seruni memastikan apa yang dilihat nya, di dalam toko tersebut.
Di dalam sana, nampak Tari sedang memilih-milih tas branded dengan di dampingi oleh seorang laki-laki berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar, yang terus memeluk pinggang Tari dengan posesif. Melihat warna kulit dan bentuk wajah nya, Seruni meyakini bahwa laki-laki tersebut berasal dari daratan Afrika.
"Yang mana ma?" Tanya Mahmudi yang belum melihat.
"Itu pa, yang lagi milih-milih tas? Yang sama orang Afrika itu pa?" Balas Seruni dengan berbisik, seraya menunjuk ke arah Tari dengan dagu nya.
Mahmudi pun mengikuti pandangan sang istri, dan sedetik kemudian Mahmudi membuang kasar nafas nya. "Iya ma, dia Tari," balas Mahmudi dengan malas.
"Mama jadi beli tas di sini?" Tanya Mahmudi yang nampak tidak bersemangat, begitu mengetahui bahwa ada wanita muda yang pernah menjadi idaman lain di hati nya itu ada di dalam toko yang sama.
"Iya pa, enggak apa-apa kan?" Seruni menatap suami nya, sembari tersenyum smirk.. entah apa yang direncanakan ibu hamil itu pada Tari.
Dan tanpa menunggu jawaban sang suami, Seruni segera melangkah menuju etalase dimana Tari sedang memilih-milih tas. Seruni melirik sekilas tas yang di pegang Tari, dan kemudian mencari tas yang sama dan melihat harga nya. Seruni tersenyum, dan kemudian mengambil tas lain yang harga nya hampir tujuh kali lipat dari tas yang di pegang Tari.
__ADS_1
Sedangkan Mahmudi yang mengikuti Seruni dari belakang, hanya bisa melongo melihat deretan angka yang tertera di label harga tas tersebut.
Susah payah Mahmudi menelan saliva nya, dan keringat dingin mulai bercucuran. Mahmudi mulai menghitung dalam hati, cukup kah uang nya untuk membayar tas tersebut? Kalau pun cukup, bagaimana nanti dia akan membelikan hadiah untuk sang istri sesuai dengan nadzar nya?
Tapi demi melihat senyum sang istri, Mahmudi bertekad akan menuruti apapun yang diinginkan istri nya tersebut.
"Pa, aku boleh ambil tas yang ini ya?" Pinta Seruni manja, dengan sengaja mengeraskan suara nya.
"Iya, boleh ma," balas Mahmudi seraya mengangguk.
Mendengar suara yang tak asing di telinga nya, Tari mendongak dan terkejut mendapati Mahmudi berada di sana. Tapi sedetik kemudian, Tari langsung memeluk mesra pasangan nya untuk pamer pada Mahmudi bahwa diri nya telah memiliki gandengan baru.
Tari melihat tas yang di pegang Seruni, dan wanita yang gila barang-barang branded itu tahu pasti bahwa tas yang kini ada dalam dekapan Seruni adalah tas limited edition, yang harga nya setara dengan satu buah motor matic yang paling mahal.
Dan darah Tari langsung mendidih, dengan buru-buru wanita dengan pakaian tertutup namun ketat itu mengbalikan tas yang sedari tadi di pegang nya. Tari kemudian memilih salah satu tas limited edition dengan model lain, yang harga nya sebelas dua belas dengan tas yang telah dipilih oleh Seruni.
Laki-laki itu nampak mengerutkan kening nya dengan dalam, dan sejurus kemudian menggeleng p pelan melihat harga yang tertera. "No Tari, it's too expensive," ucap nya datar.
"Ayolah sayang, cuma segini? Aku janji, aku akan menemani mu sampai visa mu habis," Tari masih merajuk.
Laki-laki berambut ikal itu terlihat berfikir, dan sedetik kemudian tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi-gigi nya yang putih bersih. "It's okay baby, asalkan kamu juga mau melayani teman-teman ku secara gratis," ucap nya dengan bahasa Indonesia yang terbata, mengabulkan keinginan Tari namun dengan syarat.
"Apa?!" Seru Tari yang terdengar sangat terkejut, "melayani teman-teman kamu yang berjumlah lima orang itu?!" Lanjut Tari yang hampir tak percaya itu dengan berbisik, dan dengan cepat laki-laki teman kencan nya itu mengangguk pasti.
Dahi Tari mengernyit dalam, "ya ampun, melayani satu Dario aja aku udah kewalahan dan inti ku seperti kemasukan buldozer! Bagaimana mungkin, aku melayani mereka semua?!" Gerutu Tari dalam hati.
__ADS_1
Namun demi tas branded limited edition dan gengsi nya pada Mahmudi dan wanita hamil yang sedari tadi di peluk dengan mesra oleh Mahmudi, membuat Tari mengangguk menyetujui syarat dari laki-laki berkulit hitam bernama Dario tersebut tapa berpikir panjang.
"Good baby, kita akan party nanti malam," ucap Dario, dengan senyum yang sulit diartikan. "wanita bodoh ini adalah tambang emas ku, aku akan mendapatkan banyak uang dengan menjual nya pada teman-teman," gumam Dario, yang ternyata penuh rencana.
Dan ketika Tari dan Dario hendak menuju kasir untuk membayar tas yang telah dipilih, Tari yang sengaja memilih melintas di hadapan Mahmudi dan Seruni tersenyum penuh kemenangan seraya berbisik. "Dia lebih tajir dari pada kamu yang gaji nya enggak cukup untuk makan sebulan!" Tari mencibir sambil berlalu.
Mahmudi hanya mengedikkan bahu dan semakin jijik mengetahui sifat Tari yang asli, sedangkan Seruni merasa iba pada wanita muda itu. "Kasihan dia ya pa, demi apa coba sampai rela jual diri seperti itu?" Lirih Seruni yang tadi bisa mendengar permintaan laki-laki berkulit hitam yang bersama Tari.
Mahmudi menatap istri nya dengan penuh kekaguman, "terbuat dari apa sebenarnya hati mu ma? Kamu bahkan masih bisa mengasihani wanita, yang sempat aku hadirkan dalam rumah tangga kita?" Hati Mahmudi menjadi nyeri sendiri yang terlambat menyadari, betapa bodoh nya diri nya selama ini karena telah tega menyakiti hati istri yang seperti malaikat.
Setelah Tari dan teman kencan nya keluar dari toko, Seruni segera menuju ke kasir yang diikuti oleh sang suami yang selalu setia berada di samping nya.
Dan ketika Mahmudi hendak menyodorkan kartu debit nya untuk membayar, dengan halus Seruni menolak. "Pakai uang mama sendiri aja pa, karena ini di luar kesepakatan kita tadi malam. Mama enggak mau memberatkan papa, karena papa juga butuh uang untuk biaya operasional sehari-hari kan?" Seruni menatap suami nya seraya tersenyum manis, dan kemudian menyodorkan kartu debit nya sendiri pada kasir.
Kembali Mahmudi dibuat terhenyak, istri yang telah disakiti nya masih tetap penuh perhatian dan memikirkan diri nya. Mahmudi menatap sang istri, dengan tatapan penuh arti.
"Mama sengaja beli tas mahal ini, hanya untuk memanas-manasi Tari tadi. Dan benar saja, dia terpancing.. hingga papa bisa mengetahui sendiri kan, bagaimana sifat asli nya dia?" Pungkas Seruni.
Tanpa merasa malu meski mereka berdua berada di tempat umum, laki-laki berbadan tegap itu memeluk istri nya dan mencium puncak kepala Seruni dengan netra berkaca-kaca. "I'm sorry ma,, maaf untuk semua kesalahan yang telah papa perbuat selama ini," lirih Mahmudi, dengan menahan sesak di dalam dada.
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏
Menuju ending ya bestie,,,
Dan seperti biasa, akan ada give away di setiap cerita yang aku tulis... hanya bagi pendukung yang mendapat julukan FANS ya 😊😊
__ADS_1
Nantikan give away nya di September ceria 🥰🥰