
Setelah kejadian itu, Mahmudi sedikit menjaga jarak dengan Tari. Namun Tari dengan segala tipu daya nya, terus merayu Mahmudi.
Tari sama sekali tak menyerah, meski berulangkali Mahmudi bersikap dingin pada nya.. bahkan Tari semakin agresif dan nekat.
"Aku harus mendapatkan apa yang aku mau," tekat Tari sambil berlari kecil mengejar Mahmudi yang hendak pulang dari kantor.
"Mas, tunggu," Seru Tari, yang langsung ikut masuk kedalam mobil tatkala Mahmudi masuk kedalam mobil nya.
"Aku mau pulang, ada apa menemui ku?" Tanya Mahmudi tanpa basa-basi.
"Kita ngopi dulu yuk mas, bentar aja. Udah beberapa hari ini mas selalu menghindar dari Tari, Tari kangen tau mas," rengek Tari sambil mengelus paha Mahmudi.
Mahmudi terdiam, sentuhan tangan Tari yang mulai nakal berhasil menyingkirkan sedikit kewarasannya. Tapi ketika tangan Tari mulai naik ke atas dan hendak menggerayangi bagian tubuh nya yang sensitif, bayangan Seruni yang tersenyum lembut melintas begitu saja di pelupuk mata nya.. dan Mahmudi segera menepis tangan Tari.
"Hentikan, enggak perlu seperti ini," tolak Mahmudi dengan dingin.
Raut wajah Tari sontak memerah, karena malu bercampur marah. Tari mulai berakting, dia terisak dengan mengeluarkan air mata palsu nya.
Mahmudi menghembus kasar nafas nya, "mau ngopi dimana?" Tanya Mahmudi yang mulai melembut, tak tega melihat tangis wanita muda di samping nya.
Tari tersenyum dan segera menghapus air mata palsu nya, "kafe taman yang biasa nya ya mas," pinta nya manja.
Mahmudi hanya bisa mengangguk, "maafkan papa ma, hari ini papa pulang terlambat," bisik Mahmudi dalam hati, dia merasa bersalah karena istri dan anak-anak pasti menunggu papa nya pulang.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, tibalah mereka di kafe taman yang letak nya cukup tersembunyi. Mereka selalu memilih tempat ini, agar tak ada teman yang memergoki kencan mereka.
Tari bergelayut manja di lengan Mahmudi sambil berjalan memasuki kafe, dan Mahmudi membiarkan nya saja.. tak melarang tapi juga tak merespon seperti biasa nya, yang akan menyambut kemanjaan Tari dengan senang hati dan memeluk pinggang wanita muda itu dengan mesra. Mahmudi bahkan kali ini, memasukkan kedua tangan nya kedalam saku celana.
__ADS_1
Sedangkan dari sudut kafe yang cukup tersembunyi, dua pasang mata melihat kehadiran mereka berdua dengan tatapan penuh amarah.
"Kak, bukan nya itu si Mahmud? Suami nya Uun kan?" Tanya seorang laki-laki, pada wanita di hadapan nya.
"Iya, kamu benar om.. itu suami nya Runi. Mau ngapain Mahmud ke kafe taman, sama wanita muda yang gelayutan kayak monyet gitu?!" Balas sang wanita dengan geram.
Mereka berdua terus memperhatikan gerik Mahmudi dan wanita muda yang masih saja bergelayut manja di lengan Mahmudi. Hingga mereka berdua duduk di tempat yang agak tertutup tak jauh dari laki-laki dan wanita yang sedari tadi memperhatikan kedatangan Mahmudi dan Tari.
Tari segera memesan kopi dan camilan untuk mereka berdua, sedangkan Mahmudi nampak sibuk dengan ponsel nya.
"Mas, kenapa sih dari tadi diam saja?" Rajuk Tari, sambil membelai pipi Mahmudi yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Hemm,, enggak, ini ada sedikit kerjaan yang harus segera aku kirim kan email nya," kilah Mahmudi sembari menepis tangan Tari dari wajah nya.
Tapi semakin di tolak, wanita muda itu semakin nekat. Tari yang duduk tepat di samping Mahmudi, merapatkan duduk nya,, dan dada nya yang besar, menempel sempurna di lengan Mahmudi.
Mahmudi melirik sekilas, namun kemudian kembali fokus pada layar ponsel nya. Tapi tak di pungkiri, darah laki-laki itu berdesir mendapati benda padat nan kenyal dengan size ekstra jumbo itu menempel sempurna pada lengan nya. Jiwa kelelakian Mahmudi sontak mulai meronta.
"Malam ini mas, malam ini kamu harus jatuh di pelukan ku. Aku sudah menitipkan anak-anak pada ibu, dan aku juga bilang kalau aku ada seminar dua hari," gumam Tari dalam hati.
Mahmudi berkali-kali menelan saliva nya, bahkan kini pikiran laki-laki itu tak lagi fokus pada layar ponsel yang dia buka.
Melihat mangsa nya mulai terangsang, Tari hendak mencium bibir Mahmudi,,, namun suara waiters yang datang membawa kan pesanan kopi dan camilan mereka berdua, menyelamatkan Mahmudi dari setan perempuan yang kini duduk menempel di samping nya.
Mahmudi beringsut, sedikit menjauh dan membetulkan kancing baju bagian bawah yang tadi dibuka oleh Tari.
Mahmudi buru-buru meminum kopi nya untuk menetralisir tubuh nya yang mulai terangsang tadi, dan laki-laki itu membuang kasar nafas nya kala mengingat kejadian barusan.
__ADS_1
Sedangkan Tari cemberut, dia kecewa karena mangsa nya kembali terlepas. Tapi wanita muda dengan make up tebal itu tak kehilangan akal, dia raih tangan Mahmudi dan hendak membawa nya menelusuri perut nya yang mulus.
Awal nya Mahmudi menepis, tapi Tari kekeuh dan terus memaksa nya tanpa kata dan hanya melalui tatapan mata.. hingga akhirnya Mahmudi hanya bisa menurut.
Tangan kekar nya di tuntun Tari untuk menjelajahi perut mulus milik Tari dan semakin naik ke atas, Tari sengaja merapat kan duduk nya kembali dan mulai mengeluarkan bisikan erotis.
Suara musik di kafe menyamar kan suara Tari, hingga hanya Mahmudi yang bisa mendengar nya. Dan tangan Mahmudi yang mulai di tuntun masuk kedalam bra berukuran 36 B itu, serta suara laknat Tari.. membuat kewarasan Mahmudi kembali menghilang.
Tari membantu Mahmudi meremas milik nya, dan memainkan bulatan coklat sebesar kelereng di atas gunung himalaya milik Tari. Dan suara erotis Tari yang sengaja di buat-buat, membuat sesuatu yang bersembunyi di dalam boxer Mahmudi mengeras dan berdiri tegak.
Tari yang berpengalaman dan pandai membaca air muka lawan nya, kembali hendak mencium bibir Mahmudi... ketika tiba-tiba, brakkk...
Seorang laki-laki datang sambil menggebrak meja dan berhasil menggagalkan aksi Tari.
"Laki-laki brengsek kamu Mud, tega kamu mengkhianati istri kamu yang baik," seru laki-laki itu sambil menonjok wajah Mahmudi, yang langsung memar dan sudut bibir Mahmudi mengeluarkan darah segar.
Tari yang kaget langsung beringsut, dan sedikit menjauh.. Tari bahkan langsung bersembunyi, karena tak mau nama baik nya sebagai selebgram di pertaruhkan karena keributan ini.
Laki-laki itu hendak kembali memukul Mahmudi yang masih syok, namun segera di lerai oleh seorang wanita yang bersama nya. "Hentikan om, jangan main hakim sendiri," cegah wanita itu.
"Tapi kak, suami macam dia pantas mendapatkan pukulan bahkan kalau perlu di bunuh sekalian," ketus laki-laki itu, yang masih dikuasai oleh amarah.
"Mud, buka mata kamu! Kurang apa istri mu itu?! Bahkan Seruni lebih cantik dari wanita itu!" Geram wanita yang tadi melerai, dengan menatap tajam Mahmudi.
Mahmudi hanya bisa menunduk malu, "maafkan aku Don, maaf kan aku Wi.. tolong, tolong jangan katakan apapun pada istri ku," pinta Mahmudi, pada dua orang yang ternyata sahabat baik Seruni.. Doni dan Tiwi.
"Minta maaf nya jangan sama kita bro, tapi sama istri kamu. Dia yang kamu khianati," kesal Doni.
__ADS_1
"Kalau kamu memang sudah tidak sanggup untuk membahagiakan nya, jangan pernah menyesal.. jika suatu saat, aku ambil Seruni dari kehidupan kamu!" Ancam Doni tak main-main, dan Mahmudi yang memang sudah tahu masa lalu istri nya itu hanya bisa tertunduk lesu.
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏