Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
49. Mama Pasti Janjian Kan?


__ADS_3

Sebelum tidur, Seruni menyampaikan undangan dari Doni kepada sang suami. "Pa, besok sore kita dapat undangan perpisahan Doni di villa." Ucap Seruni, sesaat setelah Mahmudi keluar dari kamar mandi.


"Kita? Papa juga?" Tanya Mahmudi, sembari membaringkan diri di tempat tidur.


"Iya pa, kita semua. Sama anak-anak juga," balas Seruni, "acara nya di villa, di kota atas dan undangan nya memang sekeluarga," lanjut Seruni.


"Berarti menginap?" Kembali Mahmudi bertanya.


"Heem,,," balas Seruni dengan gumaman, masih sambil membersihkan wajah nya dengan susu pembersih. "Berangkat ya pa?" Pinta Seruni seraya menatap sang suami dari pantulan kaca rias di depan nya.


"Asal Doni enggak merencanakan macam-macam aja," balas Mahmudi yang nampak malas untuk ikut pergi ke acara tersebut.


Seruni mengernyit kan kening nya, dan setelah selesai mengaplikasikan cream malam pada wajah nya Seruni segera beranjak. Maksud kamu apa pa? Kamu nuduh Doni merencanakan sesuatu? Untuk apa pa? Kamu pikir, Doni itu jahat?" Cecar Seruni, seraya mendudukkan diri di tepi pembaringan dan menatap suami nya dengan tatapan tak mengerti.


"Bukan begitu maksud papa ma,," balas Mahmudi dengan mengusap lembut pinggang Seruni, yang sudah mulai sering terasa pegal itu. "Papa hanya takut, Doni mencoba menarik simpati mama dan mengambil mama dari papa." Lanjut Doni yang terdengar khawatir.


"Doni atau laki-laki manapun enggak perlu mengambil simpati mama, karena mama enggak akan pernah berpaling. Kecuali..." sejenak Seruni menghentikan ucapan nya, dan menatap sang suami dengan tajam.


Mahmudi mengkerut, laki-laki itu sudah tahu apa kelanjutan dari ucapan sang istri.


"Kecuali, jika kamu kembali membuat aku kecewa pa. Maka aku yang akan pergi dengan sendirinya, tak perlu direbut oleh laki-laki manapun!" Tegas Seruni seraya beranjak.


Tapi Mahmudi langsung menahan tangan nya, "maafkan papa ma," ucap Mahmudi dengan lembut, dan dengan tatapan memohon. "Papa benar-benar enggak mau kehilangan mama," lanjut nya sungguh-sungguh.


"Sudah malam pa, mama mau tidur," Seruni meneruskan langkah nya untuk mengganti lampu utama dengan lampu tidur, dan kemudian segera menyusul sang suami merebahkan diri di atas pembaringan yang empuk.


Mahmudi merengkuh tubuh sang istri, dan membawa Seruni ke dalam dekapan nya yang hangat. "Besok pagi, mama mau belanja apa dulu sebelum kita berangkat ke villa?" Rayu Mahmudi, sambil menciumi aroma wangi rambut sang istri.

__ADS_1


"Apa ya pa?" Sejenak Seruni berpikir, apa yang akan diminta nya mumpung sang suami sendiri yang menawarkan. "Gimana kalau kita beli baju dan jaket couple keluarga pa, di sana kan dingin?" Pinta Seruni.


"Hem,, boleh," balas Mahmudi sambil mulai berhitung, berapa budget yang harus dia keluarkan demi meraih kembali hati sang istri dan menjaga hati ibu dari anak-anak nya itu agar tidak menjauh dari nya.


"Tak mengapa uang tabungan ku habis, yang penting mama senang. Toh aku bekerja memang untuk istri dan anak-anak," gumam Mahmudi dalam hati, "semoga masih ada sisa banyak, jadi aku bisa memberi mama kado istimewa setelah melahirkan nanti," lanjut Mahmudi, yang sudah merencanakan akan memberikan kejutan untuk sang istri setelah melahirkan putra keempat mereka.


Hening, sejenak menyapa kamar tidur dengan lampu yang temaram itu. Hanya terdengar hembusan nafas dari kedua nya, yang terdengar teratur.


"Sama tas dan sepatu flatshoes ya pa, masak mama pakai sandal yang udah lama sih? Kan malu pa?" Lanjut Seruni mengurai keheningan, yang sengaja semakin ngelunjak permintaan nya.


"Tas apa ma? Bukan nya tas mama udah banyak ya?" Tanya Mahmudi mencoba menawar, karena pasti dana yang akan dikeluarkan akan semakin membengkak jika istri nya itu minta dibelikan tas yang pasti nya bukan tas biasa saja. Dan Mahmudi khawatir, uang simpanan nya tidak akan cukup untuk membeli kan hadiah buat sang istri nanti nya.


"Iya sih pa, tapi kalau sepatu flatshoes nya baru kan.. jadi enggak matching kalau dipadu padankan sama tas yang udah ada?" Protes Seruni, seraya membalikkan badan nya menghadap sang suami. Seruni ingin melihat langsung, apakah suami nya benar-benar ikhlas atau kah terpaksa menuruti keinginan diri nya itu?


Seruni masih ingin menguatkan keputusan nya, apakah dengan memilih bertahan itu adalah suatu keputusan yang tepat? Sebab, bukan hanya penyesalan Mahmudi saja yang dibutuhkan oleh Seruni. Tetapi, Seruni juga mau sang suami tak lagi pelit dan perhitungan dengan diri nya dan juga anak-anak.


Seruni juga menuntut keterbukaan dari sang suami, bukan hanya mengenai keuangan saja tapi juga tentang pekerjaan dan tentang teman-teman sang suami di kantor ataupun di luaran sana.


"Alhamdulillah, seperti nya papa sudah mulai benar-benar berubah," gumam Seruni seraya mengulas senyum, sambil menatap sang suami yang tengah menatap nya dengan intens semenjak tadi.


Perlahan namun pasti, Mahmudi mulai mendekat kan wajah nya. Dan melihat tak ada penolakan dari sang istri, Mahmudi kemudian menyatukan wajah. Dan Seruni pun menyambut sentuhan wajah sang suami, dengan sepenuh hati,,,


_____


Keesokan hari nya, Mahmudi benar-benar memenuhi janji untuk mengajak sang istri berbelanja ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota tersebut.


"Ma, mama udah ada bayangan belum model baju dan jaket apa yang mau di beli? Sepatu dan tas nya juga?" Tanya Mahmudi seraya melirik sang istri, sesaat setelah mobil yang dikendarai nya melaju di jalanan kota yang ramai dengan lalu lalang kendaraan.

__ADS_1


"Biar nanti di sana enggak perlu muter-muter untuk mencari nya, karena papa enggak mau kalau sampai mama kenapa-napa sebab kecapekan," lanjut Mahmudi yang penuh perhatian.


"Udah kok pa, aku udah lihat katalog nya di ponsel. Kita nanti bisa langsung ke counter nya," balas Seruni seraya menyebutkan nama sebuah brand terkenal.


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Mahmudi berbelok menuju pusat perbelanjaan. Dan Mahmudi langsung memarkir mobil nya di tempat yang kosong.


Setelah mobil terparkir sempurna, Mahmudi buru-buru turun untuk segera membukakan pintu buat sang istri. Dan suami Seruni itu kemudian membantu istri nya yang tengah hamil besar, untuk turun dari mobil.


Kedua nya hendak berjalan masuk kedalam pusat perbelanjaan, ketika suara bariton terdengar memanggil nama Seruni dengan spesial. "Un,,"


Seruni dah Mahmudi langsung menoleh kearah sumber suara, dan terlihat dari kejauhan Doni yang juga baru turun dari mobil mendekat kearah mereka.


Mahmudi langsung menatap tajam istri nya, "apa mama janjian sama Doni?" Tanya Mahmudi yang mulai curiga.


Seruni mengernyit, dan kemudian menggeleng. "Enggak pa," balas Seruni tegas karena memang diri nya tidak membuat janji apa-apa sama Doni.


"Enggak mungkin bisa kebetulan gini ma, mama pasti janjian kan?" Desak Mahmudi seraya berbisik, karena jarak Doni sudah semakin dekat.


"Enggak pa," kekeuh Seruni ikut berbisik, sambil mengulas senyum untuk Doni karena kini laki-laki berusia matang yang masih saja melajang itu hanya tinggal beberapa langkah saja di hadapan nya.


"Hai Un, hai bro..." sapa Doni, sambil menjabat tangan Seruni dan Mahmudi bergantian.


"Hai Don,," balas Seruni dengan hangat, sedangkan Mahmudi nampak tidak suka dengan kehadiran Doni. Mahmudi merasa terancam, dan khawatir tempat nya akan tergeser oleh laki-laki tampan dan mapan yang masih menyimpan perasaan untuk sang istri yang semakin matang usia nya semakin cantik itu.


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏


Mau di bawa kemana... hubungan kita??

__ADS_1


Mau nya gimana mam, emak, tante, kakak??


Kalau aku mau nya, segera end... 😊😊


__ADS_2