Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
20. Kenikmatan yang Hakiki


__ADS_3

Di kediaman Mahmudi, setelah mandi besar dan sholat berjamaah dengan sang istri.. Mahmudi membantu istri nya untuk menyiapkan makan malam.


Mahmudi menata piring dan membuatkan minuman untuk anak-anak, sedangkan Seruni memanaskan lauk yang tadi sudah di buatkan oleh asisten rumah tangga nya sebelum pulang.


Sesuai permintaan Seruni, mereka akhirnya memperbantukan seorang asisten yang merupakan saudara dari asisten nya Nila. Tapi asisten tersebut tidak menginap, hanya datang di pagi hari dan pulang menjelang maghrib.


Anak-anak yang baru pulang dari mengaji di masjid, langsung berhambur menuju meja makan. Dan membuat riuh suasana di ruang makan tersebut.


Seruni yang sudah menyajikan lauk yang tadi dipanaskan, segera meladeni sang suami. Dan kemudian mengambil kan makanan untuk anak-anak nya.


Mereka makan dengan tenang, tak ada yang berebut. Hanya sesekali terdengar suara Mahmudi yang bertanya kepada anak-anak nya, tentang pelajaran dan teman-teman mereka di sekolah.


Si sulung yang tegas dan penurut, hanya akan menjawab sekedar nya saja. Begitu pun dengan putra kedua yang cerdas dan pendiam, yang hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan kepala.


Berbeda dengan Tsalis, si bungsu yang periang dan pemberani.. anak itu akan menjawab dengan lebih banyak kalimat, hingga terkadang Mahmudi dan Seruni di buat geleng-geleng kepala.


Si bungsu itulah yang membuat kehidupan rumah tangga Mahmudi dan Seruni selalu ceria, karena ada saja akal nya untuk membuat orang-orang di sekitarnya itu tertawa.


Usai makan malam, Mahmudi menggiring ketiga putra nya untuk belajar di kamar. Mahmudi sendiri yang mendampingi mereka untuk belajar, dan jika Seruni sudah selesai dengan urusan dapur.. baru ibu tiga anak itu ikut bergabung untuk membantu mengajari putra ketiga nya.


Setelah anak-anak nya belajar, Mahmudi dan Seruni biasanya memberikan kesempatan pada anak-anak untuk nonton televisi meskipun hanya sebentar.


Dan pada momen itulah, mereka biasanya akan mulai berebut perhatian sang papa dengan cara mereka masing-masing.


Alif yang paling besar, lebih suka memijat kaki papa nya jika ada mau nya. Sedangkan putra kedua nya, biasanya akan bergelayutan di lengan sang papa jika menginginkan sesuatu.

__ADS_1


Beda lagi dengan putra ketiga nya, bocah yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu lebih senang memainkan karakter tokoh super hero nya untuk mencari perhatian sang papa dan kemudian melancarkan aksi nya untuk meminta di belikan mainan atau jajan yang dia mau.


Sedangkan Seruni, hanya akan menjadi penonton sambil sibuk meneliti laporan keuangan dari pegawai nya di toko.


Tapi malam ini ada yang berbeda, dimana ayah tiga anak itu selalu mepet sama istri nya sejak masih berada di meja makan tadi dan seolah tak membiarkan sang istri untuk menjauh meski hanya sejengkal saja.


"Mama duduk sini ya, ikut nonton TV," pinta Mahmudi sambil menuntun sang istri untuk duduk di sofa bed, menemani anak-anak nya nonton acara televisi kesukaan mereka.


"Tapi mama kan harus ngecek laporan toko pa," balas Seruni, tapi tetap duduk mengikuti kemauan sang suami.


"Nanti, kalau anak-anak udah tidur.. papa temani mama," balas Mahmudi sambil mengelus perut buncit sang istri.


Seruni tersenyum, mendapat perlakuan beda dari suami nya. "Papa kenapa sih? Apa, papa mau jujur mengatakan kesalahan nya ya?" Batin Seruni, tapi ibu hamil itu tak mau berharap lebih.


Sepanjang menemani anak-anak nonton televisi, tangan Mahmudi tak pernah lepas dari tubuh istri nya. Dari mengelus perut, memijat punggung, sampai memangku kaki Seruni dan memijat nya dengan lembut.


"Ma, adik ngantuk," rengek Tsalis yang mulai mengantuk, karena memang sudah waktunya mereka untuk tidur.


"Mas, nonton TV nya udah ya, ayo kalian bersih-bersih dulu," titah Seruni sambil beranjak, yang diikuti oleh Mahmudi yang menggendong Tsalis karena anak itu sudah benar-benar mengantuk.


Kedua putra nya yang besar pun menurut, dan bergegas masuk kedalam kamar. Bergantian ke kamar mandi, dan kemudian segera pergi tidur di ranjang masing-masing.


Putra ketiga yang di gendong sang papa, juga langsung di rebahkan di ranjang nya sendiri yang berada di tengah-tengah di antara ranjang kedua kakak nya. Dan Mahmudi biasanya akan menemani hingga sang putra benar-benar terlelap.


Dan kali ini, Mahmudi kembali menunjukkan sikap nya yang beda. "Ma, bobok sini temani adik." Pinta Mahmudi, sambil menepuk ruang kosong di samping kiri sang putra. Sedangkan diri nya ikut merebahkan diri di samping kanan Tsalis.

__ADS_1


Seruni lagi-lagi menurut, dan segera berbaring di samping putra ketiga nya. Kini kedua nya saling pandang, dengan Tsalis sebagai pembatas nya.


Mahmudi tersenyum, dan membelai pipi chabi Seruni. Hal yang sudah lama sekali tak dilakukan nya, kecuali saat mereka berhubungan badan.


"Kenapa pa? Pipi mama tembem ya? Mama jelek ya sekarang?" Tanya Seruni, sambil menatap dalam netra sang suami.. mencoba mencari kejujuran dari apa yang akan diucapkan suami nya.


Mahmudi menggeleng, "memang tambah chabi, tapi mama tetap cantik. Cantik alami," balas Mahmudi jujur, karena Mahmudi sering melihat make up Tari yang tebal dan masih saja sering touch up jika beraktivitas di lapangan.


"Ihh,, sejak kapan papa pandai menggombal?" Seruni tersenyum, dengan pipi yang merona merah.


"Sejak saat ini, papa akan sering melakukan nya.. tapi bukan menggombal ma. Karena papa menyadari, sikap romantis dan pujian yang tulus itu perlu dalam sebuah hubungan." Balas Mahmudi sungguh-sungguh, "tolong, ingatkan papa jika papa mulai lupa ya ma," lanjut nya memohon, dengan meraba bibir tipis sang istri.


Seruni tersenyum manis dan mengangguk.


"Ma, papa mau lagi," pinta Mahmudi, dengan tatapan penuh damba.


Seruni sempat mengernyit, namun sedetik kemudian segera mengangguk. "Dengan senang hati, mama akan melayani papa. Daripada papa menghabiskan malam dengan berkirim pesan pada wanita lain," gumam Seruni dalam hati.


Setelah memastikan anak-anak mereka tidur, Mahmudi membopong tubuh sang istri keluar dari kamar anak-anak nya.. menutup kembali pintu kamar anak nya dengan satu kaki, dan kemudian meneruskan langkah menuju ke kamar nya.


"Pa, memang nya... mama enggak berat ya?" Tanya Seruni, sebelum mereka sampai di kamar.


Mahmudi hanya menggeleng dan tersenyum, "masih lebih berat dosa papa sama kamu ma," bisik nya dalam hati.


Setelah merebahkan tubuh sang istri dengan pelan di atas kasur yang empuk, Mahmudi segera mengunci pintu kamar nya dan mengganti lampu utama dengan lampu tidur.

__ADS_1


Dan dengan semangat empat lima, laki-laki berbadan tinggi tegap itu segera mendatangi wanita halal nya untuk mencari kenikmatan duniawi yang tiada tandingannya. Kenikmatan yang hakiki, yang bahkan dapat mendatangkan pahala bagi kedua nya.


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2