
Semenjak pertemuan hari itu hubungan Naira, dan Rega kembali menjadi semakin dekat. Seolah menebus waktu yang mereka lalui tanpa satu sama lain. Setelah dari taman Rega mengantar Naira ke cafe milik Naira, dan menjemput gadis itu pulang pada malam harinya.
“ Mampir dulu yu bang, Nay kenalin sama mama papa.” Ucap Naira sebelum keluar dari mobil.
“ Nanti deh Nay. Gak enak udah malem, nanti aja kapan – kapan abang main ke rumah kamu.”
“ oke deh, kalo gitu Nay masuk dulu. Abang hati-hati ya.”
“ Siap cantik. Masuk gih, abang pergi kalo kamu udah masuk rumah.”
“ haha oke.” setelah itu Naira berjalan ke arah rumahnya.
Terima kasih Tuhan telah mengizinkanku untuk melihatnya lagi, menghilangkan ketakutanku bahwa dia akan sudah melupakanku saat aku kembali.Terima kasih telah memberikan hasil yang manis untuk usahaku selama ini. Sedikit lagi, tunggu abang sedikit lebih sukses lagi Nay. Abang janji akan jadi pria yang layak buat kamu. Batin Rega sembari memandang Naira yang berjalan membelakanginya, sebelum akhirnya menjalankan mobil setelah melihat Raina masuk ke dalam rumah.
Naira masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan bahagia. Saat akan menaiki tangga menuju kamarnya, dia melihat ibunya sedang menyiapkan makan malam.
“ Mamaaa.” Memeluk ibunya dari belakang
“ Ada apa nih, ko kesayangan mama kayanya lagi seneng banget.” Penasaran dengan alasan dibalik senyum yang terus terukir dibibir putrinya itu.
“ Gak tau, tiba – tiba seneng aja.”
“ Aneh kamu nay.” Merasa konyol dengan jawaban putinya. “Ya udah, kamu mandi gih abis itu turun buat makan malem.”
“Siap mamaku Sayang.” Mencium pipi sang itu, lalu beranjak menuju kamarnya.
Setelah selesai dengan ritual membersihkan diri-nya, Naira turun menuju ruang makan. Disana ia melihat ibu dan ayahnya tengah duduk di meja makan menunggunya.
“ Malem ma, pa.” Duduk di kursi
“ Malem sayang.” Jawab orang tuanya
“ Gimana Cafe kamu nay. ?” tanya Pak Guntoro papa Naira.
“ Baik pa, sebenernya urusan manajemennya lebih banyak Bella yang handle. Nay lebih ke ngurusin kualitas makanannya.” Menjelaskan perkembangan bisnis cafe nya.
“ Syukurlah kalo kerjaan temen kamu itu bagus. Awalnya papa ragu waktu kamu bilang mau jadiin dia sekretaris kamu. Papa fikir dia gak cukup kompeten.”
__ADS_1
“ Dia kompeten banget ko pa.”
“ Owh iya, weekend nanti kamu luangin waktu ya Nay. Kita diundang makan malem sama temen papa.” Teringat rencana makan malam dengan keluarga temannya.
“ Dalam rangka apa pa ? ko tumben makan malem keluarga segala.” Heran dengan permintaan sang ayah.
“ Cuma makan malem biasa, jalin silaturahmi biar keluarga kita makin deket sama keluarga mereka.”
“ Oke deh, nanti Nay luangin waktu.”
“ Udah. ? Udah cukup rapatnya ?.” Sindir Widia ibu Naira pada putri dan suaminya yang sibuk bicara padahal mereka sedang makan.
“Sudah Mama.” Jawab Naira dan papanya bersamaan lalu tertawa mendengar sindiran ibunya.
*****
Adnan sedang duduk di ruangannya, memeriksa berkas informasi pasien, dan mempelajari kondisi pasien – pasien tersebut. Hari itu tidak ada jadwal untuk operasi, sehingga ia memiliki waktu cukup luang.
Konsentrasinya terganggu saat teringat ucapan ibunya semalam yang memintanya untuk pergi makan malam dengan keluarga gadis yang akan dijodohkan dengannya. Ibunya mengeluarkan ultimatum bahwa ia harus menerima perjodohan ini, sebab beberapa hari lalu ibunya sempat menunjukan beberapa foto gadis untuk ia pilih. Namun, ia menolak semua gadis itu dengan alasan yang ibunya anggap konyol. Sehingga, untuk kali ini ibunya tidak menunjukan foto gadis itu, dan membuatnya semakin ketar ketir memikirkan pertemuan dimakan malam nanti.
[ Flashback beberapa hari lalu ]
“ Mereka siapa ma ? Model buat fashion show butik mama.” Ucap Adnan sambil melihat – lihat foto itu, tanpa menoleh ke arah ibunya.
“ Kalo model buat fashion show mama gak bakal repot – repot kasi liat kamu. Ini itu foto anaknya temen – temen mama. Gimana ? cantik – cantikkan ?”
“ Biasa aja.” Jawab Adnan datar
“ Ini coba liat yang ini, dia Polwan usianya sama kaya kamu.” Menyodorkan salah satu foto.
“ Gak mau. Polwan itu banyak urusan sama orang jahat, otomatis banyak musuhnya. Mama mau anak mama hidupnya gak tenang gara – gara urusan sama kriminal ?.”
“ Iya juga ya. Kalo gitu ini, gimana kalo yang ini dia model profesional. Cantik kan ? udah gitu dia banyak menang penghargaan di bidang modeling. Gak bakal malu – maluin deh pokonya.”
“ Gak suka. Liat deh, kok kakinya panjang banget gitu ? jangan – jangan dia bukan manusia lagi ma. “
“ Ya namanya juga model, ya pasti tinggi, kaki nya jenjang Bukan berarti kakinya panjang sayang, normal model tingginya segitu tuh.” Mulai lelah dengan alasan sang anak.
__ADS_1
Perdebatan pemilihan calon istri itu masih terus berlanjut. Namun, Alasan – alasan yang diucapkan anaknya membuat Amira ibu Adnan lelah, dan kesal. Hingga ia memutuskan untuk menghentikannya dan pergi tidur.
Saat Amira di dalam kamarnya terdengar sang anak mengetuk pintu kamarnya, dan masuk.
“ Mama marah ? “ berjalan menghampiri ibunya yang tengah duduk di pinggiran ranjang.
“ Abisnya kamu. Susah banget di suruh nikah. Mau nunggu sampe umur berapa ?. mau nunggu sampe mama setua apa ?.”
Adnan mendekat ke arah ibunya, duduk di lantai dan menggenggam kedua tangan ibunya.
“bukannya Adnan gak mau ma, tapi Adnan takut. Kalo Adnan salah pilih, dan ternyata kita gak cocok sama aja Adnan nyakitin orang lain. Karena gimanapun kondisinya, atau apapun alesannya Adnan cuma akan menikahi satu orang.” Mencoba membuat ibunya memahami alasannya.
“ Sekarang coba mama bayangin, kalo Adnan milih salah satu dari gadis di foto tadi sedangkan Adnan sendiri gak yakin. Hubungan itu bisa aja rusak ma, dan bukan hanya hubungan Adnan sama gadis itu yang rusak, tapi hubungan mama sama temen mama juga yang notabene nya adalah orang tua gadis itu.” ucap Adnan mencoba kembali meyakinkan sang ibu
“ Iya, mungkin kamu bener.” Amira mulai memahami alasan anaknya.
[ Flashback Off ]
Saat Adnan tengah melamun tiba – tiba kehadiran seseorang mengagetkannya.
“ Pagi pak dokter.” Sapa seorang pria berseragam polisi yang tiba-tiba menyelonong masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu.
“ Maaf ya pak Polisi, tapi saya simpen pintu disitu buat diketuk bukan cuma dipajang.” Sindir Adnan pada pria tidak sopan dihadapannya itu, yang sialnya adalah sahabatnya sejak dibangku SMA.
“ Bukan. Pintu itu buat nutupin lo kalo lagi ngelamun. Mikirin apa sih sampe kaget gitu gue dateng.?” Penasaran dengan alasan dibalik muka kaget Adnan saat dia datang. Profesinya sebagai seorang detektif kepolisian membuat Dirga lebih peka terhadap situasi.
“ Biasa masalah Nyokap. Emang siapa lagi yang bisa gua fikirin selain nyokap gue.”
“ Dasar anak mami. Mending lo temenin gue makan, dari semalem gue belum sempet makan gara- gara harus ngawasin tersangka yang lagi di rawat.”
“ Ini masih jam kerja P.A mana bisa gue pergi gitu aja, kasian pasien gue nunggu.” belum sadar bahwa daftar pasien yang memiliki jadwal untuk berobat padanya sudah habis.
“ eh dodol pasien lo udah abis, lo kira gue kesini tanpa tanya suster dulu apa.?”
“ Emang udah abis ?. ko gue gak sadar.?”
“ Iyalah, orang dari tadi lo ngelamun mulu. Pantes aja gak sadar. Udah ayo jalan.” berbalik ke arah pintu meninggalkan Adnan.
__ADS_1
Mereka berduapun pergi ke salah satu restoran yang dekat dengan rumah sakit, dan perlahan Adnan menceritakan tentang masalah perjodohan yang selama ini mengganggu fikirannya.