Bertahan Atau Lepaskan

Bertahan Atau Lepaskan
40. Bukannya, Beliau itu Gay?


__ADS_3

Kini Seruni dan Mahmudi telah kembali ke kamar hotel yang tadi di tempati oleh Seruni, tadi nya Seruni mau langsung pulang begitu urusan dengan pihak kepolisian selesai tapi Mahmudi menahan nya.


"Tadi papa kan udah janji sama mama, untuk memijat kaki mama. Ayo rebahan," titah Mahmudi, seraya menuntun sang istri untuk merebahkan diri di atas kasur busa yang empuk dengan sprei berwarna putih itu.


"Pijat aja lho pa, awas aja kalau papa macam-macam!" Ancam Seruni.


"Iya ma," balas Mahmudi dengan lesu, tapi tangan nya tetap mulai memijat pelan kaki istri nya.


Lima belas menit berlalu, tak ada percakapan diantara mereka berdua dan hanya keheningan yang tercipta.


Seruni yang merasakan nikmat nya di pijat mulai memejamkan mata nya, dengan posisi tubuh miring. Sedangkan Mahmudi asyik dengan pikiran nya sendiri yang mulai ngelantur kemana-mana melihat kaki jenjang dan mulus milik sang istri.


Tangan Mahmudi mulai nakal, memijat area paha sambil sesekali mengelus nya hingga membuat Seruni protes tapi dengan suara lirih karena rasa kantuk yang mulai menyerang. "Pa, kendalikan tangan papa."


Tapi Mahmudi bergeming, dan tangan nya malah semakin liar. Seruni yang telah dikuasai rasa kantuk, tak lagi menyadari apa yang dilakukan oleh suami nya. Dan Mahmudi memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meminta ijin, dengan berbisik lirih di telinga sang istri.


"Ma, boleh ya.. papa akan pelan-pelan, kalau mama mau tidur, tidur aja." Mahmudi menggigit kecil telinga Seruni, hingga membuat Seruni mende*sah.


Mahmudi mulai melucuti cela*na dalam sang istri, dan juga melepaskan cela*na nya sendiri dengan kasar dan membuang nya asal. Laki-laki itu seperti nya sudah tak dapat lagi membendung has*rat yang menggebu, tapi Mahmudi masih dapat berpikir untuk melakukan foreplay agar sang istri tidak merasa kesakitan.


Ayah tiga anak itu mulai mencumbui istri nya, yang antara sadar dan tidak tapi memberikan respon dengan mengeluarkan suara nya yang seksi.


Merasa mendapatkan respon baik dari sang istri, gai*rah Mahmudi semakin menjadi. Dan Mahmudi langsung memeluk istri nya dari belakang, hendak melakukan penyatuan.


Namun tanpa di duga, Seruni yang baru tersadar langsung membalikkan tubuh menghadap Mahmudi dan menatap tajam suami nya. "Kamu cari-cari kesempatan ya pa!" Tuduh Seruni dengan tatapan mengintimidasi.


"Enggak ma, tadi papa udah minta ijin sama mama... swear." Mahmudi menangkup kedua tangan di depan dada, "dan tadi, mama juga merespon baik kok waktu papa foreplay," lanjut nya.


"Aku kan ngantuk pa, mana ada orang ngantuk kasih respon!" Elak Seruni.


"Udah, papa minggir sana! Aku ngantuk, aku mau tidur.. jangan di ganggu!" Ancam Seruni, sambil membetulkan longdress nya yang sudah naik.


"Ma, ini gimana nasib nya?" Rajuk Mahmudi seraya menunjuk milik nya yang sudah berdiri tegak.


"Kamar mandi sana, ada sabun kan di sana?" Balas Seruni tanpa merasa bersalah, dan kembali memunggungi Mahmudi.


"Ma, kan ada mama.. kenapa harus pakai sabun, ma? Please ya ma?" Mahmudi masih merajuk, seraya menempelkan milik nya kebagian tubuh belakang sang istri.


"Enggak mau! Papa masih dalam masa hukuman!" Balas Seruni tegas.

__ADS_1


"Sampai kapan ma?" Tanya Mahmudi dengan lemas.


"Sampai terbukti, bahwa hanya ada nama ku di hati kamu pa," balas Seruni yang kekeuh dengan pendirian nya.


"Yah nasib, nasib.. apes bener hari ini," gumam Mahmudi, "tapi peluk boleh ya ma? Papa janji hanya akan peluk, karena papa juga mau tidur menemani mama," pinta Mahmudi dengan suara nya yang terdengar sangat memohon.


"Hmmm,," balas Seruni hanya dengan gumaman.


_____


Sementara Arif yang mengendarai sepeda motor tak langsung pulang menuju ke rumah nya, tapi berbelok ke arah lain.


Setelah sampai di tempat yang di tuju, Arif langsung memarkirkan sepeda motor nya. Arif baru saja membuka helm, ketika seseorang menyapa.


"Eh, om Arif. Tumben om, main kesini? Ada angin apa gerangan?" Tanya seorang wanita yang seumuran dengan Arif, yang baru keluar dari kediaman nya begitu mendengar suara motor berhenti di halaman rumah.


"Iya mbak, lagi suntuk nih," keluh Arif yang langsung menghempaskan tubuh nya di kursi teras.


"Ada masalah apa? Istri mu lagi? Nuntut apa lagi dia? Masih kurang, semua gaji dan hasil lemburan kamu kasih ke dia?" Cecar wanita itu.


"Huff,,," Arif membuang kasar nafas nya, "kalau itu sih, udah biasa mbak. Lagu lama," balas Arif fi datar.


Sejenak Arif terdiam, dan kemudian mengambil ponsel dari saku celana nya. Tangan nya lincah membuka-buka layar ponsel tersebut, seperti mencari sesuatu.


"Aku sudah menjatuhkan talak pada nya," balas Arif seraya menyodorkan ponsel milik nya pada wanita tersebut.


"Buat apa?" Tanya wanita tersebut seraya mengernyitkan dahi nya.


"Mbak Rindi lihat aja sendiri," balas Arif.


Ya, wanita yang dijumpai Arif adalah Rindi, sahabat Seruni. Arif dan Rindi adalah saudara sepupu.


Rindi pun memutar video yang sudah di buka oleh Arif tersebut, dan netra sahabat Seruni itu langsung membulat sempurna kala melihat adegan dalam video tersebut.


"Astaghfirullaahal'adziim,,, ini beneran apa editan om?" Tanya Rindi tak percaya.


"Itu nyata mbak, aku sendiri yang merekam nya," balas Arif sambil menopang dagu nya.


Rindi masih menonton video tersebut, dan mendengarkan percakapan dua orang yang berada dalam video tersebut. Rindi mengernyit kala mendengar nama seseorang yang tak asing di sebut oleh laki-laki mesum yang di tindih istri dari sepupu nya tersebut. Dan Rindi semakin mengernyit dalam, kala mendengar suara yang tak asing di telinga nya

__ADS_1


"Mahmud? Apa dia Mahmudi?" Rindi menatap Arif, untuk mencari jawab.


"Apa mbak Rindi mengenal nya?" Tanya Arif balik.


"Dia suami nya sahabat ku," balas Rindi, "apa hubungan mas Mahmud dengan ini semua?" Tanya Rindi yang dikuasai rasa penasaran yang tinggi.


"Apa Seruni sahabat mbak Rindi?" Tanya Arif, sejenak mengabaikan pertanyaan Rindi.


Rindi mengangguk cepat, "katakan om, apa hubungan mereka dengan ini semua?" Tanya Rindi dengan tidak sabar.


"Yah, mbak Rindi enggak asyik. Punya sahabat cantik gitu, kenapa enggak dikenalin sama aku sih?" Protes Arif, bukan nya menjawab pertanyaan dari kakak sepupu nya.


"Jangan ngelantur kamu om, orang di tanya apa? Malah jawab nya apa?" Rindi protes balik, "lagian, saat kamu pertama datang ke kota ini Seruni udah nikah," lanjut Rindi.


"Oh ya, satu lagi. Jangan macam-macam sama Seruni kalau kamu enggak mau di pecat dari kantor mu, karena bos kamu sampai saat ini masih mencintai Seruni," terang Rindi, hingga membuat Arif sangat terkejut.


"Hah,, pak Doni? Bukan nya beliau itu gay?" Tanya Arif seraya mengernyit.


"Hus,, ngarang kamu! Dapat gosip dari mana itu?" Tanya Rindi.


"Orang-orang kantor yang bilang mbak, karena sikap pak Doni kan selalu dingin sama wanita-wanita cantik yang mengejar nya,,," balas Arif dengan mengetuk-ketukan jari nya di kursi.


"Seruni dan Doni itu pacaran udah lama, tapi karena enggak direstui orang tua Doni, mereka putus. Seruni bisa move on dan akhirnya menikah sama Mahmudi, sedangkan Doni sampai saat ini belum bisa move on dari cinta pertama nya itu," terang Rindi.


Arif mengangguk-angguk, "pantes aja pak Doni enggak tertarik sama gadis-gadis yang di kantor yang suka menggoda nya, karena kecantikan mereka imitasi. Beda sama Seruni, yang cantik luar dalam," lirih Arif dengan menyunggingkan senyum.


'Hey om, malah senyum-senyum sendiri!" Seru Rindi, "kamu belum jawab tadi, hubungan Seruni dan Mahmudi dengan perselingkuhan istri mu apa?" Desak Rindi.


Dan Arif kemudian menceritakan semua nya, bermula dari ketika diri nya di telpon Seruni untuk bekerja sama mengetahui perselingkuhan sang istri, hingga kemudian Arif mengetahui kenyataan lain bahwa istri nya bukan hanya selingkuh dengan satu orang saja.


"Apa?! Aku enggak salah dengar kan om? Mas Mahmud selingkuh sama istri kamu?"


Arif mengangguk pasti.


"Buta kali tuh mata si Mahmud ya!" Geram Rindi yang ikut terbawa emosi, mengetahui kenyataan bahwa sahabat terbaik nya di selingkuhi oleh suami nya.


"Iya, mbak Rindi benar. Bodoh bin tolol si Mahmudi itu," timpal Arif, "dan aneh nya ya mbak, kayak nya Seruni mau memaafkan begitu saja dan menerima Mahmudi itu deh mbak," pancing Arif, seraya melirik kakak sepupu nya.


"Hah.. yang benar aja! Tidak, tidak... Seruni enggak boleh memaafkan Mahmudi begitu saja, aku harus hubungi sahabat-sahabat yang lain untuk membicarakan masalah ini!" Geram Rindi yang langsung masuk kedalam untuk mengambil ponsel nya, hendak menghubungi sahabat-sahabat nya yang lain.

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2