
Seruni segera bangkit, menyuruh kedua anak nya yang sudah besar untuk mandi dan kemudian ibu yang tengah hamil besar itu memandikan anak nya yang ketiga.
"Mas Alif, adik nya ajak main ya. Mama mau mandi dulu," pinta nya pada anak pertama, setelah selesai mendadani si kecil.
"Iya ma, nonton televisi boleh kan ma?" Balas dan pinta Alif.
Seruni mengangguk, mengiyakan permintaan putra pertama nya.
"Nonton Adit, Sopo dan Jarwo aja ya bos?" Pinta Tsalis pada kakak nya, dengan menirukan perkataan Jarwo... salah satu tokoh kartun tersebut yang otak nya tidak penuh itu.
Alif mengangguk, "ayo dik, kita duduk," Alif menuntun adik nya untuk duduk di sofa bad yang ada di depan televisi.
"Horre,,," ucap Tsalis, anak ketiga nya yang kegirangan karena di perbolehkan nonton kartun kesukaan nya oleh sang kakak.
Seruni pun kemudian bergegas membersihkan diri nya sendiri, karena ibu tiga anak itu ingin menyambut kedatangan sang suami yang sebentar lagi akan pulang setelah Seruni mengecek keberadaan sang suami melalui GPS Phone Cheker yang telah dia install dan terhubung dengan ponsel sang suami.
Usai mandi dan berdandan tipis seperti biasa nya, Seruni kemudian memakai perhiasan yang tadi di beli nya di toko perhiasan mewah milik Nila. Seruni mematut diri sebentar di depan cermin, dan setelah yakin penampilan nya sempurna, Seruni segera keluar dari kamar.
Seruni memanggil ketiga putra nya, dan mengajak mereka bertiga untuk duduk di teras sambil makan kue yang tadi di beli nya sebelum pulang. Seruni juga membuat teh dan susu hangat untuk diri nya dan anak-anak.
Tengah asyik ibu dan ketiga buah hati nya itu ngemil sambil bercanda, nampak mobil sang kepala keluarga memasuki halaman rumah mereka yang tak terlalu luas. Hanya cukup menampung satu mobil dan sisa nya dimanfaatkan untuk taman bunga.
Mahmudi segera turun dari mobil dan di sambut ketiga anak nya, yang berebut untuk salim. Seruni yang melihat tingkah ketiga anak nya, tersenyum lebar, "betapa menyenangkan jika tak ada wanita itu diantara kita pa," gumam Seruni dalam hati.
Setelah anak-anak nya menjauh, Mahmudi kemudian mendekati istri nya yang masih duduk di bangku panjang sambil mengulum senyum.
__ADS_1
"Lancar pa, kegiatan lapangan nya?" Tanya Seruni seperti biasa nya yang selalu menanyakan tentang pekerjaan sang suami, tiap kali suami nya baru pulang,,, sambil mencium punggung tangan sang suami dengan takdzim.
"Iya ma, Alhamdulillah," balas Mahmudi seraya mencium kening istri nya.
"Kok, ada yang beda ya?" Mahmudi mengernyitkan kening nya, seraya mengamati sang istri.
"Beda apa pa? Papa kali yang beda?" Tanya Seruni balik, "iya nih, parfum papa aroma nya kok enggak kayak biasa nya? Beda sama yang tadi pagi?" Cecar Seruni, yang membuat Mahmudi gugup.
"Be,, beda gimana mak-maksud mama? Sama kok ma??" Bela Mahmudi gugup, dan wajah ganteng itu nampak sangat khawatir.
Dalam hati, Seruni tertawa terbahak... padahal dia hanya asal menuduh tadi. Karena memang Seruni tak mencium aroma parfum yang mencurigakan, pada tubuh suami nya.
"Iya, beda pa. Udah sana gih, papa mandi dulu. Dan pakai parfum papa yang seperti biasa nya, aku tiba-tiba mual nih.. nyium aroma papa," Seruni semakin menjadi, mengerjai suami nya sambil menutup mulut pura-pura ingin muntah.
"Iya deh, iya." Balas Mahmudi dengan malas, "padahal pengin ikut makan kue bareng," gerutu nya sambil berjalan masuk kedalam rumah.
"Kok mama kayak ada yang beda ya? Tapi, apa?" Mahmudi berpikir sambil mengguyur tubuh lelah nya di bawah shower, "mama terlihat lebih cantik tadi," lanjut Mahmudi semakin bersemangat untuk menyelesaikan mandi nya, karena ingin segera bertemu dengan sang istri.
"Oh iya, perhiasan yang di pakai mama. Seperti nya mama pakai perhiasan baru tadi," Mahmudi mengingat-ingat apa yang dilihat nya, "nanti deh, aku tanya ke mama itu perhiasan di beli kapan?" Lanjut nya bermonolog.
Mahmudi segera menyelesaikan mandi nya, mengelap asal tubuh nya dengan handuk dan kemudian membalut kan handuk yang tak seberapa lebar itu untuk menutupi aset nya.
Begitu membuka pintu kamar mandi, Mahmudi terkejut demi mendapati sang istri sudah berada di dalam kamar dan sedang duduk seraya tersenyum manis ke arah nya.
"Hemm,, suami ku sudah harum, boleh peluk enggak pa?" Pinta Seruni dengan manja.
__ADS_1
Mahmudi tersenyum, dan segera duduk di samping sang istri di tepi bad tempat tidur mereka. Tentu seperti biasanya, Mahmudi akan dengan senang hati jika Seruni bermanja-manja dan nempel pada nya.
Dan benar saja, baru saja Mahmudi mendudukkan diri, Seruni langsung beranjak dan duduk di atas pangkuan sang suami yang tubuh nya hanya terbalut handuk itu.
Seruni mengendus aroma wangi sabun yang menguar dari tubuh suami nya, menciumi leher sang suami dan meraba-raba dada bidang yang di tumbuhi bulu-bulu halus.
Mahmudi meremang, sesuatu yang tertindih bo*kong sang istri mulai menggeliat. Dan tanpa dapat dia kendalikan, sesuatu milik nya yang paling berharga langsung bangun dan berdiri dengan sempurna.
Mengetahui milik sang suami mengeras, Seruni semakin beraksi. Wanita yang tengah hamil itu seperti sengaja ingin membangunkan gairah suami nya, Seruni membenamkan wajah nya di dada bidang sang suami dan menggigit pelan serta memainkan bulatan kecil berwarna coklat di sana.
Mahmudi semakin menge*rang, merasai suatu sensasi kenikmatan luar biasa yang diciptakan istri nya.. yang memang selalu pandai membuat nya terbang melayang-layang menuju puncak nirwana itu.
Seruni masih belum berhenti, dia dorong tubuh suami nya hingga terlentang di atas kasur yang empuk. Tangan Seruni pun mulai nakal, melepas handuk sang suami dan membuang nya begitu saja ke sembarang tempat.
Dan tangan putih mulus yang nakal itu mulai memainkan milik sang suami, yang sudah benar-benar berdiri tegak menantang dunia. Mere*mas dan memainkan pusaka milik sang suami, sesuka hati nya sambil tersenyum seringai.
Mahmudi semakin menge*rang, "ma, please... naiklah," pinta Mahmudi dengan suara parau dan tatapan sayu mengharap untuk segera di puaskan.
Seruni menghentikan aksi nya, menatap sang suami dengan tatapan genit dan sengaja menggigit liontin berlian yang baru di beli nya tadi siang dengan gaya nya yang seksi.
Dan hal itu membuat milik Mahmudi di bawah sana semakin meronta, meminta hak nya yang sudah mencapai ubun-ubun untuk segera di tuntaskan.
Tapi Seruni justru bangkit dan menjauh, "maaf pa, mama lupa kalau sedang masak air tadi." Dan tanpa dosa, Seruni langsung melenggang menuju pintu kamar.
"Ma,,, biarin aja ma, jangan pergi. Please...." pinta Mahmudi memohon, dan hendak beranjak mengejar sang istri.
__ADS_1
"Nanti malam aja pa, tanggung karena bentar lagi juga maghrib," tolak Seruni yang langsung membuka pintu kamar dan berlalu begitu saja, meninggalkan Mahmudi dengan kepala atas dan bawah berdenyut bersamaan hingga membuat Mahmudi merasa pusing tujuh keliling.
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏