
Rindi sudah kembali ke teras dengan ponsel di tangan nya, sambil membawa minuman dingin untuk Arif. "Minum dulu om, sorry.. keasyikan ngobrol sampai lupa enggak ditawarin minum," ucap Rindi sambil tersenyum.
Rindi kemudian duduk kembali di tempat nya semula, dan hendak melakukan panggilan.
"Mbak, itu nanti dulu lah.. aku kesini kan mau minta tolong sama mbak Rindi," cegah Arif, dengan tatapan memohon.
Rindi pun mengurungkan niat nya, "maaf om, aku sampai lupa menanyakan langkah apa yang akan kamu ambil? Habis nya, aku kesel banget sama si Mahmud? Bini lagi bunting gede, eh.. malah di tinggal selingkuh!" Omel Rindi.
Sejenak, hening menyapa teras kediaman Rindi tersebut.
"Oh ya om, kalau kalian bercerai,, lantas gimana dengan anak-anak? Mereka kan masih sangat kecil?" Tanya Rindi, memecah keheningan.
Arif menghela nafas berat, "sebelum nya, aku minta maaf mbak karena pasti akan ngrepotin mbak Rindi," lirih Arif yang merasa tak enak hati.
"Katakan saja om, enggak perlu sungkan gitu? Kita kan saudara, udah gitu hanya ada kita berdua di kota ini. Jadi udah seharusnya jika kita saling membantu," balas Rindi dengan tulus
"Kalau kami pisah nanti, aku mau ambil hak pengasuhan anak-anak karena aku enggak mau mereka akan salah asuh nanti nya jika ikut sama Tari. Tapi aku juga enggak mungkin menitipkan mereka di kampung, karena mbak tahu sendiri kan? Ibu udah sepuh dan sakit-sakitan?" Ucap Arif panjang lebar, "menurut mbak Rindi, aku harus bagaimana?" Lanjut nya bertanya.
Rindi sejenak terdiam, "kamu yakin akan mengasuh kedua anak mu itu om?" Tanya Rindi memastikan pendengaran nya.
Arif mengangguk pasti.
"kamu bawa aja anak-anak dan pengasuh nya kemari, kebetulan rumah samping itu sedang kosong." Rindi menunjuk rumah sederhana yang berada tepat di samping kediaman nya yang cukup luas.
"Masa kontrak orang yang kemarin menyewa nya habis minggu lalu dan sekarang belum ada yang menempati. Kamu tempati aja dulu, sama anak-anak kamu om. Kalau kamu kerja malam kan, aku bisa bantu awasi mereka," lanjut Rindi yang dengan tulus menawarkan bantuan.
"Baik mbak, aku akan bayar sewa nya," balas Arif menyetujui tapi tidak dengan cuma-cuma.
Rindi menggeleng, "kamu tempati aja, engga perlu bayar sewa," tolak Rindi.
"Oh ya om, lamaran kerja yang kamu ajukan untuk pindah ke bagian kantor gimana? Udah ada kelanjutan nya belum?" Tanya Rindi, mengalihkan pembahasan ketika dia menangkap bahwa Arif akan menolak bantuan nya.
Arif menggeleng, "belum mbak, saingan nya berat-berat," balas Arif dengan tak bersemangat, "kebanyakan kolega orang dalam," lanjut nya dengan lesu.
"Mbak Rindi sih, dimintai tolong untuk bicara sama pak Doni enggak mau?" Gerutu Arif.
"Oke deh, nanti aku coba bicarakan sama Seruni dulu biar dia yang minta tolong sama Doni. Mungkin kalau Seruni yang minta tolong, Doni akan mau mendengar nya dari pada aku yang meminta," balas Rindi dengan tersenyum penuh arti.
_____
__ADS_1
Sementara di kantor polisi, Tari terus meracau dan menyalahkan Edi. Edi pun sama, selalu membantah karena tak mau terus-terusan di salahkan.
"Ini semua karena kamu enggak hati-hati! Kenapa sampai bisa sih, di kuntit sama istri mu yang sudah bau tanah itu! Jadi makin runyam kan urusan nya, karena sampai kantor polisi segala!" Geram Tari, sambil melirik tajam kearah laki-laki paruh baya yang duduk tak jauh dari nya.
Ya, mereka kini sedang berada di salah satu ruangan kantor polsek setempat. Untuk menunggu keluarga masing-masing yang bersedia menjamin kedua nya, agar bisa secepatnya keluar.
Edi telah menghubungi putra nya, karena sang istri sudah tak peduli lagi dengan diri nya. Sedangkan Tari menunggu kedua orang tua nya, karena sang suami juga sudah menjatuhkan talak kepada diri nya.
"Kenapa mulut mu itu pedas sekali hah! Sedari tadi, aku terus yang kamu salahkan! Kamu enggak ngaca, betapa bo*doh nya diri mu,, sampai-sampai Mahmudi bisa menjebak kita!" Balas Edi dengan rahang nya yang mengeras, diapun tak kalah geram terhadap Tari yang terus saja ngomel-ngomel sejak mereka berdua tertangkap basah di kamar hotel tadi.
Untung saja saat kedua nya tertangkap, mereka sudah terbebas dari gancet dan juga sudah mengenakan pakaian meskipun belum lengkap.
Flashback On,,,
"Udah ketemu belum, gimana cara nya agar ini bisa lepas?" Tanya Edi dengan tidak sabar, karena diri nya merasa tersiksa dengan kondisi ditindih dengan milik nya yang tegak menembus inti Tari. "Rasa nya seperti mau patah ini,,," keluh Edi, dengan keringat dingin yang mulai bercucuran.
"Tunggu sebentar, biar aku baca dan kita bisa sama-sama melakukan apa yang di sarankan dalam artikel ini," balas Tari, sambil satu tangan nya memegang ponsel dan satu tangan yang lain menopang badan nya agar tidak terlalu menindih Edi karena laki-laki bangkotan itu sudah protes sejak tadi.
Tari kemudian membaca artikel tersebut, "usahakan untuk rileks,,," Tari terus membaca artikel tersebut, dan setelah nya mereka berdua pun mempraktikkan nya.
"Ah, akhirnya nya,,," ucap kedua nya dengan lega, setelah berhasil lepas dari tragedi gancet tersebut.
Namun beberapa saat kemudian, Edi langsung menindih Tari. "Aku belum sempat pelepasan tadi, sekarang biarkan aku menyelesaikan nya."
Tak di sangka, Tari juga menyambut baik keinginan Edi. Dan seakan tiada jera, kedua insan yang sedang diliputi gai*rah membara itu kembali bergumul untuk mencapai kepuasan dan kenikmatan masing-masing.
Rasa sakit di inti kedua nya, kini tak lagi dirasakan karena gai*rah menggebu yang terus menyeruak dan meminta untuk dituntaskan lebih mendominasi ketimbang logika yang ada.
Suara-suara desa*han, lengu*han dan decapan kedua nya saling berlomba dengan nafas yang sama-sama memburu. Peluh bercucuran, bercampur dengan air bekas percintaan mereka hingga membasahi sprei putih yang kini tak lagi berbentuk.
Mereka berdua bahkan lupa belum mengunci kembali kamar hotel, setelah Mahmudi dan Arif keluar tadi.
Dan kedua nya terkulai lemah dengan saling memeluk, setelah melakukan pergulatan panas selama beberapa ronde.
"Makasih sayang ku, kamu selalu bisa memuaskan has*rat ku," lirih Edi, sambil mengecup kening Tari.
"Makasih juga mas, kamu juga selalu perkasa dan membuatku puas," balas Tari dengan menyatukan bibir nya dengan bibir tebal kehitaman karena asap rokok milik Edi.
"Aku harus pulang sekarang mas, aku harus jelaskan semua ini pada Arif. Aku enggak mau, Arif menceraikan aku." Ucap Tari dan segera beranjak, Tari memunguti pakaian nya yang berserak di lantai dan kemudian segera melangkah menuju kamar mandi.
__ADS_1
Melihat tubuh polos Tari yang memunguti pakaian, ternyata membuat milik Edi kembali tegang. Dan laki-laki paruh baya itu langsung mengikuti langkah Tari masuk ke dalam kamar mandi.
Kedua nya kembali bersenang-senang di dalam kamar mandi yang tak terlalu luas di dalam kamar hotel tersebut, suara desa*han kedua nya tersamarkan dengan suara gemericik air dari shower.
Beberapa menit berlalu, namun kedua nya masih asyik bercinta di dalam sana di bawah guyuran air shower. Hingga dobrakan pintu, membuat kedua nya terkejut dan segera menyudahi percintaan mereka yang belum selesai.
Tari segera mengenakan handuk kimono, sedangkan Arif segera memakai celana panjang nya tanpa boxer. Dan sebelum mereka sempat memakai pakaian secara lengkap, polisi sudah mendobrak pintu kamar mandi.
"Dasar tua bangka tidak tahu diri, rasakan sekarang! Biar saja kamu mati dan membusuk di penjara!" Geram istri nya Edi yang ikut masuk kedalam kamar, sambil menunjuk hidung Edi.
"Dan kamu, hai pelacur murahan berkedok guru dan bersembunyi di balik hijab! Kamu guru, tapi kamu bukan seorang pendidik! Lebih baik, kamu keluar dari profesi yang mulia itu, karena tak pantas kamu di sebut guru dengan perilaku mu yang seperti ini!" Lanjut istri nya Edi, sambil menunjuk-nunjuk wajah Tari.
"Dan hijab mu itu! Harus nya kamu merasa malu untuk melakukan hal yang asusila, dengan hijab yang kamu kenakan itu! Karena hijab mu bisa menjadi benteng dari kejahatan sekaligus pengingat diri agar tidak terjerumus ke lembah kemaksiatan dan dosa!" Istri Edi masih terlihat berapi-api.
"Sudah dulu bu, biar mereka segera dibawa oleh petugas ke kantor," ucap komandan polisi, sambil menenangkan istri nya Edi.
"Pak Har, pegang ibu ini," titah nya, pada salah seorang anak buah nya.
"Siap, laksanakan ndan," balas polisi yang bernama Hardi itu.
"Ma, kita selesaikan masalah kita di rumah saja ya ma. Please ma, cabut laporan mama. Papa malu kalau urusan nya sampai ke pihak kepolisian ma?" Pinta Edi dengan memohon, namun wanita paruh baya itu bergeming dan tetap membiarkan Edi digelandang oleh petugas dari kepolisian bersama Tari yang masih mengenakan handuk kimono..
Flashback Off,,,
"Semua salah mu pak tua! Andai tadi kamu tak menyusul ku ke dalam kamar mandi, pasti kita sudah keluar dari hotel itu! Dan kita enggak sampai kena gerebek seperti ini!" Tari masih saja menyalah kan Edi, hingga membuat Edi memijat pelipis nya karena kepala nya terasa pening.
"Tapi tadi kamu juga menikmati nya kan?" Lirih Edi, yang sudah lelah berdebat dengan Tari.
"Enggak juga," balas Tari seraya mencibir.
"Perempuan munafik!" Gerutu Edi, seraya melirik Tari yang kini sudah berpakaian lengkap. "Mau aku puasin di sini?" Lanjut Edi seraya tersenyum seringai, sambil melirik pemukul kentongan yang tergeletak di atas meja.
Tari mengernyit, "jangan gila kamu mas, ini di kantor polisi," lirih Tari dengan pipi merona, karena menyangka Edi sungguh-sungguh mengajak nya kembali bercinta.
"Kenapa tidak? Tuh, pakai itu. Dijamin, pasti kamu bakalan kelimpungan," Edi menunjuk pemukul kentongan seraya tergelak, membuat Tari langsung menekuk wajah nya.
"Sialan! Aku pikir beneran ngajak gituan?" Gumam Tari, seraya membuang pandangan nya kearah lain.
"Pak Edi, mbak Tari,, silahkan ikut saya, keluarga kalian sudah menunggu."
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏