
Seruni yang tadi sudah memesan taksi online, segera keluar dari mini market dan langsung mengajak sang putra untuk masuk kedalam taksi yang sudah menunggu nya.
Dan tepat sesuai perkiraan Seruni, tatkala wanita yang tengah hamil besar itu dan putra nya baru saja masuk kedalam taksi... mobil Mahmudi berbelok kearah mini market tersebut.
"Pak, tunggu sebentar ya?" Pinta Seruni, pada sopir taksi online.
"Baik, bu," balas sopir taksi dengan sopan.
"Dik, lego nya di buka sekarang ya,,,," Seruni membukakan lego untuk putra nya, agar Tsalis fokus dengan mainan tersebut dan tidak mengetahui apa yang akan dia lakukan.
Setelah membukakan lego untuk sang putra, dan Tsalis mulai asyik dengan mainan baru nya tersebut.. Seruni segera mendial nomor suami nya, karena Seruni melihat Tari sudah keluar dari mini market dan menghampiri Mahmudi dengan wajah di tekuk dan seperti nya wanita itu langsung mengadu pada Mahmudi mengenai apa yang dialami di dalam sana.
"Baju kamu kenapa yank?"
"Kita ke butik dulu ya mas,," rajuk Tari, sejenak mengabaikan pertanyaan Mahmudi.
"Bajuku kena tumpahan susu dari anak kecil nakal yang berlari-larian di dalam sana?! Dasar, tuh anak enggak di didik dengan benar! Orang tua tuh anak, bisanya hanya produksi terus!" Gerutu Tari.
"Maksud mu yank?" Mahmudi mengernyit kan kening nya dengan dalam.
"Tuh anak kan masih kecil, ibu nya lagi hamil besar. Pantes aja kan, anak nya enggak terurus dan enggak terdidik dengan baik?! Bisa-bisa nya lari-larian di mini market! Udah nabrak aku, dah gitu ya mas,, dia itu enggak minta maaf dan langsung ngeloyor pergi gitu aja?! Jadi kesel kan aku nya?!" Tari cemberut.
"Sudah-sudah,, ayo kita beli baju," ajak Mahmudi.
Mahmudi nampak serius mendengarkan aduan Tari, hingga telpon dari Seruni tak juga diangkat nya. Baru pada panggilan kedua, Mahmudi mengangkat telpon dengan mengernyit dan menjauh sedikit dari Tari.
"Bentar ya yank, aku angkat telepon dari pak Wali dulu." Mahmudi menunjukkan ponsel nya, dan Tari hanya mengangguk malas.
"Halo ma," sapa Mahmudi, terdengar buru-buru.
"Papa dimana?" Tanya Seruni, dengan nada seolah sangat panik.
__ADS_1
"Papa masih di kantor ma, ada apa?" Tanya Mahmudi khawatir, karena mendengar suara panik istri nya.
"Papa bisa menemui mama enggak sekarang?" Pinta Seruni memohon.
"Aduh, gimana ya ma." Mahmudi terlihat menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
Sedangkan di dalam taksi online, Seruni terus memperhatikan gerak-gerik suami nya tersebut. Seruni memang sudah sebulan ini mengetahui bahwa sang suami telah berselingkuh di belakang nya, namun Seruni masih memberi sang suami kesempatan untuk sadar dengan perbuatan nya,, seraya terus membuktikan, apakah sang suami memang layak untuk di pertahanan?
Yaitu dengan cara, memberi Mahmudi pilihan.. antara diri nya atau anak-anak, dengan wanita selingkuhan suami nya itu.
Beberapa kali Seruni berhasil membuktikan, bahwa sang suami memang selalu memprioritaskan diri nya.. namun Seruni masih ingin menguatkan keputusan nya, dan saat ini Seruni sedang melakukan hal tersebut.
Apakah kali ini, sang suami akan menemui diri nya dan sang putra? Atau memilih, melanjutkan kencan mesum yang telah direncanakan oleh Tari?
"Memang nya, mama lagi ada dimana?" Tanya Mahmudi kemudian, "papa lagi ada meeting penting soal nya ma," lanjut Mahmudi dengan suara lemas, sambil menatap Tari dengan perasaan bingung.
Sedangkan Tari, terus saja menekuk wajah nya. Wanita itu nampak tidak sabar, terlihat beberapa kali Tari menghentak-hentakkan kaki nya... karena Mahmudi sangat lama menerima panggilan telepon.
"Di dekat kantor papa?" Mahmudi nampak sangat terkejut, laki-laki itu langsung mengedar pandangan nya.. khawatir, sang istri melihat nya di depan minit market. "Insiden apa ma?" Tanya Mahmudi yang merasa khawatir.
"Tadi kan, mama niat nya mau ngajak adik untuk menemui papa di kantor. Tapi mama mampir dulu ke mini market di depan kantor papa itu,,," sejenak Seruni menghentikan cerita nya, dan Mahmudi semakin terlihat panik begitu mendengar Seruni menyebutkan bahwa dia dan putra nya baru saja dari mini market.
"Terus, sekarang mama di mana?" Tanya Mahmudi sambil celingukan, wajah nya terlihat pucat.
"Dan tadi di mini market itu, tak sengaja adik menumpahkan susu di baju salah seorang pengunjung pa," lanjut Seruni, tanpa menghiraukan pertanyaan suami nya.
"Wanita itu sangat marah pa, padahal adik sudah meminta maaf secara langsung.. mama juga langsung mendekat dan minta maaf, bahkan mama juga memberi ganti rugi tiga ratus ribu pada wanita itu pa. Tapi dia tetap marah, hingga membuat adik ketakutan dan menangis," terang Seruni dengan nada suara nya yang di buat sangat sedih.
Mahmudi sontak menatap kearah Tari, mencari benang merah dari cerita istri nya barusan dan dari cerita Tari tadi.
Kepala Mahmudi tiba-tiba terasa pening, "mana yang benar? Enggak mungkin kan, mama bohong? Selama ini, mama selalu berkata jujur," gumam Mahmudi dalam hati.
__ADS_1
Mahmudi masih menatap Tari, mencari kejujuran dari cerita wanita muda yang jadi selingkuhan nya saat ini.
"Pa, ini kami masih berada di sekitaran kantor papa. Kami di pinggir jalan pa, karena adik enggak mau mama ajak untuk naik taksi," suara Seruni, membuyarkan lamunan Mahmudi.
"Oke ma, tunggu sebentar. Papa akan jemput kalian," ucap Mahmudi akhirnya mengambil keputusan.
Seruni terlihat sangat lega, dan segera menutup panggilan nya.
"Pak, ini saya bayar sesuai tarif di aplikasi ya. Tapi tolong turunkan kami di halte depan," pinta Seruni seraya menyodorkan uang untuk membayar ongkos taksi nya, dan menunjuk halte yang terlihat di depan sana dengan dagu.
"Baik bu, terimakasih banyak," ucap sopir taksi online tersebut, dan bergegas melajukan mobil nya menuju halte yang hanya berjarak sekitar lima puluh meter itu.
Sedangkan Mahmudi kembali mendekati Tari, "maaf, aku ada rapat mendadak dan enggak bisa di wakilkan. Survey nya, biar di handel sama Hasan CS saja. Sekarang, kamu pulang lah karena aku harus segera balik ke kantor," ucap Mahmudi dengan datar.
Mahmudi merasa bingung, bagaimana harus bersikap pada Tari saat ini. Tadi dia mendengar Tari menjelek-jelekkan anak kecil dan ibu nya yang sedang hamil.. yang ternyata adalah anak dan istri nya.
Dan versi Seruni barusan,,, bahwa anak dan istri nya itu sudah meminta maaf, bahkan Seruni juga memberi Tari kompensasi yang menurut Mahmudi jumlah nya terlalu besar. Tapi mengapa Tari masih saja memfitnah bahwa anak kecil yang menabrak nya dan juga sang ibu tidak meminta maaf, bahkan langsung ngeloyor pergi?!
Kepala Mahmudi terasa semakin pening, apalagi mendengar sang putra sangat takut dan menangis.. pikiran Mahmudi semakin kacau. Dia tahu persis, putra ketiga nya itu sangat pemberani dan tidak cengeng. Sehingga mendengar Tsalis menangis dan ketakutan, tanpa memikirkan perasaan Tari Mahmudi langsung memutuskan untuk menemui istri dan putra nya.
"Mas?! Terus rencana kita gimana?!" Seru Tari sambil mengejar Mahmudi, tatkala Mahmudi sudah membuka pintu mobil nya.
"Lain kali saja, aku sedang enggak bisa berpikir," balas Mahmudi dengan dingin, dan langsung menutup pintu mobil nya.
"Mas, aku bahkan sudah menyiapkan obat kuat dan kon*dom untuk mu mas," Tari terus berteriak, seraya menggedor-gedor kaca pintu mobil Mahmudi.
Tapi Mahmudi bergeming, dan tetap melajukan kendaran nya meninggalkan area parkir mini market tersebut.
"Sialan! Padahal aku sudah membayangkan, asyik nya bercinta dengan kamu mas?! Tapi kenapa kamu malah menghempaskan mimpi ku?!" Geram Tari, sambil mengepalkan kedua tangan nya.
"Oke, kali ini... aku boleh gagal! Tapi aku pastikan, lain kali aku pasti berhasil membawa mu terbang menuju puncak nirwana,,, dan setelah itu, kamu yang akan ketagihan dan merengek padaku mas," Tari tersenyum seringai.
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏 TBC 🙏🙏🙏🙏🙏