
Assalamua'alaikum semuanya maaf aku lagi sakit udah beberapa hari gak up date
...****************...
Tanpa terduga Steven berada di bangunan itu sedang merangkit bom tentunya ia tak sendiri ia bersama Sean, Sion dan kris yang membantunya.
Mereka memang sebenarnya para orang tua mengerti mengenai cara merangkit bom namun mereka hanya mampu menghafal teorinya saja daripada prateknya.
Jadi mereka hanya bisa mengandalkan berharap penuh kerpecayaannya kepada Steven sebagai peracik bom
"Apa ini udah selesai son". Tanya Sion pada Steven
Mendengar itu Steven langsung menjawab
"Ya dad ini baru beres". jawab Steven
"Ya bagus lah, sekarang udah terlalu malam kamu besok udah mau sekolah kan". Ucap Sion
Mendengar itu Steven terkejut, ia lupa jika dirinya sekarang bukan lagi di jakarta tapi melainkan di bandung tempat barunya apalagi saat ini dia sangat betah bersekolah karena ada Bela dan mungkin lingkungan sekitarnya yang mendukung
Steven langsung berdiri dan berlari dengan tergesa gesa pada Sion ayahnya, Sion hanya menyerengitkan dahi tanda ia tak mengerti namun setelah Steven mengatakan yang sebanarnya ia tersenyum geli karena tak menyangka jika sang anak sudah mulai menyukai Bela yang umurnya 2 tahun lebih tua darinya
"Ayo dady cepet kita pulang". desak Steven sambil menarik tangan Sion
"Loh ada apa sih kamu hah". Tanya Sion dengan raut wajah begitu heran pada Steven
"Ya pulanglah dad, aku ingin cepet tidur karena aku ingin ke sekolah besok pagi pagi kalau telat kan aku gak bisa bareng berangkatnya sama Bela dad". Ucap panjang lebar Steven
Sion tercengang setelah mendengar penjelasan yang membuat dirinya ternganga karena baru pertama kali Steven berbicara panjang lebar terutama. Dan tidak hanya itu saja Sion pun ternganga karena mendengar alasan yang membuat Sion agak geli yaitu Bela alasan utamanya
Sementara Sean hanya geleng geleng kan kepalanya, kemudian mereka pun akhirnya pulang. Besok harinya Steven bener bener bangun pagi dan dia pun sudah tanda bye di kamar Bela dan begitulah seterusnya setiap hari aktivitasnya jika pagi sampai sore bersama Bela. Seperti ada lem saja mereka berdua ini seakan tidak mau berpisah.
...****************...
Singkat cerita.....
Kini sudah 4 bulan Steven berada di perkampungan
Ia cukup betah tinggal dikampung tersebut, karena semenjak Steven berada di kampung ia sangat suka berpetualang bersama teman teman.
Ya kini Steven memiliki teman namun bukan seumurannya melainkan seumuran dengan Bela ya lebih jelasnya lagi mereka memang temen sekelasnya
Steven tidak menyangka jika mereka yang terdiri 3 orang ini bisa membuat senjata meskipun itu hanya dari bambu.
Dan tak di sangka lagi mereka bertiga jago bela diri karena ketiganya sering di latih oleh kakeknya Bela
Bela memang sangat mengetahui mereka bertiga teman sekelasnya, namun tidak pernah akrab bahkan berteman pun gak mau karena mereka bertiga ini salah satu yang di takutkan oleh mereka yang di kelas termasuk Bela sendiri
Padahal mereka tidak pernah membuly siapa pun atau pun bertengkar, mereka bertiga itu sangat baik dan pendiam.
Namun memang jika mereka atau dari salah satu dari mereka ada yang mengusik maka ketiganya pun langsung naik pitam
Bela pernah melihat mereka bertiga bertengkar yang bikin Bella merinding ,, Bela melihat itu langsung saja menjauhi. Meskipun Bela ini memang jago Bela diri namun ia juga masih punya hati, yang masih bisa mengendalikan hawa nafsunya
Steven dan ketiga anak itu memang tidak saling mengenal, namun ada suatu hal kejadian yang unik membuat mereka bertiga bertakjub pada Steven
karena pada saat itu, Bela yang saat sedang makan bersama Steven di kelas tiba tiba saja ada yang menyirami ke tubuh Bela minuman jus buah yang dingin
Alhasil bukan Bela yang marah namun Steven yang memarahi mereka
Flashback
byurrr...
"Ngapain lu hah". bentak Steven
"hahahahaha dasar buta, aku itu lagi nyiramin ni anak miskin, gitu aja di tanya, gak usah ngegas kali".jawab Bianca dengan nada sinis pada Steven dan Bela
Tanpa dia duga , Steven saat ini sedang mode level iblis, karena ia tak tahan apalagi melihat Bela yang menunduk sepertinya Bela akan menangis, ia pun langsung
Plak
Steven langsung menampar pipi Bianca hingga terjungkal, dan itu di saksikan oleh mereka semua melihat adegan itu, sementara Bela ia hanya mendengar suara di tampar lalu langsung mendongak namun hanya melihat beberapa orang yang berkurumunan, namun Bela mendengar jika Steven sedang marah marah
Tidak ada yang berani melaporkan pada guru, karena guru guru sedang sibuk.
Bianca hanya menangis teriak histeris dan karena itu lah membuat mengundang semua kelas. Steven hanya menatap tajam pada Bianca dengan kondisi nafas memburunya
Kelas lain melihat Steven menatap tajam pada Bianca tercengang
"Njir itu teh murid baru, kecil tapi suhu broh". Puji siswa Kelas 6 pada Steven
"Ih aku mah baru pertama kali liat ginian ". Balas Siswi kelas 5
Sementara ketiga pria itu
"Anjir si Steven bener bener edan". Puji Siswa 1
"Ya bener pisan ini mah, sadis bener". Puji Siswa 2
"Bener bener di luar dugaan njir". Puji Siswa 3
Sementara Steven dan Bianca
"Aku bakal bilangin ke papah aku, kalau kamu beraninya mukul aku". teriak Bianca di sertai dengan tangisan
"Apa bedanya denganmu sendiri, yang baru aja lo langsung numpahin minuman lu di badan Bela".dingin Steven
Bianca mendengar itu terdiam, namun dalam hatinya ia harus melaporkan pada ayahnya yang sebagai pns TNI. Ia sangat yakin jika Steven akan di marahi oleh ayahnya. Karena memang ini yang dilakukan oleh Bianca, jika itu terjadi si korban yang di lapornya itu di marahi habis habisan di bentak bentak oleh Papahnya lebih parahnya di depan semua murid murid.
Dan juga mereka yang jadi korban bentak papahnya Bianca tidak hanya di bentak main fisik tapi juga dengan kejamnya melaporkan ke pihak wajib orang tua si korban.
Sementara Sean
Saat ini ia sedang berada di rumah karena ia hanya ingin menikmati suasana perkampungan yang begitu asri beda di Amerika
"Duh suasana disini sejuk sekali, ah mancing dulu aja ". ucap Sean ,mendengar itu sion terkekeh lalu ia pun berucap
__ADS_1
"Hahaha itulah enaknya tinggal di kampung dad". tawa renyah sion
Mereka berdua langsung saja ke ke kolam ikan sementara orang tua Silivia sudah pulang duluan ke Amerika
Namun baru saja mereka telah sampai di kolam ikan, mereka dikejutkan oleh Kevin yang berlari lari tergesa gesa
"Ada apa Kev". Tanya Sion pada asistennya
"Tuan harus ke sekolah tu tuan mu muda". jawab Kevin dengan wajah keringat dinginnya
"Ada dengan cucuku". Tanya Sean penasaran
"Tuan muda berulah lagi tuan". Jawab Kevin
"Berantem? Bukannya dia udah betah". Tanya heran Sion
"Karena nona Bella di sirami jus". Jawab Kevin
Sean dan Sion mendengar penyebab Steven berkelahi karena membalas atas perbuatan seseorang yang dengan beraninya menyirami tubuhnya
Mereka berdua tentu saja tak terima, karena Bela adalah keluarga mereka juga, niat ingin mancing seketika hilang sudah tak berselera. Saat ini mereka hanya tertuju pada Bela dan Steven
Sementara di sekolah Steven
Steven masih dengan wajah garangnya, kemudian tak berapa lama ada yang datang seperti gerombolan.Steven tau mereka siapa, sementara Bianca tersenyum saat melihat
"Papahhhhh". Teriak Bianca dengan tangisan pecah Wajah yang bengkak hal itu membuat papahnya Bianca kesal dengan si pelaku yang telah melakukan hal kasar pada anak kesayangannya
"Loh kenapa mukamu nak hah". Ucap khawatir papah Bianca
"Papah lihat ini gara gara si bocah pendek itu". adu Bianca dengan menunjukan ke arah Steven
Tentunya papah nya pun langsung menghampiri Steven, Steven melihat ada yang datang pun hanya terdiam, malah ia makin mematap tajam pada pria itu, karena memang ia tak pernah merasa takut tentu hal ini membuat Papahnya Bianca keheranan, kenapa pria kecil di hadapannya tidak ada takut takutnya dengannya pikir pria itu
"Oh jadi kamu orang nya yang berani menampar wajah putriku ". bentak papahnya Bianca tepat di depan wajahnya, sementara Steven hanya terdiam saja tanpa melawan
Kemudian saat papahnya Bianca angkat tangan berniat ingin menampar Steven
Namun hal ini langsung di cegah karena ada seseorang yang baru saja datang
"Berani menampar putraku akan kupastikan kehilangan pekerjaanmu". Tegas Seseorang yang baru saja datang ternyata itu Sion , Sean dan Kevin peserta para pengawal sudah di depan kelasnya Steven
Semuanya yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Mereka tercengang melihat ketiga pria dewasa tersebut, begitupun juga Papah Bianca di kala melihat kedatangan seorang Milyader.
"Tu tuan Davis". ucap terbata bata Papah Bianca menyebut keluarga Davis
Sean dan Sion mendengar itu langsung tersenyum sinis pasa Papah Bianca tersebut
"Ternyata kamu mengenal kami rupanya". Dingin Sion sambil menatap tajam pada pria tersebut sambil tersenyum devil
"Te tentu saja saya mengenal anda sebagai orang terkaya no 1 di dunia". Jawab Papah Bianca dengan bangganya dan ia lupa hal kejadian tadi
"Kenapa kamu ingin menampar putraku". tanya Sion sambil menatap tajam
Sementara Sion melihat ke arah Bela langsung memeluk tubuh kecil Bela lalu bertanya
"Bela kamu kenapa sayang, koq basah dan lengket ginih hmmm ". tanya lembut Sion pada Bela sambil mengusap wajah Bela
"A....". Saat Bela ingin menjawab tiba tiba di potong oleh Bianca karena ia takut sekali melihat wajah ayahnya Steven, karena ia tak ingin membuat kesalahan
"Tadi itu airnya tumpah jadi kena baju deh om". celetuk asal Bianca dengan berbohong, Steven itu langsung
"Bohong kamu, mereka semua disini jadi saksi karena mereka melihat kejadian tadi". bentak Steven pada Bianca
Bianca yang memang sifatnya sombong dan selalu mengancam mereka dengan santainya menjawab
"Ya udah tanyain aja mereka, hmm paling paling nanti papah bakal ngasih duit kalau gak mereka bongkar". tantang Bianca dengan percaya dirinya untuk kalimat akhirnya ia mengucapakannya di batin
Sementara Steven, Sion dan Sean saat melihat wajah yang nampak curiga pada Bianca, mereka tau jika Bianca ini berani menjawab itu ya karena memang Bianca selalu membayar mereka meski itu sebuah kebohongan, mungkin bocah itu tak akan mengerti perasaan ayahnya yang saat ini sedang ketar ketir apalagi ia tak menyadari jika berhadapan dengan seorang mafia
Lalu Sion pun berkata dengan lantang sambil menatap murid murid dengan tangan kirinya menggendong tubuh Bela
" Jawab dengan jujur tidak perlu takut, lebih baik kalian semua itu jujur saja, tak usah berbohong meski kalian dibayar oleh mereka berdua". teriak Sion kemudian menujuk kearah Bianca dan Papahnya
Mendengar itu Bianca langsung melotot ia merasa tidak dihargai lagi
"Apaan sih om saya tidak pernah melakukan begitu". bohong Bianca untuk membela dirinya
"Oh gitu ya(sambil tersenyum simrk), Kevin cepat telepon jendralnya dan suruh pecat anak buahnya yang hanya menjadi beban ini dan cabut dia sebagai pegawau negeri". titah Sion pada Kevin, Mendengar itu Papah Bianca ketar ketir ia panik
"Tuan maaf ini emang kesalahan putri saya tolong maafkan dan jangan pecat saya". memohon pria itu
Bianca merasa tak terima dengan ayahnya ia pun langsung berkata
'Kenapa papah jadi nyalahin aku si pah". Kesal Bianca, mendengar itu ayahnya Bianca geram hingga sponta
"Kamu ini ya bisanya nyusahin orang tua saja haah!!! kamu itu bikin malu, kamu mau keluarga kita miskin hah". bentak Papah Bianca, hal ini membuat Bianca syok karena kali pertama ia dibentak oleh ayah sendiri
"Papah kenapa bentak Bianca sih, ya emang ini salah Bianca tapi kan biasanya papah suka belain aku". isak Bianca tersedu sedu merasa sakit hati
"Papah tanya kamu mau mau Papah gak kerja lagi, kamu mau hidup miskin". Tanya Papah Bianca
"Gak pah". Jawab cepat Bianca
"Makanya kamu jangan bikin ulah". Tegur Papah Bianca
Sementara Steven, Sion dan Sean menyimak namun mereka masih ingin mereka menerima hukumannya
"Meski kamu bersujud pada kaki keluarga kami tidak membuat keputusannya gugur". Ucap Sion dengan datar
"Kalian berdua tunggu saja pembelasanku". ancam Sion sambil menatap Mereka berdua
Tiba tiba
"Loh kenapa rame rame gini ya". Ucap Bu Lusi yang baru saja masuk ke ruang kelas dari kantor dan dia terkejut jika banyak siswa siswa dan juga beberapa pria dewasa bersejajar
__ADS_1
"Apa kamu wali kelasnya". tanya Sion pada Lusi dengan nada dingin
"Iya tuan, eh Bela astagfirullah baju kamu basah nak". Jawab Lusi lalu matanya beralih pada Bela dengan pakaiannya basah dan menoda ia terkejut
Ia pun melihat Bianca dengan wajah babak belurnya, namun ia tak peduli karena ia merasa capek dengannya karena ia sering tegur pada Bianca untuk tidak lagi membully, namun tetap saja dilakukan Lusi pun kesal, semua membela Bianca karena orang tuanya kaya dan juga seorang Tentara.
Namun Lusi tidak pernah membeda bedakan jika itu salah tetap salah
"Ini pasti ulah kamu kan". Tunjuk Lusi pada Bianca
"Ya tuhan kamu kenapa sudah berapa kali ibu bilang jangan pernah membully, dan anda sebagai orang tua harusnya mendidik dengan cara baik". frustasi Lusi sambil mengusap kasar wajahnya
"Bu Lusi saya minta maaf, ini udah yang terakhir koq". jawab Bianca
"Bohong kamu bohong kamu sudah beribu ribu kali mengatakan hal yang sama terus ini apa buktinya, jika kamu terus sekolah disini terpaksa saya akan pindah dari sekolah ini tidak akan mau mengajar siswa sepertimu lagi". ucap Lusi
Bela mendengar itu langsung turun lalu berlari dan memeluk Bu Lusi
"Hiks Ibu jangan pergi, ibu satu satunya guru yang tidak mengenal siapa pun kita bu hiks hikss".ucap Bela
Lusi hanya mengusap kepala Bela seolah ia juga tidak mau pergi
"Sungguh memalukan memiliki anak seperti putri mu, saya memang ingin sekali memiliki anak perempuan tapi melihat tingkah putrimu yang sangat nakal ini membuat saya harus berfikir cara mendidik, dan anda telah melakukan kesalahan itu" ucap Sean pada Papah Bianca
Mereka berdua hanya terdiam, apalagi Bianca saat ini ia bergetar hebat. Setelah kejadian tadi, Bianca dikeluarkan di sekolah dan ayahnya dipecat secara tidak hormat
Lalu 3 orang menghampiri Steven
"Hai bro, kenalin gua Zian".ucap Zian
"Gua Marvel". Ucap Marvel
"Gua Lucy". Ucap Lucy
Steven merasa aneh mendengar nama nama mereka seperti nama bule, dan mereka bertiga berkenalan diri tanpa menjabat tangan karena mereka tau jika Steven tidak ingin bersentuhan maka mereka pun akan menghargai itu
"Kalian mau apa". Tanya Steven dengan wajah datarnya
"Ya elah bro santai santai aja, gua ke sini mau muji lu kalau bisa ku ikut kita ke kakeknya Bela". Ucap Zian
"Ngapain ke kakek Bela?". Tanya Steven
"Ya belajar bela diri, dan juga latihan pedang". Ucap Lucy
Mendengar itu Steven pun bertanya pada Bela yang memang mereka sudah berada di bangkunya masing masing, Bela tentu sudah di ganti baju dan mereka melanjutkan belajar seperti biasa
"Bel emang ada latihan pedang?". Tanya Steven
"Ya ada". Jawab Bela
"Lah koq lu gak ngasih tau gua sih". decak kesal Steven, karena ia kira kakeknya hanya melatih bela diri saja tidak dengan yang lainnya
Di luar dugaan ternyata latihan yang selama ini ia idamkan itu di ajarkan juga.
"Lah anak kecil mah bahaya main gituan". Ucap Bela yang masih lupa akan kemampuan Steven
"Lu gak liat gua nonjok si cewek jelek itu". Steven
"Ya liat tapi kan ini bahaya bisa bisa kamu kena luka kamu itu masih kecil main pedang pedangan". Omel Bela dengan kekhawatirannya yang memang inilah alasannya bukan karena meremehkan Steven
"Apaan sih kamu". Ucap Steven
"Ini sih gara gara kalian bertiga sih ngajak ngajak dia". omel Bela pada Zian, Marvek dan Lucky
Sementara mereka bertiga hanya tertawa lepas dan dari sinilah mereka berlima bersahabat
Flasback off
...****************...
Rumah Steven
Rumah Steven ada kedatangan seorang dari amerika yaitu Hendrik sahabat Sion. Saat ini di ruang makan mereka sedang makan malam bersama, namun ada yang berbeda saat ini meski ada Hendrik tapi tidak membuat nafsu makan Steven bertambah
"Loh napa nih ponakan uncle, murung gini". Tanya Hendrik
huffff
Steven hanya menghela nafasnya kemudian ia pun berkata
"Bela sakit uncle".lirih Steven dengan wajah yang nampak sedih
Mendengar itu Silivia langsung berdiri
"Kenapa dia sakit apa nak". Tanya Silivia dengan khawatirnya
"Dia tiba tiba saja sakit Mom,dan badannya panas". Ucap Steven
Lagi lagi Silivia syok mendengarnya, sama halnya dengan Sivani Sean dan Sion yang ikut merasa khawatir
Tapi lain halnya dengan Hendrik yang merasa ada kejanggalan pada Steven
"Kenapa kamu jadi khawatir banget sama Bela itu". tanya Hendrik
Semua orang disitu pun seketika menoleh pada Steven tanpa kecuali, Silivia pun kini sudah duduk kembali
Mereka pun menunggu jawaban Steven saat ini , karena Steven belum menjawab hanya diam saja Hendrik pun bertanya jagi kemudian tanpa di duga jawaban Steven langsung saja di jawab olehnya, dan ternyata jawabannya membuat mereka menganga
"Apa kamu menyukainya". to the point Hendrik pada Steven
"A.......
****************
bersambung.....
maaf banyak typo
__ADS_1