BERTEMU KEMBALI

BERTEMU KEMBALI
Bab 4


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Bunga terus memohon agar ayahnya melepaskan dirinya. Namun, semakin Bunga memohon. Tubuh Bunga semakin di tarik paksa olehnya.


"Ayah..... Bunga mohon lepaskan Bunga. Ayah Bunga janji, Bunga akan membantu melunasi utang ayah..." Ucap Bunga terus memohon.


Hendra lantas menghentikan langkahnya. Namun tetap mencengkram kuat tangan anaknya.


"Kau melunasinya dengan apa ? Kau bisa melunasi utang ayah dan memberi ayah 50 juta lagi, Seperti yang di katakan Pak Hermawan. ?"


Hendra berbicara dengan nada yang tinggi.


Bunga yang tertegun mendengar ucapan ayahnya. Hanya bisa diam dan tak bisa berucap.


"Kau hanya perlu menemaninya sekali saja. Setelah itu selesai. Mudahkan...?" Ucap Hendra.


"Ayah.... Bunga mohon... Bunga tidak mau "


Bunga terus memohon. Air matanya terus menemani nya sepanjang ayahnya membawa dirinya


Hendra tidak memperdulikan ucapan Bunga. Kemudian menarik tangan Bunga lagi. Bunga terus memberontak. Dan dengan berani dia menggit tangan ayahnya. Membuat Hendra terkejut kesakitan dan membuat genggaman tangannya pada Bunga terlepas. Kemudian Bunga lari menjauh.


Hendra kemudian mengejar nya sambil berteriak.


"Jika kau terus berlari. Akan ku bunuh ibumu...." Teriak Hendra yang sontak membuat langkah Bunga berhenti berlari.


"Ibu....." Batin Bunga dan membalikkan tubuhnya.


"Jangan sakiti ibu. Ayah... kenapa ayah menjadi seperti ini. Ini bukan Ayah yang Bunga kenal. Kemana ayah Bunga yang selalu sayang dengan Ibu dan Bunga. Ayah....... Bunga mohon....jangan seperti ini..." Ucap Bunga. Ia terus memohon dan terus memohon.


Hendra tersenyum masam dan mendekati Bunga.


"Kemana ayah mu ? Aku ini ayah mu. aha...ha...ha....Anak ayah yang manis.. ayah tidak kemana-mana." Ucap Hendra.


"Sekarang ikut ayah...." Ucap Hendra dengan mata melotot.


Bunga semakin gemetar ketakutan.


"Jika kau berani pergi. Besok kau akan melihat tubuh ibumu menjadi mayat. " Ucap Hendra mengancam.


Bunga semakin ketakutan mendengar ucapan Hendra.


Ia hanya diam tak berani lagi memberontak. Takut jika apa yang di katakan ayahnya. Benar-benar dilakukan.


"Nah gi tu dong. Itu baru anak ayah..."

__ADS_1


Ucap Hendra.


"Ayah... jika aku patuh pada perintah ayah kali ini. Bunga mohon ayah jangan apa-apa kan ibu. Ayah jangan utang lagi bisa ?. Dan ayah jangan bermain judi. Berjanjilah ayah..." Ucap Bunga penuh harap.


"Yah...ya..ya.. Ayah janji cepat jalan.!"


Ucap Hendra sembari berjalan.


"Ibu... maafkan Bunga...Apapun yang terjadi nanti . Semua untuk ibu dan membuat ayah kembali seperti dulu. Ayah Bunga yang baik dan sayang dengan Bunga. Semoga ayah bisa berubah..."


Batin Bunga sambil melangkah kan kakinya.


Setiap langkah kaki yang Bunga pijak. Serasa semakin berat. Seperti dunia tak adil baginya. Ayah yang disayanginya telah berubah menjadi manusia yang tidak mempunyai perasaan. Ia terus menetes kan air mata disepanjang perjalanannya.


Sampai akhirnya ia sampai di sebuah vila mewah. Vila di mana yang di katakan Hermawan. Untuk meninggalkan Bunga di sana.


"Kau masuklah....!! Ayah akan pergi ke rumah pak Hermawan. Tunggu dia kemari. Kamu jangan kabur. Jika kau berani kabur. Ingat ...!! ucapan ayah tadi. Mengerti...!!" Ucap Hendra


Bunga hanya bisa mengangguk dengan patuh. Hendra kemudian membawa Bunga masuk. Dan menguncinya di sebuah kamar. Kamar yang mewah dan besar. Tidak ada orang yang tinggal di sana. Hanya pelayan bersih-bersih yang datang setiap pagi dan pulang di sore hari.


"Akhirnya aku bebas dari hutang... Dan bisa mendapatkan uang... Aku akan bersenang-senang..."


Batin Hendra gembira dan berlalu pergi meninggalkan Vila menuju rumah Hermawan.


Bunga kemudian bersandar di pintu. Dan semakin merosot hingga tubuhnya terjatuh di lantai. Ia menangis menenggelamkan kepalanya.


"Klakk......"


Suara pintu terbuka.


Bunga terkejut dan langsung berdiri.


"Pak Hermawan sudah disini. Bukankah ayah bilang. Ayah akan memanggilnya nya terlebih dahulu." Batin Bunga dengan tubuh mulai gemetar ketakutan.


Ia terus melihat ke arah kamar mandi dan melihat laki-laki keluar dari kamar mandi. Dengan handuk menutupi bagian bawah perut nya. Dan satu lagi menutup kepalanya. Menggosok rambut kepalanya dengan handuk. Tubuhnya begitu kekar dan gagah. Hingga laki-laki itu membuka handuk di kepalanya.


Ia terkejut melihat Bunga yang berdiri bersandar di pintu.


"Siapa kamu ?"


Tanya laki-laki itu.


"Sa...saya Bunga tuan..". Ucap Bunga gugup.

__ADS_1


"Dia tampan sekali. Dia siapa... kenapa bisa ada di sini. Apa ayah membawa ku ketempat yang salah...? Tapi ayah bisa mempunyai kunci kamar ini. Bagaimana mungkin salah.." Batin Bunga bingung.


Namun ia juga terpesona dengan ketampanan laki-laki yang berdiri menghadap dirinya.


"Bunga...? Bagaimana kamu bisa kemari ?Dan untuk apa kamu kemari..?" Tanya laki-laki itu.


"Eh....? saya... saya....."


Bunga bingung harus menjawab apa. Dia melihat kelantai tak tau harus mengatakan apa dan bagaimana.


"Tuan.... apakah mungkin saya salah tempat ? Apakah ini vila milik tuan. Kalau begitu.. bisakah tuan mengeluarkan saya dari sini...?" Ucap Bunga penuh harap dan kemudian bisa kabur sejauh mungkin.


"Kamu bisa masuk dan mengunci pintu. Kenapa tidak bisa keluar..?" Tanya Laki-laki itu.


"Kenapa kamu kemari.?"


Bunga semakin bingung. Hingga akhirnya ia terpaksa mengatakan yang sebenarnya.


"Tu...tuan... saya harus membayar utang ayah saya. Saya.. saya harus membantu ayah...jadi saya terpaksa."


"Hentikan....!"


Ucap laki-laki itu.


"Menjual tubuh demi membayar utang ? Itu bukan hal yang baru aku dengar "


"ehh...??"


Bunga seketika mendongak dan melihat ke arahnya.


"Apa maksud tuan.. Saya tidak menjual tubuh demi uang. Jaga ucapan anda."


Teriak Bunga.


Raksa mendekati Bunga dan meletakkan tangan nya di pintu. Dekat dengan Bunga. Ia memandang wajah Bunga. Terpesona seketika karena begitu cantik.


"Berapa harga yang ayahku berikan untuk tubuh mu. Aku bisa memberi nya lebih.."


"Ayah....? Dia anak pak Hermawan ?" Batin Bunga terkejut.


"Jaga ucapan anda tuan...." Teriak Bunga.


Ia membalikan badannya. Berusaha membuka pintu. Namun pintu sudah terkunci.

__ADS_1


Raksa memegang tangan Bunga. Dan melemparkan tubuhnya di atas ranjang.


TEMAN-TEMAN LIKE DAN VOTE NOVEL INI YA... SUPAYA AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BERKARYA MAKASIH.


__ADS_2