BERTEMU KEMBALI

BERTEMU KEMBALI
Bab 2


__ADS_3

Pagi Hari


Seperti biasa Bunga dan ibunya pergi bekerja di kebun teh. Mereka bekerja memetik daun setiap harinya.


Karena biaya yang tak bisa membuat bunga melanjutkan pendidikan nya.


Ia terpaksa membantu ibunya dengan bekerja sebagai pemetik daun teh.


Biasanya, setiap pagi mereka selalu makan bersama. Hendra , Sari dan Bunga. Namun kini meja itu hanya berisi kan 2 orang.


"Ibu.... ayah tidak pulang ?" Tanya Bunga sambil menyantap makanannya.


Sari Ibunda Bunga hanya menggeleng kan kepala.


"Ibu.... Bunga sangat kecewa dengan ayah. Dimana sosok ayah bunga yang lembut dulu. Bunga ingin ayah kembali seperti dulu. Yang baik dan menyayangi Bunga juga ibu. "


Ucap Bunga dengan air mata yang tak terasa mulai menetes.


Melihat Bunga demikian. Sari mendekatinya dan memeluknya. Menenangkan Bunga dan menguatkannya. Walaupun sesungguhnya hati Sari lebih sakit dari apa yang di rasakan Bunga.


"Sayang.... Ayah mu pasti akan seperti dulu. Pasti akan kembali. Kamu jangan bersedih ya...."


Sari hanya bisa mengucapkan hal yang bisa menguatkan Bunga. Walaupun dirinya juga tak tau. Apakah Hendra bisa berubah.


"Kamu sudah menyelesaikan makanan mu ? Sekarang kita berangkat ya... Bunga anak ibu yang manis. Harus tetep semangat... ya...."


Ucap Sari


Bunga hanya mengangguk kan kepalanya. Mereka kemudian mulai berjalan menuju kebun.

__ADS_1


Banyak pekerja yang juga memetik daun teh. Udara pagi itu begitu sejuk. Sangat menyegarkan. Pesona alam yang membius mata. Hamparan kebun teh yang amat luas. Dikelilingi gunung dan bukit-bukit menjulang.


"Dek Bunga rajin sekali ya bantu orang tua..."


Tanya salah satu pekerja. Wanita yang sudah parubaya , Sudah bekerja sejak lama di sana.


"Iya Bu...." Jawab Bunga sopan.


"Dek Bunga gak kepengen ke kota. ? Sekolah yang lebih tinggi lagi...?"


Bunga menghentikan pekerjaannya sejenak dan memulai lagi. Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan melanjutkan pendidikan. Ada rasa tak nyaman saat Bunga mendengar nya.


Namun Bunga tetap membuat dirinya tegar.


"Tidak Bu..." Bunga menjawab singkat.


Tambah Bu Retno.


"Sementara ini... Bunga masih ingin menjaga ayah dan ibu kok Bu Retno."


Bunga menjawab dengan tangannya terus memetik daun teh.


Saat itu Sari tak berdekatan dengan Bunga. Posisinya jauh dari Bunga. Sehingga ia tak mendengar pembicaraan mereka.


"Dek Bunga memang anak yang baik ya.... Oh iya dek.... semalem, Bu Retno liat. kayaknya ayah dek bunga pergi ke rumah pak Hermawan... "


Ucap Bu Retno.


"Pak Hermawan siapa Bu ?" Tanya Bunga yang tak tau siapa itu Hermawan.

__ADS_1


Pak Hermawan adalah pemilik kebun teh itu sendiri. Pria yang sudah parubaya berumur 48 tahun. Namun beliau jarang turun ke lapangan. Bunga yang masih baru bekerja tak tau siapa pemiliknya. Ia bekerja dengan bantuan ibunya yang meminta pada pengawas lapangan untuk memasukkan Bunga.


"Kok dek Bunga gak tau ? Pak Hermawan itu pemilik kebun ini. Dia sangat kaya " Ucap Bu Retno.


"Oh iya... adek dulu bekerja disini lewat pengawas lapangan ya... jadi gak tau pak Hermawan. "


Ucap Bu Retno.


"iya Bu...." Jawab Bunga sopan.


Pembicaraan mereka terhenti disana. Retno tak berani bertanya lagi karena tau raut wajah Bunga yang mulai berubah. Merasa sungkan sehingga menghentikan niatnya untuk bertanya lagi. Bunga masih hanyut dalam kebingungannya. Kenapa dan untuk apa ayahnya menemui pemilik kebun.


Sampai waktu bekerja selesai. Mereka meninggalkan kebun dan mengumpulkan setiap keranjang berisi daun teh penuh di tempat penyimpanan.


Perjalanan pulang


"Ibu.... Apakah ibu mengenal pak Hermawan ?"


Tanya Lili.


"Pak Hermawan itu pemilik kebun teh tempat kita bekerja sayang. Beliau jarang sekali turun ke lapangan. Emangnya kenapa ? " Ucap Sari heran.


"Emmmmm....... tadi Bu Retno bilang. Dia melihat Ayah ke rumah pak Hermawan..."


Tanya Bunga.


"Ayah ke rumah pak Hermawan. ?"


Sari berteriak dan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2