
"Ahhh........."
Bunga berteriak seketika.
"Tuan... ayah saya bilang. Saya hanya menemani pak Hermawan saja. Saya tidak menjual tubuh seperti yang anda ucapkan."
Bunga terus membela dirinya. Raksa berdiri menghadap dirinya.
Bunga yang begitu polos. Tak mengerti maksud dari "menemani". Yang dimaksud ayahnya.
Raksa tertawa kecut mendengar ucapan Bunga.
"Cih.... Wanita sok polos..."
Ucap Raksa.
Raksa semakin mendekati tubuh Bunga.
"Tuan... apa yang ingin anda lakukan...?" Ucap Bunga ketakutan.
"Saya tidak punya urusan dengan tuan. Saya mau pergi"
Bunga berusaha memberondong dan mendorong tubuh Raksa yang kekar.
Namun kekuatan Raksa begitu besar. Membuat Bunga tak sanggup melawan.
Ia mencengkram kedua tangan Bunga kuat.
"Tuan...........saya mohon jangan seperti ini. Saya ingin bertemu pak Hermawan." Bunga berteriak sekeras-kerasnya.
"Hermawan.... laki-laki tua itu selalu menggunakan cara ini. " Batin Raksa.
"Apa Hermawan lebih baik dari ku ?" Ucap Raksa.
"Aku bisa membuktikan padamu. Aku lebih baik dari laki-laki tua itu. Berapa kali kau melayaninya. Dan kau bisa membandingkan." Ucap Raksa kejam.
Entah kenapa Ia kesal mendengar nama Hermawan keluar dari mulut tipis Bunga.
"Tuan... apa yang anda katakan. aku mohon lepaskan saya tuan..."
Bunga terus meronta.
"Kruakkkkkkk.....".
Tanpa ampun Raksa merobek baju bunga.
Bunga berteriak sekencang-kencangnya. Namun tak ada seorang pun yang mendengar.
Kondisi lingkungan yang tak memungkinkan adanya orang. Pasalnya Vila itu adalah Vila milik Hermawan pribadi. Yang berada di tengah hamparan kebun teh. Vila yang mewah dan amat besar. Dengan gaya bangunan modern.
__ADS_1
Dengan paksa Raksa melakukan hal yang juga pertama kali baginya. Ia menodai Bunga tanpa ampun. Malam itu ia sangat marah dan tak bisa berfikir jernih.
Ia memaksa Bunga menjerit kesakitan. Ia tak memperdulikan teriakan Bunga yang memohon untuk berhenti dan memohon ampun.
Kekesalan Raksa pada ayahnya. Seperti ia lampiaskan pada wanita dihadapannya.
Ia seperti buta dan seperti bukan dirinya. Terlena dengan kecantikan Bunga. Dan sakit mendengar ucapan Bunga yang mencari Hermawan.
"Sakit.....Sakit sekali" Batin Bunga menahan perlakuan Raksa pada dirinya.
Setelah Raksa menyelesaikan nafsu bejatnya. Ia mengenakan pakaian nya dan melihat ke arah Bunga. Ia terkejut melihat noda darah di sprei putih bersih.
Ia tak percaya bahwa ini pertama kalinya untuk Bunga.
"Ini pertama kalinya bagimu ?" Batin Raksa terkejut.
"Tapi ini juga pertama kalinya bagiku ?" Raksa masih berbicara dengan dirinya sendiri. Entah kenapa ada sedikit rasa bersalah disana.
Namun Raksa menyembunyikan rasa iba nya pada Bunga.
Bunga masih terbaring lemas di atas ranjang. Air matanya terus mengalir. Menemani hancurnya perasaan nya.
Raksa kemudian duduk di tepi ranjang membelakangi Bunga yang masih tanpa busana. Dan menyalakan korek api untuk menyalakan rokok yang sudah di mulutnya.
"Berapa utang ayahmu dengan Hermawan. Aku akan melunasinya. " Ucap Raksa masih membelakangi Bunga dan menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Tubuh Bunga yang lemas akibat perbuatan Raksa. Semua tubuhnya penuh dengan bekas cengkraman. Dengan sekuat tenaga Bunga berbicara.
Ucap Bunga menahan air mata.
Mendengar ucapan Bunga, Emosi Raksa mulai meninggi dan mengepalkan tangannya. Dengan cepat ia membalikkan badannya dan menekan kedua pipi mulus Bunga dengan kedua tangannya.
"Jangan samakan aku dengan laki-laki tua itu."
Ucap Raksa tak terima.
"Dan tarik ucapan mu. Aku Raksa Aditama. Mulai malam ini bukan anaknya."
Pada malam ini. Tujuan Raksa adalah untuk menemui Hermawan dan mengakhiri hubungan ayah dan anak dengan dirinya.
Raksa sudah muak dengan tingkah Hermawan yang suka tidur dengan banyak wanita. Sudah muak dengan ulah Hermawan yang tak peduli dengan dirinya.
Usia Raksa yang sudah 28 tahun. Ia mampu mengembangkan bisnis perhotelan dengan banyak cabang.
Namun tidak untuk malam ini.
Ia malah dihadapkan dengan hal yang tak ingin ia hadapi.
Ia sangat membenci dengan wanita yang menyerahkan tubuhnya untuk Hermawan dengan alasan melunasi utang.
__ADS_1
Setelah Raksa melihat Bunga, Entah kenapa emosinya tak terkontrol hingga menodai Bunga dengan kasar.
"Lepaskan saya tuan... Saya mau pulang. " Ucap Bunga.
Raksa kemudian melepaskan cengkraman nya dari pipi Bunga.
Bunga berdiri dan memakai pakaiannya yang berserakan dilantai.
"Buka pintunya... Saya mau keluar. Anda sudah puas bukan ?" Ucap Bunga.
Mencoba tegar dan menahan sakit karena perlakuan kasar Raksa.
Raksa kemudian berdiri dan mengambil kunci dari saku jas miliknya. Dan memberikan nya pada Bunga.
"Kau masih ingin menemui laki-laki tua itu ?"
Ucap Raksa.
"Milikku yang berharga sudah kau renggut. Jadi , kenapa tidak jika saya menyerahkan nya lagi untuk orang lain. Aku juga sudah menjadi wanita tidak berguna."
Ucap Bunga.
Namun apa yang ia katakan. Tak sesuai dengan hatinya. Ia hancur sehancur-hancurnya. Namun ia tak ingin memperlihatkannya pada Raksa.
"Kau... benar-benar wanita menjijikkan. Pergi dari sini..." Teriak Raksa.
Bunga kemudian berlari menuju pintu. Dan keluar jauh dari vila.
Malam itu sudah amat larut. Sepanjang perjalanan hanya ada kebun teh. Penerangan yang remang menemani langkah Bunga.
Setiap langkahnya begitu terasa berat dan semakin berat. Hinga ia terjatuh dan menangis.
"Kenapa semua ini terjadi pada ku...."
Bunga menangis meratapi apa yang ia alami.
Ia tak menyangka, Malam ini benar-benar menjadi pengalaman pahit dalam hidupnya. Tubuhnya terasa berat untuk bergerak. Serasa tak ingin bergerak untuk selamanya. Ia teringat akan kebahagiaan yang dulu pernah ia rasakan.
"Ayah.... Ibu.... aku rindu keluarga kita yang dulu."
Teriak Bunga di hamparan kebun teh luas.
"Ibu ...?"
Bunga langsung teringat dan berdiri dengan sekuat tenaga. Berlari secepat mungkin.
Sesampainya di rumah. Ternyata Tubuh Sari masih tergeletak di lantai.
"Ibu......" Teriak Bunga dan langsung menghampiri tubuh Sari.
__ADS_1
Kondisi rumah di pedesaan yang jaraknya cukup jauh. Membuat Sari tak ada yang menolong. Malam itu sudah amat larut.
TEMAN-TEMAN TERUS IKUTI NOVEL INI. LIKE DAN VOTE NYA YA. SUPAYA AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BERKARYA. MAKASIH